Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 26 Part 2


__ADS_3

Zivan memejam mata sebab tak ingin melihat yang selanjutnya. Ia tahu bahwa Devan telah mencapai batasnya.


Sementara Devan, walaupun sangat banyak yang ia tak ingat, tapi ia masih lebih memahami tentang dirinya. Karena itulah jantungnya kali ini berdetak sangat cepat, Ia paling tahu, bahwa kemampuannya, tak cukup untuk menyelamatkan dirinya saat ini.


Dan sebenarnya daritadi ia telah lelah, namun ia menolak menunjukkan kelemahan pada lawannya. Namun kali ini, mentalnya diuji. Ia ketakutan, merasa terancam, hatinya benar-benar baru mengakui, bahwa ia lemah, tak berdaya, dan tak mampu menolong Luna..


Akhirnya, dengan tekanan itu semua, Devan pun mulai kehilangan pandangan, dan ia pun pingsan, di tengah pertarungan.


Namun…


Dua detik kemudian…


Ia yang sudah hampir jatuh seketika bangun dan mengembalikan keseimbangannya. Ia pun mulai menarik nafas, dan langsung berhadapan dengan semua mayat hidup yang telah sampai di dekatnya.


Zivan membuka mata, namun yang ia lihat berbeda dari yang ia duga…


“Hm?”, heran Zivan.


Zivan memandangi gaya bertarung Devan berubah dari sebelumnya, ia begitu licin bergerak diantara mayat hidupnya. Gerakannya tampak teratur dan tak sia-sia.


Devan bergerak ke arah salah satu mayat itu, ketika mayat itu mulai melepaskan tinjuan, ia mempercepat larinya tiba-tiba lewat dari jangkauan tinjuan.


Tinjuan itu tak lepas penuh, dan lengan Devan berhasil menangkis dengan sedikit dorongan lompat agar terbantu dengan berat tubuhnya.


Ia memang sedikit terpental, namun ia bergerak cepat memutar dirinya, dengan menyikut wajah mayat itu hingga mayat itu sempoyongan ke samping.


Devan pun melewatinya lalu berputar laju agar kakinya mampu memberi terjangan kuat pada punggung Mayat itu, hingga mayat itu terhempas menabrak mayat yang datang dari arah lain.


Devan kembali berlari, namun tak selaju sebelumnya, hanya langkahnya yang lebih besar. Sama seperti taktik sebelumnya, bergerak agar terhindar dari situasi di mana ia terkepung.


Ia memilih satu lagi untuk di hajar. Ia sesaat mengencangkan larinya kemudian melompat dengan tangan yang siap melepas pukulan.


Mayat yang di depan kemudian bereaksi mempelankan larinya agar sigap menerima pukulan Devan. Namun Devan tak melepas pukulan, ia menggertak.


Hingga ketika ia mendaratkan kakinya, justru ia segera menjatuhkan dirinya dengan kedua kaki ke depan, sehingga ia meluncur dan mengenai kaki mayat itu hingga jatuh.

__ADS_1


Namun, sebelum mayat itu benar-benar jatuh ke tanah, Devan segera menghentikan sleedingan kakinya dan segera berjongkok lalu Devan berbalik dan menerjangnya lagi hingga ia terperosok ke depan.


Sementara Devan, sedikit terpental membelakang, terseret, dan seketika berguling ke belakang, agar lebih cepat bangkit dan langsung bergerak ke depan.


Kali ini ia mengubah arah larinya, berlari dengan langkah lebar menuju Zivan. Bila ada yang menghalangi, ia dengan lincah menghindarinya tanpa banyak mengeluarkan kekuatan.


Devan mengatur nafasnya, serta menjaga pikiran dan emosi berlebih, menyingkirkan segala faktor yang membuatnya cepat lelah ditengah pertarungan.


Dan kali ini, Devan juga bergerak lebih leluasa dari sebelumnya, sebab para mayat hidup jauh lebih sedikit dari sebelumnya. Hingga dalam waktu singkat, Devan berhasil kembali berada di hadapan Zivan.


Devan pun langsung menyerang Zivan dengan tinjunya, namun seketika Devan menarik kembali tangannya, hingga Zivan yang sesaat berhasil menangkap tangannya seketika lepas.


“Jangan salah paham dulu. Kau bisa berada di hadapanku, karena aku sengaja melambatkan mayat hidup itu.”


“Kau pikir aku peduli perihal itu.”


Devan kembali menyerang, namun Zivan selalu berhasil menghindari serangan itu.


“Heeuhh!!!”, hela Zivan.


“PUMP!!!”, tinjuan tangan kanan Zivan yang diselimuti aura hitam melesat kuat ke dagu kanan Devan, melebihi kecepatan refleks Devan.


Devan pun terguling dan terpelanting beberapa kali di atas tanah dan berakhir menabrak dinding Goa. Devan menyangkut sebentar kemudian terjatuh ke bawah.


Zivan kemudian berjalan mendekati Devan yang tengah terkapar di tanah sembari berbicara.


“Devan, sebenarnya dari awal pertarungan, kau sudah kalah. Kau tahu mengapa?, Kau seperti raja tunggal di papan catur, yang sudah tak memiliki pion, tapi lawanmu, masih memiliki pion yang lengkap.”


Devan berusaha bangkit dengan kedua tangannya, dagunya terluka parah, kulitnya sobek, bahkan tampak tulang kerangkanya hingga giginya.


“Dan kau sendiri sebenarnya telah sadar, karena itu, kau selalu berlari, menghindari kondisi dimana engkau terkepung oleh mayat-mayat hidup itu.”


Puluhan mayat hidup yang bangkit itu pun mulai berjalan mendekat dan mengepung Devan.


“Tapi, selama dan sejauh apapun raja tunggal berjalan, lama kelamaan ia juga akan tersudut, seperti kau sekarang.”

__ADS_1


Devan berusaha memandangi sekitar, pandangannya buram dan berbayang, namun ia tahu, puluhan mayat hidup telah mengelilinginya bersama Zivan di tengah-tengah.


“Maka, inilah yang dinamakan CHECKMATE!.”


Beberapa mayat hidup itu pun memegangi bahu Devan, dan mengangkatnya hingga menghadap ke Zivan, sebab ia masih tampak masih sempoyongan berdiri dengan lututnya.


“Dan sekarang harusnya kau mengerti, inilah perbedaan kekuatan antara aku dan kau. Jadi Devan kuberitahu, melukaiku tidak hanya sulit, tapi mustahil!”


Zivan pun melangkah mendekati Devan yang tengah terlutut sembari bahunya diangkat oleh para mayat itu.


“Dan sekarang sebaiknya kita akhiri ini. Selamat tinggal, Devan.”


Zivan pun mulai mengancangkan tinjuannya. Ia menarik lengannya hingga sejajar dengan bahunya, Kemudian lengahnya perlahan-lahan diselimuti aura hitam. Setelah itu, ia pun segera melepas tinjuan akhir ke arah Devan.


Namun, ketika tinjuan itu sedang di layangkan…


“Egh…”, tiba-tiba Zivan tertidur sesaat, begitupun para mayat di sekitar Devan.


“Hehe!”, Devan tiba-tiba tertawa kecil. Aura hitam di tangan Zivan tersedot cepat hingga menghilang memasuki wajah Devan.


Dua detik kemudian, Zivan terbangun, “Ha!”.


“Heee!”, lalu mendapati wajah Devan yang sumringah lebar di depan matanya beserta sebuah kepalan tangan berselimut aura hitam melesat ke wajahnya.


“PUMP!!!”, Tinjuan Devan pun mengarah tepat ke dagu sebelah kanan Zivan, membuatnya terpelanting dan terguling beberapa kali di atas tanah, hingga akhirnya menabrak dinding Goa.


“’Melukaiku tidak hanya sulit, tapi mustahil’, coba katakan itu sekali lagi, Senior Zivan Zora.”


Zivan terkapar di atas tanah, tak lama kemudian ia berusaha bangun, pandangannya buram dan berbayang. Dagu kanannya terluka parah, hingga kulitnya tersobek dan tampak tulang kerangka dan gigi di baliknya.


Sementara Devan, ia berdiri tegak sembari memandang Zivan yang terkapar di atas tanah. Ia tampak berbeda, raut wajahnya lebih ekspresif dan cenderung jahat. Namun yang paling berbeda adalah matanya, di tengah pupil matanya terdapat lingkaran putih beserta titik di tengahnya.


"Hahahaha!", Zivan tertawa, seraya perlahan bangkit berdiri sambil menahan rasa sakit di rahangnya.


"Sial sekali!, akhirnya kau bangun juga, Devan Zora."

__ADS_1


***


__ADS_2