
Luna berlari menuju ke arah Devan. Masih terlihat bekas tangis di wajahnya.
"Devan, kau baik-baik saja?.", tanya Luna dengan raut sedih.
Devan masih tercengang dengan nafas yang tersengal-sengal.
Luna memperhatikan tangan kanan Devan yang memerah dan memar di ujung kepalan. Luna mengulurkan kedua tangannya, mendekatkannya pada tangan yang memar itu.
"Maaf Devan. Gara-gara aku mengajakmu kemari kau jadi seperti ini.", ucap Luna sedih, matanya sayu melihat tangan Devan yang memar.
"Kau tidak salah, Luna. Aku kemari memang karena aku mau.", ucap Devan sambil menahan sakit di tangannya. Ia memandang Luna, Luna juga memandangnya dengan pandangan sedih.
Kakek Luna berjalan mendekati Devan. Luna yang menyadarinya kemudian berbalik badan, berdiri tepat di depan Devan sembari merentangkan kedua tangannya.
Luna memandang kakeknya dengan wajah marah bercampur sedih. Pandangannya tajam, bibirnya manyun.
"Sudah kek. Aku akan mengantar Devan kembali ke daratan."
Kakek Luna terus melangkah mendekat.
Tiba-tiba seorang gadis berjalan kemudian berdiri di depan Luna menghadap ke arah sang kakek.
"Kalau kakek melangkah lagi, akan aku tendang kaki kakek.", ucap Zoya tegas. Kedua tangannya melipat di dadanya.
Kakek Luna menghentikan langkahnya. Ia menghela nafasnya lalu mulai bicara.
"Dahulu, pernah ada seorang perempuan yang berjalan di bumi. Ia datang, lalu segalanya terhenti. Ia pun pergi, lalu segalanya berjalan seperti biasa.", ucap kakek Luna.
Devan tertarik mendengar ucapan itu, mirip pada situasi yang tengah ia alami.
"Bukankah Luna membawanya kemari karena cerita itu, Luna?."
"Kakek hanya akan memukulnya!.", ucap Luna dengan nada marah.
"Aku cuma mengujinya, Luna. Lihat..!.", ucap Kakek Luna sembari menunjuk ke arah tangan Devan yang memerah dan memar.
Tiba-tiba tampak tangan Devan yang terluka itu perlahan memulih. Memarnya perlahan menghilang, begitupula kemerahan di tangannya perlahan kembali normal.
Semua yang melihat hal itu bingung, termasuk Devan sendiri. Ia merasa rasa sakit yang sebelumnya ada di tangannya itu kini sudah tak terasa.
"Anak muda, dirimu tampak bingung. Apa dirimu tahu siapa dirimu?.", tanya Kakek Luna kepada Devan.
Semua orang di sekitar memandang Devan.
"Sebenarnya.... Aku tak ingat masa laluku.", ucap Devan ragu. "Tapi, aku baru ingat, bahwa aku pernah tinggal di Desa Gardum."
"Oh. Jadi kau sudah mulai ingat kehidupan manusiamu?.", tanya lagi Kakek Luna sembari pandangan matanya menoleh ke arah Luna sejenak.
"Aku hanya ingat yang itu.", jawab Devan.
"Kau punya warna rambut yang hitam pekat. Rambut manusia tak pernah ada yang sepekat hitam itu. Manusia juga tak mungkin baik-baik saja setelah menerima satu pukulan Reyn sampai terpelanting jauh. Manusia juga tak memiliki kekuatan fisik yang sampai membuat Reyn terbang jauh karena tinjuannya. Manusia tak mungkin bisa menyembuhkan dirinya secepat itu, dan manusia tak mungkin bisa melihat kami, bangsa peri.", ucap Kakek Luna panjang.
"Jadi menurutmu, aku ini siapa?." Tanya Devan heran..
Kakek Luna kemudian melihat setiap orang yang ada di tempat itu.
"Kalian semua. Bisakah kalian tinggalkan aku dan pemuda ini berdua?." ucap Kakek Luna. "Dirimu juga. Pergilah menuju kakakmu.", ucap Kakek Luna pada lelaki remaja di sisinya.
Mereka menuruti perintah Kakek Luna. Lelaki remaja itu juga berjalan menuju arah di mana Reyn terlempar, Yuna mulai menuju ke rumah pohon, Zeya menuju ke sisi Trevy dan masih menunggu Luna yang masih belum pergi di hadapan kakeknya.
Kakek Luna memandang lembut pada Luna yang masih belum beranjak. "Aku berjanji tidak akan menyakitinya, Luna.", ucap Kakek Luna seraya tersenyum kepada Luna.
__ADS_1
Melihat sikap kakeknya, Luna akhirnya melunak. Raut marah pada wajahnya perlahan memudar. Luna kemudian berbalik menghadap Devan.
Luna berjalan mendekati Devan sembari mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Kemudian sesuatu itu ia taruh ke dalam saku jaket hitam Devan.
Tepat di hadapan Devan, Luna menundukkan kepalanya.
"Aku merasa habis ini kau akan pergi, Devan. Aku tidak suka berpisah seperti ini." Ucap Luna.
"Kalau begitu terima kasih, Luna. Kau sudah banyak...."
"Devan!.", panggil Luna memotong ucapan Devan. "Ku mohon nanti datanglah lagi kesini.", lanjutnya.
Devan hanya diam memandang Luna. Sementara Luna perlahan berjalan mundur langkah demi langkah sembari menatap Devan dengan tatapan sedih, lalu ia berbalik dan berlari ke arah Trevy dan Zeya yang menunggunya. Mereka bertiga pun berjalan menuju rumah pohon.
Kini tinggal Kakek Luna dan Devan yang berada di tempat itu. Kakek Luna menghela nafasnya dan mulai bicara.
"Pertama kali aku melihat dirimu, aku sudah menduganya.", Kakek tua itu menghentikan katanya sejenak, Devan diam tidak mengerti.
"Luna selalu cenderung untuk menolong orang. Aku cemas nanti di masa depan, ia melakukan sesuatu diluar batas kemampuannya.", lanjut kakek itu, ia memandang Devan.
"Aku tidak akan meminta bantuan Luna, pada sesuatu yang di luar batas kemampuannya.", tanggap Devan.
"Luna tidak akan menunggumu meminta. Dia sendiri yang akan menawarkannya. Aku yakin, membawamu kemari, itu bukan dirimu yang minta, tetapi Luna lah yang menawarkannya."
Devan berpikir sejenak, mengingat kejadian sebelumnya.
(..... "Devan, Aku punya petunjuk untukmu. Tapi... aku masih ragu apa ini benar-benar sebuah petunjuk.", ucap Luna nadanya perlahan mengecil. "Tapi juga ini layak untuk dicoba.", lanjut Luna meyakinkan.
"Benarkah?. Petunjuk apa?."
"Petunjuk itu bukan di sini."
.....
"Kita akan kemana?", tanya Devan, ia masih bingung dengan pertanyaan tadi.
Luna menunjuk jemari telunjuknya ke arah atas. "Ke awan." .....)
Devan pun kembali pada kesadaran.
"Jadi, apa yang seharusnya aku lakukan?.", tanya Devan.
"Dirimulah yang lebih tahu, apa yang sebaiknya dilakukan, anak muda.", jawab kakek itu.
"Aku saat ini sedang mencari tahu, kutukan apa yang aku alami. Lalu, bagaimana dengan Luna?."
"Luna pun melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Sebagai kakeknya, aku bersyukur hingga saat ini, Luna selalu melakukan hal-hal yang baik.", Kakek Luna menghentikan ucapannya sejenak. "Kuharap, hal itu mendatangkan takdir baik pada dirinya."
Devan hanya menyimak Kakek Luna, meskipun sebagian besar ucapannya, tak bisa Devan pahami.
"Dan juga, sesuatu yang dirimu alami, itu bukanlah sebuah kutukan.", lanjut Kakek Luna.
"Bukan sebuah kutukan?. Kalau begitu, apa yang tengah aku alami?.", tanya Devan penasaran.
"Dirimu tidak mengalami apapun. Itu adalah sesuatu yang dirimu miliki dari awal."
Devan terdiam sejenak memikirkan ucapan si kakek.
"Aku tidak mengerti. Tolong jelaskan."
"Hanya itu yang bisa ku katakan."
__ADS_1
"Kenapa?. Ku pikir kau tau lebih banyak, kakek peri. Bukankah lebih baik berkata jelas daripada membuatku menerka-nerka?."
"Dunia ini punya hukum, anak muda. Tak semua hal yang dilakukan baik itu benar."
"Maaf, perkataanmu terlalu rumit."
"Dirimu akan mengerti pada waktunya."
Devan terdiam sejenak.
"Kalau begitu, aku tidak memperoleh apapun disini."
"Diriku memang tidak bisa mengatakannya lebih jelas. Tapi ada orang lain yang bisa."
"Siapa?."
"Seseorang yang karena kedatangannya semua terhenti, namun kembali berjalan selepas kepergiannya."
"Itu cerita seorang perempuan yang kau katakan tadi. Jadi.. Orang itu masih hidup?. Kupikir cerita itu telah lama terjadi."
"Itu memang kisah lama. Bahkan sebelum Luna lahir."
"Dimana aku bisa bertemu dengan perempuan itu?."
"Di suatu kota besar dengan bangunan-bangunan tinggi dengan jalan-jalan hitam lebar yang mulus. Berperadaban modern, punya banyak berbagai kendaraan, dan punya banyak tempat hiburan. Tempat yang disukai sebagian besar manusia membuat tempat itu menjadi salah satu tempat yang paling ramai di dunia."
"Tempat itu....."
"Kota itu oleh manusia biasa disebut sebagai kota pengubah takdir, Avalon City."
"Bagaimana aku bisa menemukan dia?. Ketika aku sampai di kota itu, semua orang akan tergeletak seperti orang mati."
"Kembalilah ke kota itu. Ketika dirimu sampai, dia sendiri yang akan mendatangimu."
Devan memandang heran Kakek Luna. "Bagaimana kau tahu itu?."
"Dirimu nanti akan mengerti ketika sampai di kota itu."
Tiba-tiba Yuna datang dari arah rumah pohon.
"Dirimu akan diantar turun olehnya.", ucap Kakek Luna pada Devan sembari memandang Yuna.
"Yuna, tolong antarkan anak muda ini.", lanjut kakek Luna.
"Baik, Kek.", tanggap Yuna.
Yuna pun berjalan menuju sisi Devan, lalu menganggukkan kepala pada Devan sebagai isyarat untuk mulai berjalan. Mereka berbalik arah dan mulai berjalan.
Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Devan berhenti melangkah, Yuna pun juga ikut berhenti. Devan berbalik badan menghadap Kakek Luna.
"Aku ingin bertanya satu hal lagi.", pinta Devan.
"Apa itu?.", tanya Kakek Luna.
"Tak semua hal yang dilakukan baik itu benar. Itu tadi yang kau bilang. Kau juga bersyukur bahwa Luna selalu melakukan hal-hal baik. Tapi, apakah yang dilakukan Luna hari ini dengan membawaku menemuimu adalah hal yang benar?.", ujar Devan dengan wajah datar.
Keadaan tiba-tiba hening. Yuna yang mendengar pertanyaan itu kemudian memasang wajah sedih. Lama Kakek Luna diam.
"Baik. Tidak perlu dijawab. Aku sudah mengerti. Terima kasih, dan mohon maaf, Kakek peri."
Devan pun kembali berjalan bersama Yuna. Ia berat hati harus meninggalkan Luna dengan berpisah seperti ini. Devan merasa telah meninggalkan masalah kepada Luna. Meski begitu, ia tak punya pilihan lain, selain harus pergi hari ini.
__ADS_1
***