
Pagi hari yang sama, di mulut Lembah Sei Roja...
Sekelompok Entitas mendarat kuat dari atas langit, menimbulkan retakan cukup besar pada tanah kering di sekitarnya.
"Jadi ini, lembah yang dimaksud Reydan.", ucap sesosok Malaikat jatuh, pemilik mata merah serta sayap hitam yang paling lebar diantara lainnya itu.
"Seharusnya iya. Dari atas, tempat ini terhalang awan. Aku mengira, cuaca badai yang menghalangi kelompok kalian ada di depan sana.", tanggap sesosok bangsa jin yang dari awal bersama mereka.
"Hmm... Aku jadi penasaran, badai seperti apa yang bisa menghalangi sekelompok bangsa fallen angel seperti kalian.", tambahnya namun bernada sinis.
"Hooh, begitu kah?, Raven.", tanggap sinis salah sesosok fallen angel lainnya. Kepalanya menoleh ke arah sang jin, namun matanya acuh tak memandangnya.
"Kenapa?, ada yang salah dengan kata-kataku? Atau... Kau punya masalah denganku?, Meghan.", sang jin itu pun membalas perkataan sang fallen angel, tentunya dengan nada tak senang.
Meghan, sesosok lelaki muda Fallen Angel itu pun dibuat agak marah oleh perkataan sang jin, mulailah rambut hitam pekatnya berdiri menajam perlahan, hingga timbul tanda tanda petir hitam di kedua lengannya yang agak kekar.
Mata tajam yang sebelumnya acuh itu pun langsung memandang sang jin yang disebut Raven itu, seakan ia siap menyerangnya kapanpun ia mau.
Tapi Raven, hanya bergeming di tempat ia berdiri, pun tak sedikit keraguan timbul dari matanya bak gagak itu. Jin lelaki dengan perawakan remaja itu, tak takut pada ancaman, seolah ancaman Meghan tak berarti apapun padanya.
"Bisakah kalian hentikan itu?", ucap si mata merah dengan sayap yang paling lebar.
Cukup dengan kata itu, Meghan yang tadinya dilanda amarah perlahan berusaha menenang. Ia tekan kemampuan magus yang tadinya keluar.
"Dan juga, perhatikan nada bicara engkau, Raven. Aku tak tahu kekuatan apa yang kau miliki hingga berani-beraninya kau bicara tentang bangsaku dengan nada remeh seperti itu. Tapi, jika kau berani hanya karena ada Aamon yang menjaminmu, kusarankan engkau jangan kurang ajar, diriku ini tak lebih lemah darinya asal kau tahu."
"Oh ya?", Raven hanya menanggap pendek.
"Ya!, ucapan engkau barusan, anggap saja aku tak pernah mendengarnya.", si mata merah dengan mata tajam itu pun menghadap ke depan, sembari melanjutkan langkah memasuki lembah Sei Roja.
Raven terdiam sesaat, mendengar tanggapan si fallen angel barusan. Setelah ia turut melangkah barulah ia berkata,
"Kalau begitu, anggap saja aku berterima kasih, pada kemurahan hati sang Raja Fallen Angel."
Raven mengalah, menuruti kemauan sang Raja Fallen Angel yang tak lain adalah Istan Zora. Tanggapan Istan benar-benar diluar sangkaan Raven, karena itulah tanpa sadar Raven memasang sikap waspada padanya, pada pikiran yang sulit ditebak olehnya.
Kelompok entitas yang berjumlah empat itu kemudian masuk ke tengah lembah Sei Roja yang luas. Istan, Maia, Meghan, serta Raven dari bangsa jin yang berada di belakang mereka bertiga.
Perlahan cuaca badai beserta kilat dan petir mulai menunjukkan kengerian serta kebengisannya. Namun, mereka berempat sama sekali tak menunjukkan kelemahan.
"Aku mengerti, Reydan. Yang begini, kau tak mungkin bisa lewati.", Istan berucap.
Kemudian mereka masuk, melangkahi garis bayangan awan gelap yang menyelimuti langit lembah, dan dari situlah ujian sebenarnya di mulai.
Cambuk-cambuk petir yang berdatangan semakin cepat, menghamtam tanah dimanapun mereka berpijak, saking cepatnya, cambuk biru tua itu seakan menghempas tanpa jeda.
Walau begitu, mereka juga bukan entitas sembarang, tiga fallen angel yang menduduki hirarki tertinggi pada koloni Delbora, serta satu bangsa jin kepercayaan sang penguasa dosa amarah. Begitu licin dan lincah mereka menghindarinya, meskipun itu tak mudah.
Sebagaimana Raven yang menyembunyikan dirinya pada setiap bayang-bayang yang ada di sekitar. Tatkala beberapa petir seketika mendatangi dirinya, seketika itu pula ia tenggelam ke bayangan bawah dirinya, lalu tiba-tiba timbul dari mana saja yang ia mau, selama di sana ada bayangan.
Medan yang seperti ini, sangatlah menguntungkan Raven. Tenggelam dan timbul, dalam bentangan bayang-bayang awan mendung yang luas.
Kemudian Meghan, situasi ini agak sedikit merepotkannya. Ia berlari sangat kencang, dialah yang paling lincah diantara lainnya, sampai-sampai rambut hitamnya kaku berdiri, hingga timbul efek-efek petir di sekujur tubuhnya.
Ia berlari zig-zag, 'berlari - berhenti untuk berbelok - berlari lagi' dengan tempo yang begitu cepat, berusaha menggojek cambuk petir yang mengejar, dan pada tiap titik pijakan berhentinya, selalu meninggalkan jejak retakan tanah yang hancur ditekan oleh ujung kakinya.
Meski begitu, tetap saja terkadang petir masih mengenainya. Tapi untungnya Meghan dahulu adalah penerima berkah Arcangel Michael, karena itulah magusnya berelemen petir. Menerima sambaran petir baginya seperti beradu tinju, ia masih mampu menangkis dengan lengannya, walaupun ia masih sedikit terhempas terkena dampak sambarannya.
Sementara Maia, ia memang berlari namun tak cepat, bahkan dirinya cenderung tenang. Meski begitu ia tak tertinggal, bahkan oleh Meghan yang paling cepat, itu karena magus elemen waktu miliknya.
Tatkala cambuk petir itu mengarah padanya, dengan sigap ia memberhentikan waktu sekitar, kemudian ia berlari dikala waktu yang berhenti itu, hingga pada jarak radius tertentu, barulah ia kembalikan waktu semula. Begitulah seterusnya.
Maka mereka yang melihat Maia pun seakan dirinya tiba-tiba berpindah-pindah, jarak tempuhnya yang jauh, tak sesuai dengan langkah larinya yang pelan.
Dan yang paling mengagumkan adalah Istan Zora. Dirinya mampu berlari menyamai Meghan. Tak tampak ada usaha dirinya untuk menghindar, padahal sambaran petir paling banyak mengarah padanya.
Itu karena medan gravitasi sekitarnya yang Istan munculkan dengan sengaja, agar memancing sambaran petir ke arahnya, sehingga mengurangi intensitas sambaran petir ke tiga entitas lainnya.
Walau begitu, tak satupun cambuk biru gelap itu berhasil menyentuh dirinya. Ujung sambaran petir itu selalu terbelok, seakan ada barier gravitasi yang melindungi Istan dari serangan luar di segala arah.
Ditengah kesibukan mereka berlari menghindari badai petir, datanglah kehadiran tak terduga.....
...
Mereka bertiga terbelalak, melihat entitas bercahaya serba putih tiba-tiba muncul melayang di hadapan mereka.
Istan yang tepat berhadapan dengannya, melihatnya dengan jelas, sesosok malaikat wanita bermata sayu yang pernah ia hadapi di masa lalu itu...
"Sach..."
__ADS_1
Belum selesai Istan menyebut namanya, di belakang telah muncul Raven dari bayangan yang sebelumnya jauh tertinggal di belakang.
Ia yang telah sigap sedari awal pun mulai memainkan kemampuannya,,,
Tepat ketika kemunculan Raven di belakang, muncul bayangan tangan yang menarik Istan, Maia, dan Meghan ke arah bawah bayangan.
Mereka bertiga pun menghilang tenggelam, namun di saat yang sama ketiganya juga muncul terpisah agak jauh pada tiga pilar batu dari bawah bayangan, yang pilarnya menerima sambaran petir hingga tak mengenai mereka.
Sekarang, tinggallah Raven sendiri berhadapan dengan entitas yang terang...
"Pulanglah...", suara pelan nan lembut pun keluar dari mulut sang entitas putih bercahaya, hingga menghasilkan gema yang menyebar yang bahkan dari jauh pun akan terdengar suara kecilnya.
Hati ketiga fallen angel agaknya sedikit terpengaruh, sayangnya sangat tak cukup untuk menjatuhkan tekad mereka yang buruk. Hanya tampang ketidaksukaan yang sedikit terlihat dari raut wajah mereka.
Tapi Raven sang jin, sama sekali tak merasakan efek dari gema tersebut, padahal dia adalah bangsa lebih lemah daripada fallen angel.
Ia tunjukan itu ketika gema-gema suara melewati dirinya, namun ia tetap bersikap biasa, dengan tatapan matanya yang dingin memandang sang entitas putih.
"Yo malaikat putih... Dapat salam dari tuanku, Aamon.", setelah itu, seketika pandangan mata Raven berubah...
Matanya menyalak, memandang sang entitas putih dengan penuh amarah.
Disaat itulah, muncul sebuah portal di hadapan Raven....
Sebuah lingkaran portal berwarna hitam dengan bercak-bercak putih muncul. Dari baliknya, keluarlah sesosok entitas gelap dengan bercak-bercak putih, dengan empat tanduk api hitam berdiri tegak di atas kepalanya.
Dirinya, menatap sang entitas terang dengan mata hitamnya yang menyalak.
"Jangan halangi mereka!, Sachiel!", suaranya kasar, berat, dan keras, keluar dari bentuk mulutnya yang bergigi besar nan tajam mengerikan.
Kemunculannya mengaburkan aura ketenangan Sachiel, dan suaranya melenyapkan gema suara lembut Sachiel. Bahkan, awan petir yang menggelegar seketika terdiam oleh kehadirannya.
Meski begitu, Sachiel masih bergeming di tempatnya semula. Ia tetap kalem dan tenang, dengan pandangan matanya yang sayu dan senyum tipis di bibirnya. Sachiel tetap dalam karakternya, sekalipun berhadapan dengan hardikan dan pandangan menyalak dari sang penguasa dosa amarah.
Sementara Istan, melihat kedua saudara sebangsanya, 'Maia dan Meghan'. Kepala mereka sedikit mendongak, seakan mereka melihat sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka.
Istan pun kembali memandang ke arah Aamon yang muncul dari balik portal, dalam pandangannya, wujud Aamon tidaklah lebih besar daripadanya, sehingga dirinya tak perlu mendongak kepala.
("Aku tahu rahasia kemampuan Aamon. Wujudnya relatif, tergantung bagaimana mereka memandang dirinya sendiri, atau bagaimana cara mereka menilai Aamon.")
Sachiel pun juga tahu, tapi dari awal ia memang tak berkecil hati pada dirinya, pun tidak meremehkan siapapun yang ada di hadapannya. Karena itulah, pandangan matanya sejajar dengan mata Aamon yang ada di hadapannya.
Serentak mereka semua berlari dibantu magus mereka, agar segera melewati Sachiel yang sedang dihadang Aamon.
Sachiel yang melihatnya pun bereaksi. Ia segera menyebarkan kembali momentum aura ketenangan miliknya agar menyebar mengenai para kelompok Istan.
Gelombang udara dari titik Sachiel berdiri seakan meledak dengan lembut dan mulai bergerak dengan natural melebar ke segala penjuru, namun....
"Hooooh, ingin mengadu momentum aura denganku?"
"BOOM!!", Gelombang udara meledak keras dari titik Aamon berdiri, melenyapkan gelombang aura milik Sachiel yang bergerak lembut.
Seketika di saat itu dalam dada Istan, Meghan, Maia, dan Raven terasa panas, seakan ada api di hati yang mendorong mereka cenderung untuk marah.
Tak ada rasa penolakan tampak dari diri mereka, sebab momentum aura yang disebar oleh Aamon, selaras dengan tekad mereka. Hal itu membuat lari mereka lebih kencang daripada sebelumnya.
Sementara Sachiel, ia terpental ke belakang setelah kalah adu momentum aura melawan Aamon. Namun tak ia hentikan, justru ia manfaatkan untuk menjaga jarak dengan kelompok Istan, agar kelompok Istan tak melewati dirinya.
Aamon pun segera mengejar Sachiel untuk memperpendek jarak, tapi kali ini, dirinya yang tak mampu menyeimbangi kecepatan Sachiel.
Tapi Sachiel pun tak bisa menghentikan mereka berempat sekaligus. Baik itu Istan, Raven, Maia, dan Meghan, mereka semua berlari pada satu garis memanjang dari kiri ke kanan dengan jarak yang berjauhan.
Walau begitu, tak lama bagi Sachiel membuat keputusan. Ia melancangkan tangan kirinya ke samping, dan mulai menargetkan Maia yang berada di sisi kirinya.
Sesuatu tak terlihat seketika keluar dari telapak tangan Sachiel, dan mulai bergerak cepat ke arah Maia.
Hanya Aamon lah yang bisa merasakan sesuatu tersebut meski dirinya pun tak bisa melihatnya. Karena itulah, Aamon dengan cepat mengangkat tangan kanannya ke depan dari bawah ke atas,
"BUAR!!", dinding api hitam timbul dari bawah tanah meninggi ke atas di tengah-tengah sepanjang garis lurus antara Sachiel dan Maia, membakar sesuatu yang keluar dari tangan Maia.
"Hah!", Sachiel terkejut kecil, mendapati tangan kirinya terbakar api hitam padahal dirinya jauh dari jangkauan serangan Aamon.
Sachiel pun terpaksa berhenti, mendaratkan kakinya ke atas tanah hingga terseret beberapa jarak ke belakang. Telapak tangan kanannya hendak menyentuh lengan kirinya, mencoba berbuat sesuatu agar apinya padam, namun nyalanya tak berkurang sedikitpun.
"Percuma!, malaikat kecil."
Sachiel segera melihat ke arah suara. Di hadapannya tampak Aamon yang terbang rendah dengan sayap putihnya yang berbercak hitam di ujung dan pangkalnya itu semakin mendekatinya.
Segera Sachiel terbang rendah ke arah kanannya, kali ini menuju ke arah Istan.
__ADS_1
Aamon yang sedari awal dilanda amarah semakin kesal, tampak tangan kanannya menggenggam bergetar mendapati dirinya tak mampu menyeimbangi kecepatan terbang sang malaikat putih.
Aamon tak kehabisan cara, dirinya mengayunkan tangannya kuat ke depan dengan jemari tangannya yang mencakar. Saat itulah, dinding api muncul dari tanah menjalar mengejar lebih cepat menuju Sachiel.
Tatkala api mulai mencuat dari bawah Sachiel, tiba-tiba...
"Blink!", Sachiel seketika menghilang dari tempatnya, dan Aamon seketika berhenti.
Aamon berbalik sembari matanya semakin menyalak tajam menatap Sachiel yang berada jauh di hadapannya.
("Dia.... mengelabuiku!!!"), giginya mengeram kuat hingga rahangnya bergetar, mendapati Sachiel telah berada di dekat Maia yang berada di sisi lain.
Aamon pun menghentakkan kakinya ke tanah, hingga menimpulkan ledakkan api hitam. Kemudian ia ambil pecahan tanah yang terpental di hadapannya, dengan sekuat tenaga ia lemparkan...
"Suuuur!,", batu api hitam melesat cepat di udara hingga kibaran apinya bersuara.
Sementara Maia yang langsung menyadari dirinya dalam bahaya, refleks magusnya aktif, menghentikan waktu dan segalanya pun terhenti. Sayangnya...
Aturan magus itu tak berpengaruh pada Sachiel, ia masih tetap bergerak melayang mendekati Maia, hingga hampir telapak tangan Sachiel menyentuh Maia, namun sebuah bola api melesat masuk lewat diantara mereka, membuat Maia terkejut dan tak sengaja membuyarkan kemampuannya. Waktu kembali normal.
Dengan sigap Raven bergerak, cepat-cepat tangan kanannya membentuk isyarat dua dengan jemari telunjuk condong ke bawah dan jemari tengah lurus, kemudian ia balikkan lengannya...
Seketika raut wajah Sachiel sedikit bereaksi, mendapati dihadapannya adalah Aamon yang memandanginya dengan mata menyalak yang penuh amarah.
Aamon seketika meraih wajah Sachiel dengan telapak tangannya yang lebar, kemudian ia hempaskan kuat-kuat ke bawah.
"BOOM!!", tanah-tanah menjadi retak, api hitam mencuat dari tiap retakan tanah, membakar tanah hingga menjadi gosong warnanya.
"Engkau bukan tandinganku, Sachiel. Kau hanyalah malaikat kecilnya Gabriel!"
Perkataan Aamon tersebut terkadung tekanan Amarah yang amat kuat, saking kuatnya, bahkan tanah sekitar pun terpengaruh oleh tekanan tersebut, mereka meretak dengan sendirinya dan mencuatkan api hitam ditiap celah retakannya.
Cahaya di sekujur tubuh Sachiel mulai meredup, dan sesekali cahaya tersebut menyilau, seakan cahaya itu menetralkan Sachiel dari serangan mental yang dilakukan oleh Aamon.
"Menyerahlah!, cahaya engkau begitu lemah dihadapanku."
Sachiel pun berusaha melayangkan dirinya perlahan, dan berdiri. Raut kesusahan mulai tampak pada wajahnya, tangan kirinya bergetar di bakar api hitam yang tak kunjung padam. Bulir-bulir cahaya, mulai keluar melayang dari tangan kirinya.
Senyum tipis tak lagi terlukis seperti biasa pada bibirnya, mata sayunya terlihat berbeda, pandangannya melemah.
Dan Istan bersama yang lain, telah jauh melewati Sachiel yang masih tertahan Aamon.
"Sadarlah Sachiel!, sejak awal engkau sudah kalah, aku tahu, engkau sama sekali tak memiliki bekal kemampuan untuk menyerang."
Sachiel hanya memandangnya, namun sejak awal juga, Sachiel tidak pernah membalas perkataannya. Karena itulah, Aamon kembali bertindak.
"Suuurrr!!", Kibaran api hitam timbul dari tanah di segala penjuru, kemudian melebar luas ke segala arah sehingga membuat lautan api hitam yang mengurung mereka berdua.
Aamon kesal, karena diabaikan.
"Hm?", Sesaat, Aamon melihat Sachiel tersenyum tipis ke arahnya.
"Sluuur!", Secepat angin, Sachiel menembus melewati lautan api hitam. Aamon kembali kesal bercampur terkejut melihat keputusan yang dibuat oleh Sachiel.
Hingga ketika di lihatnya bulir-bulir cahaya muncul dan terbang ke langit dari lautan api yang ia buat, hatinya mulai cemas, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada Aamon.
("Gawat!!!")
Segera Aamon memadamkan Api Hitam yang ia buat, dari titik tengah yang paling dekat dengan dirinya. Namun, padamnya api hitam itu, tidaklah secepat bagaimana ia menjalar, sehingga tak dapat mencapai titik dimana Sachiel sampai.
Sementara Sachiel, harus menahan api hitam yang membakar sekujur tubuhnya. Terus menerobos lautan api tanpa mengurangi kecepatan melayangnya.
Dan akhirnya, Sachiel pun berhasil keluar dari lautan api hitam. Namun sayangnya, di depan telah Ada Aamon yang mencegat, menyambutnya dengan cengkeraman tangan dilehernya, lalu mendorong dan menahannya agar terbaring di atas tanah.
Api hitam pun padam, tidak hanya yang ada di atas tanah, tapi juga yang ada di sekujur tubuh Sachiel
...
Sementara Raven, dia sendiri yang berhenti berlari, semenjak portal hitam muncul kembali di hadapannya dan keluarlah Aamon dari baliknya.
Awalnya ia berfikir karena Aamon kalah cepat dengan Sachiel. Tapi ia penasaran, karena merasa ada yang berbeda dari tuannya.
Dia pun melihatnya agak jauh, lautan api yang padam, lalu ia padamkan juga api hitam di sekujur tubuh malaikat putih itu.
Dirinya bertanya-tanya, mengapa Aamon perlu melakukan itu?. Pemandangan itu begitu aneh bagi Raven.
Tapi yang paling aneh baginya, adalah bagaimana ia melihat kecemasan yang terlukis dari wajah Aamon yang menyeramkan itu. Sesuatu yang tidak pernah ia lihat, sepanjang ratusan tahun ia melayani Sang penguasa dosa amarah itu.
Saat itulah, untuk pertama kalinya, Raven melihat wajah kecemasan tuannya sendiri.
__ADS_1
***