Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 30: Penjara Langit dan Nenek Sihir.


__ADS_3

Devan bergerak ke arah timur, terbang meninggi meninggalkan Lembah Sei Roja agak cepat, hingga dalam sesaat, kediaman Devan yang berada pada ketinggian tak lagi terlihat.


("Hatiku tak tenang. Mungkin karena ini kali pertama aku berkelana di tengah malam sendirian. Aku belum terbiasa.")


Devan kini terbang di antara kabut malam, yang membuat jarak pandangnya menjadi terbatas, di atasnya lagi, ada awan-awan tipis membentang, yang hendak mereka tembus.


"HAAAAAAAAA!!!", tiba-tiba terdengar teriakan kuat dan berat dari atas.


Hati Devan seketika bergetar, matanya membuka lebar, kuda terbang yang dinaiki Devan pun segera meringkik panjang dan mengepakkan sayapnya kuat, membuat mereka terbang cepat menukik ke atas.


"Hey Isla...Tenanglah.", ucap Devan yang tengah duduk memegang tanduk, sembari tangan lainnya mengelus-elus kepala Isla.


Namun Isla tak kunjung tenang. Ia tetap terbang kencang, hingga menembus awan-awan tipis di atasnya.


Seketika, mata Devan terbelalak, nafasnya terhenti sekejap....


Tampak sebuah kurungan tergantung di langit dengan rantai besar yang menjulang ke atas. Di dalamnya berdiri seorang lelaki besar terengah-engah dengan kedua kaki dan tangan terikat rantai yang panjang hingga ke luar kurungan menuju angkasa.


Kurungan itu begitu mencolok bagi Devan, membuatnya tanpa sadar lama menoleh menengadah kepalanya ke sana.


Tiba-tiba, lelaki besar dalam kurungan itu menoleh ke Devan, menyadari bahwa dirinya sedang dilihat.


"DUAR!!!", seketika lelaki besar itu berlari menghantamkan diri ke jeruji itu sembari menjulurkan salah satu tangannya hingga keluar.


"HA!", Devan terkejut melihat tingkah lakunya yang tiba-tiba. Tampak seakan ia berusaha mengejar dan menggapai Devan.


"TOLONG!! TOLONG!! TOLONG!! TOLONG!!", teriak kuat lelaki besar itu berkali-kali dengan pengulangan yang cepat. Matanya menyalak menatap Devan. Ia tampak seperti kesetanan.


Terkadang ia menyentak-nyentak sembari memengang kuat jeruji, seakan ia hendak mematahkannya dari dalam.


"TOLONG! TOLONG! TOLONG! HEY!!! TOLONG AKU!!!", teriak keras lelaki besar itu dengan mata menyalak kesetanan.


"KAU!!! TOLONG!! TOLONG!!...."


Devan seketika membuang pandangannya, nafasnya sedikit cepat, jantungnya berdetak kuat. Ia baru teringat pesan yang diberi Zivan...


("......Jangan banyak menoleh pada hal yang tak perlu, melirik saja, dan jika ada yang sadar akan tatapanmu, lebih tersembunyi bagimu membuang lirikan mata, daripada memalingkan kepala.".....)


("Dia menyadariku, aku terlalu lama memandangnya.", bathin Devan cemas)


Tiba-tiba terdengar sentakan rantai dan benturan dari arah kurungan gantung itu.


"HAAAAAAAAAAA!!!", terdengar suara jeritan lelaki besar itu.

__ADS_1


Devan hendak melirik, namun sudut pandangnya tak cukup. Ia pun tak tahan, hingga ia putuskan untuk sedikit mendongakkan kepala.


Mata Devan kembali terbelalak, ia lihat lelaki dalam kurungan itu tak bergerak menempel di dinding kurungan.


Kedua tangan serta kakinya tersentak, ditarik dengan rantai yang menjulang ke atas, yang terikat di pergelangan tangan dan kakinya.


Tangan dan kaki lelaki itu memerah, raut wajahnya meringis, lelaki itu terus menjerit meminta tolong, namun entitas yang berada di langit saat itu, semuanya abai tak peduli.


Termasuk Devan sendiri yang segera pergi dan memilih terbang tidak mendekati kurungan itu.


Namun, baru saja Devan terbang beberapa tinggi, terdengar di telinganya suara tertawa yang sangat jelek sekali.


"IYAHAHAHA! HIYAHAHHA! HIYAHAHAHAH!"


Devan merasa agak ngeri mendengar tertawa itu, tapi ia lebih penasaran. Ia pun mencoba mencari sumber suara, namun kali ini ia sadar tak boleh menoleh, dan ia mengakalinya dengan menggeser arah terbang mengikuti asal suara yang terdengar di telingnya.


Devan kemudian menemukannya. Tampak nenek tua tengah tertawa terbahak di atas sapu terbangnya seraya jemarinya menunjuk lelaki dalam kurungan itu.


Devan meliriknya yang berada agak jauh di samping depan.


Baru juga sesaat Devan meliriknya, seketika nenek tua itu menoleh sangat cepat ke arah Devan dengan wajah masam.


"Ha!", Devan sangat terkejut melihat raut mengerikan nenek itu secara tiba-tiba. ia tak hanya buru-buru mengalihkan lirikannya, tapi juga segera terbang lebih tinggi meninggalkannya.


Hampir saja suara Devan keluar dari mulutnya bila ia tak berhasil menahan reaksinya.


Nenek tua itu mengikuti arah terbang Devan, sembari memandangnya seksama dengan mata menyalak serta raut wajah curiga yang sangat masam. Ia memutarinya perlahan, memandangnya dari belakang, bawah, samping, depan - segala arah.


"CIH!!, dasar manusia sombong!. Kau terbang terlalu tinggi. SADAR DIRILAH!!!, tempat kau adalah tanah yang rendah!!!", bentak nenek tua itu penuh amarah tepat di hadapan Devan.


"Kalau saja sekarang tak ada para kacung si Michael yang mengawas disini, sudah ku cincang-cincang kau daritadi!!!.", lanjut si nenek tua yang tengah memandangi suatu arah.


Sementara Devan, ia mengingat pesan yang di sampaikan Zivan, untuk tetap bersikap seakan tak mengetahui apa-apa. Ia pun bersikap seakan tak bisa melihat nenek tua itu serta tak mendengar ucapannya.


Namun lama kelamaan, Devan yang masih dipandang seperti itu mulai gugup.


Ia mencoba menyembunyikan gugupnya, dengan menoleh seraya bergerak berganti arah, sekaligus mencari jalur yang benar, yang ia pikir itu termasuk menoleh yang diperlukan.


"Haaaa?", ucap nenek tua itu heran.


"Mengapa manusia ini menoleh kesana kemari?. Mungkinkah,,,, dia belum tahu sama sekali jalur di langit ini??, Hiyahahaha!", ucap nenek tua diikuti tawa serta senyum yang jahat.


"Kalau begitu, biar aku sesatkan saja manusia ini. Begitu sudah jauh dari jangkauan kacung Michael. Akan kuculik dia lalu kubawa pergi. HIYAHAHAHAHA!"

__ADS_1


Setelah itu, si nenek tua langsung meninggalkan Devan dan terbang pergi, tanpa mengetahui, bahwa Devan dapat melihat dan mendengar dirinya serta segala perkataannya.


("Hm?. Kenapa dia malah pergi?", Devan membathin.)


Devan pun menghentikan kudanya sejenak, dan hanya melayang-layang di angkasa.


"Hweuuuh... Syukurlah dia malah pergi.", Devan menghela nafas seraya berucap bersuara kecil.


("Aku salah mengira, jadi itu maksudmu, menyuruhku untuk tidak sering menoleh, agar menutupi kenyataan bahwa aku pertama kali datang kemari. Hadeuh Zivan, Coba saja kau bilang dari awal.", pikir Devan membathin.)


"Semaksimal mungkin aku harus menghindari pertarungan. Aku tak tahu seberapa kuat nenek tua itu, lagipula medan disini merugikanku, aku tak bisa terbang, jatuh dari sini sama dengan mati. Dan juga kuda terbang ini, dilihat dari namanya sepertinya kuda betina, aku yakin dia bukan kuda terbang petarung.", ujar Devan berbicara sendiri.


Tiba-tiba Isla meringkik sembari mengepak sayapnya hingga menghempas ke atas.


"Hoy Islaa, tenanglaah.", ucap Devan sembari mengelus kepala Isla. Namun Isla malah berdengus sembari menggeleng-geleng.


Tiba-tiba....


"Waaah, ternyata ada orang lain ya selain aku di sini?", terdengar ucapan suara wanita tepat di belakang Devan.


(".....Jangan memulai bicara, kecuali ada yang memulai, dan dirimu harus bicara, jangan abaikan, dan segerakan matamu untuk melihatnya."......)


Devan pun segera berbalik untuk melihat siapa yang berbicara, kemudian mereka saling bertatapan.


Tampak seorang gadis cantik berperawakan 19 tahun, duduk di atas sapu terbang, mengenakan pakaian serba biru gelap, serta topi kerucut ala penyihir. Matanya biru, serta rambutnya panjang berwarna pirang terurai di belakang punggungnya.


("Warna mata itu, warna rambut itu, pakaian itu, serta sapunya, tak salah lagi, dia adalah nenek tua penyihir barusan, yang berniat untuk menyesatkan dan menculikku." bathin Devan.)


"Kau...pasti seorang manusia kan?. Soalnya, kau bisa kulihat. Perkenalkan, namaku Eris. Aku eee seorang penyihir, tapi!, aku bukan penyihir jahat kok. Ehe.", tambahnya sembari tersenyum manis.


"Oh..Kalau begitu.. Namaku Devan, tapi mohon maaf, aku belum bisa memberitahumu siapa aku."


("Gawat!, jantungku benar-benar berdetak kencang. Naluri lelakiku bilang, gadis di depanku sekarang, adalah tipe gadis yang aku inginkan. Duh, boleh kali ya aku biarkan diriku diculik olehnya. Ups...."), Devan tiba-tiba menggeleng-geleng kepalanya cepat.


"Hmm, kamu kenapa?", tanya Eris dengan manis.


"Oh, tidak...tidak apa-apa."


("Tenangkan dirimu, Devan. Jangan sampai karena gadis cantik kau hancurkan karakter yang telah kau bangun selama ini. Dan ingatlah, dia bukan seorang gadis, dia nenek sihir.", Devan membathin.)


("Hiyahaha, pasti tadi dia terkesima karena pesonaku. Sudah kuduga instingku benar, manusia lelaki di depanku, pasti seleranya adalah wanita yang sedikit lebih muda darinya.", bathin Eris.)


("Tch!, Nenek sihir sialan!, tidak tanggung-tanggung dia menyamar sampai menjadi gadis muda seperti ini. Aku jadi yakin, kalau dia sebenarnya adalah Iblis yang sedang menyamar.")

__ADS_1


***


__ADS_2