
(....."Maaf mengganggumu, ibu peri. Saya hanya ingin melewati awan abu-abu ini. Izin berjalan lewat di hadapan ibu peri."
Melihat tingkah laku Devan, Sang Ibu peri pun memandanginya dengan teduh,
"Hm..mm..", gumam ibu peri dengan nada menyangkal sambil menggeleng kepala.
"Tempat ini adalah milik tuhan, akupun juga menumpang. Maafkan aku anak manusia, telah menghalangi jalanmu."
Devan hanya tersenyum pada ibu peri itu, kemudian ia lanjut berjalan lebih jauh bersama kuda terbangnya, dan Eris di sampingnya....)
Lalu teringatlah Ibu peri sekarang, tentang anak manusia yang kini ada di hadapannya.
"Kamu... Anak manusia yang menapaki langit pertama malam tadi."
"Ya. Kita berjumpa lagi, Ibu peri.", ucap Devan sembari tersenyum simpul.
Ibu peri yang memperhatikan Devan, menyadari perbedaan yang ada padanya. Beberapa helai rambut depannya, tampak berwarna putih terang.
"Dirimu tampak berbeda anak manusia, apa ada hal baik yang kamu temui ketika di langit pertama tadi?", tanya Ibu peri sembari tersenyum simpul juga.
"Hal baik?", tanggap Devan, kemudian ia menggeleng-geleng kepala. "Kalaupun ada, itu adalah saat dimana aku bertemu Ibu peri diantara banyaknya iblis-iblis yang menyamar."
"Begitu ya. Awalnya diriku ragu, ternyata dirimu memang bisa melihatnya, kejahatan yang tersembunyi malam itu....."
Lalu sang Ibu peri mengingat makhluk yang membersamai Devan saat itu,
(....Eris dan ibu peri itu sempat saling bertatap mata. Ibu peri itu memandang datar Eris, tapi Eris memandanginya dengan pandangan sinis, lalu Eris seketika membuang wajahnya ke depan.
Ibu peri itu hanya melihat mereka, pergi lebih jauh ke depan. Seraya bibirnya mengucap do'a,
"Wahai Tuhan sang maha pelindung, dia adalah anak manusia yang sopan, tolong lindungilah dirinya, dari kejahatan malam yang mengintai.".....)
"Syukurlah anak manusia, tak kusangka dirimu bisa lepas darinya, si ratu nafsu itu.", pandangan Ibu peri teduh menatap Devan, ia benar-benar mensyukuri keselamatan Devan hari itu.
"Oh... Eris...., maksudku si Asmodeus itu, awalnya pun kukira ia hanya penyihir biasa."
"Maafkan diriku yang tak menolongmu saat itu, anak manusia. Diriku ini tidaklah sekuat seperti penampilanku, keterampilan bertarungku rendah, melawan satu anak buah iblis saja mungkin akan sulit bagiku."
Kemudian Devan menggeleng sekali seraya berkata,
"Ibu peri tidak salah, aku pun tak ingin membuat susah Ibu Peri. Lagipula si iblis itu telah mati, ia memaksa diri mengejarku hingga ke tanah peri, akhirnya ia pun terbakar habis tepat di hadapanku."
("Saat itu, akupun baru memahami, maksud perkataan Isla tentang 'tanah terlarang' baginya, membuatnya hanya bisa mengantarku sampai diujung awan seberang.", ucap Devan dalam hati.)
"Mati?...", Ibu peri tampak sedikit heran dengan ucapan Devan. "Itu tidak mungkin, anak manusia....", Belum selesai Ibu peri bicara,
tiba-tiba....
"Bunda Amaryllis.....!", datang Alishia dari lorong rak-rak buku, nafasnya tersengal-sengal setelah sehabis berlari sebelumnya.
Devan dan Ibu Peri kemudian menoleh ke arah Alishia.
"Ada apa, Lishia?, Dirimu tampak terburu-buru."
"Dia... Dia...", ucap Alishia tersengal-sengal nafasnya sembari tangannya menunjuk ke arah Devan.
Devan yang agak sedikit terkejut dengan kedatangannya Alishia kemudian membathin,
("Aku Lupa!, aku seharusnya mengikuti Shia, kenapa aku malah masuk ke perpustakaan.")
"Tenanglah dulu, Alishia.", ucap lembut Ibu Peri.
Alishia pun mengatur nafasnya, sejenak ia menarik nafas dalam, lalu ia hembuskan perlahan.
"Bunda Amaryllis, tolong jangan dekat-dekat dengannya, makhluk itu adalah fallen angel.", ucap Alishia sembari menunjuk dan memandang Devan dengan raut wajah masam.
"Bunda Amaryllis...", ucap Devan sendiri, pandangannya beralih ke Ibu Peri yang dipanggil Bunda Amaryllis itu setelah sebelumnya ia menoleh ke arah Alishia.
Bunda Peri Amaryllis diam sejenak, ia tampak memperhatikan Devan dengan seksama. Disaat yang sama, Devan juga mulai sedikit cemas, dengan tanggapan Sang Bunda Peri.
Sesaat kemudian, Bunda Peri Amaryllis malah berkata,
"O yaa,,,?, kita daritadi asik mengobrol, bukankah kita belum kenalan?, anak manusia.", ucap Bunda Peri Amaryllis pada Devan seraya tersenyum simpul.
"Benar juga ya, Bunda Amaryllis.", ucap Devan seraya ikut tersenyum, cemas yang dirasa Devan pun seketika hilang.
"Hm, anak manusia.", gumam Bunda Peri Mengiyakan. "Namaku, Amaryllis."
"Kalau begitu, namaku Devan, bunda, Devan Aria."
Tiba-tiba Bunda Peri Amaryllis sedikit bereaksi mendengar nama Devan. Namun, Alishia dan Devan tak menyadarinya.
("Devan Aria,,,,", Bunda Peri membathin, seakan ia mencoba mengingat-ingat sesuatu.)
"Bundaaa?..", Alishia justru terheran dengan tanggapan Bunda pada Devan, setelah ia memberitahu identitas Devan yang sebenarnya. "Kenapa malah diajak kenalan?", tambah Alishia.
__ADS_1
Bunda Peri Amaryllis kemudian beralih memandang Alishia dengan teduh, seraya dirinya tertawa kecil,
"Maafkan Bunda, Lishia. Soalnya Bunda sebelumnya pernah bertemu dengan anak manusia bernama Devan ini.", ucap Bunda Peri lembut pada Alishia, matanya sedikit menyipit sehabis tertawa kecil.
"Baik, Devan. Benarkah apa yang dikatakan Lishia, bahwa dirimu adalah fallen angel?", tanya Bunda Peri yang perlahan beralih memandang Devan.
Devan merasa dirinya canggung, ia pun menjawab,
"Benar, bunda. Diriku adalah fallen angel, maaf bila identitasku membuat bunda tak nyaman, dan juga... Ini memang sulit dimengerti, tapi aku sebenarnya juga manusia."
"Hey, kau pikir bisa berbohong dihadapan bunda?", celetuk Alishia, diiringi dengan langkah kakinya melewati Devan dan mendekati Bunda Peri Amaryllis.
("Anak manusia ini.... mungkinkah...dia seperti Alsiel?"), dalam hati Bunda Peri membathin, hatinya diliputi rasa kasihan, terpancar dari pandangan matanya yang saat itu melihat Devan.
"Bunda?", Devan memanggil kecil, ia melihat alis bunda peri turun, matanya sedikit sayu, meskipun bunda peri masih sedikit tersenyum, tetap membuat Devan hampir cemas, sebab ia tak menangkap maksud tatapan Bunda Peri Amaryllis itu.
Sesaat kemudian, Bunda Peri Amaryllis tersadar dari lamunan.
"Hmm.", gumam bunda bernada menyangkal seraya menggeleng perlahan. "Identitasmu sama sekali tak masalah untukku, dan tak sulit juga untuk diriku mengerti, kalau dirimu juga manusia."
"Bunda....", keluh Alishia bernada tak setuju dengan pernyataan Bunda Peri Amaryllis.
"Lishia, sungguh bunda tak merasakan kebohongan padanya. Lihat Devan, apa dia tampak seperti seorang fallen angel?", ucap Bunda Peri Amaryllis lembut sembari ia menghadap pada Alishia di sisinya.
"Benarkah?", Alishia masih tak yakin, "Haa aku ingat, pendant yang di kenakannya, dengan itulah makhluk itu menyembunyikan dirinya, bunda.", tambah Alishia sembari menunjuk ke arah gelang yang dikenakan Devan,
"Hm!", lalu ia bergumam bernada tak senang dan memandang Devan dengan wajah masam.
Sementara Devan, ia hanya terdiam berdiri, keningnya tampak mengkerut, begitupun alisnya, barangkali ia tak tahu lagi hendak menanggapi Alishia bagaimana.
"Pendant?", tanggap Bunda Peri Amaryllis, lalu ia menoleh ke arah telunjuk Alishia yang mengarah pada pergelangan tangan Devan.
Bunda peri terdiam melihat sejenak, dari tempat ia berdiri,
"Maaf Devan, bolehkah diriku melihat pendantmu lebih dekat?", pinta Bunda peri.
"Hm", gumam Devan mengiyakan seraya, "Silahkan bunda.", ucap Devan, lalu melepas gelang yang ia kenakan.
Setelah itu, tampaklah kembali aura hitam pekat pada diri Devan. Aura hitam yang berbentuk mahkota diatas kepalanya, serta sayap tajam nan lebar yang keluar dari balik punggungnya.
Kali ini, Alishia tak lagi terkejut memandangnya, sedangkan Bunda Peri Amaryllis sedikit bereaksi, walau masih cenderung tenang memandang Devan.
Dengan kondisi Devan yang tampak seperti itu, ia lalu berjalan pelan menuju Bunda Peri Amaryllis tuk mengantar pendantnya.
Namun Alishia yang berdiri di sisi bunda takkan biarkan, baru saja setengah jalan Devan melangkah, Alishia mulai melangkah kaki ke hadapan Devan dengan menunduk pandang.
Alishia lalu mengangkat pandangannya membuat mereka berdua saling pandang.
Dahi Alishia mengkerut hingga alisnya turun, gigi atas-bawahnya bertemu seolah menggigit. Tatapan jijik Alishia pada Devan, membuatnya seolah menangkap maksud Alishia saat itu,
("Jangan coba-coba dekati bunda lebih dari ini!!!")
Alishia pun menengadahkan tangan kanannya, tuk meminta pendant dari tangan Devan.
Karena ditatap seperti itu, Devan jadi sedikit tersinggung, wajahnya berubah sedikit tak senang. Walau begitu Devan memilih mengalah, ia pun menaruh pendant miliknya diatas telapak tangan Alishia.
Setelah itu Alishia berbalik, kembali berjalan mendekati Bunda Peri Amaryllis, membelakangi Devan yang terdiam di tempat, sambil menahan hatinya yang tak nyaman dan berusaha bersikap seperti biasanya.
"Ini, bunda", ucap Alishia sembari mengulurkan tangannya, memberi pendant milik Devan pada Bunda Peri Amaryllis.
Bunda Peri pun menerima pendant tersebut dengan telapak tangan kanannya. Kemudian ia dekatkan telapak tangannya dekat pandangan matanya.
Bunda Peri memandanginya dengan seksama. Dalam pandangannya, Tampak aura hijau kecil yang hilang timbul diantara kegelapan yang menyelimuti pendant tersebut.
"Aura ini...", ucap kecil Bunda Peri Amaryllis.
Sesaat setelahnya, Bunda Peri pun tersenyum dengan tatapan matanya yang lega. Hingga dalam hatinya, ia berkata,
("Hmm, anak manusia ini pasti telah melewati perjalanan berat di langit pertama, sampai-sampai membuat pendant ini diselimuti niat buruk. Tak kusangka kebaikanmu ini justru melindunginya, padahal dirimu telah pergi dari dunia ini, wahai teman baikku, Artemis.")
"Bolehkah diriku memurnikannya, gelangmu ini, Devan?", pinta Bunda Peri seraya mengangkat pandangannya memandang Devan.
"Bisakah Bunda?. Kalau begitu, kuserahkan bagaimana baiknya bunda saja.", jawab Devan penuh sopan.
Alishia tampak sedikit keberatan dengan respon Bunda Peri Amaryllis.
"Tidak apa-apa kan?, Lishia. Sepertinya bunda sedikit mengganggu bisnismu.", ucap lembut Bunda Peri, seraya pandangannya beralih memandang Alishia.
"Ee.. Tidak apa.. Tidak apa-apa kok bunda.", ucap Alishia sedikit terbata.
("Hmmm, mengapa bunda malah membantu makhluk itu??", keluh Alishia dalam hati.)
Bunda peri Amaryllis kemudian menghadapkan telapak tangan kirinya di atas telapak tangan kanannya yang membawa pendant gelang milik Devan.
Kemudian, raut wajah Bunda Peri Amaryllis perlahan tampak berat. Ia berusaha mengeluarkan sihirnya, memunculkan beriak angin diantara kedua tangannya yang berhadapan secara vertikal.
__ADS_1
Setelah itu, gelang milik Devan perlahan melayang diantara kedua tangan bunda peri, dan kedua tangan bunda peri kemudian perlahan bergerak berputar, sehingga keduanya saling berhadapan secara horizontal, dengan gelang milik Devan yang melayang diantaranya.
Bunda Peri Amaryllis pun menurunkan kedua tangannya, dan gelang milik Devan, masih melayang di tempat, ditahan oleh angin kecil miliknya.
Kemudian Bunda Peri Amaryllis meraih tongkat biru muda miliknya yang melayang di sisinya, lalu meletakkan tongkat itu tepat di hadapannya, dan di hadapan pendant gelang milik Devan.
Dalam proses itu, Bunda Peri Amaryllis menyempatkan dirinya berbicara, pada Devan dan juga Alishia,
"Kalian tahu tidak?, semua hal di dunia ini, tetap punya potensi untuk salah dan hilang arah, sekalipun ia begitu baik, berpengetahuan, serta kuat...."
Devan dan Alishia yang sebelumnya memandangi pendant yang tengah melayang, kini beralih memandang Bunda Peri Amaryllis yang mulai bicara.
"Karena itulah, tuhan menciptakan begitu banyak hal di dunia ini. Sehingga semua hal itu bisa saling mengenal dan memahami, dengan segala persamaan maupun perbedaan.
Dengan begitu, kita semua tidak perlu berjuang hidup sendiri, dan tak cemas akan lemah, salah, dan hilang arah, sebab kita punya hal yang akan mengingatkan dan menuntun kita pada jalan kembali."
Mendengar hal itu, Devan dan Alishia mengerut Dahi.
"Maaf bunda, Lishia tak mengerti."
"Aku juga.", sambut Devan.
Bunda Peri Amaryllis hanya tersenyum, lalu menjelaskan maksudnya.
"'Pertemanan', Lishia, Devan. Itulah yang bunda bicarakan. Dan tentunya 'Pertemanan yang baik'."
"Haa.", Devan mengiyakan, walaupun ia masih tak mengerti.
Kemudian, tampak beriak angin sepoi kecil keluar dari kepala tongkat milik Bunda Peri beraura hijau.
"Itu...sihir milik Bunda Ratu Artemis, kah?", Alishia bereaksi kecil, melihat hal itu.
"Karena bunda bukan peri yang kuat, bunda banyak mengumpulkan jenis angin milik para peri dengan tongkat ini. Angin milik Lishia, bunda pun juga punya."
"Bunda......", ucap Alishia.
Angin sepoi beraura hijau yang keluar dari tongkat tersebut, mulai terbang lincah, menembus melewati diantara celah aura hitam yang mengelilingi gelang Devan.
"Tidak hanya bangsa 'Devan', atau pun bangsa 'Lishia', yang memiliki hubungan pertemanan. Di kalangan bangsa 'angin', pun memiliki ikatan tersebut.
Bunda bisa melihat di gelang ini, terdapat angin mungil milik Ratu Artemis diantara aura hitam yang menyelimuti gelang ini."
"Milik Bunda Ratu Artemis?", Alishia bereaksi seakan tak percaya.
"Xixixi.", Bunda Peri Amaryllis tertawa kecil.
"Maafkan Bunda, seharusnya bunda prihatin, tapi angin mungil itu tampak imut di mata Bunda. Padahal ia tengah tersesat dan hilang arah, pasti ia ragu dan mengira dirinya adalah bagian dari kumpulan aura hitam itu."
"Bahkan angin milik Ratu Artemis juga bisa hilang arah.", tanggap Alishia.
"Karena itulah, bunda mengirim angin milik Ratu Artemis, agar mereka mengingatkan pada angin mungil yang tengah bingung itu....."
Tiba-tiba, gelang milik Devan itu melayang bergetar-getar, hingga sesaat setelahnya.....
"BOOM..!"
".....Agar angin mungil itu teringat kembali, siapa tuannya, dan siapa tuhannya.", lanjut bunda peri, mengakhiri kata-katanya.
Pada saat itu, terdapat dua hal yang terjadi...
Yang pertama, Devan dan Alishia akhirnya mengerti, maksud dari perkataan Bunda Peri Amaryllis.
Dan yang kedua, ledakan angin beraura hijau, menyebar luas dari titik dimana Gelang Devan melayang, namun hanya sesaat, hingga kemudian, aura yang menyebar itu kembali menyusut dan masuk ke dalam gelang Devan yang telah kembali hijau dan bersih dari niat jahat.
Tapi, itu bukanlah ledakan biasa, aura itu juga menyebarkan keberadaan Ratu Artemis, yang memberi tahu, seakan-akan Ratu Artemis ada di situ.
Hingga tak berselang lama, para peri pengunjung perpustakaan, datang satu per satu, berjalan dan terbang perlahan mendekati di mana asal aura itu meledak.
Saat itu, Bunda Peri Amaryllis melihat di sekelilingnya, telah banyak peri-peri yang datang dengan wajah yang penuh harap, namun sekejap wajah mereka tampak sedikit kecewa, mendapati sosok yang mereka cari, ternyata tak ada di tempat.
"Bunda Artemis..."
"Ratu Peri....?"
Terdengar kecil, beberapa peri yang menyahut nama sang ratu peri sebelumnya.
Alishia juga tampak bergetar tangan kanannya, yang mengulur ke arah gelang Devan yang jatuh ke tanah.
Melihat fenomena itu, muncullah kerinduan di hati Bunda Peri Amaryllis, pada teman baiknya Artemis, seraya hatinya dengan lirih berucap,
("Hey Artemis, andai dirimu lihat para peri di sini, padahal telah sadar oleh mereka bahwa dirimu telah pergi, tapi mereka tetap kemari mencari, sembari berharap dirimu ada disini.
Tahtamu telah beralih, tapi dirimu, tak mungkin terganti oleh generasi peri zaman ini, tidak oleh Ratu Aliya, dan tidak pula oleh diriku ini.")
Bunda Peri Amaryllis pun menunduk sembari memejam mata, dan berusaha menguatkan diri, berharap agar tak ada sedikitpun air mata yang tumpah, dari pelupuk matanya.
__ADS_1
***