
"Guru?, aku tidak ingat pernah punya murid sepertimu.... Ooh, aku ingat pernah memberi kalian saran-saran kecil yang tidak seberapa itu. Jangan salah paham, dahulu aku lakukan karena kalian adalah bidak yang penting bagi kerajaanku."
"Hoi hoi, akupun juga tak sebodoh itu untuk tidak menyadari kebusukanmu yang itu. Tapi sekarang aku tak habis pikir, sesosok Fallen angel yang dahulu menjatuhkan tahta kepemimpinanmu, justru sekarang malah engkau tolong dan lindungi dengan segenap kekuatanmu. Nama yang tidak pernah masuk dalam daftar kecurigaanku, kenyataannya dialah yang ada di hadapanku saat ini, Zivan Zora."
"Siapapun yang aku tolong, sama sekali bukan urusanmu. Semua itu terserah padaku."
"Hm-hm. Benar - benar. Akupun juga tak peduli dengan urusanmu. Tapi maaf saja Zivan, untuk yang ini ada hubungannya dengan kami. Pertarungan harus diselesaikan, dan kontrak harus dipenuhi."
"Oh ya?, kalau begitu, ayo kita selesaikan!"
"Memang itu yang mau aku lakukan. Maia, Meghan, jangan ikut campur."
Keduanya pun bergerak ke pinggir.
"Hm, engkau memang suka meremehkan lawanmu."
"Tadinya aku memang meremehkanmu. Soalnya.... makhluk bodoh mana yang melawan sesosok kacung dengan kekuatan penuh, kecuali bila dirinya juga sesosok kacung. Tapi tidak setelah tahu bahwa engkau adalah Zivan. Kali ini aku akan serius bertarung.
Ooo.. Jangan salah sangka dulu, aku menyuruh mereka tidak ikut campur bukan karena meremehkanmu. Aku ingin membuktikan diriku, bahwa Istan Zora sang pemimpin Delbora saat ini, lebih baik dari pada Zivan Zora si pemimpin terdahulu. "
Seketika Istan kencang berlari menuju Zivan. Duel tiba-tiba dimulai, tanpa ada aba-aba.
Bum!
Bum!
Bum!
Bum!
Bum!
Bum!
Akar-akar pohon menjalar muncul mengejar kaki Istan yang kencang berlari. Namun Istan yang berlari zigzag menyerong membuat tak satupun akar-akar itu dapat menyengkang kakinya.
"Trik yang sama takkan bekerja lagi padaku, Zivan."
Kemudian timbul dari bawah tanah batang-batang pohon dari depan jalur lari yang hendak di lewati Istan, tapi Istan dengan lincah menghindar bergerak kiri-kanan sehingga tak satupun mengenainya.
"Begitu saja?, Terlalu sederhana."
Istan telah dekat di hadapan Zivan, namun tiba-tiba Zivan melancangkan tangannya ke depan dengan jemari yang bermekar. Sontak muncul lima batang pohon dari bawah kaki Zivan tumbuh sangat cepat meluncur ke hadapan wajah Istan.
Tapi Istan tak kalah sigap, jemari tangannya bermekar di hadapan wajahnya. Maka seketika batang pohon itu tumbuh berbelok di kedua sisi melewati dirinya.
Istan melompat dan berlari di atas batang pohon yang Zivan buat, lalu Zivan menutup kelima jemari jemarinya menjadikan batang kayu itu rapuh, layu, dan mati.
Istan pun kehilangan pijakannya lalu mulai terjatuh, saat itulah Zivan dengan cepat mengangkat lengan kirinya dengan jemari mencakar, maka tiba-tiba saja dari bawah Istan tumbuh batang pohon bersama ranting-ranting yang tajam.
Tapi Istan tak kalah gesit, sayap hitamnya yang begitu lebar seketika muncul dan cepat-cepat ia terbang miring berputar badan di udara, hingga berhasil dirinya menghindar. Tapi...
Kraks!
Salah satu sayapnya terkena ranting yang tajam dan membuatnya terluka.
"Jadi begitu. Engkau memang mengincar ini, Zivan."
Istan sama sekali tak risau, meski terasa sakit, namun tak mengganggu fokusnya sedikitpun.
Hingga ketika Istan hampir sampai menjangkau Zivan, seketika Zivan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas, tiba-tiba muncul badan pohon yang besar mengangkat Zivan tinggi ke atas.
Istan yang tengah terbang rendah seketika itu pula berbelok tajam ke atas sembari menambah kecepatan terbangnya.
Sementara Zivan yang berada di atas segera melompat berlari turun ke bawah menuju Istan, saat itu tumbuh batang pohon secepat Zivan berlari memberinya pijakan di udara.
PUMB!!
Mereka pun beradu lengan, kali ini murni dengan adu fisik tanpa ada aliran magus yang mencampuri.
Saat itu, mereka mulai menghitung hal yang sama...
("Interval waktu menggunakan kemampuan magus mereka kembali")
"Kenapa repot-repot berlari?, padahal engkau bisa saja menarikku ke arahmu."
__ADS_1
"Kalau seperti itu malah tidak seru. Aku pasti dengan mudah mengalahkanmu."
"Jadi begini? Bertarung mode seriusmu, Istan!"
"Kuharap engkau tidak senang dengan hal itu.", ucap Istan sembari tersenyum sinis padanya.
"Cih!", Zivan langsung menghempaskan lengannya, kedua lengan sama-sama terhempas, namun Zivan kembali mendapat pijakan dan mendapat keuntungan dari posisinya yang lebih tinggi. Iapun langsung melompat kembali sembari mengarahkan terjangan kaki ke arah perut Istan.
Bhuk!!
Istan terkena serangan, dengan cepat jatuh ke atas tanah yang di penuhi batang-batang pohon yang kering.
Tapi untungnya barier gravitasinya segera kembali, setelah lima detik Istan tanpa kemampuan magusnya sendiri. Dirinya jatuh, tapi langsung berguling ke belakang kemudian bangkit berdiri.
"Hm?", Istan merasa heran, sebab ada sesuatu yang tak sesuai perkiraannya.
("Bukannya terus menerjang ke arahku, tapi dirinya malah berlari ke tempat yang lebih tinggi... Dia...menjauhiku?")
Istan menengadahkan kepalanya dan melihat Zivan terus berlari dengan cepat hingga terbentuk lintasan batang pohon yang melingkar-lingkar mengikuti langkah larinya.
Meski bagi Zivan belum tahu pasti, tapi dugaan dirinya benar. Magus Istan kembali dalam waktu lima detik.
Dari awal Zivan sudah menduga, perbedaan interval waktu penggunaan magus Zivan lebih lama dibandingkan Istan. Hanya masalah waktu, untuk Istan menyadari hal itu.
Istan yang berada di bawah pun mengangkat tangannya sembari berusaha mengarahkan telapak tangannya sejajar lurus ke arah Zivan.
Ketika telapak tangannya telah segaris lurus dengan posisi Zivan, langsung ia kepalkan tangannya lalu menarik kuat ke arah bawah.
Sontak Zivan tertarik dengan laju menuju ke bawah. Kali ini ia tak bisa apa-apa kecuali bathinnya menghitung berharap hitungan 15 duluan selesai sebelum dirinya sampai dalam jangkauan serang Istan.
10
11
Zivan menghening, jantungnya berdebar menahan sabar pelan hitungannya.
12
13
Zivan pun hampir masuk dalam jangkauan, dan Istan telah siap mengancang tangan kanannya melepas pukulan.
15....
Tiba-tiba Istan menghentikan tarikan gravitasinya dan mengurungkan niat tinjuannya, setelah mendapati kedua sisinya tumbuh batang pohon dengan cepat mengarah ke dirinya.
Dia pun mengibaskan kedua sayapnya hingga dirinya tersentak ke belakang demi menghindari dua batang pohon yang saling bertabrakan.
Namun, dua batang pohon lain tumbuh dari dalam tanah di kedua sisinya, dimanapun titik ia berada.
Krash!!
Krash!!
Krash!!
Krash!!
Krash!!
Seketika Istan berputar badan di udara lalu terbang laju melengkung seperti pisang di udara, menghindari seluruh batang pohon yang saling bertabrak yang mengejar dirinya.
Sementara Zivan, dirinya jatuh dengan laju dari atas, namun sudah terlalu dekat dengan tanah.
"BUM!!", akar lembut yang merambat di titik Zivan akan jatuh tak cukup banyak untuk menahan Zivan. Hasilnya, punggung Zivan masih terkena tanah keras yang menyakiti dirinya.
Zivan pun perlahan bangkit, berusaha tak menampakkan rasa sakitnya.
("Sial!, kemampuan pemulihanku sangat lambat, dampak pertarunganku dengan Devan kemarin masih belum benar-benar pulih")
"Tak kusangka perbedaan interval waktu penggunaan magus kita berbeda jauh, Zivan.", ucap Istan datar, dirinya tengah melayang di udara sembari menatap Zivan yang berada di bawah dengan pandangan kecewa.
Zivan terkejut, ia sembunyikan mimik wajahnya. Dirinya tak menyangka Istan menyadarinya secepat ini.
"Berbeda jauh?", Zivan sedikit menengadahkan kepalanya, pupil matanya mengarah ke Istan yang berada di atas dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Sedaritadi aku kepikiran, mengapa engkau harus menunggu masuk dalam jangkauan seranganku untuk menggunakan magusmu, padahal dari awal engkau menyerangku dari jarak jauh."
Zivan hanya diam, tak menyangkal perkataan Istan.
"Dalam pertarungan dengan intensitas cepat, lima detik saja terasa lama, apalagi lima belas detik.", lanjut Istan.
Zivan pun memulai pergerakan. Kaki kanannya ia hentak di atas tanah, seketika itu pula tumbuh batang pohon yang mendorong kuat Zivan menuju ketinggian ke arah Istan.
"Maaf saja Zivan, aku sudah hilang minat melawan dirimu yang sekarang."
Padahal sedikit lagi Zivan menyusul ketinggian Istan, tahu-tahu tinjuan petir Meghan telah menghantam pipinya hingga dirinya terlempar ke atas dan mendarat di halaman kediamannya.
Zivan yang terseret terguling beberapa jarak berusaha menghentikan dirinya, mengambil kembali keseimbangan dengan menekan pijakan kakinya di atas tanah.
Setelah itu segera Zivan mengembalikan perhatiannya pada lawan sembari mengabaikan rasa sakitnya, lalu tampaklah Meghan yang mengejarnya dan sudah ada dekat di hadapannya.
Meghan mengancang tangan kanannya, lalu melepas tinjuan kembali ke arah wajah Zivan, tapi kali ini Zivan dengan mudah menepis tinjuannya dengan tangan kirinya kemudian Zivan balikkan tinjuan ke wajah Meghan dengan tangan kanannya.
"Bhuk!", Meghan pun terhempas jatuh ke atas tanah, sembari terlambat menyadari, bahwa magus petir yang menjalari kedua lengan dan kakinya telah padam.
Istan, Maia, dan Raven yang memperhatikan kemudian bergerak ke atas menyusul mereka, menyadari ada hal yang janggal di atas sana.
Saat itulah, tujuan Zivan telah gagal, sesosok entitas yang seharusnya paling tak boleh mengetahuinya, justru sekarang mulai mengetahuinya.
Ketika kaki mereka mulai menapaki kaki pada halaman tersebut, seketika hati mereka dipenuhi ketidaknyamanan. Bahkan mata merah Istan sampai terbelalak karenanya.
Mereka mulai memperhatikan sekitar...
Seluruh tumbuhan yang ada di situ, semuanya kebiruan dengan bercak hijau. Semuanya tersebar, di berbagai titik yang ada di halaman ini.
"Ini... sihir Artemis!", ucap Raven yang matanya menyalak menyeramkan. Dirinya sendiri seakan tak percaya, pada pemandangan yang ada di hadapannya.
"Sekarang aku mengerti, mengapa lembah ini di segel.", ucap Meghan yang baru saja bangkit, bahkan dirinya sampai lupa, bahwa dirinya baru saja menerima tinjuan Zivan.
Istan beralih, memandang Zivan dengan tatapan kekecewaan.
"Jadi selama ini engkau berpihak pada bangsa peri?"
"Haa.", Zivan mengiyakan, dengan sikap dingin.
"YANG BENAR SAJA ENGKAU, SIALAN!!!, PADAHAL SELAMA INI AKU BERFIKIR BAHWA AKU MELANJUTKAN AMBISIMU!!!", Istan berteriak dengan mata menyalak, membentak Zivan dengan amarah yang luar biasa..
"Hey Istan...", tiba-tiba Raven memanggil Istan.
Semua melihat ke arah jin yang berperawakan laki-laki remaja itu. Matanya begitu menyeramkan memandang Istan yang tengah diselimuti amarah.
"Ayo, kita bakar saja tempat ini!", sembari mengangkat jemari telunjuknya ke arah Istan.
Tiba-tiba portal hitam gelap dengan bercak-bercak putih muncul di hadapan wajah Istan. Kemudian, keluarlah sesosok entitas gelap bertanduk empat dengan mata hitam yang menyalak mengerikan dari balik portal tersebut.
Saat itu, langit diatas mereka seketika memerah, angin menjadi tak bersahabat, akibat kedatangannya. Kemudian segala tumbuhan kebiruan dengan bercak hijau, seketika kehilangan warnanya.
"DASAR ENGKAU PENGKHIANAT, ZIVAN!', entitas tersebut membentak hebat, dengan suara yang paling kasar, dan nyalakkan mata yang paling menyeramkan, di hadapan wajah Zivan.
"Aamon....", Zivan terbelalak, dirinya sangat terkejut, melihat siapa yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba, tanaman sihir Artemis yang kehilangan warnanya itu langsung terbakar hebat, oleh api yang membumbung tinggi ke angkasa.
"Hey hentikan... Apa yang engkau lakukan, Aamon?"
Hati Zivan kehilangan ketenangan, wajahnya penuh keputus asa-an memandangi tumbuhan sihir Artemis yang terbakar hebat.
Sementara yang lain, sontak hati mereka di bakar oleh Amarah, akibat momentum Aura kehadiran Aamon diantara mereka. Kemampuan mereka pun telah aktif kembali, semenjak sihir Artemis kehilangan warnanya.
"MATILAH KAU, PENGKHIANAT!!"
Maka api hitam yang membara mulai mencuat dan meledak tepat di bawah kaki Zivan hingga...
"BUAARRRR!!!", suaranya menggelegar, membumbung tinggi ke angkasa, dan membakar hebat yang ada di dalamnya.
Dan tepat di samping api itu, berdiri seorang gadis bertelinga kuda, dengan ekor yang mengebas-ngebas di belakangnya. Tampak rambutnya yang terurai berwarna merah kecoklatan, dengan poni yang menutup keningnya.
"Padahal aku kembali berniat untuk pamitan kepadamu. Tapi engkau malah babak belur seperti ini, Zivan."
Gadis itu menundukkan wajahnya, mata hitam kudanya melihat lembut Zivan yang tengah tak sadarkan diri, dalam gendongan kedua lengannya.
__ADS_1
***