
Ireena berjalan menuju aliran sungai yang dangkal itu hingga ia berada di tengah-tengahnya. Tampak air sungai itu setinggi pinggang Ireena.
Kemudian Ireena diam berdiri. Dengan anginnya ia angkat aliran air itu hingga mengelilingi serta membasahi sekujur tubuhnya. Tak lama setelah itu, ia segera naik ke permukaan, seraya berkata,
“Kalau kau bisa menghentikan waktu, maka aku akan membekukannya.”, pandangan matanya tajam, mengarah di mana Julian dan Morgan pergi.
…
Morgan dan Julian terbang melaju di atas jalan raya yang mereka lewati sebelumnya. Di sisi mereka tebing dan di sisi lainnya jurang.
“Agh..”, Morgan mengerang.
“Morgan?. Kau baik-baik saja.”, tanya Julian.
“Tidak apa-apa. Hanya dadaku masih terasa nyeri, perempuan itu benar-benar menekannya sekuat tenaga. Sebentar lagi pasti akan sembuh. Bagaimana dengan kau?”
“Begitu. Kalau aku sudah baikan. Sebaiknya kita mempercepat terbang kita. Fallen angel itu pasti sekarang sudah memulihkan dirinya, besar kemungkinan dia masih berniat mengejar kita.”
“Si Devan itu, musuhnya tak hanya banyak, tapi kuat-kuat.”
“Benar, sebaiknya nanti kita tanya Aslan siapa identitas Devan sebenarnya, seharusnya setelah ini dia pasti mau memberitahu kita.”
Tiba-tiba di tengah perjalanan dan pembicaraan itu…
Angin datang berlawanan dari arah Morgan dan Julian, walaupun tidak begitu kuat, namun cukup mengurangi kecepatan terbang Morgan & Julian.
“Cuaca… kenapa tiba-tiba berubah?”. Tanya morgan yang terbang di sisi agak ke belakang Julian.
“Bukan, mungkin ini hanya berangin saja.”, jawab Julian.
Julian pun mencoba memeriksa dengan menengadah kepalanya melihat ke awan. Dan ia dapati awan di langit tak bergerak sesuai arah angin, namun awan itu cenderung pelan bergerak kea rah lain.
(“Jangan-jangan….”, Julian membathin.)
“Morgan, coba lihat ke belakang!”
“Ha?...”, Morgan pun menolehkan kepalanya ke belakang “Itu..apa?”
Tampak samar sesuatu dari kejauhan, sebuah entitas berbentuk lingkaran yang terbang bergerak ke arah mereka.
Julian pun menoleh ke belakang sejenak, dan melihat samar seperti yang dilihat Morgan.
“Aku yakin, itu pasti perempuan yang tadi, angin ini, itu adalah ulahnya.”
“Apa??”
“Kita harus terbang lebih cepat!”
Mereka pun berusaha terbang lebih cepat, walaupun angin yang berlawanan tak cukup untuk membuat mereka lambat, namun angin itu cukup mengganggu kecepatan terbang mereka.
Morgan kembali menoleh ke belakang untuk memeriksa. Lalu semakin jelaslah bahwa yang mengejar mereka adalah Ireena.
“Kau benar Julian, itu adalah fallen angel yang tadi, tapi… dia tak mengeluarkan sayapnya.”
“Benarkah?..”, ucap Julian seraya menoleh ke belakang.
(“Padahal dia tak menggunakan sayapnya, tapi masih bisa selaju itu, dan juga apa itu yang mengelilinginya..…air?”, bathin Julian.)
“Percuma Julian, kita kalah cepat. Aku akan menghentikannya.”
“Tunggu Morgan, ada yang berbeda dengan dia.”
Morgan tak mendengarkan Julian, ia pun terlanjur berhenti bersiap untuk kembali berhadapan dengan Ireena.
Melihat hal itu Julian pun turut berhenti di belakang Morgan.
(“Aku akan mengawasinya, kalau terjadi apa-apa….”)
Ireena tampak tersenyum sinis melihat Morgan dan Julian yang menunggunya tiba.
“Akan kubuat kau merasakan yang lebih buruk dari sebelumnya.”, ancam Morgan, pandangannya tampak tajam dan fokus. “Kemarilah!...”, lanjutnya.
Seketika…..
“SRIING!!!....”
Morgan berhasil mengaktifkan magusnya dengan tepat, namun setengah tubuhnya membeku, membuat dirinya tak bergerak di tengah waktu yang terhenti itu.
“Apa??”, terkejut Morgan. Matanya terbelalak melihat dirinya terkena jebakan Ireena didetik yang kritis. Dua detik setelahnya waktu melambat, hingga perlahan dirinya dibekukan oleh angin Ireena.
Sementara di sudut pandang Julian…
Morgan tampak berdiri dengan pandangan fokus ke arah lawan, dan ketika mereka telah berada dalam jangkauan magus mereka, seketika Morgan membeku di hadapannya.
Tanpa bereaksi lama, Julian segera mengaktifkan magusnya dan mengulang kejadian dua detik sebelumnya…
Ireena dengan laju terbang ke arah Morgan, namun sebelum mereka masuk dalam jangkauan masing-masing, tiba-tiba…
“SRING!!”, “DUM!!”
Julian mendorong laju Morgan ke bawah hingga jatuh kuat ke tanah, begitupun Julian yang mendarat dengan sangat buruk.
__ADS_1
Sementara Ireena tampak menabrak bongkahan es yang ia buat sendiri, kemudian mendarat sembari terseret cukup jauh bersama bongkahan es yang tepat di bawahnya.
Morgan pun bangun dari jatuhnya dan berusaha berdiri.
“Julian, apa yang kau…”, ucap Morgan, namun kalimatnya tak selesai setelah melihat salah satu kaki Julian membeku hingga paha..
“Kau gagal mengaktifkan magusmu, sehingga kau membeku duluan olehnya.”, ucap Julian seraya mencoba berusaha bangun.
“Kau…menggunakan magusmu?”
“Ya. Kalau itu cuma es biasa di dunia fisikal ini mungkin es itu hanya menembus dirimu. Es itu mengandung magus si fallen angel perempuan itu.”
Morgan pun melihat ke arah Ireena jatuh.
“Kau benar, bahkan es itu sampai melukainya, benar-benar nekat.”
Morgan pun membantu Julian berdiri merangkul salah satu lengan Julian.
“Kita lari dulu, lalu kita cairkan es di kakimu.”
Mereka kemudian terbang turun ke arah jurang dan masuk ke dalam hutan dibawahnya.
Sesaat kemudian, Ireena bangun dari atas bongkahan es itu sembari tangan kirinya memegang tangan kanannya yang masih belum pulih.
“Cih!!!”, kesal Ireena.
Ireena melihat bekas jalan tempat Morgan dan Julian mendarat sebelumnya. Setelah itu ia berdiam diri dan menunduk, lalu tampak angin di sekitarnya menyebar cepat ke segala arah.
Sementara Morgan dan Julian terbang rendah di tengah hutan, dan tiba-tiba angin dingin datang dari belakang mereka. Mereka terkejut dan terkena serangan mental sesaat.
“Kita ketahuan”, ucap Julian.
“Hm.”, Morgan mengiyakan.
Ireena pun mengetahui keberadaan mereka, ia membawa air yang tersisa dengan anginnya, lalu segera terbang turun kembali mengejar.mereka.
Sesaat kemudian, angin kembali bertiup berlawanan dari arah terbang Julian dan Morgan.
“Cepat sekali dia mengejar.”, ucap Julian yang tengah menoleh ke belakang.
“Tidak apa-apa, sebentar lagi akan kugunakan magusku untuk melarikan diri.”
Ireena yang terbang laju mengendarai anginnya semakin mendekati Morgan dan Julian.
“Kalian tak boleh lari dariku.”, ucapnya dengan pandangan tajam ke mereka.
Jarak pun semakin dekat, Ireena mulai menurunkan suhu anginnya, namun ketika sedikit lagi mereka dalam jangkauan tiba-tiba…
Mereka mendadak laju dan jauh terbang di hadapan Ireena.
“Tch!, Morgan sialan!.”, maki Ireena, raut wajahnya kesal.
Namun, Ireena tak menyerah, ia semakin emosi dan tanpa sadar kecepatannya bertambah.
Sementara Morgan dan Julian yang berada jauh di depan tiba-tiba merasa angin yang melawannya semakin deras.
“Apa-apaan ini?”, ucap Julian yang tengah terbang sambil di rangkul Morgan.
“Walaupun angin ini tak terlalu mengurangi kecepatan kita, tapi rasanya mengesalkan.”
Tak lama kemudian, Julian menoleh ke belakang dan melihat Ireena perlahan kembali menyusul mereka.
“Gawat!. Kita dapat lawan yang benar-benar keras kepala.”
“Kalau begitu aku akan mengubah arah!.”, ucap Morgan yang berniat untuk menggocek Ireena.
Morganpun berbelok dan terbang sambil menghindari pohon-pohon. Sementara Julian yang terkadang sambil menoleh ke belakang pun berkata,
“Hey Morgan caramu tak efektif, dia malah semakin cepat mendekat dengan kita.”
“Hah?, benarkah?”
Ireena yang melihat mereka terbang seperti itu tersenyum geli, seraya berkata,
“Hem!, kalian sebut itu menggocek?”, remehnya.
Di tengah-tengah terbangnya Morgan, tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu bersama Devan…
(…..Kedua peleton itu menembak, dan puluhan peluru melesat cepat menuju Devan.
"Morgan!.",
"Hah!.", Devan berlari di antara puluhan peluru yang diam. Seketika ia berbelok arah larinya menuju lorong-lorong gedung kota.
Tapi disaat yang sama, Devan melihat peluru-peluru itu bergerak pelan.
"Pelurunya?.", heran Devan.
Devan akhirnya masuk ke lorong tersebut.
"Oi Morgan, jadi magus kau sebenarnya itu melambatkan waktu?."
__ADS_1
"Memang. Dua detik pertama berhenti, tiga detik berikutnya lambat."
"Tch!, trik sulapku gagal. Kupikir kemampuan kau sama seperti Aslan, ternyata kau di bawahnya."
"Kalau magusku setara dengannya, maka tak mungkin aku menjadi bawahannya."…..)
“Julian, aku akan melakukan trik sulap.”
“Trik sulap?. Baiklah, aku tahu kau bukan tipe makhluk yang ceroboh.”
“Lihat saja.”
Morgan memaksa menambah kecepatan terbangnya, ia melihat ke belakang, saat itu ia menyadari tak akan pernah melampaui kecepatan perempuan itu.
Dan ketika Morgan sedikit lagi mencapai jangkauan angin Ireena, ia pun mengaktifkan magusnya dan seketika ia berhenti terbang bersama dengan waktu yang di hentikannya.
“Morgan, kenapa kau juga tiba-tiba berhenti?”
Morgan kemudian berbelok agak cepat kemudian mendarat pelan dekat sebuah pohon dan bersembunyi di baliknya.
“Kalau kita mendarat terlalu laju itu akan menimbulkan beriak angin yang besar. Dia akan sadar.”
“Kita bersembunyi?. Kau yakin akan berhasil dihadapan lawan seperti dia?, lalu trik sulap itu?”
3…4…5
Waktu kembali normal…
Tampak beriak angin kecil di dekat pohon agak berjarak di sisi Ireena, namun Ireena tetap terbang melesat melewatinya seperti biasa, ia terkejut, tiba-tiba Morgan dan Julian tak ada di depannya.
“Lagi!!!”, kesal Ireena.
Ireena tak menyerah untuk mengejar, dan terus terbang ke depan. Ia masih berfikir bahwa Morgan dan Julian masih berada di depan.
…
“Di sudut pandang Ireena, kita seakan-akan menghilang, tak peduli ia menyadari pola magusku seperti apa, di sudut pandangnya, tetap akan tampak seperti itu.”, jelas Morgan kepada Julian.
Julian pun melihat ke arah Ireena melesat, ia sendiri tak menyangka perempuan itu berhasil dikelabui dengan cara seperti ini.
“Aku tahu kau bukan makhluk yang ceroboh, tapi aku tak percaya kau sepintar ini. Bagaimana kau bisa menemukan cara seperti itu?.”, tanya Julian ragu.
“Sebenarnya itu idenya Devan waktu melarikan diri dari kota Avalon. Hehe. Tapi dia gagal mengeksekusi.”
“Sudah kuduga. Biar kutebak, dia gagal karena dia belum tahu magus kau tak sepenuhnya menghentikan waktu.”
“Ya, kau benar.”
“Hmm, semenjak status malaikat kita jatuh, kekuatan kita juga turut jatuh. Kalau dihitung-hitung, magusmu diwaktu dunia juga dua detik; Dua detik waktu terhenti, tiga detik melambat, bila digabung waktu normal semuanya dua detik. Karena….”, Julian menggantung kata-katanya.
“Karena apa?”, tanya Morgan.
Julian pun mengingat kejadian saat Morgan membeku oleh angin Ireena.
“Bila waktu dunia juga terhitung lima detik, mungkin saat itu aku sudah terlambat mengulang waktu untuk menyelamatkan kau. Sebab masih ada kemungkinan bahwa kau berhasil mengaktifkan magusmu.”
“Jadi seperti itu. Kalau begitu sebenarnya aku sudah kalah daritadi.”
“Kita tunda dulu bicara, sebaiknya kita segera pergi, es di kakiku sepertinya perlahan mencair sendiri.”
Mereka kemudian terbang ke arah berlawanan namun agak menyerong agar tidak mudah di tebak Ireena. Dan mereka pun sepenuhnya berhasil melarikan diri dari Ireena.
Sementara Ireena…
Ireena masih terbang melesat lurus, namun kini ia mulai merasa ragu.
“Kemana mereka?,”, ucap kecil Ireena, dahinya mengerut hatinya kesal.
(“Tak mungkin aku gagal mengejar mereka, jelas-jelas kecepatan mereka kalah jauh denganku.”, bathin Ireena.)
Ireena mulai gusar, ia pun mendadak berhenti. Ia berdiri dan merunduk seraya menyebarkan anginnya ke segala arah.
“Eh?..Kenapa tidak ada?”, raut wajah Ireena tiba-tiba mendadak heran dan bingung.
Ia pun mengulanginya, menyebarkan anginnya ke segala arah.
“Eh?...”, kini raut wajah Ireena berubah menjadi kecewa, kedua tangannya sedikit bergetar.
Ia pun mengingat-ingat sejak kapan ia mulai kehilangan Morgan dan Julian. Maka setelah ia teringat terakhir ia melihat Morgan dan Julian…
“Hah?...Jangan-jangan…mereka…berhasil mengelabuiku?”, suara Ireena tampak bergetar, raut wajahnya tampak berusaha menahan tangis.
“Tidak mungkin, tidak mungkin, tidak mungkin.”, Ireena menggeleng-geleng mencoba mengalihkan pikiran sesaat.
Ia melihat air yang ia bawa. Kemudian ia jatuh terlutut lesu, sembari memegang tangan kanannya yang masih belum pulih.
“Air yang kubawa juga tak cukup…
Bagaimana aku harus melaporkannya pada Istan…
Ini…sangat memalukan…”
__ADS_1
***