
Beberapa waktu pun berlalu, mereka bertiga baru saja memasuki bibir lembah. Kini di kanan dan kiri mereka terdapat tebing yang menjulang ke atas, meskipun begitu areanya cukup lebar.
Di sisi kanan dekat mereka, terdapat parit kecil yang dangkal, yang airnya mengalir pelan memasuki lembah. Jalan pun semakin tak memadai untuk mobil bisa masuk lebih jauh.
"Tak salah lagi, di sini Lembah Sei Roja.", ucap Julian.
Langit senja memerah, namun di depan sana awan hitam pekat nan rendah menyelimuti langit menggelapkan lembah Sei Roja.
"Di depan sana sudah tak ada jalan, kita harus turun dan lanjut berjalan kaki.", tambah Julian.
Mobil kemudian menepi dan berhenti. Mereka bertiga turun dan lanjut berjalan kaki menuju ke dalam lembah.
"Jadi, di mana kita bisa temukan pria bernama Zivan ini?.", tanya Devan.
"Mungkin kita akan tahu, ketika kita mulai menjelajah di ngarai ini.", ucap Julian.
"Menjelajah ya. Di lihat saja kita sudah tahu, betapa luasnya Lembah Sei Roja ini. Sepertinya akan makan waktu, sementara hari semakin gelap.", keluh Morgan.
Mereka bertiga mulai berjalan, sambil melempar pandangan ke seluruh sudut lembah yang bisa di jangkau mata, Terkadang melangkahi beberapa penghalang kecil di jalur mereka.
"Ngomong-ngomong soal gelap, di depan sana langit di tutupi awan mendung. Tapi.... Awan itu tampak lebih rendah kah?.", Julian memandang awan itu sambil mengernyitkan dahi, jemari tangannya menyentuh bibirnya.
"Awan itu memang rendah. Ku pikir dari tempat sebelumnya tak ada tanda akan hujan. Sepertinya di sini akan terjadi hujan lokal.", tanggap Morgan.
Devan berjalan sambil melihat awan itu dengan seksama.
"Ha?!.", Devan bereaksi kecil.
"Kau menemukan sesuatu?.", tanya Julian pada Devan.
"Awan itu bukan pertanda hujan lokal, tapi fenomena yang hanya terjadi di lembah ini. Kalian ingat yang di katakan ketiga remaja tadi, tentang orang yang tersambar petir sebab memaksa masuk ke lembah ini. Mungkin saja awan itu penyebabnya.", jelas Devan.
Morgan dan Julian berjalan sambil menoleh ke Devan agak lama. Mereka bereaksi seakan perlahan menanggapi serius cerita tersebut. Setelah itu pandangan mereka kembali ke depan, terus berjalan tanpa memberi tanggapan perkataan Devan.
Awan itu banyak dan luas, pergi ke arah manapun selama mereka berjalan memasuki lembah, mereka tetap berjalan mendekati awan mendung itu.
Semakin mereka mendekat awan mendung itu mulai terlihat kilatan sesekali. Kemudian berkelip semakin sering dan mulai mengeluarkan petir di langit.
Setelah banyak langkah yang mereka tempuh, suara gemuruh mulai terdengar, semakin lama semakin jelas lalu mulai sedikit menggetarkan tanah di mana mereka berpijak. Petir di langit juga semakin bertambah banyak muncul secara bersamaan.
"DUAR!!!.", Seketika terdengar suara petir menggelegar.
"Ini hanya perasaanku saja, atau memang awan itu semakin aktif seiring kita berjalan maju?.". ucap Morgan, perasaan kengerian mulai dirasa oleh Morgan.
"Aku juga berpikir begitu. Itu artinya awan itu memang menanggapi kita.", tanggap Julian.
Mereka kemudian baru saja sampai di bawah awan hitam itu. Tiba-tiba....
"DUAR!!!.", Seketika kilatan langit muncul terang sesaat bersamaan dengan dua petir menyambar agak jauh di kedua sisi mereka, dan membuat mereka terkejut.
"Sepertinya itu pertanda, kalau kita tidak memenuhi syarat untuk masuk lebih dalam.", ujar Devan, perlahan ia mulai merasa ragu.
"Entahlah. Kita juga bisa berasumsi bahwa ini adalah ujiannya.", jawab Julian.
"'Berhati luas dan tidak terikat dunia' kah?.", ujar Morgan.
"Heuh.. Apa maksudnya?. Itu seperti dibuat-buat agar terdengar berkesan.", Julian menyela.
"DUAR!!!", Beberapa kilatan petir bersamaan menyambar tanah tepat beberapa meter di hadapan mereka, meninggalkan bekas lubang yang besar. Sambarannya menimbulkan angin kencang sesaat yang menerpa deras mereka, seketika itu pula langkah mereka terhenti.
"Hei Morgan, Julian. Apa yang terjadi jika petir itu mengenai kalian?.", tanya Devan, nafasnya memanjang, mencoba tenang.
__ADS_1
"Kami akan celaka. Tidak seperti peluru sebelumnya yang berwujud fisik, petir merupakan energi alam yang murni. Tak peduli walau kami berwujud astral, petir itu akan berdampak fatal pada kami berdua.", jelas Morgan.
"Kalau kalian saja bisa celaka, apalagi aku.", cemas Devan. "Lanjut kah?.....atau kembali kah?....", Devan semakin ragu.
"Putuskanlah!. Lanjut atau tidak itu tak berpengaruh padaku dan Morgan. Sejak awal ini adalah perjalanan kau, Devan. Kami hanya diminta untuk menemani kau sampai tujuan.", ujar Julian.
Devan memandang Julian, sebentar kemudian ia memandang Morgan. Morgan pun mengangguk kepala meng-iyakan perkataan Julian.
"Tapi....", timpal Julian. "Sebelum kau memutuskannya, jangan lupakan alasan kau pergi hari ini, sebagai bagian dari pertimbangan untuk menentukan keputusan. 'Mengapa kau pergi ke Lembah ini, Devan?'."
"Aku pergi ke lembah ini sebab Aslan yang meminta.", jawab Devan, namun tiba-tiba Devan teringat...
(".....kita harus cepat, tak hanya demi engkau, namun juga demi Luna dan para peri itu.", ucap Aslan meninggikan nada bicaranya.....)
"Kita tetap lanjut.", ucap Devan tegas.
("Mungkin aku akan mengerti maksud Aslan, setelah aku bertemu dengan pria bernama Zivan ini.", Devan membathin.)
Mereka kembali berjalan seperti biasa di tengah awan kilat yang gelap dan tak bersahabat. Morgan memandangi tanah di sekitar.
"Banyak sekali bekas sambaran.", ucap Morgan.
"Beruntung petir-petir itu tidak mengarah ke kita.", Devan menanggapi.
"Semenjak kita datang sudah tiga kali petir menyambar.", ucap Julian.
"Itu seperti alam sudah tiga kali memberi peringatan.", ujar Morgan.
"Hah?!", Tiba-tiba Devan berhenti dan menoleh ke Morgan.
"Apa?.", tanya Morgan ke Devan.
"DUUAAAR!!!...", seketika beberapa petir menyambar dan mengenai mereka.
***
Satu hari yang lalu di Negeri Rayyana...
"DUM!!!"
Tiba-tiba datang sesosok makhluk dari ketinggian mendarat dengan keras hingga membuat negeri awan itu bergetar. Sayapnya membentang besar berwarna hitam pekat, bulu-bulunya beberapa lepas melayang-layang di sekitarnya.
Ia kemudian berdiri menegakkan tubuhnya. Sesosok pria dengan Postur tubuh tinggi dan agak kekar, perawakan muda, dan memiliki bentuk mata tajam yang berbola mata merah. Ia memakai pakaian elegan yang serba hitam.
Rambutnya hitam pekat, dengan bagian sampingnya lurus panjang hingga menyentuh sebagian telinganya, dan bagian tengah atasnya tersisir rapi ke belakang kemudian di ikat kuncir.
"Yo.. Peri-peri kecil sekalian.", ucap pria itu dengan nada mengejek, ia sumringah dengan senyuman jahat.
Suaranya menggema di ikuti dengan aura hitam darinya yang menyebar hingga ke seluruh negeri. Saat itu tak ada satupun yang tak mendengar suaranya dalam negeri itu.
Setelah itu peri-peri melayang-layang di atas, melihat ke arah di mana suara dan getaran berasal. Dari atas, peri-peri melihat pria itu dengan pandangan tak menyenangkan.
"Hem!, panggung untuk diriku ternyata begitu mudah aku dapatkan.", ucap kecil angkuh pria itu.
Tak lama kemudian peri-peri itu pergi meninggalkan pria itu, mereka menjauhi di mana pria itu berada dan memasuki rumah-rumah mereka.
"Apa???", ucap pria itu. Wajahnya berubah menjadi tak senang melihat peri-peri itu mengabaikannya. Pria itu hanya diam memandangi peri-peri itu terbang meninggalkannya.
Kini pria itu sendirian. Namun tiba-tiba ia merasa ada seseorang di belakangnya. Ia kemudian berbalik dan mendapati Kakek Luna melihatnya dari jauh. Kini mereka pun saling pandang.
Kakek Luna mengangkat tangan kanannya ke depan perlahan dengan telapak tangannya terbuka menghadap ke atas, kemudian jemarinya perlahan mengepal.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba pria itu menyela gerakan Kakek Luna. Tangan kanannya mengangkat ke depan, jemarinya rapat dengan telapak tangan menghadap ke Kakek Luna.
"Hentikan saja itu, kakek tua. Kau takkan bisa melepaskan sihir di hadapan ku."
"Hmm?.", Kakek Luna bereaksi heran dan menghentikan gerakannya.
"Lihatlah apa yang ada di pergelangan tanganku.", ucap pria itu dengan senyum sinisnya.
Melihat itu, raut wajah Kakek Luna tiba-tiba berubah menjadi agak marah sesaat. Sebuah kalung berbentuk hati terlilit erat menggantung di pergelangan tangan pria itu.
"Pendant milik sang ratu peri, Artemis.", ucap pria itu, bibirnya terbuka dan tersenyum lebar.
Kali ini Kakek Luna hanya mendengar pria itu dengan tenang. Sama sekali tidak terpancing dengan perkataan pria itu.
"Tidakkah engkau marah, kakek tua?. Bukankah Artemis adalah putrimu?.", ucap pria itu masih mencoba memancing amarah Kakek Luna.
Pria itu kemudian memiringkan kepalanya melihat ke Arah Kakek Luna. Telapak tangannya yang sedari tadi sejajar menghadap ke arah Kakek Luna pun ikut memiring, jemarinya kemudian terbuka, namun tiba-tiba membengkok seakan mencengkeram sesuatu.
"Hm?.", Pria itu bereaksi heran. Ia melihat bingung ke arah Kakek Luna yang tak bergerak di tempatnya.
"Jadi begitu, pantas saja engkau bisa menembus penghalang negeri ini.", tiba-tiba terdengar nada tinggi seorang wanita dari ketinggian.
("Suara ini...", ucap pria itu dalam hati.). Pria itu kemudian menoleh ke arah suara itu.
Nampak sesosok peri wanita dewasa tengah melayang-layang tinggi di udara, memandang rendah ke arah pria itu, tanpa sedikit menghadapkan wajahnya ke bawah, hanya pupil matanya saja yang melirik ke bawah.
Wanita itu berambut kuning keemasan sebahu, bagian depannya belah samping dengan poni tersisir rapi ke kanan. Pupil matanya juga berwarna kuning keemasan.
Ia mengenakan pakaian berbahan armor dengan dominasi warna biru muda yang melindungi hampir seluruh tubuhnya, kecuali kedua lengannya hanya dilindungi kain putih tanpa armor.
"Yo!. Lama tidak bertemu, Kapten Pasukan Peri Valkyrie, Aliya. Mengapa dirimu tak terlambat seperti sebelumnya?.", ucap pria itu dengan raut wajah mengejek.
Pria itu melihat sebuah tongkat yang dipegang oleh peri bernama Aliya itu, di bagian atasnya terdapat mahkota yang menguncup sehingga membentuk prisma segitiga.
("Tongkat itu...", pria itu membathin.)
"Heeee. Jadi dirimu adalah pengganti Artemis, kalau begitu harusnya aku memanggilmu, Sang Ratu Peri, Aliya.", tambah pria itu.
"Engkau...Bagaimana kau tahu namaku?.", tanya ratu peri. "Oh Begitu. Engkau Yudhan yang waktu itu.", ucap Aliya dengan raut marah.
"Aku tersanjung dirimu masih mengingat diriku. Tapi, dugaanmu itu bisa dikatakan salah, dan juga bisa dikatakan benar.", ucap pria itu sumringah.
"Ya, aku mengerti. Yudhan adalah nama palsu. Tidak ku sangka seorang pemimpin malaikat jatuh kini sedang berada dibawahku, Istan Zora.", ucap Aliya sambil mengangkat sedikit dagunya, bola matanya memandang ke bawah ke arah pria bernama Istan itu.
"Apa?", mendadak raut wajah Istan itu menjadi serius.
("Bagaimana dia tahu?.", Istan membathin.)
"Apa engkau bertanya bagaimana aku tahu?. Bukankah tampak jelas di wajah bodoh itu?.", hina Ratu Peri.
"Dirimu masih sombong saja, Aliya.", ucap Istan dengan wajah serius. "Tapi...Aku menyukai itu.", Ucap Istan menggoda dengan senyum di bibirnya.
Aliya bersikap dingin tak menanggapi pembicaraan Istan. Ia lantas mengubah pembicaraan.
"Apa maksud kedatangan kau kemari?, Istan."
Istan mengangkat kepalanya dan memandang Aliya dengan senyuman jahat.
"PERANG!."
***
__ADS_1