Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 33: Isla, Bangsa Jin yang Menjelma


__ADS_3

"KAU!, MENGAPA KAU BISA MELIHAT ADIK KECILKU???, PADAHAL IA TAK MENAMPAKKAN DIRI."


("APA???. Jadi, dari awal iblis kecil ini.....!"), belum selesai Devan membathin tiba-tiba,


"Hey anak manusia, jadi dari awal engkau bisa melihat wujud halus kami.", ucap Eris bernada berat yang berdiri di sisi Devan, lehernya menoleh 90 derajat ke Devan, matanya melotot lebar.


"Dan selama ini, engkau pura-pura tidak tahu.", tambahnya.


Devan agak merinding melihat cara Eris bersikap yang seketika berbeda dari sebelumnya.


Sesaat kemudian, iblis lelaki pendek itu melancangkan kedua tangannya kedepan, jemarinya bermekar tajam mengarah agak cepat ke leher Devan.


"Aaaaaaaa...", teriak iblis lelaki pendek itu yang hendak menyerang Devan.


Mendengar itu, Devan segera sigap menepis serangan iblis kecil itu. Ia tepis hempaskan kedua tangan iblis itu dengan punggung pergelangan tangan kanannya, kemudian dengan cepat ia balik pergelangan tangannya itu agar telapak tangannya dapat menangkap salah satu tangan iblis itu.


Setelah itu, Devan mengaktifkan magus di telapak tangan kanannya yang tengah memegang punggung lengan kanan iblis itu.


Iblis lelaki pendek itu pun perlahan matanya menjadi sayu, perlahan-lahan ia semakin mengantuk, ia terlutut, dan akhirnya ia terjatuh di atas awan itu.


Seketika setelah itu, Isla si kuda terbang mengangkat kedua kaki depannya seraya meringkih, Devan juga seketika jiwanya bergetar dan mata nya terbelalak, sebab saat itu ia merasakan ribuan mata tengah menatapnya.


Dan saat itu memang benar, seluruh malaikat yang ada di langit pertama, tengah memandang di titik Devan berada. Namun hal itu hanya sesaat, jiwa Devan tak lagi bergetar, perasaan ditatap ribuan mata yang dirasa oleh Devan, telah sirna.


Seluruh malaikat yang menjaga di langit pertama malam itu, mengabaikannya.


Menyadari hal itu, Eris kemudian perlahan memejamkan matanya. Ia menarik nafas perlahan, dan.....


"HIYAHAHAHA!", Eris tertawa lebar, namun karena wujudnya saat ini, tertawanya justru membuatnya tampak manis, dan suara tawanya tak tampak menyeramkan.


Devan pun segera melompat mundur ke belakang membuat jarak, begitupun Isla si kuda terbang, yang turut mundur beberapa langkah, namun ia tidak mendekati Devan, pun tidak mendekati Eris, ia berdiri di titik lain diantara keduanya.


Devan pun memandang heran Eris, yang tiba-tiba tertawa, keningnya mengkerut.


"Apaaa ini..... Padahal tadi aku khawatir sekali bahwa dirimu adalah manusia dengan ilmu tinggi, HIYAHAHA.", ucap Eris sembari tertawa lepas.

__ADS_1


"Ternyata.... hanya malaikat yang terjatuh, lalu dikutuk menjadi manusia. Malangnya engkau, Devan.", tambah Eris dengan tatapan nakal namun dengan senyum mengejek.


"dikutuk kau bilang?"


"Yaaa. Padahal engkau dulunya cahaya, tapi sekarang, engkau menjadi tanah berjalan, yang bermuasal dari tempat terendah."


"Memangnya kenapa dengan tanah?. Menjadi api pun tak menjadikan kau mulia. Tetap saja kau terhina karena durhaka."


("CIH!!!", kesal Eris.)


"Hoy, Devan. Engkau yakin bicara begitu?", ucap Eris seraya berjalan menuju Devan.


"Kau tahu?. Kau juga makhluk yang durhaka", ucap Eris terus berjalan.


Devan pun hendak melompat mundur menjaga jarak, namun...


("Ha? Kenapa denganku...."), Devan berusaha menggerakkan tubuhnya untuk mundur, tapi...


("Aku...tidak bisa bergerak!"), setelah baru selangkah ia mundur.


"Dan karena itulah....", ucap Eris seraya tersenyum jahat.


"Para penjaga (malaikat) langit malam ini, takkan ada yang bergerak menolongmu.", tambahnya seraya Eris mendekatkan wajahnya pada Devan, dan kedua tangannya yang bermekar tajam perlahan menuju ke leher Devan.


Tiba-tiba....


"ZUUR!!!", beriak angin deras datang menerpa Eris, tahu-tahu Devan sudah tidak ada di depannya.


Sementara Devan, tahu-tahu telah berada dalam gendongan kedua lengan seorang gadis remaja, yang tengah melayang di suatu titik di langit sembari menatap Eris yang tengah kebingungan agak jauh di bawahnya.


Devan melihat gadis itu dengan seksama. Rambutnya merah kecoklatan, terurai terbang diterpa angin, juga poni yang menutupi keningnya, namun tak menutupi tanduk lancip yang tumbuh ke atas di tengah keningnya.


Di atas kepalanya, juga tampak sesuatu yang berdiri lancip seperti tanduk di kedua sisinya, tapi sebenarnya itu bukan tanduk, itu adalah telinga kuda miliknya yang terletak di kedua sisi atas kepalanya.


Eris menoleh ke sana kemari mencari Devan. Sesaat kemudian, di samping atas dirinya agak jauh, tampak sesosok gadis remaja tengah menggendong Devan di depannya dengan kedua lengannya seraya melayang di udara dengan sayap hitamnya yang lebar.

__ADS_1


Gadis itu menatap datar dirinya dengan mata kuda berwarna hitam miliknya. Tampak juga sebuah ekor kuda mengibas-ngibas di belakang bawah pinggang gadis itu.


Gadis itu berpakaian kulit berwarna hitam, yang melindungi tubuh dan lengan atasnya, serta celana hingga setengah betisnya. Kakinya, di tutupi sebuah terompah kuno hingga pergelangan kakinya, dengan sepatu kuda yang menempel di bagian depannya.


Dan yang paling mencolok, aura hitam yang terpancar dari sekujur tubuhnya.


"Siapa sangka, kuda terbang yang tadinya di tuntun oleh tuannya, kini tengah melayang dan menjelma menjadi sesosok gadis untuk menyelamatkan tuannya.", ucap Eris bernada nyaring pada gadis itu.


"Tuan?. Bukan. Seorang kenalan memintaku untuk mengantarnya.", jawab singkat gadis itu.


"Oh...Maksudmu, hanya karena permintaan seorang kenalan, engkau berani melawanku?. Mungkin engkau tak paham, biar kuberitahu, melawanku, sama seperti kau mengkhianati Raja Iblis lhooo."


"Kau....Isla?", tanya Devan sembari memandang wajah gadis itu.


Gadis jelmaan kuda terbang itu hanya diam fokus memandang datar Eris tanpa menggubris perkataan Eris maupun Devan.


"Tapi, kalau engkau mau menyerahkannya kembali padaku, aku akan melupakan kejadian kali ini, dan tak akan mengatakannya pada raja iblis. Biar bagaimanapun, kita berdua sama-sama api, karena itulah, aku bisa memberi pengertianku padamu. Bagaimana?, hai jelmaan kuda terbang dari bangsa jin?"


Sempat hening sesaat, barulah Isla bicara menanggapi perkataan Eris.


"Aku tidak peduli soal itu. Dan asal kau tahu, aku tidak tunduk pada Raja Iblis. Aku hanya melayani seorang Raja dari kalangan manusia, Raja Kebijaksanaan, yang memahami seluruh bahasa."


"Haaaa?. Hiyahaha!.... Betapa bodohnya!, padahal kematian orang itu membuat bangsamu merdeka, tapi kau...malah....Hiyahaha!."


("Meski begitu, aku tak boleh meremehkannya, karena dia bicara begitu, dia pasti bukan jin biasa, dia punya pengalaman ribuan tahun.")


Sementara itu, selagi Eris tertawa, Isla mulai bicara pada Devan,


"Hey manusia, kuberitahu dengan tegas, tak ada siapapun diantara kita yang setara dengannya, yang artinya, tidak diriku ataupun engkau yang mampu untuk mengalahkannya, sekalipun engkau menggunakan kekuatan penuhmu seperti saat kau berduel dengan Zivan.", ucap Isla tanpa melepas pandangan datarnya pada Eris.


"Kau..... tidak salah dengan penilaianmu?"


"Haaa.", gumam Isla mengiyakan.


"Soalnya yang di hadapan kita sekarang bukanlah iblis biasa, dia adalah.......

__ADS_1


***


__ADS_2