Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 42: Kesalahpahaman


__ADS_3

"Jadi begitu, ternyata fungsi gelang ini untuk menyembunyikan aura gelapmu.", ucap Pasha seraya melihat gelang milik Devan yang ia pegang.


Alishia sedikit terkejut tak menyangka mendengar hal itu.


"Jadi dari awal kau menipu kami!?", tanya Alishia dengan nada menekan, dahi diantara dua matanya sampai mengkerut sebab menatap Devan dengan pandangan tak senang.


"Kenapa??..... Apa maksud kalian?....", Devan masih tak menyadari keadaan.


"Devan...kau bukan manusia biasa...,kan?", tanya Pasha serius.


Devan diam sejenak...


"Yaa. Aku bukan manusia biasa...", jawab Devan pada Pasha, "tapi aku tidak juga sepenuhnya fallen angel, Shia.", sambung Devan lagi seraya menoleh memandang Alishia.


"Haa? Tidak sepenuhnya?... Mencoba menipu kami lagi?.. Kata-kata makhluk durhaka seperti kalian tak bisa dipercaya!!!."


Devan merasa kesulitan, tampak dari raut wajahnya, kini Pasha dan Alishia telah memberi pandangan berbeda pada dirinya.


"Aku menipu? Untuk apa?...."


"MANA KU TAHU!....", Alishia memejam mata sebentar, lalu lanjut bicara, "HM!, aku baru ingat, kau daritadi buru-buru hendak ke Rayyana, padahal di sana sedang kacau setelah diserang oleh kalian."


"Diserang???", tanggap Devan tak menyangka.


"Aku tak tahu apa tujuan kau kesana. Setelah tahu identitasmu, aku jadi yakin, pasti itu bukan tujuan yang baik."


"Aku tidak berada di pihak mereka, percayalah!", Devan pun memandang Alishia dan Pasha dengan pandangan harap.


Pasha hanya diam tak bicara, kini ia hanya fokus memandang dan mendengar pembicaraan Devan dan Alishia.


"Zlur!.... Bushh!", Seketika Alishia merampas cepat gelang hitam yang dipegang Pasha, kemudian dengan kuat ia melemparnya ke arah Devan.


Devan sedikit tersentak ke belakang, hampir-hampir ia membentur etalase di belakangnya.


"Pergilah dari kota ini, FALLEN ANGEL!!", usir Alishia dengan nada kasar.


"Aku memang hendak pergi dari sini, karena itu dari awal aku....."


"OUH, aku sudah tak berniat untuk mengantar kau ke Rayyana."


"Oke!, aku akan cari peri lain yang bisa mengantarku."


"Tch!", desis Alishia, ia hendak menyerang Devan namun langsung ditahan oleh Pasha.


"Tunggu!! Lishia, aku tidak mau ada kerusakan di tokoku. Biarkan saja dia di kota ini, dia hanya sendiri, takkan bisa berbuat macam-macam disini."


Alishia pun menoleh ke Pasha dan langsung berkata, "Kau lupa bagaimana hancurnya Rayyana....!!"


"Dia hanya Fallen Angel biasa."


"Dengan aura seperti it...."


"Sudah kubilang dia hanya fallen Angel biasa."


".....Hhhuuuh", Alishia diam sesaat menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.


"Baiklah kalau menurut penilaianmu begitu.", ucap Alishia pada Pasha.


Alishia kemudian melangkah mendekati Devan yang masih berdiri di tempatnya.


"Lakukan saja sesukamu, tapi kusarankan kau pakai lagi pendantmu itu, kalau sampai peri lain tahu, takutnya kabar buruk justru datang menimpamu."


Setelah mengucapkan itu, Alishia pun melangkah keluar dari ruang itu dengan raut tak senang, meninggalkan Devan dan Pasha yang masih diam di tempatnya.


("Ternyata sampai seperti ini, kebencian peri pada malaikat jatuh.", bathin Devan.)


Devan pun lalu berbalik dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari toko itu, namun.....


"Tunggu, Devan.", panggil Pasha.


Devan pun menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghadap Pasha.


"Kalau engkau hendak menuju Rayyana, sebaiknya kau bujuk lagi Lishia."


"Kenapa?"


"Dia adalah pilihan terbaik bila ingin cepat sampai di negeri Rayyana."


"Kalau dianya tak mau, aku bisa apa."


"Itu terserah kau, takutnya kau malah kerja dua kali, meminta peri lain untuk mengantar, tapi peri lainnya juga menyarankanmu untuk meminta pada Lishia."


"Benarkah?"


"Coba saja. Tapi kusarankan kau segera susul Lishia, jangan sampai kehilangan dirinya."


"Kau......kenapa membantuku?"


"Kupikir kau berkata jujur, dan Lishia hanya tidak tahu saja."


Devan diam sejenak menatap Pasha.


".....Baiklah.... akan kucoba bicara lagi padanya."


Devan pun segera berbalik dan berjalan cepat menuju pintu keluar, dan segera menyusul Alishia.


.....


Beberapa saat kemudian.....


Devan akhirnya berhasil menyusul Alishia yang tengah berjalan-jalan, namun ia hanya mengawasi dan mengikuti agak jauh di belakangnya.


("Disana Alishia, tapi..... selanjutnya bagaimana??", tanya Devan dalam hati.)


Setelah beberapa saat, Alishia mulai merasa seseorang tengah mengikutinya, sehingga ia memutuskan untuk berbalik badan.


Lalu Devan pun seketika menghadapkan dirinya pada sebuah toko rumah peri berjendela lebar dan panjang. Dari dalam, berdiri seorang peri perempuan yang sedang menjual permen kapas.

__ADS_1


Saat itu, Devan tak sengaja nelihat peri berambut kuning keemasan itu, sedang membuat permen kapas.


Dihadapan wadah seperti sampan kecil berwarna putih kemerahan itu, si peri penjual mengangkat kedua tangannya tepat diatas wadah tersebut.


Kedua tapak tangannya saling berhadapan, dan terdapat sebuah tongkat kecil berdiri diantaranya,, dan beriak angin pun timbul, dengan warna-warni sihir perinya.


Devan merasakannya, sebuah angin yang sangat hangat terasa di hadapan wajahnya. Setelah Devan perhatikan baik-baik, ternyata wadah seperti sampan kecil itu, berisi gula, yang melayang berputar ke atas dibawa angin yang hangat itu.


Gula-gula itu perlahan berubah bentuk menjadi benang-benang tipis yang perlahan menggumpal, berputar menuju bagian atas tongkat kecil, berputar kecil yang lama-lama perlahan melebar.


Dan setelah beberapa saat, terbentuklah permen kapas yang cukup besar lagi penuh warna; ungu, violet, purple, dan segala macam warna campuran merah dan biru ada di sana.


"Sudah jadi!... Ini, adik kecil.", ucap peri pembuat permen kapas itu sembari mencondongkan dirinya keluar jendela menyodorkan permen kapasnya.


Devan menoleh, ia pun baru menyadari di sebelahnya ternyata ada peri perempuan kecil yang tengah menunggu permen kapasnya.


Peri kecil itu berambut pendek kuning keemasan. Daritadi sudah Ia menoleh menengadah kepala ke atas, melongo lama menatap Devan dengan tatapan polos dan mulut ternganga.


"Hm?", gumam peri pembuat permen kapas itu, ia pun turut menoleh ke arah pandang si peri kecil.


"O laa, anak manusia rupanya...", si peri pembuat permen kapas langsung tersenyum-senyum melihat Devan.


Sementara Devan, ia jadi agak canggung karena di tatap si peri kecil dengan rautnya yang polos. Membuat Devan bingung mau bereaksi bagaimana.


"Eeee... Halooo... peri kecil.", Ucap Devan sembari tangan kanannya mengangkat melambai-lambai menyapa si peri kecil. Ia juga memberi senyum, namun karena canggung senyumnya jadi tampak kecut.


Sebentar kemudian Devan mencuri pandang ke arah Alishia, lalu ia dapati Alishia memandanginya dengan pandangan agak geli melihat senyum Devan pada si gadis peri kecil. Devan pun buru-buru mengembalikan pandangannya, kini perasaannya dilipiluti rasa serba salah.


Si peri kecil pun menyambut permen kapas yang di sodorkan oleh si peri pembuat. Walau begitu mata polos dan wajah datarnya masih tak lepas dari memandang Devan.


Devan jadi salah tingkah, ia merasa tak enak di pandang oleh peri kecil.


"Anu, apa ada yang salah di wajahku?", tanya Devan pada peri pembuat permen kapas itu sembari menoleh ke arahnya.


"Hoo, tenang saja, adik kecil itu hanya penasaran padamu. Hai anak manusia,,, mau beli permen kapas jugaaa?"


"Eee tidak, aku kemari hanya melihat-lihat saja."


Dan setelah itu si peri kecil pun mulai bicara,


"Mau?", ucap si peri kecil sembari menyodorkan permen kapasnya ke arah Devan.


Devan pun menghadapkan dirinya ke arah peri kecil tersebut seraya senyum berkata,


"Terima kasih peri kecil, aku...."


"Tidak boleh, adik kecil..", seketika Alishia datang menyela.


Si peri kecil pun menolehkan kepalanya ke arah Alisha yang datang dari sisi lain.


"Jangan sembarangan menawari makanan kalau tidak kenal yoo.", lanjut lembut Alishia seraya tersenyum memandang si peri kecil.


"Alishiaaa...", sapa si peri pembuat permen kapas tersebut tatkala ia melihat Alishia datang.


"Haii, sepertinya sudah mulai laris nih kak, permen kapasnya."


"Mmm.", gumam si peri penjual mengiyakan seraya mengangguk senyum. "Sihirmu benar-benar membantuku, Lishia.", tambahnya, sembari menyentuh gelang yang ia kenakan, di tangan kanannya yang terangkat.


"Sihir Lishia?", tiba-tiba Devan menyeletuk.


"Ya. Sihir Lishia terkompres di sini.", Si peri penjual permen kapas itu menunjuk ke batu prisma kebiruan yang melekat di gelang yang ia kenakan.


"Pendant?"


"Benar sekali, yaa angin Lishia sungguh hangat, sampai gula pun dibuat cair olehnya, menakjubkan bukan?"


"Ternyata bisa juga seperti itu, sungguh menakjubkan.", Devan mencoba memuji, ia menoleh sebentar untuk melihat reaksi Alishia.


"Hmm!", Alishia bergumam berat, sembari menatap sinis ke Devan. Devan lagi-lagi harus bersikap seakan tak melihatnya.


"Aduuuh...", si peri penjual mulai menyadarinya. "Apa kalian sedang ada masalah?"


"Hm?, hehe cuma hal biasa kak.", kemudian Alishia mendekati si pembuat permen kapas dan berbisik padanya. "Biasalah, ketidaksepahaman bisnis. Sstts."


"Ooh gitu ya."


Melihat hal itu, Devan pun tambah cemas.


("Apa yang ia bisikkan.")


"Kakak peri, aku boleh bertanya?", tiba-tiba Devan mengalihkan pembicaraan.


"Yaa. Mau tanya apa?"


"Disini, apa ada transportasi untuk pergi menuju negeri lain? Misalnya transportasi menuju Rayyana."


"Oh iya. Aku baru ingat.", celetuk Alishia. "Kakak, dan... adik kecil, aku duluan ya, aku baru ingat kalau masih ada urusan. Dadaah.",


"Ya. Sampai jumpa, Alishia.", ucap si peri pembuat permen kapas. Sementara si peri kecil, hanya melihat Alishia pergi tanpa keluar kata.


"Oh iya dirimu tanya apa tadi anak manusia... Oh transportasi ya. Hmmm, biasanya kalau kami hendak berangkat ke mana-mana kami langsung terbang saja. Haaa!, kenapa tidak minta tolong Alishia saja, kalau sama dia pasti cepat sampainya."


Dan tampaklah sedikit kelesuan di wajah Devan.


("Pasha benar.")


Si peri pembuat permen kapas pun paham setelah melihat raut wajah Devan.


"Sepertinya itu tampak sulit bagimu, anak manusia."


Devan pun menggeleng. "Aku tidak apa-apa kakak peri. Kalau begitu, aku harus segera pergi, permisi. Daah, peri kecil."


"Yaa, hati-hati anak manusia.", ucap si peri pembuat permen kapas. Sementara, Si peri kecil, ia seperti biasa, hanya memandang polos, tanpa membalas sapaan Devan.


Sesaat kemudian, sambil melihat kepergian Devan, Si peri kecil pun mulai bicara,


"Kakak permen kapas."

__ADS_1


"Ya?, adik kecil."


"Dia siapa? Aku baru lihat."


"Dia itu manusia adik kecil, dari daratan bawah."


"Apa dia jahat?"


"Hm? Kenapa adik kecil berfikir seperti itu?"


"Soalnya.... Kakak Alishia tak menyukainya."


"Benarkah?, Hmmm Iya juga ya."


Devan masih mengikuti Alishia dari belakang, namun kali ini dengan jarak yang dekat. Alishia sebenarnya daritadi menyadari, namun ia mengabaikannya. Hingga sampai beberapa saat,


"Heii!, kenapa mengikutiku terus?", Alishia berbalik badan dan berbicara dengan nada tinggi pada Devan.


"Eeee.... Pasha menyarankanku untuk tetap meminta bantuanmu, dan si peri permen kapas juga menyarankanku begitu."


"'Oke, aku akan cari peri lain yang bisa mengantarku',- aku ingat kau bilang begitu padaku."


"Baiklah Shia, soal itu aku minta maaf."


"Minta maaf?, Aku tidak tersinggung dengan itu, dan juga berhentilah memanggil namaku. Aku tidak ingin kau memanggil namaku lagi.", lalu Alishia kembali bergegas meninggalkan Devan. Namun, Devan belum menyerah, ia masih mengikutinya dari belakang.


"Baiklah, apa ada cara lain agar aku mendapat bantuanmu?"


Alishia diam.


"Bagaimana kalau kita saling menawar."


Alishia masih tak menjawab.


"Permintaan. Kau boleh minta satu permintaan padaku."


"Berhenti mengikutiku, itu pintaku.", jawab Alishia sembari menambah kecepatan langkahnya.


"Tapi kau harus mengantarku."


"Tidak!"


"Hmmmm.", Devan mulai mengeluh, ia mulai berfikir usahanya akan sia-sia. Hingga kemudian, langkahnya tiba-tiba terhenti.


Ia tak sengaja melihat sebuah gedung besar yang ada di sisinya. Devan pun perlahan menghadap ke arah gedung tersebut.


'Perpustakaan Artemis', tertera jelas di bagian atas gedung tersebut, yang membuat Devan menghentikan langkah kakinya.


Devan pun terdiam sejenak, memandangi betul-betul tulisan mencolok di bagian depan atas gedung tersebut.


("Artemis?")


Devan pun teralihkan, ia seakan terhipnotis, dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam perpustakaan tersebut.


Dibalik pintu masuknya, tampaklah sebuah ruangan luas yang banyak jejeran rak-rak buku yang membumbung tinggi ke atas.


Devan melangkah maju semakin ke dalam, beberapa meja dan kursi tampak tersedia bagi pembaca, dan juga beberapa sudah terisi oleh peri-peri yang sedang membaca.


Di dalamnya tak ramai peri yang berkunjung, namun juga tak sepi, namun semakin ke dalam, semakin sedikit peri yang berkunjung.


Devan tampak masih sibuk memandangi tiap rak buku, bahkan sesekali ia sampai menengadahkan kepalanya ke atas saking tingginya rak-rak buku itu.


Namun tak satupun tampak tangga, sebab para peri cukup terbang dengan sayapnya, untuk menggapai buku yang tinggi letaknya.


Hingga suatu ketika, ia sampai tepat di tengah-tengah perpustakaan, yang disana terdapat sebuah rak buku berbentuk lengkung setengah lingkaran berdiri.


Meja-meja persegi lengkap dengan kursi terletak rapi memencar di sekitarnya. Namun tak satupun ada pengunjung yang duduk, kecuali tampak seorang Peri yang berdiri di tengah-tengah itu.


Peri itu tengah membaca buku, menghadap ke arah rak yang melengkung itu. Sementara Devan, langkahnya semakin menghampiri ke arah Peri.


Sang peri pun menyadari langkah kaki Devan, ia lantas menutup buku yang ia baca itu, dan berbalik ke arah Devan.


Saat itu, mereka saling pandang, dan Devan, langkahnya langsung berhenti.


Devan melihat, seorang peri yang mengenakan pakaiannya serba putih, memakai gaun panjang dan lebar yang menutup tangan dan kakinya.


Kemudian rambutnya berwarna kuning keemasan yang dikepang mahkota, hingga tak ada lagi rambut terurai di belakang kepalanya, kecuali rambut bagian depan kiri dan kanan kepalanya yang panjang terurai hingga bahunya.


Di atas kepalanya tampak lingkaran cahaya keemasan, serta di punggungnya juga tampak sayap putih indah yang mekar selebar punggungnya.


Di sisinya, tampak berdiri melayang sebuah tongkat panjang biru muda.


Bagian atas tongkat itu adalah bola transparan, yang di dalamnya ada buku dan crystal biru yang terang diatasnya.


"Kamu.... Ibu peri yang kutemui di langit pertama tadi malam itu, kan?"


"Kamu... Anak manusia yang melintasi langit pertama malam tadi."


Keduanya pun saling menyahut, tanpa ada yang menyangkanya satu sama lain, bahwa mereka berdua akan bertemu kembali di sini.


.....


Sementara itu, Alishia merasa Devan sudah tak berada di dekatnya.


"Hiuh..., akhirnya makhluk itu tak mengikutiku lagi."


Alishia pun menghentikan langkahnya dan berbalik badan untuk memastikan. Pandangan matanya menyebar disetiap ruas jalan.


("Kira-kira dia pergi ke mana ya?")


Kemudian bola mata Alishia berhenti pada gedung perpustakaan yang tadi ia lewati.


Seketika perasaan Alishia menjadi cemas.


("Jangan-jangan Devan masuk...."), raut wajah Alishia seketika juga berubah, ia agak sedikit terkejut.


Alishia lantas langsung berlari kembali menuju gedung perpustakaan tersebut. Dalam larinya, tersebutlah sebuah nama yang dicemaskan oleh Alishia,

__ADS_1


"Bunda Amaryllis."


***


__ADS_2