
"Oi, kau tidak berencana untuk tetap diam kan, Devan?.", ucap Morgan.
"Tentu saja. Tapi bagaimana caraku bergerak dengan situasi terpojok seperti ini?."
Seorang prajurit perlahan mendekati Devan sambil menodongkan pistol berwarna putih yang moncongnya terdapat besi melingkar berbentuk kerucut.
"Orang itu menodongkan Electro-gun. Itu senjata jarak menengah. Tidak salah lagi, kau akan ditembak ketika ia sampai pada jarak tertentu, dan akan melumpuhkan kau sementara waktu. Oi Devan, masih berencana tetap tidak bergerak?."
Devan beberapa kali melirik sekitar, dahinya mengernyit.
"Ah, Bodoh amat!.", Devan tak sempat berfikir.
Prajurit itu melepaskan tembakan electro-gun. Cahaya biru pekat keluar dari ujung pistol itu menghasilkan jejak listrik yang menjalar lebar menuju ke arah Devan.
Seketika....
Morgan menyentuh bahu belakang Devan. "Lari!."
"Hah!.", Devan seketika melompat ke samping, dan berlari. Ia pun tersadar kalau waktu terhenti, sebab tak ada yang menembaknya.
"Hei kau tidak bilang punya kemampuan seperti Aslan.", ucap Devan, lalu berbelok melewati barisan prajurit itu.
"Kupikir kau sudah tahu."
Devan menoleh sebentar ke belakang, titik ia berdiri sebelumnya. Terlihat cabang-cabang listrik yang menjalar lebar. Devan memandangnya ngeri.
"Morgan, kau yakin senjata listrik itu hanya sekedar melumpuhkan?."
Morgan menoleh ke belakang. "Huah!."
"Jujur, aku baru lihat yang seperti itu. Kau punya masalah apa dengan manusia?.", Lanjut Morgan seraya menoleh ke Devan.
Mereka kemudian melewati barisan sergapan para prajurit itu.
"Aku tidak ingat."
"Kau benar-benar melupakan hal yang penting."
Tiba-tiba.....
"Hei mereka di sana.", "Itu mereka.", ucap beberapa prajurit sambil menunjuk arah Devan.
"INI...!.", Devan melihat cahaya bidikan laser datang dari belakangnya yang melewati sisi-sisinya.
Peluru-peluru pun mengarah ke arah Devan. ia langsung berbelok menghindar, peluru-peluru itu nyaris mengenai belakang dirinya.
"Hoi!, mereka semua kenapa malah kembali bergerak?!.", ucap Devan sambil berlari.
"Ku beritahu kau, magusku hanya efektif dalam lima detik."
Devan kemudian melompat diantara lorong-lorong gedung dan kembali berlari, melewati beberapa belokan, menembus ke jalan yang lain, kemudian berlari ke arah lorong gedung lainnya untuk bersembunyi.
Devan duduk jongkok bersandar sembari memegang bahu kirinya yang terkena tembakan. Sementara Morgan masih di persimpangan belokan lorong, mengawasi bila ada prajurit yang melewati jalan yang sama.
"Prajurit sialan.", misuh Devan menahan sakit.
"Kau Hybrid. Luka kecil seperti itu akan cepat regenerasi."
Devan bernafas sengal sebentar akibat berlari kencang.
"Sepertinya kau tidak bisa langsung menggunakan kemampuanmu kembali."
Morgan memejam mata sejenak. "Sekarang sudah bisa.", ia membuka mata. "Butuh 10 detik untukku menggunakan magusku kembali."
"Jadi begitu."
Devan diam sejenak.
"Oh iya, di mana Julian?. Kau bilang dia berangkat duluan untuk mengurus suatu hal?."
"Dia sedang menyiapkan kendaraan untuk kita. Sekarang mungkin dia telah sampai di jalur trans kota, menunggu kita datang."
"Jadi kitakah yang akan kesana... Lalu, kenapa harus di sana?."
"Semua jalan kota kemungkinan banyak di blokade. Dan pemerintahan tak bisa memblokade jalur trans, sebab itu adalah jalur yang juga dilewati oleh kendaraan penyuplai energi dan kebutuhan di kota hampir setiap saat."
"Begitu. Jadi jalur itu berada di mana?. kuharap itu tak jauh."
Morgan menghadap Devan, kemudian menyerong sedikit arah berdirinya.
"Dari arah ini, melewati dua jalan utama kota, setelah itu jalur trans akan kelihatan.", jelas Morgan.
"Kelihatan kah....Itu berarti belum sampai."
"Agak jauh memang bila menggunakan kaki sendiri."
Devan kemudian berdiri, peluru di dalam bahunya perlahan terdorong keluar.
"Oke, kita lanjut pergi."
Mereka berdua bergegas berjalan menuju arah yang menembus jalan raya. Setelah sampai di bibir lorong, Morgan keluar duluan.
"Ini tidak bagus, Devan. Prajurit berpatroli di mana-mana. Padahal di jalan sebelumnya tadi tidak ada."
Devan menempelkan punggungnya ke dinding, berusaha mengintip keluar.
"Pasti karena kabarku yang berhasil kabur telah tersebar. Cih, cepat sekali mereka bertindak."
"Bagaimana selanjutnya, Devan?."
Devan berfikir sejenak.
__ADS_1
"Morgan, aku pinjam kekuatan kau."
"Soal itu kau tak perlu minta."
Devan mengangguk. "Ayo!."
Saat itu, Morgan memasuki diri Devan, dan membayangi tiap gerakan Devan.
Devan keluar dari lorong dan berlari kencang ke salah satu prajurit yang berpatroli.
"Hey, itu mereka!.", ucap salah satu prajurit yang patroli.
Semua prajurit menoleh ke arah Devan.
Setelah itu peluru-peluru itu melaju menuju Devan. Devan merasakan dengan nalurinya.
Devan pun berlari zig-zag sangat cepat.Tiba-tiba beberapa peluru berada di hadapannya, ia pun memutar tubuhnya, bertumpu pada tumit sehingga peluru itu hanya memotong sedikit rambutnya.
Devan berlari cepat, hingga ia berada dekat di hadapan prajurit, namun tak disangka, peluru dari tiga sisi depan melesat padanya.
"Devan!.", panggil Morgan.
"Belum!.", seketika Devan salto miring ke depan. Posisi badannya lurus ketika melayang di udara, tangannya kemudian memegang moncong senjata prajurit tersebut. Kakinya yang berada di atas kemudian didaratkannya pada bahu prajurit tersebut, dijepitnya leher prajurit itu dengan kakinya lalu ia putar dan salto ke depan sehingga prajurit itu terlempar menghantam dinding.
Devan jatuh lembut dengan bahunya, berguling di darat dan langsung kembali berdiri. Dengan senjata yang ia rebut, ia menembak dengan tangan kanannya dan menjatuhkan satu prajurit.
Devan kemudian merasakan peluru mengarah belakang kepalanya, cepat ia menunduk sembari berbalik dan menembak ke arah itu, dan mengenai bagian dada prajurit.
Tiba-tiba datang lagi peluru dari tiga arah yang berbeda, seketika Devan melompat lurus dan berputar horizontal di udara sambil menembak ke tiga arah, hingga menumbangkan ketiga prajurit sekaligus.
Devan pun mendarat jongkok dengan kedua kaki dan tangan kirinya.
Setelah itu Devan berdiri sambil melihat situasi. Ia buang senjata di tangannya.
"Waw.", ucap Morgan.
"Lima enam prajurit aku masih bisa menanganinya."
Devan lalu menuju salah satu prajurit yang jatuh, dan mengambil dua handgun yang melekat di pinggang prajurit tersebut.
"Gunakan magusmu ketika aku beri aba-aba."
"Oke."
Tiba-tiba datang dari dua arah jalan, satu peleton prajurit dengan perisai yang mengepung Devan. Devan pun segera berlari menuju salah satu peleton.
Kedua peleton itu menembak, dan puluhan peluru melesat cepat menuju Devan.
"Morgan!.",
"Hah!.", Devan berlari di antara puluhan peluru yang diam. Seketika ia berbelok arah larinya menuju lorong-lorong gedung kota.
Tapi disaat yang sama, Devan melihat peluru-peluru itu bergerak pelan.
Devan akhirnya masuk ke lorong tersebut.
"Oi Morgan, jadi magus kau sebenarnya itu melambatkan waktu?."
"Memang. Dua detik pertama berhenti, tiga detik berikutnya lambat."
"Tch, trik sulapku gagal. Kupikir kemampuan kau sama seperti Aslan, ternyata kau di bawahnya."
"Kalau magusku setara dengannya, maka tak mungkin aku menjadi bawahannya."
Waktu kembali berjalan normal.
"Dia kesana!!!.", "Dia berbelok kesana!!!.", teriak beberapa prajurit.
Para prajurit telah di bibir lorong, sebagian dari mereka masuk, mereka kemudian melepaskan tembakan ke arah Devan.
Devan sesekali berlari zig-zag untuk menghindar. Kemudian belasan peluru melesat, Devan pun melompat cepat di dinding gedung kiri-kanannya hingga tinggi kemudian ia berputar sekali di udara, dan melepas tembakan dari dua handgun di tangannya. Dua prajurit tertembak di lorong.
"Kalau tadi waktu berhenti, di mata mereka aku akan menghilang. Namun bila waktu melambat, mereka masih melihat aku berlari sangat cepat."
"Oh jadi begitu trik sulap yang kau maksud."
Di depan terdapat belokan ke kanan. Devan berlari menuju ke belokan tersebut sembari sibuk menghindari peluru-peluru itu.
Ketika Devan akan sampai di belokan kanan tersebut, ia melompat ke dinding sisi kiri sembari berbalik badan untuk melepas tembakan. Kemudian, dinding sisi kiri itu langsung dijadikannya batu lompatan untuk mendorong tubuhnya melayang cepat ke belokan kanan. Dua prajurit terjatuh.
Devan terkejut. Ia tak menyangka di depannya sudah ada beberapa prajurit yang menyergap dari bibir lorong.
"Morgan, magus kau sudah siap?.", ucap Devan dengan nada tinggi.
'5, 6, 7', "Belum."
Devan menatap tajam ke depan, matanya fokus.
"Dor!!!.", serentak prajurit di depan melepas tembakan.
Devan pun menodongkan pistolnya dan melepaskan tembakan berkali-kali. Peluru-peluru pun saling bertabrak dan pecah di udara.
Namun, naluri Devan merasakan beberapa peluru masih melaju pesat ke arahnya. Kedua pistol di tangannya pun dicampak ke depan atas. Kemudian Devan melompat salto ke depan sembari memutar tubuhnya menghindari jejak bidikan laser agar peluru tak mengenainya.
Devan pun mendarat dengan kedua kakinya dan langsung berbalik berlari menyambut pistol yang di campaknya.
Namun, Devan justru semakin dekat dengan prajurit yang menembak. Bidikan laser memenuhi seluruh tubuhnya.
"Morgan!!!."
'8, 9, 10'. "Dor!."
__ADS_1
"Hah!.", Devan berhenti melangkah. Jantungnya berdetak kuat dan kencang. Seluruh peluru yang diam itu bahkan sudah menyentuh tubuh dan kepalanya.
Devan pun kembali berlari, melewati peluru-peluru itu, kemudian melompati barisan sergapan menuju jalan raya.
Devan berada di jalan yang penuh dengan blokade mobil baja yang besar. Ia berlari menuju persimpangan, hingga nampak jalanan besar agak jauh di depannya.
Waktu kemudian berjalan lambat.
"Itu dia jalur trans, di sana ada Julian dan kendaraan kita.", ucap Morgan. Jarinya menunjuk kendaraan hitam yang terparkir di area gelap yang tak terkena lampu malam.
"Jadi itu jalan trans. Pantas saja di sini ada blokade."
Devan tiba-tiba berhenti di antara para prajurit. Devan berdiri dan menembak sangat cepat satu per satu prajurit di segala arah, hingga peluru itu habis. Kemudian ia lempar kedua pistol itu ke arah prajurit yang belum tertembak.
Peluru-peluru dan pistol itu semuanya melayang lambat di udara. Dan ketika waktu kembali normal, seketika puluhan prajurit jatuh tertembak.
"Uihh, kejam juga kau, Devan.", ucap Morgan.
"Mereka penghalang.", jawab Devan dingin.
Devan pun bergegas ke arah Julian. Morgan kemudian berhenti membayangi gerakan Devan. Ia memisahkan diri dan berlari di samping Devan.
"Akhirnya kalian sampai. Aku tadi sampai berfikir harus ke tempat kalian.", ucap Julian.
"Haha, sebelumnya aku tak menyangka, ternyata prajurit manusia itu bukan lawan Devan.", ucap Morgan.
"Kalau bukan karena kau, aku sudah tewas semenjak keluar kantor Aslan.", ucap Devan datar.
"Sebaiknya kalian segera naik, para prajurit itu tampaknya masih belum menyerah.", ucap Julian. Ia memandang di belakang Devan dan Morgan, beberapa mobil baja bergerak ke arah mereka.
Devan dan Morgan pun menoleh ke belakang. Setelah itu Morgan melompat ke kursi belakang mobil beratap terbuka itu.
"Devan, kau yang bawa.", ucap Julian sembari melompat ke kursi sebelah.
Tanpa pikir panjang Devan langsung melompat ke kursi pengemudi, dan mulai menjalankan mobil.
Mobil yang di bawa Devan berjalan sangat cepat di jalur trans kota. Di belakangnya beberapa mobil besar prajurit mengejar.
"Mobil ini tak bisa lebih cepat lagi.", ucap Devan.
"Wajar saja, yang kita lawan mobil milik prajurit, padahal body mobil mereka terlihat besar dan berat, namun tak kalah cepat dengan mobil sport ini.", ujar Julian.
Tiba-tiba ada peluru-peluru tembakan mengenai body mobil.
"Kita harus melakukan sesuatu pada meraka.", Ucap Morgan sembari ia menghadap ke belakang.
"Oke. Aku punya rencana.", ucap Devan.
"Ini dia.", ucap Morgan tersenyum lebar.
"Morgan, aku butuh kemampuan kau."
"Siap."
"Julian. Engkau peran utamanya."
"Ha?."
Devan kemudian menjelaskan singkat rencananya pada mereka.
"Oke. Tapi aku harus beritahu kau, Devan. Kami fallen angel tidak bisa secara langsung menyakiti manusia. Hukum alam kami dengan mereka berbeda."
"Kau tidak perlu menyakiti manusia, gunakan mobilnya saja. Itu perantaranya", ujar Devan sembari tersenyum jahat.
Devan dengan cepat mengambil posisi mobilnya agar berada di samping depan mobil baja, yang terdapat penembaknya dari kaca pintu.
Tanpa berlama sebelum mereka menembak, Devan seketika menginjak rem dengan kuat.
"Morgan!."
"Hah!.", waktu terhenti. Morgan memegang pundak Devan dan Justein.
Mobil Devan kini diam dan sejajar dengan mobil prajurit di sampingnya.
Devan dengan cepat membuka pintu mobil itu dari dalam. Melempar penembak dan menendang supirnya itu keluar, mereka pun melayang di udara.
Waktu melambat, mobil pun lambat jalan. Devan kembali ke mobilnya, sementara Julian segera masuk dan membajak mobil prajurit tersebut.
"Mohon bantuannya, Julian.", ucap Devan.
Waktu berjalan normal. Kedua prajurit yang dikeluarkan Devan pun jatuh terpelanting di Aspal, salah satunya bahkan tertabrak mobil baja tersebut hingga membuat mereka berhenti.
Devan menstabilkan mobilnya setelah direm mendadak. Berusaha menghindar dari tembakan serta senggolan dari mobil prajurit itu.
Sedangkan Julian, memainkan perannya. Ia menyenggol beberapa mobil baja di sekitarnya. Menabrak, dan mengerem mendadak. Mengacaukan formasinya.
Rencana mereka pun berhasil. Mobil Devan berhasil menjauh. Beberapa saat kemudian, Julian datang, terbang laju dari belakang dengan sayapnya, dan mendarat di tempat duduknya.
"Lapor. Rencana sukses, Devan. Haruskah aku berkata begitu?."
Morgan dan Julian tertawa. Sementara Devan hanya tersenyum jahat kecil. Namun, kesenangan itu hanya berselang sebentar.
"Hoi, coba lihat itu.", Morgan menoleh ke belakang.
"Devan... seburonan apa sebenarnya kau?.", ucap Julian.
Devan kemudian melihat dari kaca spion. Raut wajah Devan pun terbelalak.
Terlihat sepasang jet terbang agak rendah melaju menuju mereka.
Satu misil dilepaskan dari dua jet itu.
__ADS_1
"BOOM!!!.", misil itu pun meledakkan mobil Devan.
*****