Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 20: Kebenaran Luna yang Sebenarnya


__ADS_3

“Sebenarnya Apa yang dikatakan Aslan itu tidak sepenuhnya benar.”


“Maksudmu?.”


“Waktu itu aku hanya memberinya saran. Seseorang yang benar-benar membantunya adalah seorang ratu peri, Artemis. Mungkin Aslan sangat berterima kasih kepadaku, sebab aku yang mempertemukan Ratu Peri dengan dirinya.”


“Ratu peri ya. Itu berarti dirimu juga tak bisa bantu aku, dan aku harus pergi menemui ratu peri itu.”


“Aku tidak bilang bahwa aku tidak bisa membantumu.”, Zivan hening sesaat, lalu ia melanjutkan lagi ucapannya.


“Lagi pula dirimu juga takkan bisa menemui si ratu peri itu. Dia telah tiada.”, lanjut Zivan.


Devan tertegun mendengar ucapan Zivan. Raut wajah Zivan sedikit berduka. Melihat hal itu, Devan pun mengurungkan niatnya untuk bicara terkait si ratu peri.


“Jadi maksudmu kau benar-benar bisa membantuku?.”


“Ya. Tidak seperti Aslan, magusmu memiliki muasal miracle yang sama denganku.”


“Miracle?.”


“Miracle adalah kekuatan tingkat tinggi, kekuatannya bahkan bisa mempengaruhi hukum alam. Sedangkan magus, merupakan miracle yang diturunkan derajatnya, dampaknya seperti ilusi, hanya bersifat sementara.”, jelas Zivan.


Devan hanya berdiri diam, menyimak setiap perkataan Zivan.


“Kekuatan itu hanya dimiliki oleh para malaikat. Namun, diantara para malaikat, ada yang membangkang pada ketetapan tuhan, sehingga mereka terusir dari Nirvana, derajatnya diturunkan, jadilah malaikat jatuh, sehingga kekuatan mereka turut diturunkan, menjadi magus.”, lanjut Zivan.


“Miracle, malaikat, pembangkangan pada ketetapan tuhan.”, Devan menyebut setiap poin penjelasan Zivan, lalu ia diam sejenak.


“Kalau sebagian diriku yang sekarang adalah fallen angel, maka dahulu aku adalah seorang malaikat apa?. Dan mengapa aku yang dulu tak patuh pada ketentuan tuhan?.”, lanjut Devan. Ia mendongakkan kepala, matanya melihat ke langit, seraya merenungi dirinya.


Zivan hanya mendengarnya dengan wajah ramah, kemudian matanya memejam sebentar seakan turut merenungi masa lalu.


“Dunia berubah, itu karena pemikiran manusia yang hidup di dalamnya selalu berubah dan berkembang. Masa lalu itu tak sama dengan masa depan, kita di hari kemarin, itu berbeda dengan kita di hari ini. Begitupun semesta, dan makhluk yang hidup di dalamnya.”


Devan yang sebelumnya mendongak ke atas, kini menurunkan kepalanya. Ia memperhatikan Zivan serta ucapannya, dan menghayatinya benar-benar.


“Kau benar. Aku tidak ingat, seburuk apa aku di masa lalu. Aku hanya perlu menjalani hidup, dengan ingatan yang ada saat itu. Tapi…”, kalimat Devan tertahan, perasaannya penuh dengan keraguan.


“Seandainya… nanti semua ingatan itu telah kembali, akan jadi seperti apakah aku nanti?.”, ucap cemas Devan.


Zivan diam sesaat setelah mendengar perkataan Devan.


“Yang terjadi maka terjadilah. Dirimu fokus saja pada apa yang bisa kau kendalikan. Diluar kendalimu, cukup serahkan saja pada tuhan.”


Devan pun diam berfikir, merenungi perkataan Zivan barusan.


“Baiklah. Tak ada gunanya aku meragukan diriku sekarang. Aku akan berusaha semampu yang aku bisa.”


Zivan hanya diam, tak beri tanggapan. Dalam hatinya juga cemas sebab masih meragukan Devan.


“Oh iya, tadi diawal kau bilang magusku memiliki miracle yang sama dengan magusmu. Itu maksudnya apa?. Dan juga, kau berbicara seperti sudah mengetahui magusku.”


Pertanyaan Devan memecah keheningan Zivan.


“Ikutlah denganku.”, ucap Zivan sembari mulai melangkah.


Devan dan Zivan berjalan, menuruni anak tangga yang sebelumnya dilalui Devan, Morgan, dan Julian.


“Seperti yang kukatakan sebelumnya, magus adalah bagian dari miracle yang diturunkan tingkat kekuatannya. Dan miracle yang malaikat miliki, merupakan berkah turunan dari malaikat utama, para arcangel.”, ujar Zivan sembari berjalan.


“Arcangel?.”


“Malaikat yang menerima perintah langsung dari sisi tuhan. Mereka adalah malaikat yang paling dekat dengan tuhan. Anggap saja seperti pemimpin atau petinggi malaikat.”


“Begitu. Lalu?.”


“Kemudian Arcangel membagikan berkah dari tuhan itu, kepada seluruh para malaikat.”


“Jadi, maksudmu magus yang kau miliki, dengan yang Aslan miliki, berasal dari arcangel yang berbeda.”


“Tepat. Kekuatan diriku dan kekuatan Aslan, berasal dari berkah Arcangel yang berbeda. Inilah sebab terbesar mengapa aku tak bisa berbuat banyak untuk membantunya. Tapi…”.


Zivan menahan kalimatnya. Ia berhenti di dekat batang pohon kering yang masih tegak berdiri. Devan pun turut berhenti mengikuti Zivan.


“Karena itu dirimu, maka aku bisa membantumu untuk menguasai magusmu sendiri. Sebab, kekuatanku dan kekuatanmu, berasal dari arcangel yang sama.”, lanjut Zivan sembari menoleh kearah Devan sesaat.


“Siapakah arcangel itu, Zivan?.”


Zivan pun menyentuh pohon yang kering itu dengan satu telapak kanannya.


“Arcangel Azriel, malaikat kehidupan dan kematian.”


Kemudian perlahan pohon kering yang disentuh Zivan itu warnanya mulai berubah menjadi lebih hidup. Cabang dan rantingnya perlahan terbentuk Bersama dengan dedaunannya yang hijau.


Devan terkesima melihat fenomena yang tak biasa itu. Ia terpaku tanpa berkata-kata.

__ADS_1


“Inilah bagian dari miracle Arcangel Azriel.”, ucap Zivan.


“Itu sungguh luar biasa. Kau hidupkan pohon yang tadinya mati hanya dengan menyentuhnya saja.”.


“Oh ya?. Bagiku ini hal biasa, Devan.”


(“Seharusnya dirimu juga merasa begitu.”, ucap Zivan dalam hati.)


Zivan kemudian melepaskan sentuhan telapak tangannya. Dan pohon yang tadinya hidup kembali itu perlahan daunnya menguning, gugur, ranting-rantingnya patah berjatuhan. Pada akhirnya pohon itu kembali pada keadaannya semula. Kering dan mati.


“Aku bahkan pernah mengenal seseorang yang mampu menggunakan magus ini, hanya dengan melihat targetnya saja.”, lanjut Zivan.


Devan masih fokus pada fenomena yang dibuat Zivan itu. Ia pun tidak terlalu mendengar kalimat terakhir yang Zivan ucapkan.


“Zivan… pohonnya… kenapa malah kembali semula?.”, bingung Devan.


“Ooh… karena itu adalah magus, Devan. Inilah perbedaan antara kekuatan miracle dan magus. Kekuatan miracle mampu mengubah hukum alam, sedangkan magus tidak diberi hak oleh tuhan untuk mengubah hukum alam. Jika sesuatu mati, maka tak bisa hidup lagi. Begitulah hukum alam.”


“Jika begitu, magus malah terasa seperti kekuatan yang fana. Tak ada yang bisa diubah olehnya.”


Zivan kemudian tampak mengeluarkan sesuatu dari kantung baju di balik pakaiannya.


“Ya. Aku juga berfikir begitu. Magus itu kekuatan yang fana. Namun… tidak berarti tidak ada yang bisa dilakukan dengannya.”, ujar Zivan.


Zivan menatap segenggam tangkai Bunga Dandelion di tangannya, nampak terlukis senyum tipis di bibirnya.


“Dandelion?.”


“Ya.”, tanggap Zivan.


“Dimana kau memetiknya?. Apa di lembah ini terdapat taman Dandelion?.”


“Mana mungkin. Lembah ini datarannya kering dan kasar. Cuacanya juga tak bersahabat.”


“Jadi?.”


“Ini adalah kiriman dari seseorang.”


“Kiriman yang tidak biasa, kecuali kalau Dandelion memang kesukaanmu.”


“Sejujurnya bukan soal bunganya. Tapi dari pengirimnya lah yang membuat bunga ini berharga.”, ucap Zivan tersenyum.


“Memang siapa pengirimnya?. Ups, tidak jadi. Maaf, aku menanyakan sesuatu yang tidak perlu.”


“Tidak apa.”


“Beberapa waktu lalu, aku juga bertemu seorang gadis peri sedang bermain-main dengan dandelion di sebuah ladang bunga.”, lanjut Devan bercerita seraya tersenyum.


(“Gadis peri?”, Zivan membathin.)


“Oh ya?. Jadi kau bertemu dengan seorang peri?.”


“Ya. Saat itu pertama kalinya aku melihat kehidupan, setelah berhari-hari tak satupun yang dapat kuajak bicara. Sebelumnya, hanya kematian yang aku lihat.”


Zivan diam memandang Devan dengan ekspresi sedikit tak menyangka, matanya terbuka lebar, mulutnya sedikit menganga.


(“Jangan-jangan…”)


“Peri itu… Namanya siapa?.”, Zivan agak gelisah bertanya.


“Peri itu Bernama Luna.”


Gemuruh Guntur tiba-tiba terdengar keras, Bersama dengan kilat di langit malam itu. Zivan yang mendengar hal itu menjatuhkan seluruh Dandelion di tangannya, kemudian seluruh dandelion itu perlahan warnanya menguning dan kering.


(“Aku mengerti situasinya, Aslan. Alasan sebenarnya mengapa dirimu mengantar Devan padaku.”, pikir Zivan dalam hati.)


“Devan, apa dirimu merasa membenci Luna?.”


Devan merasa heran melihat reaksi Zivan menjatuhkan dandelion di tangannya.


“Zivan, kenapa kau bertanya seperti itu?. Dan juga…”, ucap Devan heran seraya melihat Dandelion yang jatuh itu. Namun kalimatnya segera dipotong Zivan.


“Apa juga kau tahu siapa Luna?.”, seketika raut Zivan menjadi serius.


Menyadari perubahan raut wajah Zivan, Devan pun menanggapinya dengan lebih serius.


“Aku hanya mengetahui kalau dia adalah seorang peri.”


Zivan diam lama, dalam hatinya ia menimbang dan berfikir.


“Zivan, ada apa?.”, tanya Devan serius.


Suara Devan memecah keheningan Zivan, ia tersadar.


(“Sepertinya tak cukup waktuku untuk ragu.”, Zivan membathin).

__ADS_1


“Ratu peri sebelumnya, Artemis, memiliki seorang putri, dan Namanya adalah Luna.”


“Jadi… Ibunda Luna telah tiada.”, Devan tak menyangka mengetahui itu, ia pun agak bersedih.


“Masalahnya bukan disitu, dirimu mungkin tidak ingat. Artemis adalah peri yang paling dibenci oleh seluruh kekuatan jahat di dunia ini.”


“Mengapa dia dibenci?.”


“Purify, adalah jenis sihir yang dimilikinya, meniadakan semua magus, sihir hitam, serta seluruh kekuatan jahat yang ada di dunia.”


“Itu artinya, kekuatan kita fallen angel, juga menjadi tak berguna dihadapannya.”, tangkap Devan.


“Karena itulah, Artemis tewas terbunuh pada Mythical War sebelumnya, oleh seorang pemimpin fallen angel saat itu.”, mata Zivan menatap tajam ke arah Devan.


“Deg-deg…”, Tiba-tiba Devan merasa ada yang bergetar dalam dirinya. Ia merasa pusing sesaat, dan seketika kembali normal.


“Luna kecil juga menjadi target saat peperangan itu. Itu karena dia putri Artemis, kekuatan Artemis pasti akan turun pada putrinya. Artemis tewas dan Luna selamat, tapi Luna harus kehilangan sayapnya, menjadi peri tanpa sayap, ia takkan bisa terbang untuk selamanya.”


Alis Devan terangkat, matanya melebar, nafasnya tertarik hingga naik dadanya, ia sangat terkejut mendengar ucapan Zivan.


Zivan pun mengingat kejadian Ketika ia diperjalanan menuju Rayyana…


(…Devan memerhatikan dari atas sampan. Peri-peri itu melakukan berbagai hal di atas awan….


Semua peri-peri itu bersayap, dengan lebar sayap yang tak lebih dari lebar punggungnya. Diantaranya ada yang terbang di langit-langit. Terkadang juga Luna melambai-lambai kepada mereka, dan mereka kemudian membalasnya. Namun, ketika mereka melihat Devan, mereka hanya berekspresi datar kemudian terbang pergi.


("Peri-peri itu semua punya sayap. Kenapa aku tidak lihat sayap padamu, Luna?")


Devan hendak melempar pertanyaan itu kepada Luna. Baru saja ia mulai membuka suara tiba-tiba...


"Ehm!!", kakek pendayung itu berdehem.


Devan yang duduk menyandar di tengah sampan menoleh ke arah kakek itu. Ia melihat kakek itu memandangnya tajam sembari menggeleng kepala pelan. Devan pun memilih diam dan tak mengeluarkan kata-katanya.


Luna terlihat terkesan memandang peri-peri lainnya terbang. Ia berdiri pada bagian sampan sembari pandangannya mengikuti peri-peri yang terbang.


"Wuaaaa!. Asiknyaaaaa lihat mereka terbaang. Tak sabar rasanya aku dewasa. Kalau sayapku tumbuh, bakal ku kejar mereka. xi-xi", ucap Luna antusias lalu tertawa kecil.


Tiba-tiba raut wajah Devan berubah menjadi serius mendengar Luna berucap seperti itu. Ia mengingat tentang apa yang ia lihat beberapa saat lalu, di atas salah satu awan Cumulus, seorang peri yang menggendong anaknya yang tengah berusaha menggapai buah. Dan anak itu di punggungnya telah memiliki sayap.


Devan melirik ke arah kakek pendayung. Kakek itu masih mengawasi Devan, menatapnya tajam, seraya menggeleng pelan. Devan hanya menghela kecil, seraya menundukkan kepalanya…)


(“Jadi itu sebabnya, mengapa hanya Luna sendiri peri yang tak memiliki sayap.”, Devan membathin, terjawab penasarannya.)


“Tapi mereka tak mengetahui, bahwa Luna berhasil selamat. Hingga akhir, mereka beranggapan bahwa Artemis dan putrinya telah mati.”


“Ngomong-ngomong Zivan, kenapa kau menatapku seperti itu?. Seakan kau sedang marah padaku.”


“Oh, maaf. Aku hanya terbawa suasana masa lalu.”, ucap Zivan seketika mengubah raut wajahnya menjadi ramah.


Zivan diam sejenak, menenangkan pikirannya.


(“Makhluk ini bukanlah Fallen Angel Devan Zora, ia adalah seorang Manusia, Devan Aria. Dia tidak mengetahui apapun.”, Zivan membathin menenangkan pikiran.)


“Tak perlu minta maaf. Jadi, masalahnya dimana?. Luna akan tetap aman selama mereka tak tahu kalau ia masih hidup.”


“Masalahnya bermula ketika kau bertemu dengannya.”


“Aku?.”, Devan heran mendengan ucapan Zivan.


“Beberapa waktu lalu, aku merasakan gelombang magus kuat, milik seorang pemimpin Fallen Angel. Dan saat ini aku tahu, gelombang magus itu, sama seperti aura yang kau miliki, Devan.”


“Maksudmu…Aku?... Pemimpin Fallen Angel?...”


“Aku tidak tahu apa yang terjadi di Delbora. Kemungkinan, terjadi kudeta. Dan kau terbunuh.”


Devan bingung, ia diam tak menanggapi.


“Tapi beruntungnya, jiwa malaikatmu direinkarnasi pada seorang manusia. Sayangnya, kau belum bisa mengendalikan kekuatanmu. Magusmu aktif, di sepanjang perjalananmu”, lanjut Zivan.


Devan pun mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu, membandingkannya dengan ucapan Zivan.


“Tunggu. Gelombang magus apa maksudmu?. Aku tidak merasa pernah mengeluarkan gelombang magus yang kuat seperti yang kau maksud.”


“Buktinya, dirimu yang sekarang, tidak membunuh makhluk hidup di sekitarmu, dugaanku, Aslan lah yang membuatmu berhenti mengeluarkan magusmu. Namun ia tak sadar kalau akibatnya akan seperti ini.”


“Akibat apa?.”


“Ledakan magus seorang Devan Zora, dan itu akan memberitahu musuhmu, bahwa Jiwa Devan Zora, masih hidup. Kira-kira, apa yang akan dilakukan musuh yang membunuhmu, ketika mereka tahu bahwa targetnya masih hidup?.”


“Mereka akan mencariku.”


“Ya. Mereka akan menyelidiki tiap jejak kekuatan magusmu. Sialnya, kau bertemu dengan Luna, apalagi bila kau pernah sampai di tempat ia tinggal. Maka penyelidikannya secara tidak sengaja akan mengantar mereka pada Luna. Dan kalau sampai para Fallen Angel merasakan aura Luna dan mengetahui bahwa putri Artemis masih hidup, maka…”


“Luna dalam bahaya!!.”

__ADS_1


***


__ADS_2