
Hari beranjak siang, Devan dan Zivan baru saja sampai di kediaman, setelah sekian lama berjalan. Kini, keadaan Zivan sudah agak membaik dibanding sebelumnya, meski begitu, Devan tetap merangkulnya.
Belakangan, Devan baru mengetahui alasan dibalik lambatnya pemulihan Zivan, itu karena ia terlampau banyak mengeluarkan magus hingga membuatnya sangat lelah.
Zivan terpaksa melakukan itu demi memicu magus dalam diri Devan yang tertahan, apalagi magus Devan merupakan magus yang sangat kuat, tak bisa dipicu dengan tanggung.
Ada sedikit rasa bersalah pada bathin Devan, namun ia urung menampakkan apalagi mengatakannya. Itu karena dampak kepribadian Devan yang agak dingin, yang kini sedikit cenderung sebagai Devan Zora.
Walau begitu, hatinya jadi kembali sedikit terbuka pada Zivan, karena mengetahui hal itu.
Devan melepaskan rangkulannya pada Zivan, lalu zivan duduk pada tangga masuk kediamannya.
"Jadi, tujuanmu setelah ini adalah ke Rayyana?"
"Ya. Sebelum itu aku akan pergi ke Desa Gardum, kembali ke wilayah Kerajaan Avalon."
"Disana terlalu jauh, butuh berhari-hari untuk sampai. Lagipula.... dirimu juga tak memiliki kendaraan untuk kesana.", jelas Zivan.
("Hmm...mobil yang tertinggal di jalan masuk lembah dibawa pulang Morgan dan Julian tidak ya?. Soalnya mereka punya sayap yang lebih cepat. Tapi, meskipun ada tetap saja butuh tiga hari untuk sampai.")
"Padahal dirimu bisa berangkat langsung dari tempat ini.", tambah Zivan.
"Hm?, dari tempat ini?", ucap Devan heran.
"Aku pernah bilang padamu sebab kesakralan tempat ini, karena disini terdapat akses dekat menuju langit pertama. Kau ingat?"
Sesaat kemudian, Devan pun teringat.....
(.....“Sebenarnya, lembah ini adalah pintu dimana kita bisa menuju langit pertama, tempat dimana bangsa peri tinggal.”
Mendengar hal itu Devan pun menoleh ke arah Zivan.
“Oh aku mengerti. Karena itu berhubungan dengan para peri, dirimu tak bisa memberitahu mereka berdua, karena mereka adalah fallen angel.”.....)
"Aku ingat. Jadi, bagaimana caranya aku pergi ke atas sana dari sini?"
"Soal itu serahkan saja padaku, akan kupinjamkan sahabat baikku padamu."
"Pinjamkan?"
"Dirimu lihat saja nanti.", ucap Zivan sembari tersenyum.
"Hm...tapi aku masih tak mengerti."
"Yang mana?"
"Padahal kau bilang tak mempercayaiku. Tapi kau tetap membantuku."
Mendengar hal itu, Zivan pun termenung sesaat,
"Sejujurnya, diriku masih tak mempercayaimu. Tapi diriku sudah kalah denganmu. Kini diriku hanya bertaruh pada dirimu yang sekarang."
"Diriku yang sekarang?, maksudmu?, dan juga, sebenarnya apa yang dirimu tak percayai dariku?"
__ADS_1
"Dirimu dengan ingatan yang utuh. Dialah yang tak bisa ku percayai. Apalagi setelah mendengar pendapatnya langsung perihal peri."
Devan pun mengingat apa yang ia katakan soal itu.
(“Kalau saat itu aku berbohong, tidak mungkin aku tertawa. Heeuh. Aku sebelumnya yang ingin menolong Luna, sebenarnya itu adalah tendensi keinginanku yang sekarang…
KALAU AKU AKAN MELENYAPKAN PUTRI ARTEMIS.”, ucap Devan dengan pandangan dingin.)
"Aku ingat itu, sampai sekarang aku sadar, aku memang mengatakan hal itu. Tapi, aku lupa mengapa aku mengatakannya."
("Walau begitu, sepanjang saat itu, aku begitu ingat bagaimana perasaanku. Seperti ketika aku hendak menghabisi Zivan, aku merasa hatiku memang berniat membunuhnya. Tapi....
Saat aku mengatakan pemikiran serta niat jahatku pada Luna dan para peri, hatiku tak merasakan apapun, kira-kira mengapa?...hey, aku yang mengingat semuanya.", bathin Devan)
"Karena itulah aku bertaruh pada dirimu yang sekarang. Aku tidak berharap ingatan utuhmu kembali, saat dirimu bersamanya.", ujar Zivan menyimpulkan.
"Tenang saja, bukan berarti aku dikuasai diriku yang lain. Kuberi tahu saja, kalau aku mau waktu itu, aku bisa saja kembali ke diriku yang biasa dari awal.....
Tapi saat itu aku benar-benar merasa nyawaku diambang batas olehmu, karena itu aku biarkan dulu, apalagi banyak informasi yang kuperoleh saat itu, meski banyak juga yang terlupa."
Zivan menatap lama Devan, ia penasaran dengan kebenaran yang dikatakan Devan itu.
"Devan, dirimu serius dengan itu?. Maksudku...dirimu bukannya dikuasai atau....."
"Apa kau pikir, kembalinya diriku yang sekarang, tepat saat kau tengah kritis, adalah suatu kebetulan?" Potong Devan seketika.
"Kau menilai terlalu tinggi keberuntunganmu, Zivan.", tambahnya.
Zivan terdiam sesaat, setelah ia benar-benar mendengarkan Devan begitu seksama. Matanya terbuka lebar, mulutnya sedikit terbuka.
"Kalau begitu, tunggulah di sini hingga tengah malam, hanya di waktu itu dirimu bisa naik ke langit pertama. Aku punya kuda terbang yang hanya muncul di malam hari, Isla namanya. Ia akan mengantarmu menuju ke atas.", ucap Zivan penuh antusias.
Devan pun merasakan antusias Zivan, tak ada keraguan di hati Devan atas perkataannya.
"Kuda terbang ya...", ucap Devan seraya tersenyum senang.
("Kalau dengan itu, aku pasti sampai ke sana.", bathin Devan senang.)
"Tak ku sangka kau memiliki hal seperti itu, tapi bila dipikir kau cukup aneh Zivan, kau bilang tidak akan membiarkanku pergi, tapi sekarang kau membantuku pergi, sama seperti Aslan yang mengatakan ia tak menyukai para peri, tapi belakangan menyuruhku segera pergi demi para peri. Sungguh bertolak belakang."
"Mungkin itu sisi buruknya menjadi manusia setengah fallen angel, bukankah dirimu pun seperti itu?. Berniat membunuh Luna, tapi juga berniat untuk melindunginya...
Walau begitu, kali ini aku percaya padamu, Devan."
Semenjak saat itu, hubungan Devan dan Zivan kembali seperti di awal, tak lagi canggung seperti sebelumnya, akibat pertarungan mereka yang terakhir.
***
Detik-detik sebelum tengah malam...
Halaman kediaman Zivan, Lembah Sei Roja...
"Waktu tengah malam adalah waktu dimana banyak manusia biasa terlelap, sedangkan manusia suci terjaga. Diwaktu itu juga, sihir hitam banyak bergerak menuju targetnya.
__ADS_1
Makhluk jahat lainnya, ada yang berpesta, ada pula yang merencanakan kejahatan. karena itu, banyak malaikat turun ke langit pertama, untuk menjaga manusia dari kejahatan malam.
Sedangkan bagi manusia spesial seperti kita salah satunya, Indera kita akan lebih menguat, sehingga mampu melihat hal yang sebelumnya tak nampak, merasakan hal yang sebelumnya tak terasa, mendengarkan hal yang sebelumnya tak terdengar.", jelas Zivan panjang lebar sembari kepalanya mendongak ke langit malam.
Sesaat kemudian...
"Teng!!!", terdengar dentuman di langit, tanda dimulainya tengah malam.
"Daratan lembah ini, adalah salah satu yang paling dekat dengan langit, karena itu kita dapat mendengar dentuman peralihan malam. Dan dentuman itu, tak mungkin didengar, kecuali bagi mereka yang berniat mendaki langit.", lanjut Zivan.
Tak lama kemudian, datang dari samping kediaman Zivan, seekor kuda bersayap hitam yang lebar serta tanduk satu diatas kepalanya.
Kuda itu memiliki mata hitam, serta pupil yang berwarna merah. Ia juga selalu mengeluarkan aura hitam disekujur tubuhnya.
Devan sedikit terkejut melihat kuda itu, yang baginya tampak menyeramkan, namun ia tak mengatakannya.
Kuda itu pun berjalan hingga ke sisi Zivan, sementara Zivan menyambutnya dengan elusan lembut di kepala kuda tersebut.
"Bila kita tatap langit dari sini, seakan tampak kosong. Tapi sebenarnya ia seperti labirin yang luas, yang menyesatkan siapapun yang hendak mendakinya"
Kemudian, Zivan menoleh ke arah Devan sembari menatapnya.
"Devan, dirimu pernah berhasil mendaki langit, namun waktu itu, dirimu dipandu peri yang memang itu adalah jalur biasa menuju rumahnya.
Tapi kali ini, dirimu akan berangkat sendiri tanpa dipandu siapapun, dan dirimu harus temukan jalannya sendiri. Maka dari itu ingatlah tiga pesanku ini.
- Jangan banyak menoleh pada hal yang tak perlu, melirik saja, dan jika ada yang sadar akan tatapanmu, lebih tersembunyi bagimu membuang lirikan mata, daripada memaling kepala.
- Jangan memulai bicara, kecuali ada yang memulai, dan dirimu harus bicara, jangan abaikan, dan segerakan matamu untuk melihatnya.
- Berhati-hatilah pada iblis yang menyamar. Bersikaplah seperti dirimu tak mengetahui apa-apa. Dan Ingat, tak ada jalan pintas menuju langit pertama. Jalan yang tampak berat, adalah jalan yang benar."
Saat itu, Devan merasakan ada yang beda dengan tatapan Zivan. Tatapannya sangat misterius, perkataannya juga, membuat Devan merasa ada pengetahuan lain yang secara tak langsung tersirat lewat perkataannya.
Tapi entah kenapa saat itu Devan tak seperti biasanya. Ia benar-benar diam tak bicara, dan tak menanyakan apa yang seharusnya ia tanyakan.
"Terakhir diriku sampaikan sebelum dirimu berangkat, batas waktumu adalah waktu fajar. Bila garis cahaya putih telah membentang di ufuk barat, Isla akan pergi menghilang. Pastikan dirimu sampai di tanah peri, sebelum fajar tiba."
Devan pun mulai menaiki Isla, kemudian ia melompat dan terbang pelan ke atas. Bagi Devan, angin malam saat itu terasa berbeda, membawa rasa ragu dan ketidaknyamanan di hati Devan, seperti menahannya, agar tidak lebih tinggi terbang ke atas.
"Sayang sekali Devan, dirimu sungguh tidak beruntung menuju langit dari bagian bumi di sini. Tempat dimana manusia membunuh dirinya sendiri, dan desa yang di huni manusia-manusia yang disesatkan.....
Kuharap, ada malaikat yang mengenalmu diatas sana, yang sudi untuk menolongmu, sekalipun dirimu adalah sang malaikat jatuh.", ucap Zivan seraya melihat Devan yang telah terbang.
Sementara itu.....
Sachiel dari tempat lain di Lembah Sei Roja, juga melihat Devan yang terbang ke langit pertama. Ia pun menaruh kedua tangannya di depan dadanya, seraya bathinnya berdoa.....
("Wahai Tuhan yang mengasihi segala makhluk...
Bila ia memang makhluk yang benar, kasihilah ia...
Yang tengah mencoba menapaki langit, dari tempat seburuk-buruknya daratan, yang menjadikan seburuk-buruknya langit.")
__ADS_1
***