Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 18: Petir yang Mengejar


__ADS_3

"Haa!. Perang?. Melawan kau?. Sendirian?.", tanya Aliya bernada tinggi.


"Hahaha. Hei aku hanya bercanda, Aliya.", ucap Istan bernada remeh. "Ya, paling tidak untuk sekarang.", ia sumringah.


"Banyak bicara!. Langsung katakan, untuk apa kau kemari?.", tanya Aliya dengan nada menekan.


"Baik-baik. Aa.... dasar wanita sombong.", Istan menurunkan tangan kanannya yang sedari tadi mengarah ke Kakek Luna. Ia kemudian berputar badan hingga sepenuhnya menghadap ke Aliya.


"Aku kemari untuk mencari kawan lamaku. Aku merasakan jejak auranya. Aku yakin ia pernah berada disini.", ucap Istan sembari memejamkan matanya merasakan energi di sekitarnya.


"Kawan kau pernah kemari?.", tanya Aliya. Ia kemudian memandangi Kakek Luna sesaat.


"Tunggu!.", tiba-tiba Istan menyela.


("Aku merasakan jejak aura yang lain. Samar. Tapi....aku agak familiar dengan aura ini. Hah!, Aslan?.", Istan membathin).


Seketika raut wajah Aliya dan Kakek Luna bereaksi kecil.


"Aku lengah. Tak aku sangka putri Artemis masih selamat.", ucap Istan, wajahnya menjadi serius.


"Tch!.", misuh Aliya.


"Pantas saja dirimu berlaku sombong, dari awal kalian masih di atas angin."


"Lalu?, setelah kau tahu putri Artemis masih hidup, kau mau apa?."


Tiba-tiba muncul peri-peri dari balik awan-awan tinggi, dan juga dari balik tembok dan bangunan di daratan awan.


"Sebegitu cinta kah dirimu padaku, Aliya?, hingga sejauh ini tak membiarkanku pergi?.", ujar Istan sembari tersenyum sinis pada Aliya.


"Mati sana!."


Para peri itu pun serentak menuju ke arah Istan, dari atas, samping, depan, dan belakang Istan.


"Kalian semua?, ingin menyerang diriku?, seorang pemimpin fallen angel ini?.", ujar Istan congkak.


Namun, ketika mereka sampai pada jarak tertentu tiba-tiba mereka semua terhempas mundur. Setelah itu para peri tak bisa mendekatinya, mereka hanya terbang dan jalan di tempat, beberapa yang memaksa maju justru semakin terhempas mundur.


"Lihat. Mereka bahkan tak bisa mendekatiku. Bagaimana Aliya?, Kau kecewa?.", ucap Istan dengan senyum meremehkan.


Sang Ratu Peri masih menatap dingin ke pemimpin fallen angel itu.


"Sudah kukatakan kalau kalian takkan bisa melepaskan sihir padaku. Tapi....", Istan kemudian berbalik dan membentangkan kedua tangannya, kesepuluh jemarinya mencengkeram. Seketika dua peri dari jauh tertarik menuju ke arah Istan, dan kepala dua peri itu pun sampai di cengkeramannya.


"DUM!!!.", Istan pun menghentakkan kedua peri itu ke tanah dengan tangannya.


"...aku tetap bisa melepaskan magusku.", lanjut Istan masih dengan sumringahnya.


Sesaat kemudian, dua peri yang Istan tarik perlahan berubah menjadi hembusan angin dan menghilang.


"Apa???.", Istan terheran.


"Sayang sekali, Istan.", kini giliran Aliya tersenyum sinis kepada Istan.


Istan kemudian melihat ke tempat di mana dua peri itu berdiri sebelumnya. Ia terheran, melihat dua peri yang dia tarik itu masih berada di tempatnya.


("Apa maksudnya ini?.", Istan bingung.)


"Kau tidak mengerti??. Bahkan kau kemari tanpa tahu apapun. Bodoh!, menyedihkan!. Heh!.", ucap Aliya merendahkan Istan sejadi-jadinya.


Istan terpancing dengan perkataan Aliya. Ia pun segera berbalik menghadap ke arah Aliya, dan menariknya.


"Aa!.", Aliya mendesah pendek, tubuhnya tertarik laju ke arah Istan. sesaat kemudian lehernya sudah berada dalam cengkeraman tangan Istan.


"TASS!!!.", tangan kiri Istan melayang keras ke pipi kanan Aliya.


Namun, sesaat kemudian Aliya yang berada di cengkeraman Istan menghilang berhembus seperti angin. Istan pun kembali melihat ke arah Aliya.


"He.", Aliya melempar senyum sinisnya kepada Istan.


Istan Zora diam, ia menarik nafas panjang, kemudian terbang melayang hingga sejajar dengan Aliya.


"Hei Aliya."


"Apa?."


"Dirimu tidaklah sebijaksana Artemis. Terlalu sombong bagimu untuk menjadi seorang ratu peri."


"Aku tidak peduli."


"Karena itulah kamu tidak bisa menjaga negerimu sendiri."


Raut wajah Aliya tiba-tiba menjadi tegang.

__ADS_1


"Hey, apa yang akan kau lakukan???. Istan, jangan!."


Raut wajah Istan berubah menjadi serius dan menyeramkan. Ia mengangkat tangan kanannya lurus di depan dada seraya jemarinya membentuk cengkeraman dan menghadapkannya ke bawah.


Aliya kemudian melihat ke bawah, nampak seluruh Negeri Rayyana bergetar.


"Hey Istan, hentikan!!!.", ucap Aliya bernada menekan, dahinya mengerut.


"Hentikan saja sendiri, dengan kesombonganmu itu!!."


Aliya hanya bisa melihat tidak melakukan apapun. tangannya menggenggam geram kuat.


Tak lama kemudian di bawah mereka berdua terbentuk lingkaran besar berlubang hingga nampak bumi di bawahnya. Daratan di area itu pecah menjadi butiran-butiran kecil dan jatuh ke bumi seperti hujan.


"Haah!!!", Aliya terkejut melihat fenomena di depan matanya. Setelah itu ia kembali memandang Istan dengan tatapan yang sangat marah.


"Istan!!.", ia menyebut nama pemimpin fallen angel itu dengan nada kesal. Tangannya mengepal kuat, air mata mengalir di pipinya, namun ia tetap berdiri tegar berhadapan dengan Istan.


"Seandainya kamu tak memancing amarahku, mungkin ini tak akan terjadi. Sekarang rasakanlah kesombonganmu!."


Aliya diam tak bisa membalas kata-kata Istan. Istan kemudian pergi terbang tinggi meninggalkan Negeri Rayyana. Mata Aliya mengikuti arah terbang Istan, kepalanya menengadah ke atas, memandangnya dengan air mata dan tatapan marah.


Tiba-tiba pada jarak tertentu Istan berhenti, ia berbalik badan dan menghadap ke Aliya yang berada di bawahnya.


"Satu hal lagi, aku tarik kembali candaanku tadi soal perang. Kali ini mungkin bangsa kita akan saling berperang, biar bagaimanapun keberadaan putri Artemis adalah ancaman bagi kami para fallen angel, dan aku tak bisa mengabaikannya."


"Tch!.", Aliya bereaksi, tangannya menggenggam lebih kuat, gigi-giginya menggeram kuat, walau begitu air matanya masih saja keluar dalam raut wajah marahnya.


Saat itu Istan melihat ke bawah, melihat para peri panik berterbangan kesana kemari. Nampak dipandangannya Kakek Luna masih tak bergeming berdiri tenang melihat ke arahnya.


Istan pun mengingat kejadian beberapa saat yang lalu...


(....Istan kemudian memiringkan kepalanya melihat ke Arah Kakek Luna. Telapak tangannya yang sedari tadi sejajar menghadap ke arah Kakek Luna pun ikut memiring, jemarinya kemudian terbuka, namun tiba-tiba membengkok seakan mencengkeram sesuatu.


"Hm?.", Istan bereaksi heran. Ia melihat bingung ke arah Kakek Luna yang tak bergerak di tempatnya.....)


("Kenapa kakek tua itu tenang-tenang saja?. Dan juga saat itu magusku tak berpengaruh padanya, seperti apa kekuatannya?.", Istan bertanya dalam hati.)


Istan kemudian berbalik pergi meninggalkan Negeri Rayyana, dengan keadaan pikirannya yang penuh tanya. Meninggalkan ancaman dan bencana bagi para peri.


("Sialnya Aliya berkata benar, aku kemari tanpa persiapan dan mengetahui apa-apa.")


***


Devan, Morgan, dan Julian berjalan seperti biasa di tengah awan kilat yang gelap dan tak bersahabat. Morgan memandangi tanah di sekitar.


"Banyak sekali bekas sambaran petir.", ucap Morgan.


"Dan beruntung petir-petir itu tidak mengarah ke kita.", Devan menanggapi.


"Semenjak kita datang sudah tiga kali petir menyambar.", ucap Julian.


"Itu seperti alam sudah tiga kali memberi peringatan.", ujar Morgan.


"Hah?!", Tiba-tiba Devan berhenti dan menoleh ke Morgan.


"Apa?.", tanya Morgan.


Julian pun melompat dan mendorong kuat Devan dan Morgan ke depan hingga mereka tersungkur. Seketika itu juga...


"DUUAAAR!!!...", beberapa petir menyambar di tempat mereka berdiri sebelumnya. Mereka terpental jauh terkena dampaknya. Beberapa kali terseret dan terguling di atas tanah, namun mereka kembali berdiri dan berhasil berhenti menahan pentalan dengan posisi tubuh jongkok dan seimbang.


"LARI!.", Teriak Julian. Mereka pun segara berdiri dan berlari sangat cepat.


Petir kembali menyambar bersamaan kilat di awan.


"DUAAAR!!!", tepat di belakang mereka hingga mereka terlempar, terguling kedua kalinya, namun mereka segera mendaratkan diri dengan sempurna dan kembali berlari.


("Kalau begini lama-lama kami akan terkena.", Devan membathin.)


Dalam larinya, Devan menoleh kiri dan kanan, memandangi medan lembah. Di sebelah kiri ia melihat susunan bebatuan tinggi seperti pilar berdiri, dan tanah sekitarnya tak terdapat bekas sambaran petir.


"Kesana!.", Devan menunjuk tempat itu. Morgan dan Julian pun melihat arah yang ditunjuk Devan.


Devan menengadahkan kepalanya, ia memandang serius ke awan hingga berkerut dahi diantara kedua matanya.


("Bisakah aku memprediksinya??....Bukan, aku harus memprediksinya.", Devan membathin.)


Sesaat kemudian, Devan merasa instingnya menajam.


Julian yang melihat perilaku Devan pun paham.


"Morgan!.", panggil Julian.

__ADS_1


Morgan melihat ke arah Julian. Julian berisyarat memandang Devan sesaat dengan bola matanya, kemudian kembali memandang ke Morgan. Morgan pun menoleh ke arah Devan sesaat, kemudian kembali menoleh ke Julian seraya mengangguk.


("Lompat!.", terdengar suara di kepala Devan.)


Tiba-tiba kaki Devan terhenti sendiri.


("Sekarang!.")


Devan pun melompat jauh, seketika Morgan dan Julian masuk ke dalam Devan dan membayangi tiap gerakan Devan membuat gerakan Devan pun tampak seperti berbayang dua.


"DUAAAR!!!.", petir menyambar di tempat Devan terhenti sebelumnya.


Tubuh Devan yang tengah melompat pun terkena sedikit dampaknya sehingga terdorong agak laju ke depan.


Devan mendarat dengan kedua kakinya terseret, karena masih terdorong laju ia berguling depan di atas tanah dan kembali pada posisi jongkok seraya sedikit terseret menyamping dengan kedua telapak kakinya.


Devan bergegas berdiri dan berlari ke arah pilar bebatuan.


("Siapa?.", tanya Devan dalam diri.)


Tiba-tiba Devan diselimuti oleh perasaan kalau ia bisa menghindari semua petir itu.


Devan melihat ke atas awan sejenak, kemudian ia mampu berlari jauh lebih cepat dari sebelumnya.


"DUAAAR!!!", petir menyambar, namun Devan sudah melompat lebih dulu ke samping, mendarat berguling depan kemudian langsung berdiri dan kembali berlari.


"DUAAAR!!!", petir menyambar, namun Devan duluan berbelok tajam tanpa menguragi kecepatan larinya, sehingga meninggalkan debu yang berterbangan pada jalur larinya.


Devan kembali berbelok lagi ke arah yang pilar bebatuan yang ingin ia tuju.


Petir menjadi lebih sering menyambar, dan Ia mengelak beberapa kali dengan cara yang sama.


Tiba-tiba Devan mengetahui sesuatu. Ia pun mengubah gaya berlarinya menjadi zig-zag.


"DUAR!!!. DUAR!!!. DUAR!!!. DUAR!!!...", petir tiba-tiba menyambar berkali-kali. Namun tak satupun ada yang mengenai Devan. Bahkan ia tak terdampak petir itu seperti sebelumnya.


Devan berlari zig-zag dengan sangat cepat, dan petir itu terus menerus mengejar dibelakangnya.


Hingga pada jarak tertentu menuju ke pilar bebatuan itu, ia tiba-tiba melompat cepat dan kuat.


"DUM!!!.", tanah tempat Devan berpijak untuk melompat pun terangkat dan menghasilkan debu yang meledak di sekitarnya.


Devan terdorong laju ke depan, hingga mengalahkan laju petir yang mengejarnya di belakang.


Namun, Devan justru terdorong laju tepat di hadapan pilar bebatuan itu. Ia tak bisa berhenti, dan akhirnya...


"BUSH!!!...", Devan menabrak pilar batu itu dengan bahunya, namun sebelum itu terjadi, Morgan dan Julian terlebih dahulu melepaskan diri dari dalam Devan. Morgan dan Julian pun tersungkur di atas tanah.


Mereka kemudian kembali berdiri perlahan. Devan mundur beberapa langkah lalu ia mendongakkan kepalanya ke atas.


"DUAAR!!.....DUAAR!!.....DUAAR!!.....", petir awan terus menerus menyambar ujung atas pilar bebatuan di dekat mereka tanpa berhenti.


Morgan dan Julian juga melihat dari tempat ia tersungkur.


"Aku tarik kata-kataku tadi sore. Cerita yang dikatakan ketiga remaja itu bukanlah karangan.", ujar Julian sembari melihat petir yang menyambar ujung pilar bebatuan.


"Setelah mengalami hal ini aku jadi percaya dengan cerita yang dikatakan mereka.", ujar Morgan menambahkan.


"Sudah kubilang, biasanya cerita urban dari masyarakat tidak sepenuhnya salah, itu juga berarti tidak sepenuhnya benar.", jelas Devan.


"Maksud kau?. Apa kau menemukan sesuatu yang tidak benar dari cerita tersebut?.", tanya Julian.


Devan berpikir sejenak.


"Belum, untuk sekarang aku masih belum tahu."


("Kata para bocah itu sudah beberapa orang mencoba masuk ke lembah ini, diantaranya ada yang mati, sisanya tak di ketahui. Tapi kenapa dari awal tak kulihat satupun mayat di lembah ini?. Mungkinkah pria bernama Zivan ini yang.....?, heuh sudahlah, aku bisa bertanya padanya bila bertemu nanti.", Devan membathin.)


"Apa yang kalian lakukan di sini?.", tiba-tiba ada seseorang bertanya berdiri di samping mereka.


Mereka semua terkejut dan heran.


("Sial!. Aku tidak merasakan kehadirannya.")


("Dia.....sejak kapan ada disana?.")


("Kalau dia disitu seharusnya dari tadi kelihatan.")


Seorang wanita muda serba putih dan bermata sayu sedang berdiri melihat mereka.


("Aura ini....tidak salah lagi, dia adalah....")


***

__ADS_1


__ADS_2