Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 23: Kisah Pemuda Dari Desa Zenetti


__ADS_3

Pagi hari di Lembah Sei Roja…


…”…meski begitu, rasanya aku sulit percaya dengan cerita Zivan tadi malam.”, ucap Morgan.


“Siapa yang mengira, kalau cerita urban itu berasal dari cerita dia sendiri.”, tanggap Devan.


“Aku jadi merasa bodoh, karena diakhir sempat percaya cerita tiga anak manusia lelaki kemarin, padahal tidak semua yang dikatakan mereka fiksi.”, ucap Julian.


Zivan pun tertawa kecil sebentar.


“Sudah kubilang kan tadi malam. Cerita itu benar, tapi juga bohong.”


…..


Kemarin malam, lantai dua di kediaman Zivan, ketika semuanya masih terjaga….


“Beberapa ratus tahun yang lalu, lahir seorang pemuda di Desa Zenetti. Pemuda itu dikenal sebagai manusia yang baik, pandai bersosial, dan suka membantu penduduk desa.”, ujar Zivan mulai bercerita.


Devan dan yang lainnya duduk bersila di atas lantai mendengar Zivan bercerita.


“Suatu waktu, ketika pemuda itu di umur remaja, tiba-tiba dalam dirinya terbangun kesadaran yang lain, sehingga dalam dirinya terdapat jiwa yang lain. Karena hal itu, ingatannya jadi kacau.


Pemuda itu tak ingat apapun, termasuk juga ia tak mengetahui tentang dirinya sendiri. Ketika beberapa penduduk desa memanggil namanya, ia tak pernah menyahut atau menoleh. Ia hanya berjalan melewatinya.


Hingga salah seorang penduduk mulai menyadari keaneahan pada pemuda itu, ia pun mendekatinya dan menyentuh bahunya dari belakang, ‘Nak, kamu kenapa?’, ucapnya.


’Siapa kamu?’ tanya pemuda itu. Penduduk desa itu memandang pemuda itu dengan rasa cemas dan heran. Setiap orang yang menyapanya, ia selalu bertanya hal yang sama ‘Siapa kamu?’, dan berkali-kali juga pemuda itu mendapat reaksi yang mirip.


Pemuda remaja itu mulai merasa takut, takut sebab ia tak mengetahui apapun.


Ia pun melarikan diri, meninggalkan Desa Zenetti. Hingga tanpa sadar, ia memasuki sebuah lembah di dekat desa itu. Lembah yang tak mungkin dimasuki oleh manusia.


Hari itu semakin gelap dan malam, pemuda itu pun baru menyadari bahwa ia tengah tersesat di tempat yang ia tak ketahui. Perasaan takutnya, kini berubah menjadi putus asa.


Ia duduk pasrah, tersungkur tertunduk kepala menghadap sebuah pohon, sambil terisak tangis begitu lama. Hingga suatu waktu sebuah cahaya muncul dari belakang pemuda itu.


Pemuda itu pun menoleh ke belakang, dan dilihatnya seorang perempuan serba putih. Di sekitarnya diselimuti cahaya. Ia duduk menurunkan lututnya agar sejajar dengan pemuda itu, lalu perempuan itu berkata, ‘tenang saja, semuanya pasti akan berakhir baik’.


Pemuda itu pun seketika tenang, setelah mendengar hal itu…tidak, pemuda itu tenang, semenjak perempuan itu datang di belakangnya. Setelah itu, si pemuda bertanya, namun dengan pertanyaan yang berbeda.


Ia bertanya ‘Siapa aku?’, dan beberapa saat kemudian, Wanita itu pun bilang ‘Dirimu… Harith?... Zivan?… kira-kira yang mana ya?’, ia tersenyum tipis, jemari telunjuknya menyentuh pipinya.”


“Tunggu dulu!.”, potong Morgan sambil menggaruk kepala pelan.


“Yang tadi itu kisah dirimu?”, lanjut tanya Morgan.


“Memang iya.”, Jawab Zivan.


“Apa hubungannya dengan legenda lembah ini yang kami tanyakan?.”, tanya Morgan. Wajahnya bingung.


Di sisi lain, Julian tengah teringat suatu hal.


“Apa ini berhubungan dengan kisah seseorang yang berhasil memasuki lembah, lalu ia juga berhasil keluar, namun suatu waktu justru ia kembali masuk ke lembah ini?.”


Morgan dan Devan memperhatikan Julian. Beberapa saat kemudian mereka juga teringat.


“Aku ingat. Itu dikatakan oleh ketiga anak lelaki tadi sore.”, tanggap Devan.


“Benar.”, jawab Zivan. “Seseorang itu adalah diriku.”, lanjutnya.


“Ee, dirimu?”, tanggap Morgan tak menyangka. Begitupun Devan dan Julian yang tak menyangka.


“Kau bilang…. Beberapa ratus tahun lalu…jadi umurmu..”, ujar Devan terbata-bata.


“Umurku tentu saja sudah ratusan tahun.”, jawab Zivan.


“Pantas saja.”, tanggap Devan.


(“Itu mungkin karena Zivan bukan manusia murni.”, bathin Devan.)


“Hey Zivan, perempuan yang dirimu ceritakan, ciri-cirinya mirip dengan dia yang mengantar kami kemari. Apa mungkin…”, ujar Julian ia sengaja tak menyelesaikan kalimatnya.


“Mm. Dugaanmu benar. Dia adalah malaikat yang menjaga lembah ini. Segala fenomena alam yang terjadi di lembah ini, itu berkat kekuatannya agar manusia tak mendekati tempat ini.”


(“Jadi…dia malaikat....”, Devan membathin.)


“Aku mengerti, jadi bukan karena itu ujian atau apalah itu agar seseorang bisa masuk. memang dari awal lembah ini dilarang oleh manusia. Tapi mengapa?”, ujar Julian.


“Soal itu…aku juga tidak tahu.”, jawab Zivan.


“Bukankah salah satu anak lelaki tadi bilang, ‘sebab disini adalah tempat Dewa bertapa’, katanya.”, jawab Morgan. Ia menoleh ke arah Julian.


“Hahaha.”, Zivan tertawa. “Manusia, memang suka melebih-lebihkan sesuatu.”


Julian dan Morgan saling pandang.

__ADS_1


“Mungkinkah…..”


“Ya. Itu aku.”


Devan yang mendengar pengakuan itu hanya terdiam tak bereaksi.


“Tapi kenapa tak dari awal cerita saja katakan, dirimu bercerita seakan-akan menceritakan orang lain?.”, tanya Devan.


Zivan diam sejenak, wajahnya perlahan menjadi datar. Mereka bertiga menyadari.perubahan ekspresi wajahnya.


“Mungkin…itu karena aku melupakan sisi manusiaku.”


Saat itu, angin malam berhembus pelan melewati mereka, keadaan menjadi hening sesaat setelah jawaban itu terlontar.


“Aku tidak mengerti. Dan juga Harith yang kau sebut di akhir cerita, itu dirimu juga kan?. Zivan juga. Bagaimana maksudnya?.”, tanya Devan. Keningnya mengerut.


“Dahulu Zivan pernah mati sebagai fallen angel. Bertahun-tahun kemudian, Zivan direinkarnasi, terlahir sebagai seorang manusia Bernama Harith.


Namun, kesadaran dan ingatan tentang Zivan belum bangun, hingga Harith berusia remaja, saat itulah terjadi sesuatu. Jadi bisa dibilang, diriku Harith dan juga Zivan.”.


“Jadi begitu.”, ucap Devan sembari menundukkan kepalanya yang berfikir sejenak.


“Namun, aku banyak melupakan kehidupan Harith yang singkat, justru aku lebih banyak mengingat kehidupan Zivan yang ratusan bahkan ribuan tahun.”


“Ironi…”, ucap Julian.


“Hm. Mungkin itu karena aku tidak terlalu setuju dengan sikap Harith, padahal dia baik, tapi dia lemah.”, tampak alis Zivan turun merendah.


“Lemah kah…padahal pemuda remaja itu dengan mudah masuk ke lembah yang dikelilingi awan hitam agresif. Atau mungkin… sang malaikat mengetahui kondisinya, kemudian ia sengaja membiarkannya masuk.”, Julian menerka.


“Hm?, Oh kalau hal itu ada alasan lainnya.”, Zivan menyanggah.


“Oh..?”, gumam Julian bertanya.


“Pada era dimana Harith hidup, fenomena alam di Lembah Sei Roja tak seperti ini. Sebab, dahulu lembah ini di jaga oleh dua malaikat. Sachiel & Amethya, yang kalian jumpai sebelum kemari, itu adalah Sachiel.


Dahulu Ametyha menyebarkan angin dinginnya mengelilingi tepian lembah, sehingga siapapun manusia yang mendekati lembah ini akan merasakan takut. Jadi bukan awan hitam yang menutup tempat ini.


Dan waktu Harith berlari memasuki tempat ini dari awal dalam keadaan takut, jadi kupikir angin dingin Amethya tidak mencegahnya.”


Devan diam, hatinya merasa penasaran dengan malaikat bernama Amethya itu.


“Amethya itu, malaikat seperti apa?”


“Amethya adalah malaikat pengendara angin. Tangan kanannya membawa angin yang bertiup sepoi, sedangkan tangan kirinya membawa angin yang sangat dingin. Angin di tangan kanannya membuat siapa yang terkenanya akan merindukan hal yang baik, dan angin di tangan kirinya menyebarkan ketakutan pada siapa yang ada dalam jangkauannya.


“Jadi, kemana sekarang Malaikat Amethya itu?”, tanya Devan lagi.


“Aku tidak tahu. Yang aku tahu ia telah lama pergi meninggalkan lembah ini,”


“Begitu.”, tanggap Devan.


“Jadi begitu ceritanya mengapa harith atau dirimu mampu memasuki lembah ini.”, tanggap Morgan.


“Itulah kebenarannya. Adapun mengenai Dewa bertapa, syarat masuk lembah yang berhati luas atau apapun itu adalah bohong atau sesuatu yang dilebih-lebihkan.”


“Bagaimana ceritanya bisa lebih sampai seperti itu?”, tanya Devan.


Zivan pun berfikir mengingat-ingat kejadian, ia menundukkan kepala sambil memegang rambut depannya.


“Aku akan melanjutkan kisahnya…


Suatu waktu pemuda itu merindukan Desa Zenetti tempat ia dibesarkan. Sehingga ia memutuskan untuk keluar lembah, dan kembali ke desanya.


Singkat cerita pemuda itu kemudian sampai, lalu ia lihat banyak hal yang berubah di Desanya. Walau begitu para penduduk masih ingat dirinya, ia di sambut, dan bertemu teman-teman remajanya dulu, yang kini sudah tampak dewasa bahkan sudah berkeluarga.


Setelahnya pemuda itu kembali lagi memasuki lembah, Hingga beberapa waktu, ia merindukan desanya lagi dan memutuskan untuk pulang ke desa lagi, dan lagi-lagi banyak hal yang berubah semenjak kali terakhir ia berkunjung.


Ketika datang ia di sambut, namun hampir seluruh penduduk desa sudah tak ia kenali, ia juga sempat bertemu beberapa teman-temannya yang sudah tua bahkan beberapa tak ingat dirinya lagi. Pemuda itu merasa terkejut. ‘Berapa tahun sudah ia tak kembali desa?’ tanyanya dalam hati.


Pemuda itu pun pergi menyendiri, ia berdiri di tepi air parit yang mengalir. Ia berkaca di atas air dan dilihat dirinya tak menua sama sekali.


Saat itulah pemuda itu menyadari bahwa ia mungkin bukan manusia lagi. Konsep waktu dalam benaknya berbeda. Sudah berpuluh tahun ia meninggalkan Desa, namun rasanya baru dua tiga tahun ia pergi.


Meski begitu ia tetap datang dan pergi lagi, dan tetap juga ia di sambut oleh penduduk desa, bahkan terakhir kali ketika pemuda itu mengunjungi Desa Zenetti, ia seperti di puja oleh penduduk desanya sendiri.”


…..


Pagi hari, di halaman depan kediaman Zivan…


“Baiklah, cerita tadi malam akan jadi pelajaran, agar tak mudah percaya pada kisah urban yang beredar. Dan Devan, sepertinya kita akan berpisah disini. Kami akan kembali ke Avalon.”, ucap Morgan pamit.


“Sampaikan terima kasihku pada Aslan.”, ucap Devan.


“Baiklah kami akan pergi.”, ucap Julian. Seketika muncul sayap dan mengembang di punggung Julian dan Morgan.

__ADS_1


“Oh iya. Tolong tidak melaporkan cerita tadi malam pada Alsan ya.”, ujar Zivan seraya menyentuhkan jemari telunjuknya pada bibirnya.


“Hmm?, kenapa?.”, Julian menoleh ke arah Zivan.


“Soalnya…percuma, dia juga sudah tahu.”, canda Zivan sembari tersenyum.


“Oh. Haha, kalau begitu baiklah, aku tak perlu repot ceritakan.”, tanggap Julian sembari tertawa kecil dan tersenyum.


“Baiklah, kami berangkat!”.


“SIU!”, Suara angin terdengar akibat dampak lepas terbang Julian dan Morgan.


Mereka terbang rendah cukup laju, dan memotong jalan untuk langsung turun dari dataran tebing ini.


“Nah Devan, bisa ikut aku ke tempat lain.”


Devan mengangguk.


Mereka kemudian berjalan menuruni dataran tebing. Lalu setelah itu, mereka berjalan diantara pilar bebatuan yang diameternya tebal. Mereka menapaki jalan menaik di bukit seberang, namun tak sampai tinggi.


Selang beberapa lama, mereka dapat melihat mulut goa yang berada di bilik dinding tebing bukit di samping mereka.


“Goa?”


“Itu tempat tujuan kita.”


Mereka berdua pun memasuki goa itu. Setelah agak dalam, tampak cahaya biru menerangi dalam goa. Beberapa tanaman biru kecil yang sejenis dengan yang berada di halaman kediaman Zivan tumbuh di tepi-tepi di dalam goa ini


Dalam Goa itu luas, tidak seperti terowongan, bagian atasnya tinggi. Terdapat aliran air kecil di salah satu tepiannya. Dari atas terkadang terdapat air menetes sehingga membuat genangan air di tengah tanah goa itu.


Tiba-tiba Devan menghentikan langkahnya, dan Zivan mengikuti. Devan memandang lama pada apa yang ada di hadapannya. Gundukan tanah berjejer panjang dan banyak.


“Kuburan?”, ucap Devan sembari menoleh ke arah Zivan.


“Mm.”, ucap Zivan mengiyakan seraya mengangguk.


Devan semakin masuk ke dalam, berjalan diantara jejeran gundukan tanah kiri-kanannya. hingga terdapat beberapa jalur, Devan menapaki salah satunya, dan ia memandang hal yang serupa..


“Mereka adalah manusia korban dari cuaca alam di lembah ini.”


“Banyak sekali.”


“Terhitung semenjak kepergian Amethya beberapa ratus tahun lalu hingga hari ini.”


“Apa istimewanya lembah ini, sampai harus jadi daerah terlarang di bumi?”


“Itu pertanyaan sejenis dengan pertanyaan Julian tadi malam.”


“Oh aku ingat. Dirimu bilang tidak tahu.”


“Sebenarnya lembah ini adalah pintu dimana kita bisa menuju langit pertama, tempat dimana bangsa peri tinggal.”


Mendengar hal itu Devan pun menoleh ke arah Zivan.


“Oh aku mengerti. Karena itu berhubungan dengan para peri, dirimu tak bisa memberitahu mereka berdua, karena mereka adalah fallen angel.”, ujar Devan, setelah itu ia kembali memandang sekitar.


Zivan terdiam sesaat, ia teringat sesuatu.


“Berbicara soal fallen angel, tengah malam tadi mereka datang?”


“Apa??”


***


Morgan dan Julian terbang rendah dengan cepat. Setelah beberapa lama, ia sampai di tempat semula dimana ia memarkirkan mobil. Tapi…


“Datang juga kalian, Morgan, Julian.”, baru saja Morgan dan Julian mendaratkan kakinya, ia langsung dihadapkan dengan seorang perempuan yang duduk menunggu di bagian depan mobil.


“Siapa kau?, kenapa kau tahu nama kami?”, ucap Julian dengan tatapan tajam.


Perempuan yang tengah menunggu mereka tak lain adalah Ireena.


“Tidak penting untuk membahas kenapa aku tahu nama kalian.”


Ireena kemudian berdiri dari duduknya. Disaat yang sama, angin dingin di sekitar Ireena bergerak cepat. Seketika mata Morgan dan Julian terbelalak, mereka ingin segera melompat ke belakang, tapi….


“Jangan mundur!”, ancam Ireena, raut wajahnya menyeramkan, tatapannya dingin.


Wajah Morgan dan Julian tampak tegang, mereka tampak berusaha mengatur nafas.


Ireena melangkah mendekati mereka, dan mendekatkan kepalanya diantara kepala mereka seraya berbisik.


“Kalian…tadi Bersama Devan, kan?”


Julian dan Morgan tak menoleh, hanya mampu melirik Ireena yang ada diantara mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2