Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 50: Kemunculan Isla, Mulai Terungkapnya Rahasia Aamon


__ADS_3

.....


Pada saat yang sama, Aamon yang lain juga masih berada bersama Sachiel di bawah awan mendung yang menutup langit.


Semenjak Istan dan yang lain telah memasuki lebih jauh lepas dari naungan awam gelap yang mengisolasi lembah, entah mengapa Sachiel pun kemudian berhenti mengejar mereka.


Walau begitu, Aamon yang ada di hadapannya masih tetap berdiri tak henti berniat untuk tetap menghadang Sachiel. Tapi alasan sebenarnya bukanlah karena itu.


Mengapa Aamon masih tetap berdiri di hadapan Sachiel yang tak lagi berniat menghalangi rencana mereka?


Semenjak ia padamkan api hitam yang ada pada Sachiel, ia tak lagi memberikan serangan berdampak pada malaikat putih yang ada di hadapannya. Ia menahan diri.


Meski begitu, tak berarti luka yang diterima Sachiel juga menghilang, bahkan bekas tanah yang terbakar beserta aromanya masih tersebar disekitar mereka.


Sang penguasa amarah sedari tadi hanya terus berbicara pada Sachiel, yang tentu saja bukan bicara baik. Cela, Hina, Umpat, segala bentuk kalimat rendah keluar dari mulutnya yang mengerikan...


"Hoi mengapa tiba-tiba berhenti?, hanya segitu saja kah kemampuanmu?, dasar malaikat kecil yang lemah!!!


Lihatlah diri engkau!, begitu terluka dan rapuh, menyedihkan!


Hoi jangan diam saja!, takutkah engkau padaku?, engkau sosok yang pengecut rupanya ya!"....


Meski tidak semua kalimatnya bernada kasar, tapi tatapan menyalaknya yang mengarah pada Sachiel tak menyurut sedikitpun.


Tapi Sachiel, tak pernah sekalipun menanggapinya. Dirinya yang berdiri tepat di hadapan Aamon, hanya melempar tatapan matanya ke depan. Dan Aamon tahu, tatapan mata Sachiel, tidaklah berhenti ke dirinya, tapi jauh ke arah belakang dirinya.


Hal itu, semakin membuat Aamon bertambah kemarahannya..


"Hey!, Tuli kah kau?!"


"Siall, JAWAB PERKATAANKU!"


Sachiel tetap mengabaikannya, sekalipun rasa sakit dari luka bakar api Aamon, tidak bisa diabaikan olehnya.


***


Kemudian di sisi yang lain, Secara kebetulan Isla baru saja kembali dari langit pertama, setelah sebelumnya dirinya pergi mengantar Devan menuju tanah para peri.


Kejadian yang tak Isla sangka itu terjadi di hadapan matanya, ketika dirinya terbang turun dari angkasa dalam wujud kuda terbangnya, dirinya melihat Zivan yang tumbang disaat Zivan sendiri tengah berhadap-hadapan dengan empat entitas lainnya.


Isla pun langsung mengubah wujud dirinya, menjelma menjadi seorang gadis, dan Isla, langsung tiba di belakang Zivan tuk menangkap dirinya. Dalam sedetik, Isla berpindah dan sukses mengamankan Zivan dalam gendongan kedua lengannya.


"Padahal aku kembali berniat untuk pamitan kepadamu. Tapi engkau malah babak belur seperti ini, Zivan.", Isla menundukkan wajahnya, memandang lembut Zivan yang hilang kesadarannya.


("Zivan yang seperti ini, sulit di percaya.")


Isla angkat lagi wajahnya, pandangannya ia lempar ke arah empat entitas yang berdiri terpisah jarak di hadapannya.


"Satu bangsa jin, dan tiga malaikat jatuh murni, melawan kau yang hanya separuh malaikat jatuh. Bukankah kau terlalu optimis, Zivan?.


Padahal situasi seperti ini sangat mudah dibaca, tapi kau malah tak memahami, lalu bertarung sampai akhir. Kau kalah, karena kesalahan kau sendiri yang tak tahu batas diri.


Tapi, aku lebih percaya kalau kau punya situasi sendiri yang mengharuskan kau tetap disini. Karena itulah, kau juga tak sepenuhnya salah.


Dan tak mungkin juga aku lempar kesalahan pada mereka berempat. Penindasan, kecurangan, tindakan pengecut serta rendahan merupakan sifat bawaan mereka. Mereka akan senang hati melakukan itu semua tanpa rasa malu, bahkan tanpa ragu menjual harga diri mereka pada iblis demi memenuhi kecenderungan mereka yang miring itu."


Terdengar Isla seakan bicara sendiri pada Zivan yang tak sadarkan diri. Tapi sebenarnya Isla sengaja berpidato di hadapan mereka untuk melontarkan kalimat yang menghinakan secara terselubung.


"Hei gadis kuda, aku tahu kau tidak bicara pada manusia itu. Tiba-tiba muncul lalu menghina kami dengan suara lantang, kau memang sengaja cari masalah pada kami.", Raven menanggapi.


"Kau mendengarnya ya, bocah gagak?. Mohon maafkan aku yang kadang suka bicara benar ini. Aku benar-benar tak mau cari masalah dengan kalian. Aku pernah punya pengalaman buruk karena meladeni makhluk-makhluk bodoh dimasa lalu. Jadi, sekarang aku tak mau lagi."


"Bocah Gagak kau bilang?!!", protes Raven. Dahinya mengkerut kesal hingga tangannya mengepal geram.


Tapi Istan tak pakai bicara, seketika ia tarik Isla dengan magus gravitasi di tangan kanannya.


"Ha?", Isla sesaat terheran, seketika dirinya tertarik cepat menuju cengkeraman Istan.


Hingga ketika Isla mulai sampai pada jangkauan tinjuan, Istan pun mengancangkan kepalan tangan kirinya ke belakang, lalu menyentaknya kuat ke arah wajah Isla.


BUM!!!

__ADS_1


"Arghh!!", Meghan mengerang, terhempas jauh ke depan.


Semua yang melihatnya terkejut, mendapati Meghan yang malah tiba-tiba ada di hadapan Istan dan meneriman serangan. Sementara Isla, dirinya baru saja mendaratkan kakinya ke tanah, setelah sesaat dirinya berpindah dan mendorong tipis punggung Meghan dengan bahunya.


"Heeeh... Menyerang teman sendiri, ya. Boleh juga.", ucap Isla dengan nada ejek namun berwajah datar. Dirinya telah bertukar tempat dengan Meghan.


Istan pun langsung menoleh ke arah Isla.


"Siapa kau?, gadis kuda sialan!", tanya kasar Istan.


"Tidak sopan!. Kenalkan dulu dirimu, sebelum bertanya siapa aku!"


"Kau....", Istan bertambah kesal. " ... Tidak kenal siapa aku!", kalimatnya menekan.


"Tidak."


Istan begitu tidak puas mendengar jawaban Isla. Ia tak menyangka, bahwa ada sesosok kalangan jin yang tak mengenal dirinya, sang pemimpin malaikat jatuh.


Sementara Raven, dirinya berfikir semenjak kemunculan Isla...


("Bagaimana si gadis kuda itu melakukannya?")


Kemampuan Isla tampak misterius dalam persepsi Raven. Dalam persepsinya, bila sesosok jin hendak berpindah, haruslah ada perantaranya.


Sebagaimana Raven yang memiliki pemahaman yang baik akan eksistensi bayangan. Raven pun bisa dengan sekejap berpindah dan memindah, selama di sana ada bayangan.


(".... Tapi dia... Mampu melakukannya. Padahal di sana tak ada perantara apapun.")


Karena itulah Raven tak banyak berperan semenjak mereka berhasil melewati badai petir awan gelap. Terlalu kecil ruang bayangan untuk Raven bergerak dalam pertarungan tingkat tinggi.


Maka timbul rasa persaingan dalam dada Raven, melihat sesosok yang sebangsa dan sepantaran pikirnya, namun lebih hebat daripadanya. Rasa yang mungkin sudah tak lagi ada pada diri Isla.


Sebab kebenarannya adalah, Isla tidaklah sepantaran dengan Raven, terpaut jarak umur ribuan tahun diantaranya. Alasan mengapa Isla tampak remaja adalah, itu karena dia adalah jin yang jauh dari masa lalu. Masa dimana seluruh makhluk berumur panjang, yang bahkan manusianya dapat menyentuh umur ratusan tahun. Maka umur Isla saat ini, adalah umur remaja untuk bangsa jin yang hidup kala itu.


Meskipun wujud remaja Isla mengikuti generasinya di masa lalu yang jauh. Tapi pemikirannya, menyesuaikan dengan persepsi generasi saat ini, hingga dirinya terkadang terfikir kalau dirinya sudah sangat tua.


Karena itulah, rasa gebu semangat, rasa persaingan, dan semua rasa yang dimiliki oleh entitas muda tak lagi ada pada jiwa Isla. Justru Isla terasa seperti entitas yang matang dan dewasa. Dan itu semua tampak jelas dari aura dewasa yang terpancar dari tatapan matanya yang tenang, bahkan saat dirinya berkata sinis sembari menatap lawannya.


"Kalau sampai ternyata omonganmu itu benar, bahwa kau tidak mengetahui aku sama sekali, betapa naifnya kau gadis kuda, karena tak mengenal siapa yang telah kau musuhi.", ucap Istan penuh tekanan sembari menatap dingin Isla.


"Itu juga berlaku untukmu, fallen angel.", balas singkat Isla.


Raven yang sedari tadi menahan hasratnya untuk menyerang Isla pun mulai tak tahan. Dia yang berada agak jauh di sisi samping Isla hendak memulai pergerakan, dengan muncul dari balik bayangan Isla di belakang.


"Hm?", Isla seketika melirik samping ke arah Raven. Seketika ia posisikan dirinya agak kaki kanannya menginjak bayangannya sendiri.


"Ha!", Raven yang melihat gerakan Isla merasa tak menyangka, dirinya merasa kalau niat dan kemampuannya terbaca dari kejauhan.


"Jangan gegabah, bocah gagak. Harusnya kau tahu bahwa kau tidak punya situasi dimana kau boleh bertindak. Lagipula, aku tidak memahami arti keberadaanmu disini, kalaupun kau hendak bermain, tetap saja disini kau tak dapat giliran. Jadi Pulanglah!, game mu telah berakhir."


Raven begitu tertampar, padahal kata-kata Isla terdengar datar tapi begitu menyinggung hatinya. Meski begitu, Dirinya pun tak bisa menyangkal apa yang di katakan Isla. Memang tak ada celah untuknya bergerak.


("Dia... Berpengalaman... Tidak... Akulah yang kurang pengalaman... "), kepalan tangan Raven pun perlahan mengendur, raut wajah tak berdaya sedikit demi sedikit mulai terlukis di wajahnya.


Istan melirik ke arah Raven. Sedari awal Istan memang tak menyukainya, karena itulah Istan tersenyum sinis bahkan hampir saja dirinya tertawa melihat bagaimana kesombongan Raven diruntuhkan oleh gadis kuda yang Istan pikir sepantaran Raven.


Tapi pemandangan epic bagi Istan itu hanya berlangsung sesaat. Setelah tiba-tiba Raven menunjukkan wajah kepercayaan diriannya yang membuat Istan kembali ke raut dinginnya yang biasa.


("Tidak!..... Masih belum..."), Raven belum menyerah.


"HEI ENGKAU BANGSA JIN!!, DIAM!!, HENTIKAN SIKAP KURANG AJARMU!!", Suara Aamon yang berat pun membentak, menggema ke segala arah membuat langit semakin merah padam dan angin semakin tak karuan. Bahkan Api hitam yang membakar tumbuhan Artemis pun semakin membara.


Sontak semuanya turut terdiam, padahal momentum perintah Aamon ditujukan pada Isla yang berada tak jauh dari Aamon.


Isla diam...


Isla diam...


Isla diam...


Keadaan menjadi hening...

__ADS_1


"Halo, kenapa tiba-tiba kalian senyap?", tiba-tiba Isla bicara.


Ternyata, Isla diam bukan karena perintah Aamon, tapi karena yang lain juga diam.


Dan hal itu, mengagetkan semuanya. Khusus Raven, dirinya bahkan ternganga paling lebar.


Tapi Aamon, amarahnya semakin memuncak. Ia merasa perintahnya telah ditentang oleh Isla. Aamon pun dengan cepat terbang menuju Isla seraya berteriak,


"JANGAN!... MENGABAIKANKU!!!", seraya Aamon mengangkat tangan kanannya yang mencakar tepat di hadapan Isla.


BOOM!!!


Api hitam yang amat besar pun meledak dan membumbung tinggi ke atas tepat di bawah Isla. Dengan telak Isla serta Zivan yang berada dalam gendongannya terkena serangan itu.


Seketika Raven menunjukkan wajah Aslinya. Tampak dirinya tersenyum lebar dengan ekspresi yang amat jahat.


Sementara Isla, dia merasa Zivan yang berada dalam gendongan kedua lengannya bergetar, bahkan terdengar dirinya meregang.


"Hm?, Zivan?"


"HAHAHAHA!, RASAKAN ITU!", Aamon pun tertawa pongah.


Nyala api hitam yang membakar Isla dan Zivan kemudian perlahan-lahan meredup oleh Aamon. Dan perlahan tampaklah keadaan Isla dan Aamon di tengahnya.


Tiba-tiba...


Aamon dengan wajah heran seketika melompat ke belakang...


"HAH!, KENAPA?, KENAPA KAU TIDAK TERBAKAR?, KENAPA APIKU TIDAK MEMBAKARMU?"


Sementara Isla lagi, dirinya terus menerus menggoyang-goyangkan Zivan mencoba menyadarkannya.


"Hey Zivan!, Zivan!, kau kenapa?"


("Kenapa dengan Zivan?")


Saat itu, tampak sebuah kejadian yang janggal. Api hitam yang baru saja menyerang Isla dan Zivan. Hanya membakar Zivan tapi sama sekali tidak membakar Isla. Bahkan api hitam yang membakar Zivan, sama sekali tidak membakar lengan Isla yang menggendongnya.


Semua yang menyaksikan kejadian itu memasang raut wajah yang amat terkejut. Bahkan bagaimana tatapan mata Raven yang menyaksikan hal itu begitu sulit dijelaskan.


Diantara mereka berempat, Istanlah yang dahulu menyadari sesuatu....


("Diaa.... sama sekali tidak melihat Aamon. Mengapa?")


Isla, sebenarnya semenjak dirinya sampai di langit Lembah Sei Roja, dirinya merasa ada yang berbeda dari angin yang bertiup. Hanya saja dirinya belum menyadarinya.


Barulah semenjak dirinya melihat Zivan yang bereaksi aneh, serta tatapan terkejut oleh keempat entitas pada dirinya yang baginya tak wajar. Dirinya pun mulai mencurigai sesuatu.


Apalagi tiupan arah angin di sekitar, semakin menampakkan ketidakwajaran bagi Isla.


Dirinya pun mengangkat wajahnya, lalu melemparkan pandangannya ke langit lembah, melihat angin yang baginya gelisah...


"Apakah yang ingin kau katakan wahai angin?, aku ini tidaklah mengerti bahasa engkau sebagaimana rajaku, pun tidak pula mampu memahamimu seperti Tuan Putri Artemis.", Isla berbicara kecil, pada angin yang tidak mungkin dia mengerti.


Walau begitu, sebenarnya Isla sudah mengetahui apa yang seharusnya di curigai.


("Apakah ada perbedaan persepsi, antara diriku, dengan mereka yang duluan ada di sini?")


Seperti inilah yang sebenarnya terjadi....


Istan, Meghan, Maia, Raven, dan Zivan memandang bahwa taman yang berada di tengah tebing ini dalam kekacauan, langit yang berwarna merah padam, tumbuhan sihir Artemis yang kehilangan warnanya, api hitam yang membumbung membakarnya, dan ada Aamon berada di tengah-tengah mereka.


Sementara dalam pandangan Isla, tak ada yang berubah semenjak kepergiannya, kecuali sedikit tanah yang rusak akibat pertarungan Zivan. Langit cerah seperti biasa, kecuali angin yang bertiup gelisah. Bahkan tumbuhan sihir Artemis masih tampak berwarna kebiruan dengan bercak hijau.


("Tumbuhan sihir Artemis?.. Tunggu... Mengapa malaikat jatuh itu bisa menggunakan magusnya di sini?")


Seketikalah Isla menoleh ke arah Istan, dialah yang tadi menarik Isla dengan magus gravitasinya, lalu Isla gagalkan dia dengan membuatnya memukul temannya sendiri.


Dan semenjak itulah Isla tak lagi curiga, tapi dia telah yakin, memang ada perbedaan persepsi antara dirinya, dan semuanya yang ada di sini.


***

__ADS_1


__ADS_2