
"Kalau soal kecepatan terbang, aku yakin tak kalah pada iblis itu. Tapi.....
Engkau harus mencari jalan dari jalur awan-awan itu, kita tak bisa seenaknya terbang ke atas, petunjuk jalan menuju tanah peri ada di sana."
"Jadi, maksudmu aku harus tetap mendaki langit dengan menapaki jalur awan itu?"
"Ya. Dan aku akan terbang rendah, mencegahmu agar tak berada pada jangkauan sihir hitamnya, sebab engkau terlalu mudah terpengaruh sihirnya." jelas Isla seraya pandangannya kembali fokus pada Eris.
Sesaat kemudian, Eris pun selesai dengan tawa lebarnya.
"Aku terlalu mudah terkena sihirnya, maksud engkau?", tanya Devan, namun Isla tak menanggapinya, ia terlanjur fokus pada Eris di hadapannya.
"Baik-baik, negosiasi berakhir. Percuma bicara pada jin yang dari awal tak tunduk pada raja iblis.", ucap Eris dengan senyum jahatnya.
Sementara Isla, masih diam fokus memandang Eris.
"Isla?", Devan coba memanggil, namun Isla tetap fokus tak bergeming.
Tiba-tiba, Eris seketika terbang melesat dengan berdiri seimbang di atas sapu terbangnya seraya berkata,
"Karena itulah kuputuskan, bahwa engkau adalah Musuhku!."
Devan seketika menghilang dari gendongan Isla, kemudian segera Isla menangkis hantaman Eris dengan sayap kanannya yang keras dan lebar.
"BUMP!!", hantaman diantara keduanya pun terjadi.
Isla segera membuka kuat tangkisan sayapnya, menghempas Eris yang tepat di depan sayapnya, namun Eris sigap, ia seketika mundur menghindari hempasan sayap Isla.
Tidak sampai disitu, Isla pun melesat terbang dengan kecepatan yang tak sempat dilihat oleh Eris, ia mendekati Eris dan menyentuh bahu depannya.
"Apa???", spontan Eris tiba-tiba, tatkala ia menyadari dirinya telah berada pada tiga awan cumulus ke belakang dari titik awan ia sebelumnya.
Sementara Devan,,,
ia tahu-tahu telah berdiri pada empat awan cumulus ke depan dari titik awan ia berada sebelumnya.
Devan sempat melihat bagaimana Isla melesat terbang menuju Eris, hingga tiba-tiba Eris hilang di hadapan Isla.
Karena itulah Devan mengerut dahi pertanda heran.
Sesaat setelah itu, Isla segera melesat menuju Devan dengan kecepetan yang tak mampu dilihatnya. Tahu-tahu Isla telah berada di dekat Devan.
"Lari.", ucap Isla dengan nada yang datar.
Devan pun segera berlari dengan langkah lebar, begitupun Isla yang terbang rendah mengikutinya dari belakang.
Eris tak menyerah, ia kembali melesat terbang dengan berdiri di atas sapu terbangnya seraya menatap geram kepada Isla.
"Jin sialan itu....!!", ucap Eris berbicara sendiri, nadanya ditekan.
Beberapa saat kemudian, Isla menoleh ke belakang sesaat, dan melihat Eris yang menuju ke arahnya semakin dekat.
"Sebentar lagi kita akan tersusul", ucap Isla.
"Lalu, bagaimana?"
"Tenang saja, aku yang akan menghalanginya."
Devan berlari kencang di atas awan cumulus yang pijakannya bergelombang, kemudian melompat setiap ia sampai pada ujung awan menuju pangkal awan lainnya.
Ketika sampai pada jarak tertentu, dan Eris telah sampai cukup dekat dengan mereka, seketika,,,,,
"Ha!", kaget Devan. ("Kakiku tak bisa kugerakkan"),
Isla yang terbang rendah sempat terlewat Devan yang seketika mematung tak bergerak.
Dan Eris hendak mencuri Devan yang tengah tak bergerak dari penjagaan Isla,
Hingga ketika Eris yang melaju terbang tinggal sedikit lagi Devan masuk pada jangkauan tangannya, seketika Isla berada di tengah-tengah antara Devan dan dirinya.
Isla langsung menepuk punggung Devan, seketika itu pula Devan menghilang dari tempatnya, dan Eris akan berbenturan dengan Isla dengan kecepatan terbangnya, namun,
("Jangan sampai aku bersentuhan dengannya.", bathin Eris)
Seketika sapu terbang Eris mengarah vertikal ke atas, berbelok tepat di hadapan Isla, sekejap kemudian ia berputar di udara hingga sapu terbangnya kembali horizontal dan mengarah ke depan membuat Eris terbang terbalik dengan posisi kepala di bawah dan kakinya di atas.
Eris pun melewati Isla tepat di atas kepalanya. Namun Isla tak tinggal diam, sekejap ia mengibaskan sayapnya dengan kuat ke depan hingga menimbulkan beriak angin kuat yang membuatnya menyentak terbang mundur ke belakang menuju Eris.
"Tak semudah itu.", ucap kecil Isla.
Tangan Isla pun menyentuh punggung Eris sembari membelakanginya, dan saat tangannya hampir sampai, Eris sempat mengeluh dalam bathin,
("Haaa,aaa... Karena inilah aku benci wanita.")
Eris, tahu-tahu berada di enam awan ke belakang dari titik ia berada sebelumnya.
Eris pun terdiam sementara sembari menggeram menatap Isla.
("Sepertinya, aku harus melakukan sesuatu dulu pada si biang masalahnya.")
Sementara Devan, ia tahu-tahu berada pada satu awan ke depan dari titik ia berada sebelumnya.
__ADS_1
("Aku bisa bergerak lagi."), Devan pun menoleh ke belakang sesaat dan dilihat Isla telah berada di dekatnya, sementara Eris hampir tak nampak di pandangannya.
"Ayo.", ajak Isla datar.
Devan pun kembali berlari dan melompati awan-awan cumulus yang berjejer menanjak itu.
Setiap kali ia menemui persimpangan awan, ia selalu memilih jalur yang tampak berat dan panjang, setiap itu pula iblis-iblis menyamar yang berdiri tiap persimpangan melihatnya dengan pandangan masam yang menyeramkan.
Sementara Eris, niatnya tak surut meski dua kali di lempar Isla ke belakang. Justru kali ini, ia tampak tersenyum sinis memandang Isla dan Devan yang tampak semakin mendekat di pandangannya.
Tiba-tiba,
"HEI IBLIS-IBLIS YANG BERSEMBUNYI DIBALIK KEGELAPAN MALAM!!!", teriak lengking teriakan Eris.
"HALANGLAH MAKHLUK YANG BERLARI BERSAMA SESOSOK JIN ITU, SUNGGUH IA JAUH DARI KASIH TUHAN, KARENA ITU PENJAGA DISINI TAK AKAN JATUHI KALIAN HUKUMAN!!!"
Teriakan Eris sangat keras, bahkan hampir memekakkan telinga Devan.
"HAAAAAAA!!!", terdengar sahut-menyahut teriakan yang mengerikan dari segala arah Devan.
"Gawat.", ucap Isla.
"Apa yang akan terjadi selanjutnya?", tanya Devan.
Namun, belum sempat Devan mendapat jawaban ia seketika tahu jawabannya.
Puluhan iblis-iblis seketika ada di sekeliling mengepungnya dari segala arah.
Ada yang datang terbang dari bawah, ada yang dari atas. Ada yang datang dari depan, ada yang dari belakang. Berlari, maupun terbang. Ada pula yg tiba-tiba muncul menampakkan dirinya di pandangan Devan.
Devan begitu terkejut dengan situasi yang di alaminya.
"Tidak ada pilihan selain melawannya!", ucap Devan seraya melempar tatapan ancaman pada iblis-iblis di depan yang berada pada jangkauan pandangannya.
"Belum mampu engkau yang sekarang."
"Mengapa??", tanya Devan seraya menoleh ke Isla, nadanya kini agak meninggi.
"Mengapa engkau bilang?. Tentu saja engkau sangat lemah dibandingkan para iblis yang ada di sini. Bahkan kroco iblis yang paling bawah pun lebih kuat dari pada engkau."
"Apa??", Devan tiba-tiba berhenti berlari, dan Isla mengikuti, Devan pun melihat ke arah Isla.
"Kau pikir engkau kuat?, bodoh sekali kalau kau berfikir seperti itu. Sadar dirilah!, engkau cuma malaikat jatuh yang dikutuk jadi manusia, makhluk yang bermuasal rendah, melawan api mana mungkin bisa."
Devan lihat Isla yang melayang di udara tengah menatapnya dengan pandangan hina dan rendah.
"Haa..., aku menyesal telah mengantar engkau sampai ke sini. Kalau begini, daripada aku mati karena kebodohan engkau, lebih baik aku bergabung dengan para iblis dan membunuhmu disini."
Devan pun memandang Isla yang tiba-tiba berada tepat di hadapannya yang tengah menatapnya dengan pandangan mengancam serta tangan yang mencengkeram mengarah ke arah lehernya.
Devan ingin menghindar, namun reaksinya tak lebih cepat daripada Isla, dan akhirnya.....
"TASSSS!!!", punggung telapak tangan Isla menampar keras pipi Devan.
"Engkau sudah sadar?", tanya Isla datar seperti biasa.
"Ha?, Aaaa." Devan mengiyakan, sekaligus bingung melihat Isla yang tiba-tiba kembali seperti biasa.
"Hmm. Kalau engkau sampai terpengaruh, berarti ada iblis kuat diantara mereka.", ujar Isla yang menghadap Devan seraya melihat sesaat satu per satu iblis yang mengepung mereka.
("Terpengaruh?", Devan membathin bingung.)
"Dengar Devan, jangan biarkan hati kita marah, sedih, takut, atau perasaan negatif apapun saat ini, atau kita akan diperalat oleh iblis kuat yang ada di sini. Perasaan negatif, adalah celah untuk dimasuki mantra iblis. Mungkin, mereka hendak mengadu domba kita di situasi saat ini.", jelas Isla.
Devan pun mengerti pada apa yang di alaminya tadi. Ia pun mengikuti perkataan Isla dan tak membiarkan hatinya ada rasa sedikit amarah seperti sebelumnya.
"Hiyahahaha!", tawa Eris telah terdengar dari kejauhan. ("Ayo jin sialan, coba saja pindah jauhkan iblis-iblis itu satu per satu.").
Mendengar hal itu, Devan dan Isla bergegas pergi menerobos beberapa Iblis yang menghalangi....
Setiap kali ada iblis yang hendak mendekati Devan, Isla seketika berada di dekat iblis itu seraya menyentuhnya. Seketika itu pula iblis tersebut menghilang dari pandangan Devan.
Setelah itu, Isla kembali ke sisi Devan.
"Terlalu sulit menghadapi banyak iblis sekaligus, terlalu beresiko bahkan untukku, kita tidak mengetahui kemampuan apa yang di miliki setiap iblis di sini."
"Baiklah. Tolong, Isla."
Isla..... memandang Devan cukup lama.
"Selanjutnya, engkau tak boleh berkata seperti itu."
Isla kemudian segera kembali fokus tatkala melihat beberapa Iblis kembali menyerang.
"Hm?", heran Devan setelah mendengar Isla, namun Isla telah tak ada di sisinya.
Beberapa lama kemudian, tiba-tiba satu iblis luput dari Isla dan datang dari atas mengarah ke Devan.
Kedatangan iblis itu tiba-tiba membuat langkah lari Devan menjadi berat. Devan menengadah ke atas, dan di lihatnya Iblis itu jatuh dengan kaki kanannya terangkat ke atas.
"BHUK!!", kaki kanan iblis itu mengayun deras ke bawah dan mengantam kuat ke awan tepat di hadapan pijakan Devan yang berhenti tiba-tiba.
__ADS_1
Devan seketika menarik kerah baju iblis itu dengan kedua tangannya. Awalnya keras, namun ketika kedua tapak tangannya muncul aura magus hitam, seketika iblis itu tersentak tarik ke bawah seraya Devan mengangkat salah satu lututnya.
"Phum!!", wajah Iblis itu di terjang lutut Devan yang terangkat ke atas.
Iblis itu pun terkulai jatuh tak sadarkan diri, dan langkah lari Devan, kembali seperti biasa.
Kemudian beberapa saat kemudian lagi, muncul satu iblis lagi yang luput dari Isla.
Iblis itu sebelumnya terbang, kemudian mendarat dan berlari kencang menuju Devan dari belakang.
Devan pun menyadari melalui instingnya, jantungnya berdetak lebih cepat sebab terpicu adrenalinnya.
Iblis itu sekejap kemudian meluncurkan kakinya ke bawah mengarah ke kaki Devan. Tapi Devan, segera melompat rendah dan sontak berputar 180 derajat dengan kaki kanan yang menendang. Namun,
tampak sleedingan Iblis itu tak sampai pada Devan, membuat Devan hanya menendang angin.
Iblis itu pun tersenyum sinis sebab berhasil menipu Devan seraya segera berjongkok dan berdiri dengan salah satu tangannya yang tampak siap mencengkeram menuju leher Devan.
Devan belum bisa bereaksi karena ia masih melayang dalam lompatannya. Tapi....
"PHUM!!"
Seketika pula Isla datang tepat di hadapan Devan yang menginjak iblis tersebut dari atas. Lalu, iblis tersebut seketika menghilang di bawah Isla.
"Maaf, Devan.", tampak Isla yang bernafas berat, ia mulai kelelahan.
("Aku baru terpikir, tentu saja kemampuan Isla ada batasnya."), Devan pun baru menyadarinya.
Sementara Eris, ia tampak semakin memperpendek jarak, sebentar lagi Devan dan Isla akan tersusul.
Devan yang saat itu menghadap ke belakang dengan jelas melihat Eris yang terbang mendekatinya.
"Kita akan tersusul lagi, tapi.... tampaknya kau mulai mencapai batas.", ucap Devan, ia tak enak hati pada Isla.
Isla yang berdiri menghadap Devan pun, sedikit menunduk wajah berusaha tak menunjukkan mimik lelahnya.
"Seandainya....engkau memiliki sesuatu seperti Zivan,,, serbuk yang bisa meniadakan kekuatan hitam... yang ia gunakan,, saat berduel dengan engkau...pasti itu akan berguna disaat-saat ini.", ucap Isla yang dengan halus mengatur nafasnya, agar Devan tak menyadarinya lebih jauh.
Isla pun berbalik menghadap ke belakang, melihat Eris yang dengan cepat mendekatinya, dan kali ini mereka berhenti tak melarikan diri.
Mendengar hal itu, Devan pun teringat duelnya dengan Zivan,
(.....Hingga ketika tinjuan mereka telah setengah jalan lebih sedikit, Devan menggunakan magusnya, lingkarang dan titik kecil di tengah pupil matanya sekejap menyala.
“BUK!”, Devan terhempas ke belakang, pipi kirinya terkena tinjuan telak Zivan.
Sementara itu, dari celah kepalan tangan Zivan, muncul aura warna-warni terang menyebar pelan melebar di udara.
Devan yang tengah terhempas melayang sempat melihat aura itu.
(“Sihir….peri….”, bathin Devan.).....)
"Hiyahahaha!", Eris pun mulai berhadapan dengan Isla.
Isla berniat hendak melempar Eris kembali ke belakang, ia memekarkan kedua telapak tangannya. Namun,
Saat Isla mulai melesat terbang ke arah Eris dengan tangan kanannya melancang ke Depan, dengan mudah Eris berputar horizontal seraya berbelok sedikit menghindari sentuhan Isla.
Saat Eris berhasil melewati Isla tepat di sisi telinganya, Eris pun berkata kecil,
"Lambaaat..."
Lagi-lagi Isla tak tinggal diam, ia menghempas kuat kedua sayapnya ke depan agar menyentak mundur ke belakang. Namun,
"Sudah kubilang tak semuda.....", ("Haa?"), tiba-tiba kibasan sayap Isla tak sekuat tadi, ia hanya tersentak mundur sedikit ke belakang.
Isla tampak begitu tak menyangka, dan Eris melesat melewatinya menuju Devan begitu saja.
("Devan!", teriak Isla dalam hati."), ia merasa tak cukup tenaga untuk berteriak.
Eris pun menggapai Devan yang diam tak bergerak dengan tangannya. Dan akhirnya,
"TASSSS!!!", tiba-tiba Devan bergerak menepis kuat tangan Eris yang hendak menggapainya. Saking derasnya tepisan itu membuat Eris mulai terjatuh dari sapu terbangnya.
Saat momen terjatuh itu, Eris membathin,,,
("Dia...mengapa bisa bergerak???"), tak menyangka Eris, tampak mimik bingung pada wajahnya.
Dan aura penuh warna mulai keluar dan menyebar, dari genggaman tangan yang di gunakan Devan untuk menepis. Eris memandanginya, dengan mata yang terbuka lebar dan tatapan yang kosong seakan putus asa.
.....
Sementara di titik yang lain,,,,,
Sesosok Ibu Peri yang tengah bersila terbang melayang, kembali membuka matanya. Ia mulai mendaratkan kakinya dan berpijak berdiri di atas awan cumulus, tempat dimana Devan bertemu dengannya.
Ia menghadapkan wajahnya, dan memandang ke balik kabut awan hitam, tempat Devan melewatinya.
Lama Ibu peri itu memandang, wajahnya prihatin, tangan kanannya menyentuh dadanya yang khawatir, seraya menyebut sebuah nama.....
"Lunaa.....?"
__ADS_1
*****