Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 22: Ireena, Si Pengendara Angin Dingin


__ADS_3

Tengah malam di kediaman Zivan…


Devan terlelap duduk tersandar di pojok, antara kasur dan pagar pembatas, Bersama Morgan dan Julian yang berbaring di atas lantai bersebelahan.


Sedangkan Zivan, ia masih terjaga. Ia tengah duduk berselonjor kaki sambil bersandar tiang di atas pagar pembatas agak jauh dari mereka bertiga. Lehernya menoleh ke depan, dan matanya seakan memandang jauh, tapi sebenarnya ia merenung jauh dalam pikirannya.


(…..”….kita mungkin mengetahui banyak hal apa yang terjadi di depan, tapi kita tidak akan mengetahui sebab ‘mengapa hal itu terjadi’, jawaban ‘mengapa itu terjadi’, hanya dimasa lalu kita dapat temukan.”…..


….. “…..Menutup mata yang ada di belakang, itu sama saja seperti menutup mata di kiri kanan dan depan. Kita bisa melihat, tapi kita tidak tahu mengapa itu terjadi…..”…..


…..”…..menolak masa lalu…membenci masa lalu…tidak terima dengan masa lalu…”…..)


Tiba-tiba, seorang malaikat perempuan berdiri membelakangi di balik tiang tempat Zivan bersandar.


“Masih memikirkan kata-katanya?.”


Agak lama Zivan diam, sebelum menanggapi pertanyaan malaikat perempuan itu.


“Diriku hanya tak menyangka… akan mendengar kembali kalimat yang dulu pernah dilontarkan padaku.”, ucap Zivan sambil memejam mata.


Zivan kembali hening sesaat, membiarkan angin malam menerpa rambut depannya, kemudian ia lanjut bicara..


“Apalagi…kalimat itu datang dari seorang yang sama… seharusnya.”


Keadaan hening sejenak. Malaikat perempuan itu pun berbalik badan pelan dan menghadapkan wajahnya ke tiang dimana Zivan bersandar dibaliknya.


“Tidak, dia tak sama, Samael.”


“Mengapa…?.”


“Soalnya…kamu tidak marah.”, terlukis senyum tipis perlahan di bibir malaikat perempuan itu.


Keadaan kembali hening, sampai-sampai suara siul angin malam terdengar di telinga.


‘Hey…apa aku…masih sama seperti dulu?.”, tanya Zivan.


“’Dunia… berubah’,,, itukan,,, yang dirimu katakan padanya?.”


Zivan yang sebelumnya menoleh ke Depan kemudian meluruskan lehernya, memandang Devan yang terlelap di pojok ruangan, sembari mengingat kalimat yang dia ucapkan padanya.


(…“Dunia berubah, itu karena pemikiran manusia yang hidup di dalamnya selalu berubah dan berkembang. Masa lalu itu tak sama dengan masa depan, kita di hari kemarin, itu berbeda dengan kita di hari ini. Begitupun semesta, dan makhluk yang hidup di dalamnya.”…)


“Berarti…aku sudah lebih baik?...”


“Diriku…tidak tahu…”, jawab malaikat perempuan itu. “Aku hanya tahu,,, kalau Samael adalah Samael.”, tambahnya.


“Aku…bukan Samael…lagi.”


Mendengar hal itu, mata sayu malaikat perempuan itu semakin tampak sayu, namun tak menghapus senyum tipis di bibirnya.


“Tenang saja…semuanya…pasti akan berakhir baik.”


Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh petir di kejauhan dari bibir lembah. Mereka berdua pun menoleh perlahan ke arah suara.


Sesaat kemudian, mereka kembali meluruskan lehernya, dan lanjut berbicara.


“Putri Artemis…Luna…”


“DUAR!.....”, tiba-tiba suara petir menyela kalimat malaikat perempuan itu, kalimatnya pun tertahan.


“Aku…”


‘DUAR!...”


“Hm.”, ucap Zivan meng-iyakan. “Serahkan saja padaku.”


Mata sayu malaikat perempuan itu berbinar mendengar jawaban Zivan.


Sesaat kemudian, Zivan merasa cahaya terang di balik tiang ia bersandar perlahan meredup. Ia menyadari, bahwa malaikat perempuan itu telah pergi.


“’Tenang saja, semuanya akan berakhir baik’,,, kalimat itu…sebenarnya ditujukan untuk dirimu,,, kan?... Sachiel...”


Zivan sesaat kembali hening, setelah ia bicara sendiri.


“Sachiel…Sachiel… walau dirimu seringkali tak berpihak padaku,,, tapi dirimu,,, selalu ada bersamaku.”


Malam itu, obrolan singkat mereka berdua dengan tempo yang sangat pelan pun berakhir. Meski begitu, mereka tampak menikmati, kejadian sesaat itu.


***


Beberapa saat yang lalu, di jalan masuk Lembah Sei Roja…..

__ADS_1


“DUM!...”, sekelompok fallen angel berjumlah belasan mendarat bersamaan dari ketinggian.


“Apa di depan itu lembah yang dimaksud?, dari atas tak terlihat ditutup awan.”, ujar salah satu lelaki bersayap hitam itu.


“Kita akan tahu setelah kita memasukinya.”


“Siuuu!!!...”, disaat bersamaan, suara lesatan cepat melewati sisi samping lelaki yang bicara sebelumnya.


“Tunggu!!, Ireena.”, tegas lelaki yang sama.


Fallen angel perempuan itu menghentikan laju langkahnya. Rambut panjang dengan ponytail di samping kanan kepalanya tampak melayang sesaat diterpa angin.


“APA?, Reydan.”, Ireena bernada tinggi.


“Kau jangan lupa, aku leadernya disini.”, ucap lelaki Bernama Reydan itu.


Reydan pun berbalik menghadap Ireena yang berdiri membelakanginya. Reydan yang berpakaian panjang dengan jubah hitam melindungi punggungnya itu menatap tajam Ireena.


Namun, wajahnya yang melankolis membuat tatapannya tak menyeramkan. Rambutnya hitam pekat diatasnya, namun seluruh pangkalnya berwarna putih hingga hampir setengah panjang rambutnya, begitupun alis serta bulu matanya. Hitam atasnya, namun sangat putih pangkalnya.


Ireena pun kemudian menghadapkan dirinya ke samping lalu menolehkan kepalanya sembari membalas tatapan tajam Reydan.


“Memangnya kenapa kalau kau leadernya?, mau menghentikanku?.”, angin yang sedari tadi dingin di sekitar Ireena sebelumnya menjadi lebih dingin kemudian meluas menyebarkan rasa ketakutan lebih pada para fallen angel di sana.


Reydan pun memejam dan menghela nafas seolah ia tak terpengaruh dan mencoba agar terlihat baik-baik saja.


“Heuuu… lakukan sesukamu.”, ucap Reydan pada Ireena.


Mata Ireena yang tajam dengan bulu mata yang lebat serta alis yang runcing itu pun berhenti menatap tajam Reydan. Ia kembali menghadap depan dan pergi secepat angin meninggalkan kelompoknya.


Angin dingin yang tadi memunculkan rasa takut yang lebih itu pun juga pergi Bersama dengan perginya Ireena.


Reydan lanjut berjalan di tengah gelap malam bersama kelompoknya, menyusuri jalur yang sama dengan yang dilewati Devan, Julian, dan Morgan.


Meskipun gelap, mata Reydan tetap melihat sekitar, rumput, tanah, daun, pohon, semuanya. Hitam bola matanya tampak pudar dengan garis-garis putih di dalamnya, seperti mutiara hitam yang lecet. Ia melihat itu semua, seakan seperti menggali informasi dari mereka.


“Bagaimana, Reydan?.”, tanya salah satu fallen angel yang berdiri di sampingnya.


“Tak salah lagi, dia memang lewat sini, tapi... dia tidak sendiri.”, ucap Reydan sembari matanya melihat di tempat di mana tak ada siapa-siapa.


“Tidak sendiri?”.


“Ya, dia Bersama dua fallen angel lainnya.”


Dahi diantara kedua mata Reydan mengkerut, seakan ia akan mengusahakan sesuatu. Tak lama setelah itu, ia pun menghela nafas.


“Tidak jelas, sepertinya bukan sesuatu yang penting. Tapi…sepertinya di depan sana kita akan menemui hal yang tak menyenangkan.” Ucap Reydan seraya pandangannya berubah mengarah ke depan.


Mereka semua pun memandang fenomena yang ada di depan mereka. Awan yang tampak rendah, sesekali mulai memunculkan kilat-kilat kebiruan.


Walau begitu, belasan fallen angel itu terus berjalan, sedangkan cuaca di depan mereka perlahan menunjukkan keganasan. Gemuruh sering terdengar, sedangkan petir sesekali menyambar daratan di bawah awan itu.


“Berhenti!”, ucap Reydan sembari menghentikan langkahnya.


Mereka pun berhenti tepat selangkah sebelum Reydan berada di bawah naungan awan gelap itu. Tanahnya bergetar, langitnya bergemuruh dan sesaat terang sebab cahaya kilat yang sesekali datang.


“Ada apa?”.


“Mereka bertiga berhenti.”, jawab Reydan yang tengah melihat ke arah depan, tempat dimana tidak ada siapa-siapa disana.


Beberapa diantara fallen angel itu turut melihat arah pandang Reydan. Sedangkan beberapa yang lain fokus melihat fenomena yang terjadi di sana. Hingga sebagian mulai merasa ragu untuk terus berjalan.


“Apa tadi dia menyebut ‘Aslan’?”, bisik Reydan.


“Sebaiknya kita lanjut.”


“Tunggu, kita belum tahu apa yang terjadi di depan.”, ucap Reydan.


Beberapa saat kemudian, mata Reydan terlihat terbelalak, ia seakan terkejut setelah melihat sesuatu.terjadi di depannya.


Reydan pun menutup matanya dan memegang kepala bagian depannya, ia berusaha tegar dan tak menampakkan reaksinya.


“Reydan?”, sahut seorang fallen angel yang berdiri di sampingnya. Ia menyadari reaksi tak biasa dari Reydan.


(“Apa maksudnya itu?”, Reydan membathin sambil memegang kepala depannya. Sorot matanya masih terbelalak ketika membuka matanya.


“Jelas sekali aku melihat mereka bertiga terkena sambaran petir itu… tapi disaat yang sama, mereka juga berhasil menghindarinya.”)


“DUAR!!!..”, di kejauhan terdengar gemuruh dan tampak kilat dan petir menyambar.


“DUAR!!!....”, sambaran petir kembali terdengar beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Mereka mulai merasa ragu dan takut melihat cuaca yang tiba-tiba semakin mencekam. Reydan pun tersadar dari bathinnya, menurunkan tangannya dan kembali memandang ke depan.


“Ireena…”


***


Ireena berlari kencang, namun tak sesuai dengan jumlah langkahnya. Di sekitarnya terdapat arus angin yang mendorongnya untuk bergerak cepat.


Ireena melompat tinggi, melayang, kemudian jatuh perlahan. Ia dapat terbang walau tanpa sayap dan bergerak bebas di udara.


“DUAR!!!...”, sebuah petir mengarah menuju Ireena.


Ireena hanya memiringkan tubuhnya sedikit dan arah larinya pun sedikit berbelok sehingga ia berhasil menghindari sambaran petir itu.


“DUAR!!!...DUAR!!!...DUAR!!!...”


Tanah yang di jejaki Ireena terus begemuruh, langit juga tak henti-henti memunculkan kilat, tak peduli berapa kali petir menyambar, Ireena yang mampu mengendarai angin dengan sempurna selalu berhasil menghindarinya.


Walau begitu, sehebat-hebat Ireena juga tak mampu menolak lelah bila terus menerus mengeluarkan magusnya. Kecepatan bergeraknya pun semakin berkurang.


Ireena pun memutuskan untuk berlari saja dan menggunakan sisa kekuatan magusnya hanya untuk menghindar.


Namun, keputusan Ireena tak tepat. Seketika diatas kepalanya melaju kilat petir menghantam ke arahnya.


“DUAR!!!” …..


Ireena yang merasa dirinya terlalu hebat, membuatnya tak mengetahui ketidakmampuannya, bahwa ia tak mampu memprediksi dimana dan kapan petir yang sangat cepat akan menyambar.


Ireena pun mendapat akibatnya, ia tersungkur, tangannya bergegar menyentuh tanah, sembari memandang di samping kirinya agak jauh, tanah gosong yang berlubang terdampak sambaran petir.


Saat itu Ireena baru menyadari ketidakmampuannya, namun ia juga merasa beruntung sekaligus bingung, ia selamat dari sambaran petir juga tidak terlempar akibat dampaknya.


Tak lama setelah itu, Ireena kembali berdiri. Dirinya berputar perlahan memandangi keadaan sekitar. Malam itu tiba-tiba tenang, tak ada lagi kilat serta gemuruh petir, kecuali angin dingin yang mengelilingi dirinya.


“Hah!.”, ketika Ireena berbalik perlahan, ia bereaksi kaget. Seorang wanita tengah berdiri menatapnya dengan matanya yang sayu serta senyum yang sangat tipis di bibirnya.


“Sachiel…”, ucap Ireena. Nadanya rendah memanggil nama malaikat itu.


Sesaat kemudian, angin dingin yang berada di sekitar Ireena berubah menjadi angin sepoi yang bertiup lembut.


“Kau yang menyelamatkan aku?. Te..terima kasih…”


“Tidak, takdirmu memang bukan berakhir di sini.”


Ireena termenung sejenak mendengar jawaban Sachiel. Namun sesaat kemudian ia terpikir hal lain. Ireena menoleh ke arah lebih dalam lembah.


“Devan, apa dia ada di sini?”


Keadaan hening, cukup lama, Sachiel hanya berdiri menatapnya tanpa keluar sepatah kata.


“Apa dia baik-baik saja?”


Keadaan tetap hening, Ireena bertanya, tanpa sedikitpun jawaban dari Sachiel.


“Pulanglah…”


Ireena menoleh menghadap Sachiel, menatapnya segan, ia terbawa oleh aura tenang yang ada pada Sachiel.


Namun, raut wajah Ireena tiba-tiba bereaksi. Ia kemudian melompat jauh ke belakang menjaga jarak dengan Sachiel. Angin di sekitar Ireena kembali dingin dan melaju. Kemudian, Ireena menatap Sachiel dengan tatapan tajam.


Ireena kembali memandang ke arah dalam lembah, kemudian ia mengirimkan anginnya untuk masuk lebih dalam.


Namun, setelah beberapa jarak tiba-tiba…


“Bush!..”, angin itu buyar dan terbang ke segala arah.


“Hah..”, Ireena ternganga melihat fenomena itu.


Ireena pun kembali menoleh ke arah Sachiel dengan tatapan tak suka. Sedangkan Sachiel hanya menatapnya biasa dengan senyum yang sangat tipis di bibirnya.


Mereka berdua saling pandang tanpa berkata apa-apa.


Ireena pun kembali menoleh ke dalam lembah, namun kali ini dia tak berbuat apa-apa.


“Larilah, Devan. Jangan sampai aku menemukan dirimu.”, ucap Ireena dengan pandangan mata yang agak sayu.


Ireena pun pergi kembali, meninggalkan Sachiel tanpa sepatah kata. Ia terbang rendah Bersama angin tanpa mengeluarkan sayapnya.


Sedangkan Sachiel hanya memandangnya dari tempat ia berdiri. Ireena semakin menjauh dari pandangannya. Berbeda dengan Ireena, Sachiel justru melanjutkan perkataannya…


“Pulanglah…ke jalan tuhanmu yang benar.”, ucap Sachiel lembut sambil memandang Ireena yang pergi.

__ADS_1


***


__ADS_2