Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 38: Intermission - Laporan Perjalanan Morgan & Julian


__ADS_3

Tengah malam, beberapa jam yang lalu di Kota Avalon...


Julian dan Morgan baru saja tiba di Kota Avalon. Kini mereka berada di gedung walikota dalam ruang di mana mereka berdua pertama kali bertemu Devan sebelumnya.


Tampak meja besar dan panjang serta kursi-kursi yang berjejer rapi mengelilingi meja di dalamnya. Sementara Aslan, duduk menyilang kaki di salah satu kursi sembari menghadap pada dinding kaca lebar memandangi tengah malam kota Avalon kala itu.


Morgan dan Julian berdiri agak jauh di belakangnya, dekat pintu masuk ruang itu. Mereka akhirnya sampai kepada Aslan, setelah sehari hampir semalam terbang dengan sayap mereka dari lembah Sei Roja, sangat lebih cepat bila di bandingkan kepergian mereka sebelumnya yang butuh tiga malam tiga hari dengan berkendara mobil.


"Jadi, bagaimana?", tanya Aslan yang tahu Morgan dan Julian di belakangnya.


Aslan tak bisa tidur, sebab cemas menunggu kembalinya mereka untuk mendapat kabar. Namun ia tak tunjukkan, dengan belum berbalik badan ketika melontar tanya pada mereka.


"Kami berhasil mengantar Devan, Tuan Aslan. Walaupun dalam perjalanan beberapa kali bertemu masalah.", jawab Morgan.


"Kalian juga bertemu dengan Zivan?"


"Ya. Kami juga bertemu dengannya.", jawab Morgan lagi.


"Bagaimana menurut kalian?"


Morgan dan Julian saling pandang sesaat, kemudian Julian mengangguk kepala pada Morgan.


"Kupikir, dia pria yang berbudaya, filosofis dan sopan.", Julian mencoba menjawab.


"Maksudku... cara Zivan bersikap pada Devan."


"Em... sepertinya biasa. Sama seperti dia menyikapi kami, tak ada yang spesial.", jawab Julian.


"Jadi begitu. Menurut kalian, bagaimana pandangan Zivan pada Devan?"


"Haa?, emm...coba aku ingat....", Julian mencoba menjawab sembari menoleh memandang Morgan, begitupun Morgan juga memandang Julian.


"Maaf Tuan Aslan, kami tak yakin bisa menjawabnya dengan tepat, tapi bila boleh menebak, setelah melihat Devan dan Zivan yang tampak mudah saling akrab, sepertinya mereka berdua saling berpandangan positif.", ucap Julian yang beresaha menjawab, kemudian Julian menoleh ke Morgan, dan Morgan pun mengangguk tanda setuju dengan jawaban Julian.


("Mengapa Tuan Aslan bertanya seperti itu?", Morgan membathin.)


("Hanya perasaanku saja, atau Tuan Aslan memang peduli bagaimana pandangan Zivan terhadap Devan.", pikir Julian.)


"Heuuuh....", Aslan menghela nafas.


("Sayangnya... Zivan bukan tipe orang yang mudah di tebak.", ucap Aslan dalam hati.)


"Ya sudah.", tambah Aslan seraya berdiri dari kursinya dan berbalik ke arah Morgan dan Julian.


"Aku ingin mengetahui hal-hal yang menghalangi kalian."


"Hm.", Julian gumam mengangguk mengiyakan.


"Selama perjalanan, ada dua hal yang cukup merepotkan kami, itu ada di awal dan akhir perjalanan.", ujar Julian.


"Yang awal tentu Tuan Aslan telah tahu, Devan harus menghindari banyak prajurit kerajaan ini.", tambah Morgan.


"Dan yang paling sulit adalah menghindari jet terbang prajurit kerajaan itu, andai waktu itu Tuan Aslan tak datang, mungkin Devan saat itu telah tewas.", ujar Julian


Aslan pun teringat kejadian saat itu,


(....."Nit..nit..nit..nit.."

__ADS_1


Tanda bunyi bidikan yang semakin cepat semakin menekan mental Devan. Jantungnya berdebar cepat. Julian dan Morgan juga terlihat cemas dan hanya memandang kedua jet tersebut.


"Siuuuuuu...", misil meluncur sangat cepat menuju arah mobil mereka.


"BOOM!!! - BOOM!!! - BOOM!!!."


Kedua jet tersebut pun meledak, menciptakan ledakan api yang besar berkali-kali di atas jalur tersebut. Puing-puingnya berhamburan di sekitaran jalur aspal trans kota.


Devan, Morgan, dan Julian hanya melihat fenomena itu dari dalam mobil yang berjalan laju. Dari kejauhan mereka juga melihat seorang Aslan Era berdiri di luar jalur trans, serta melihat bekas kepulan asap jalur misil yang lurus kemudian berbelok tajam menuju arah kedua jet tersebut.


Devan mengeluarkan kepalanya ke jendela mobil dan menengok ke arah Aslan. Aslan menengok ke arah mobil Devan, Devan pun menganggukkan kepalanya perlahan, setelah itu Devan kembali fokus berkendara.....)


"Dan sebenarnya....", Julian menahan kalimatnya, ia mengingat salah satu kejadian yang hendak ia sampaikan,


(....."Hoi, coba lihat itu.", Morgan menoleh ke belakang.


"Devan... seburonan apa sebenarnya kau?.", ucap Julian.


Devan kemudian melihat dari kaca spion. Raut wajah Devan pun terbelalak.


Terlihat sepasang jet terbang agak rendah melaju menuju mereka.


Satu misil dilepaskan dari dua jet itu.


"BOOM!!!.", misil itu pun meledakkan mobil Devan....)


"Saat itu aku mengulang waktu hingga dua kali, sebab kami terkena misil yang di lepas jet itu.", lanjut Julian.


"Dua kali??", Zivan pun baru mengetahui hal itu.


"Hm.", Aslan hanya bergumam mengiyakan.


"Kemudian, masalah yang diakhir?"


"Saat kami sampai di Lembah Sei Roja, kami menemukan tempat itu di kelilingi awan petir, sehingga kami kesulitan untuk memasukinya."


"Sudah kuduga."


Julian dan Morgan pun menceritakannya secara singkat bagaimana mereka bisa melewati awan petir itu hingga masuk ke dalam lembah.


"Julian, apa Devan mengetahui kemampuanmu yang sebenarnya?"


"Kurasa tidak. Dia hanya mengetahui aku memiliki kemampuan, tapi tak mengetahui kemampuanku seperti apa."


"Sebaiknya dia tak perlu tahu, kemampuanmu biarkan tetap jadi rahasia, dan itu akan jadi kartu asmu."


"Baiklah, Tuan Aslan."


("Julian, fallen angel yang kemampuannya masih ditingkat miracle, walaupun efektifitasnya sangat singkat, namun sangat jarang sekali ada fallen angel yang kemampuannya masih ditingkat miracle, bahkan kemampuanku pun diturunkan tuhan menjadi magus.")


Aslan diam sesaat, lalu ia kembali melontar pertanyaan pada Morgan dan Julian.


"Apa hanya itu masalah yang kalian temui?", ucap Aslan, hatinya penasaran.


"Tidak. Tadi pagi ketika kami hendak kembali, di tepi Lembah Sei Roja, kami dihalangi oleh sesosok Fallen Angel. Kurasa, dia sengaja menunggu kami tepat di tempat kami memarkirkan mobil yang tuan pinjamkan.", ujar Morgan.


Tiba-tiba, kedua tangan Aslan mengepal dan menggenggam kuat hingga kedua lengannya sedikit bergetar.

__ADS_1


"Ya. Kami pun terpaksa bertarung, tapi.... heuuh, maaf Tuan Aslan, kami berdua tak mampu melawannya, jadi terpaksa kami harus lari meninggalkan kendaraan mobil yang engkau pinjamkan.", tambah Julian.


"Fallen Angel itu.... seperti apa ciri-cirinya?", tanya Aslan sambil berusaha bersikap tenang menyembunyikan emosinya.


"Dia adalah sesosok fallen angel wanita."


"Wanita?"


"Magusnya, berelemen angin."


Perasaan Aslan tiba-tiba berubah, yang sebelumnya seperti merasa kesal, kini ia menjadi heran dan bingung.


("Fallen angel dengan magus berelemen angin?", tanya Aslan dalam hati.)


"Kalian yakin?. Mungkin saja kalian salah mengira."


"Tidak mungkin. Kami jelas melihatnya, sebab kami bertarung dengannya."


("Apa dia dulu termasuk pasukan Arcangel Michael?, aneh sekali. Aku jadi penasaran dia dahulu malaikat apa.", Aslan membathin.)


Tiba-tiba, Julian memanggil nama Aslan yang tengah membathin.


"Tuan Aslan."


Aslan pun kembali ke kesadaran dan memandang Julian.


"Sebenarnya ada yang ingin kami tanyakan.", tambah Julian.


"Apa?"


"Devan, sebenarnya dia itu siapa?"


Aslan tampak bereaksi sekejap setelah menerima pertanyaan itu. Ia sementara diam tak langsung menjawab, kemudian dipandanginya Morgan dan Julian bergiliran. Tampak mereka dengan serius menunggu jawaban dari Aslan.


"Kalian tahukan, bahwa reinkarnator seperti diriku, membawa ingatan kehidupanku sebagai malaikat dahulu, dan ingatan kehidupan manusia diwaktu sekarang. Aslan maupun Wallenz, adalah aku yang sama, dan aku pada akhirnya memutuskan untuk menjadi Aslan."


"Ya, aku mengerti, Zivan juga ada menjelaskan yang sama pada kami, Zivan maupun Harith adalah orang yang sama. Tapi, dia tak suka Harith, dan akhirnya memilih menjadi Zivan. Tapi Devan, sepertinya itu nama fallen angelnya, aku belum tahu nama manusianya apa.", ujar Julian.


"Baguslah kalau kau paham sampai disitu. Aku akan menjawabnya mulai dari Devan dahulu, kehidupannya yang sebelumnya, sejauh yang aku ketahui.


Dia adalah.... Devan Zora."


"Zora??!...", Julian jelas menampakkan ekspresi terkejutnya, matanya membuka lebar, mulutnya menganga, alisnya meninggi ke atas. Begitupun Morgan.


"Zo...Zora??!", reaksi Morgan.


Aslan tak perlu menjelaskan lebih jauh, keduanya pun langsung paham dan tahu, siapa Devan sebenarnya.


"Dan yang paling mengesankan, yang entah apa yang tuhan rencanakan padanya, dia memiliki nama yang sama dengan kehidupan manusianya saat ini. Dia adalah Devan Aria.....


Dan Devan Aria adalah....."


Aslan pun menjelaskan padanya panjang lebar tentang siapa Devan Aria sejauh yang baru ia ketahui.


Saat itu, reaksi Morgan dan Julian juga sama-sama menunjukkan reaksi ketidak-menyangkaan. Mereka benar-benar mendengarkan penjelasan Aslan saat itu, dengan mata yang terbuka lebar, serta alis yang mengangkat."


***

__ADS_1


__ADS_2