Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 32: Benih Kecurigaan Eris


__ADS_3

Di atas awan cumulus yang berjejer menanjak, Devan dan kuda terbangnya bersama Eris melanjutkan perjalanannya. Melangkahi dan berpindah melompati dari ujung satu ke ujung lain awan cumulus.


Sesaat kemudian, mereka sampai pada dua cabang jejejar awan yang menanjak. Di sebelah kiri, jalur awan cumulus itu berjejer menanjak sedikit lebih curam, dan awannya lebih kecil dari sebelumnya, membuatnya tampak seperti anak tangga.


Sedangkan sebelah kanan, jejeran awan cumulus itu membentuk jalur yang melengkung keluar, yang juga perlahan menanjak ke atas. Di tengah jalurnya tampak pula beberapa awan abu-abu yang turut berjejer diantaranya.


"Jalur ini..... haa aku ingat. Ini cabang jalur di mana salah satunya membawa kita ke arah yang benar, dan yang lain akan membuat kita kebingungan dan tersesat.", ujar Eris sembari memandang giliran dua jalur itu.


"Tersesat bagaimana?."


"Sejauh apapun kita melangkah di jalur itu, kita akan kembali pada titik yang sama, bila sudah seperti itu, mau kembali ke persimpangan ini pun sulit, sebab di sana terdapat angin yang membawa kabut, membuat siapapun yang berada di sana pandangannya akan terganggu, dan pikirannya akan bingung."


"Oh begitu. Sepertinya kau tahu banyak."


"Hmm...", gumam Eris bernada menyangkal. "Tidak juga. Hanya saja di bagian ini kebetulan aku punya pengetahuannya."


Devan mendengar dan menanggap Eris tanpa sedikitpun menolehnya.


"Devan, kupikir seharusnya kita memilih jalur ini. Jalurnya lebih menanjak, yang artinya lebih cepat menuju ke atas.", ucap Eris sembari jemari dan lengannya merentang menunjuk jalur sebelah kiri.


Devan yang melihat sekejap tangan Eris yang menunjuk pun menoleh ke jalur yang di maksud, kemudian bertanya,


"Kalau di jalur itu, bagaimana?", sembari Devan mengubah arah pandangnya ke jalur sebelah kanan.


"Jalur itu jarak tempuhnya lebih jauh, sebab ia melengkung, membuat kita berjalan memutar. Apalagi.... awan abu-abu di tengah jalur itu tampak mencurigakan.


Dan juga, menurut pengetahuan yang aku dapat, tanah para peri itu jalurnya sederhana, itu karena sifat mereka yang senang memberi kemudahan."


Devan pun kembali memandang kedua jalur itu bergiliran seraya mengingat pesan yang di ucapkan Zivan,


("......Berhati-hatilah pada iblis yang menyamar. Bersikaplah seperti dirimu tak mengetahui apa-apa. Dan Ingat, tak ada jalan pintas menuju langit pertama. Jalan yang tampak berat, adalah jalan yang benar."......)


("Kau bilang jalan mudah adalah yang benar, tapi aku lebih percaya pada Zivan yang mengingatkanku, agar waspada pada iblis yang menyamar.", Devan membathin seraya menoleh pada Eris.), Dan Eris pun tersenyum manis, memandang balik Devan.


"Kita akan mengambil jalur kanan.", ucap Decan seraya melompat lebar di ikuti oleh kuda terbangnya mencapai ujung pijakan awan cumulus jalur itu.


"Hm?.", gumam Eris heran. "Kenapa?, kamu yakin?, kupikir itu bukan jalan yang benar, Devan."


"Mau ikut tidak?", tanggap Devan kembali dingin.


("Cih!. Kenapa dia bersikap dingin lagi.", bathin Eris.)


"Mau mau.", Eris melompat dan berjalan di sisi Devan. ("Mana mungkin kulepas mangsa bagus yang ada di depan mataku.").


"Tapi mengapa?, padahal kupikir ini jalur yang salah."


"Perasaanku bilang, ini adalah jalur yang benar."


"Perasaan??"


"Hm.", gumam Devan mengiyakan.


("Anak manusia ini??...Jangan-jangan sebenarnya dia telah mengetahui jalur menuju tanah peri. Kalau begitu..... Apa selama ini dia pura-pura tidak tahu?", curiga Eris.)


Mereka terus berjalan mengikuti jalur awan cumulus, berjejeran membentuk garis lengkung yang menanjak perlahan.


Beberapa lama kemudian, mereka telah semakin dekat dengan awan cumulus abu-abu. Kabut yang dihembus angin di atas awan abu-abu itu telah tampak dari pandangan mereka. Karena itu, mereka mulai merasakan angin yang bertiup perlahan.


Namun, sebelum mereka sampai pada awan cumulus abu-abu di sana, mereka menemukan jalur simpang jejeran awan cumulus di sisi mereka, yang berbelok meninggi ke arah lain.


Di seberang awan jalur lain itu, berdiri seorang laki-laki tua berpakaian serba putih seperti para peri, memanggil-manggil Devan yang berniat lurus, lewat depan belokan jalur itu.


"Nak, hey nak.", panggil laki-laki tua itu, namun Devan masih belum menoleh.


"Nak, hey nak, kemarilah!, jangan ke sana, Berbahaya!.", terus laki-laki tua itu.


("Devan, apa dia tak mendengar?")


"Devan, lihat!, ada laki-laki tua yang memanggilmu di seberang awan jalur sana.", ucap Eris yang berjalan di sisi Devan agak ke belakang.


Devan pun menghentikan langkahnya, begitupun Kuda terbangnya dan Eris.


Devan kemudian menghadapkan badannya ke arah suara, dan memandangi laki-laki tua itu dari tempat ia berdiri.


"Hey nak, kemarilah!. Tanah para peri, ada di ujung jalur ini.", panggil laki-laki tua itu sembari tangan kanannya melambai-lambai, isyarat agar Devan mendekatinya.


"Tanah para peri?. Devan, peri tua itu bilang di ujung jalur itu ada tanah para peri. Ayo!. Kita ke sana.", ajak Eris.


Sementara Devan, ia masih diam, karena menyadari suatu hal. Laki-laki tua itu memang mengenakan pakaian ala peri. Tapi bagi mata Devan, laki-laki tua itu tampak berbeda.


Kulitnya tampak kemerahan, begitupun rambut pendeknya, terdapat satu tanduk di salah satu sisi keningnya, pupil hitam di matanya tampak lebih besar, dan ketika tangannya melambai memanggil Devan, Devan jelas melihat kuku-kuku lancipnya yang tajam.

__ADS_1


Walau begitu, Devan tetap bersikap, seakan ia tidak tahu apa-apa.


"Hey nak, kemarilah!. Jalur di sana sangat berbahaya. Tapi jalur ini akan memudahkanmu."


"Terima kasih tetua peri. Tapi, saya harus lewat jalan ini. Sebenarnya, ada ujian yang harus saya jalani. Jadi, saya mohon pamit pada tetua peri.", ucap Devan datar dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


Laki-laki tua itu tiba-tiba diam, tak lagi memanggil dan mengajak Devan. Namun, ketika Devan kembali menghadap ke depan, seketika laki-laki tua itu mimiknya berubah, ia memandang Devan dengan wajah masam dan tatapan yang tajam.


Sementara Eris, berdiri di belakang Devan melihatnya berjalan dengan rasa heran...


"Ujian?", ucap Eris bersuara kecil. Sesaat kemudian, ia berlari mengejar Devan dan langsung bertanya,


"Hey Devan, kamu tadi bilang ujian. Apa maksudnya?"


Devan pun berhenti dan menghadap Eris, ia lihat Eris tampak benar-benar heran, jidatnya mengerut, alisnya turun.


"Oh soal itu...maaf, dari awal tidak memberitahumu. Sebenarnya pun dari awal aku tidak berniat untuk memberitahumu."


Eris masih diam, ia menunggu lanjutan penjelasan Devan, sembari menatapnya dengan penuh penasaran.


"Heuuh, baiklah. Karena kau tampak sangat ingin tahu akan kuberitahu sedikit, intinya aku kemari untuk ke tanah para peri, tapi karena aku di uji, aku harus menolak semua kemudahan yang di berikan oleh penduduk langit, serta memilih jalan yang paling terjauh menuju ke sana."


"Haaa?"


"Jangan mengeluh padaku, aku juga mengeluh pada guruku, aku tidak mengerti mengapa ia menyuruhku begitu. Dan juga, kalau bukan tetua peri yang bertanya, mustahil aku akan jawab sejujur ini."


("Hm!, mana ada cerita seperti itu. Aku mengarang alasan seperti itu, agar aku bisa mengelabuimu dan mencegah kecurigaanmu.", bathin Devan)


("Guru?. Sebenarnya siapa guru anak manusia ini?. Dia tahu sekali, bahwa jalur menuju tanah para peri di langit pertama ini, adalah jalur yang paling berat dan memutar.")


"Tapi....kamu bisa kok mengambil jalan pintas sesekali, kupikir gurumu tak akan tahu, dan juga kalay hanya sekali, pasti gurumu...."


"Hoy!", potong Devan. "Berhentilah bicara seakan kau mengenal guruku. Dan juga, memangnya aku tampak seperti murid yang seperti itu?"


"Ma...maaf", ucap Eris lirih, dengan wajah bersalahnya yang membuatnya tampak manis.


("Merepotkan sekaliii... dasar anak manusia payah, mau-maunya di dikte oleh orang lain. Kalau begini aku yang kesulitan.")


"Baiklah. Kumaafkan.", jawab Devan.


("Sepertinya aku harus menyerangnya duluan sesekali, mungkin akan mengalihkan pikirannya.")


"Ha??", Eris agak kaget.


("Sial!, aku melupakan itu.")


"Eeeh!, kamu benar, aku...bisa melihat peri.", ucap Eris dengan mimik tak menyangka. " Tapi, kenapa, aku tiba-tiba bisa melihat peri?", tanya balik Eris menatap Devan dengan pandangan polos.


("Kalau ini gagal, terpaksa aku harus membongkar kedokku di sini.")


"Hmm....", gumam Devan, sembari memegang dagunya, ia sok berfikir. "Aku juga tak tahu pasti, mungkin...karena ini di langit pertama, dan juga ia sengaja menampakkan diri, aku juga awalnya tak lihat bila tak kau beritahu."


"Begitukah?", tanggap Eris.


("Itu, memang masuk akal. Tapi, untunglah dia sama sekali tak menaruh curiga padaku.")


"Mungkin..."


("Semoga dengan ini cukup untuk mengalihkan pikiranmu.")


"Maaf telah melibatkanmu dalam ujianku, Eris. Kapan saja kau mau, kau boleh pergi melewati jalur pilihanmu.", tambah Devan


"Aku yang ingin mengikutimu, lagipula kalau aku sendiri, aku takut akan tersesat lagi. Bersama kamu, aku merasa baik-baik saja, Devan.", ucap Eris dengan wajah yang penuh tulus dan kejujuran yang membuatnya tampak manis.


Melihat pernyataan Eris yang tampak bersungguh-sungguh, tiba-tiba Devan teringat kejadian beberapa waktu lalu,


(.....Tampak anak perempuan kecil itu tengah memeluk kaki Eris. Namun Eris, menarik-narik rambut anak perempuan kecil itu sangat kuat dan kejam.....)


Karena itulah, semanis dan setulus apapun cara Eris berbicara pada Devan, jantung Devan tetap tak lagi berdetak kencang seperti sebelumnya.


.....


Beberapa saat kemudian, Devan dan kuda terbangnya, bersama Eris telah sampai di ujung awan cumulus putih, dan akan melompat melangkah ke awan cumulus abu-abu di depannya.


Sebelum masuk lebih jauh, mereka terlebih dahulu bertemu seorang wanita paruh baya, namun tampak cantik dan berwibawa, yang tengah duduk bersila melayang di udara sembari memejam mata dengan sebuah tongkat biru muda di sampingnya.


Bagian atas tongkat itu adalah bola transparan, yang di dalamnya ada buku dan crystal biru yang terang diatasnya.


Ia mengenakan pakaiannya serba putih, memakai gaun panjang dan lebar yang menutup tangan dan kakinya.


Kemudian rambutnya berwarna kuning keemasan yang dikepang mahkota, hingga tak ada lagi rambut terurai di belakang kepalanya, kecuali rambut bagian depan kiri dan kanan kepalanya yang panjang terurai hingga bahunya.

__ADS_1


Di atas kepalanya tampak lingkaran cahaya keemasan, serta di punggungnya juga tampak sayap putih indah yang mekar selebar punggungnya.


Wanita itu pun menyadari kehadiran Devan dan yang lainnya. Ia membuka matanya, tampaklah warna matanya keemasan. Devan kemudian sedikit tersenyum padanya dan sedikit membungkukkan badannya sesaat.


"Maaf mengganggumu, ibu peri. Saya hanya ingin melewati awan abu-abu ini. Izin berjalan lewat di hadapan ibu peri."


Melihat tingkah laku Devan, Sang Ibu peri pun memandanginya dengan teduh, dan ia membathin,


("Anak manusia ini, dia memulai bicara dahulu, seakan dia benar-benar tahu, bahwa diriku bukanlah iblis yang sedang menyamar")


"Hm..mm..", gumam ibu peri dengan nada menyangkal sambil menggeleng kepala.


"Tempat ini adalah milik tuhan, akupun juga menumpang. Maafkan aku anak manusia, telah menghalangi jalanmu."


Devan hanya tersenyum pada ibu peri itu, kemudian ia lanjut berjalan lebih jauh bersama kuda terbangnya, dan Eris di sampingnya.


Namun...


Eris dan ibu peri itu sempat saling bertatap mata. Ibu peri itu memandang datar Eris, tapi Eris memandanginya dengan pandangan sinis, lalu Eris seketika membuang wajahnya ke depan.


Ibu peri itu hanya melihat mereka, pergi lebih jauh ke depan. Seraya bibirnya mengucap do'a,


"Wahai Tuhan sang maha pelindung, dia adalah anak manusia yang sopan, tolong lindungilah dirinya, dari kejahatan malam yang mengintai."


Sementara itu,


Devan dan yang lainnya telah melangkah jauh, di awan cumulus abu-abu ini. Kini mereka berada di tengah-tengah kabut, dan angin yang mengandung embun.


Isla, si kuda terbang sempat kebingungan dengan langkahnya, seakan ia hendak berputar balik. Namun Devan menyadarinya, ia memegang kening kuda itu, dan kuda terbang itu pun kembali melangkah dengan benar, tertuntun oleh Devan.


Eris, yang berada di sisi Devan, terkadang menoleh ke arah Devan, untuk mengetahui keadaannya setelah memasuki awan ini.


("Anak manusia ini, sepertinya tak sesederhana yang terlihat, mungkin dia adalah manusia suci, sebab dia bisa melihat peri.


Tapi, dia juga tampak tak terpengaruh dengan medan angin di sini. Semoga saja dia bukan manusia berilmu, kalau iya, kemungkinan aku bisa kalah bertarung darinya.")


Akhirnya setelah beberapa lama, mereka pun berhasil berjalan melewati beberapa awan abu-abu itu. Namun, ketika pandangan mereka kembali normal, tampak jejeran awan cumulus masih jauh tinggi ke atas, yang berarti, Devan masih jauh dari tujuan.


Dan kini, mereka bertemu lagi dengan persimpangan jejeran awan, yang lagi-lagi dijaga bahkan oleh dua iblis yang tengah menyamar.


Iblis yang satu adalah seorang pria pendek, yang menggunakan pakaian ala peri gadis remaja. Dan satunya adalah anak perempuan kecil yang sedikit lebih rendah, tengah di gandeng oleh si iblis laki-laki pendek.


"Mau ke tanah Arcana?,,,, silahkan lewat sini.... Arcana?,,,, ayo kemari.... Ayo-ayo....", ucap si iblis pria pendek dengan bernada sembari bertingkah seperti gadis remaja yang sedang melompat-lompat kecil manja.


Devan yang melihatnya pun merasa jijik dan risih, bahkan suara iblis pendek itu terdengar jelek sekali.


Sementara iblis anak perempuan kecil, ia turut melompat-lompat sembari tersenyum memejam mata bergumam-gumam yang justru membuatnya tampak manis.


"Hmm...mmm...mmm...mmm..."


.....


"Mau ke tanah Arcana?,,,, silahkan lewat syiniii.... Arcana?,,,, ayo kemariyy.... Ayo-ayyoo...."


"Arcana?", tanya Devan.


"Iyya...iyyaa...itu adalah rumahkyu...tanah peri..."


"Hmm...hmm.......hmm....hmm..."


Devan pun merasa tak tahan dengan tingkah dan nada bicara si iblis laki-laki pendek yang berpakaian ala gadis peri itu. Akhirnya, ia mulai angkat bicara,


"Mohon maaf, bisakah kau menjelaskannya dengan cara biasa. Urusan nyanyi, lebih baik biarkan saja si kecil ini yang bergumam."


("Anak perempuan kecil ini jauh lebih baik daripada harus si pendek bodoh itu yang melakukannya.", umpat Devan dalam bathin).


Tiba-tiba.....


Kedua iblis itu berhenti bernyanyi, bergumam, dan melompat-lompat. Justru mereka langsung melotot menatap Devan dengan sangat menyeramkan.


Keadaan tiba-tiba hening....


("Apa...yang terjadi?", tanya Devan dalam hati.)


Devan pun menoleh ke Eris namun...


Eris juga melotot kepadanya, matanya terbuka lebar seakan-akan bola matanya akan keluar...


"KAU!, MENGAPA KAU BISA MELIHAT ADIK KECILKU???, PADAHAL IA TAK MENAMPAKKAN DIRI.", mendadak suara iblis pria pendek itu menjadi berat.


***

__ADS_1


__ADS_2