Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 26: Konfrontasi Melawan Zivan


__ADS_3

Devan langsung berlari kencang menuju Zivan, namun di hadapannya tampak mayat yang juga berlari kencang dengan ancang tinjuan yang siap dilepas.


Saat keduanya berada pada jangkauan, si mayat langsung melepas tinjuan kuat itu. Namun Devan dengan mudahnya membaca serangan itu, tangan kirinya bergerak cepat menangkap tinjuan tangan mayat itu dari atas dan mendorongnya kuat ke bawah.


Si mayat segera tersungkur ke bawah, namun lesatan tinjuan kanan Devan lebih cepat mengarah ke dagu mayat itu hingga membuatnya terhempas terbang ke atas.


Devan kembali berlari kencang, dan lagi-lagi tidak hanya satu, tapi empat mayat datang dari setiap sisi depan, bersamaan berlari kencang yang siap meninju Devan sekuat tenaga.


Sedangkan Devan tetap berlari menuju mereka, lalu melompat kencang ke arah mereka sembari berputar dan menendang kuat mereka dengan kaki bagian belakangnya selagi ia melayang di udara.


Empat-empatnya pun tersungkur terhempas, sementara Devan mendarat dengan baik walau sempat sedikit terseret pijakannya.


Devan segera kembali berlari kencang, namun tampak tujuh, delapan, hingga malas Devan untuk menghitung jumlah mayat yang berlari menghadangnya.


Tanpa ragu Devan tetap berlari kencang menuju mereka semua, namun ketika Devan dan mereka semua telah sama-sama hampir dalam jangkauan, Devan seketika berhenti sesaat, namun seketika kembali kencang larinya dengan berbelok tajam menghindari beberapa mayat itu.


Mayat-mayat itu pun hanya menyerang angin dan sedikit aura hitam Devan yang samar tertinggal di di titik di mana Devan berbelok tajam tersebut.


Devan terus berlari, berputar badan, zig-zag, melewati satu, dua, hingga beberapa mayat yang menghadangnya. Terkadang Devan menyerangnya, terkadang hanya menghindarinya, Devan berbuat tergantung situasi dan keadaan.


Devan terus berusaha mencari celah jalan untuk mendekati Zivan diantara banyaknya mayat hidup. Namun ia berulang-ulang terhalang.


“Bagaimana Devan?, mendekatiku…tidak mudah bukan?”, ucap Zivan bernada ejek.


“Bukan masalah. Lagipula kroco-krocomu ini gerakannya terlalu sederhana, mudah sekali aku membacanya. Kalau begini, lama-lama aku pasti akan sampai dihadapanmu.”


“Lama-lama?, berapa lama?. Lagipula memangnya kenapa kalau gerakan mayat hidupku ini sederhana?. Lihatlah!. Mayat-mayat yang tadinya kau serang…perlahan memulihkan dirinya sendiri.”


Devan sembari sibuk dengan mayat yang berada di dekatnya, ia sempatkan menoleh ke tempat mayat-mayat yang ia lewati dan ia hajar sebelumnya.


Tampak ekspresi wajah Devan berubah, matanya terbelalak, ia tak menyangka bahwa mayat yang ia jatuhkan tadi perlahan memulihkan diri, bahkan sebagian telah kembali seperti semula.


“Kalau begini, takutnya kau lelah duluan, Devan.”,lanjut Zivan mengembalikan kalimat Devan, tentunya dengan bernada ejek.


“Tch!”, desis kesal Devan. Dahinya mengernyit.


Devan kembali fokus di hadapannya, tampak dua mayat dengan cepat berlari dan langsung menyerang Devan.


Devan yang tengah diam berdiri seketika sigap, ia menepis tinjuan mayat itu dengan bagian belakang telapak tangan kanannya, dan ia hempaskan tepisannya hingga arah tinjuannya ke sisi kanan Devan.


Ketika postur tubuh mayat itupun sedikit condong sesuai dengan arah tinjuannya. Devan menendang kuat kaki kanan mayat itu hingga ia tersalto dan tersungkur ke belakang Devan.


Selanjutnya mayat yang lain segera menyusul menyerang dengan gaya yang sama. Kali ini Devan menepis dengan bagian belakang telapak tangan kirinya hingga terhempas keluar tinjuannya.


Kemudian tangan kanan Devan bergerak cepat mencengkeram leher mayat itu, dengan cepat ia angkat sedikit dan seketika ia hempaskan mayat itu ke tanah dengan tangannya yang tak lepas mencengkeram.

__ADS_1


“Memangnya kenapa kalau mereka bisa memulihkan diri?. Lihatlah!, aku akan menghajarnya lagi.”, ujar Devan mengembalikan gaya kalimat Zivan sebelumnya.


“Kau takut aku Lelah duluan?. Bukankah kau harusnya khawatir…takutnya aku benar-benar berada di hadapanmu. Kau belum memprediksi sampai disitu, bukan?”, lanjut Devan yang bicara sembari berdiri tegak setelah menghempas mayat yang barusan.


Ekspresi Zivan tiba-tiba mendatar, ia sedikit kesal mendengar kalimat Devan.


“Bicaramu, boleh juga.”, ucap Zivan, ia menahan supaya tak terpancing.


Devan masih disibukkan menghadapi mayat-mayat itu, menghajar, menghindar, berlari melewati celah diantara mereka..


Sementara Zivan hanya berdiri diam sembari mengawasi setiap pergerakan Devan. Namun kali ini, ia merasa Devan perlahan-lahan mendekatinya. Devan pun dipandangannya tampak tak terlihat Lelah.


(“Apa aku terlalu meremehkannya?”, Zivan membathin.)


“Sepertinya aku mulai merasa bosan.”, ucap Zivan.


Devan yang berada agak jauh tak begitu mendengar Devan pun bertanya.


“Apa?”


“Kau benar, Devan. Gerakan mereka terlalu sederhana, sampai aku yang melihat pun merasa bosan.”


“Ha?...kenapa tiba-tiba kau bica…”, Devan seketika menghentikan kalimatnya, ketika ia melihat di sekelilingnya, mayat-mayat hidup itu kembali mati dan berjatuhan.


“Yaaa… Sepertinya aku harus merombak ulang…”, belum selesai Zivan berbicara, tiba-tiba ia melihat Devan berlari kencang dan melompat dengan melesat ke arahnya.


Zivan yang memandang itu tampak tenang, datar, dan tak bereaksi apapun. Hingga ketika Devan melepas tinjuannya sekuat tenaga tepat menuju wajah Zivan..…


“PUM!!!”, seorang mayat hidup seketika datang melesat tepat diantara Devan dan Zivan. Ia menangkis tinjuan Devan dengan kedua lengannya yang menyilang. Lengan mayat hidup itu pun memerah akibat tinjuan Devan.


Sesaat kemudian, mayat itu membuka kedua lengannya sekaligus dengan sekuat tenaga. Seketika….


“BUM!!!”, Devan terhempas jauh hingga menabrak dinding gua, membuat bebatuan dindingnya sedikit berjatuhan.


Devan tertempel di dinding tersebut, matanya terbuka lebar, mulutnya sedikit menganga. Ia tampak terkejut dan tak menyangka masih ada yang sempat menghalanginya.


Ia pun mencoba bangun dan berusaha melepaskan dirinya yang agak tersangkut di dinding, kemudian ia terlutut. Raut wajah Devan setengah meringis, Jemari tangannya tampak mengerang bergerak-gerak sebab menahan rasa sakit di punggungnya.


“Devan…kau benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan.”


Devan yang menunduk tertekuk lutut pun menegakkan kepalanya, dan melihat Zivan tengah sumringah jahat ke arahnya.


“Kalau tadi sedikit saja aku menurunkan kewaspadaanku, pasti aku sudah kena.”, lanjut Zivan.


Tak lama kemudian, Devan berusaha berdiri, punggungnya tampak mengeluarkan aura hitam yang samar, ia pun perlahan membaik.

__ADS_1


“Jadi begitu, mengganti kuantitas dengan kualitas. Tak perlu banyak, fokus satu mayat dan membuatnya sangat kuat.”, ujar Devan setelah ia melihat sekelilingnya.


“Satu?. Tidak. Masih ada banyak yang sepertinya.”


Tiba-tiba, jasad-jasad yang tadinya kembali mati terjatuh kini perlahan kembali bangkit satu persatu dari segala arah, hingga tampak puluhan mayat hidup berdiri dengan tegak.


Devan mulai melempar pandangan ke mereka semua dengan tatapan serius. Hingga salah satu diantaranya tiba-tiba berlari kencang menuju Devan.


Devan segera sigap dan mempersiapkan tepisan seperti sebelumnya. Namun, tiba-tiba mayat itu melompat lesat seraya berputar lalu melesatkan tendangan kuat di udara tepat mengarah ke kepala Devan.


“SLUUUR!!!”, Devan refleks mencondongkan tubuhnya ke belakang lalu berlanjut salto ke belakang yang ditumpu kedua tangannya. Saat itu, terdengar desiran angin kuat akibat laju tendangan mayat hidup itu.


“Sebaiknya kau tak bersikap remeh seperti tadi. Soalnya…yang dihadapanmu kini tak sesedarhana yang tadi. Dan juga, mereka semua mungkin setara denganmu, Yah,, itu tergantung kau punya kemampuan sih. Mungkin saja mereka lebih kuat darimu.”, ujar Zivan bernada remeh.


“Tch!”, Devan hanya berdesis kesal sembari menoleh ke arah Zivan.


Tiba-tiba, mayat yang barusan kembali menyerang, ia berlari lesat menuju Devan, begitu Devan kembali menoleh ke depan, dia sudah tepat di hadapannya yang langsung melepas tinjuan kuat ke arah Devan.


Devan yang tak siap pun tak mampu sepenuhnya menepis tinjuan itu dengan tangan kirinya, ia pun memiringkan kepala ke kanan, dan lewatlah tinjuan itu dekat telinga kirinya.


Mayat itu seketika menarik kembali tangannya, dan menghujani Devan dengan tinjuan kedua tangannya dari arah kiri-kanan-bawah secara acak.


Devan pun termundur dan berkali-kali mengelak, menepis dan menangkis tanpa sempat membalas serangan. Lengan Devan tampak memerah akibat menangkis pukulan kuat yang bertubi-tubi.


Hingga ketika sampai pada tinjuan yang kesekian, mayat itu melakukan tinjuan tipuan. Ia mendorong tinjuannya kemudian menghentikannya pada setengah jarak ke wajah Devan.


Devan terperdaya, ia terlanjur bergerak menghindar dan melangkah mundur. Mayat itu dengan cepat menendang kaki kiri Devan yang tengah melangkah mundur, membuat Devan terperosok ke belakang.


(“Sial!. Mayat ini…dia akan menghempasku ke tanah dengan tinjuannya.”, Devan membathin di saat ia tengah terjatuh.)


Devan pun tak hilang akal, ia segera menggerakkan kaki kanannya dan melakukan tendangan ke atas. Terjadilah…


“Bhuk!!”, dugaan Devan benar. Mayat itu benar-benar mencondongkan tubuhnya ke bawah, dan meninju Devan dari atas. Namun lengannya terkena tendangan Devan sehingga tinjuannya terhempas ke atas membuat mayat itu termundur ke belakang.


Devan pun terjatuh ke tanah, namun ia segera berguling ke belakang, sampai ia kembali pada posisi setengah berdiri, ia tidak membiarkan tumitnya menginjak tanah, justru langsung mendorong dirinya dengan kaki bagian depan agar segera melesat ke depan. Dan…


“PHUM!!!”, Kaki devan menerjang sekuat tenaga mengenai tepat di tengah dada mayat itu. Ia pun terhempas kuat ke belakang, terseret-terguling beberapa kali di atas tanah.


Devan benar-benar tak menyia-nyiakan kesempatan singkat itu. Ia dengan cepat menyerang balik saat mayat hidup itu tengah hilang keseimbangan.


Namun Devan belum keluar dari situasi buruk, saat satu mayat itu terjatuh, disaat yang sama puluhan jasad yang bangkit kembali langsung berlari kencang menyerang Devan bersamaan.


Devan terdiam berdiri tak bergerak di tempatnya. Zivan yang melihat hal itu pun tampak puas.


“Sepertinya kali ini kau tak bisa lolos, Devan.”

__ADS_1


(“Sayang sekali dirimu akan berakhir disini. Selamat tinggal, Devan.”)


***


__ADS_2