
".....Namaku Devan. Tapi mohon maaf, aku belum bisa memberitahumu siapa aku.".
Sesaat kemudian, Devan tiba-tiba menggeleng-geleng kepala.
"Hmm?...Kamu kenapa?"
"Oh tidak...tidak apa-apa."
"Syukurlaaa, aku bisa bertemu orang lain disini. Soalnya, sebelumnya aku belum pernah kemari. Jadi, aku tidak terlalu banyak tahu soal jalur langit di sini." ujar Eris.
"Begitu.", ucap Devan singkat, kemudian segera lanjut terbang agak cepat.
"Hm?", heran Eris. Ia yang melihat Devan pergi pun segera terbang mengikutinya.
"Kamu sepertinya terburu-buru. Bolehkah aku mengikutimu, kalau boleh jujur....ummm....eeee.....sebenarnya aku sedang tersesat.", ucap Eris, tampak agak berat ia mengatakannya. Mimik wajahnya begitu meyakinkan.
("Waaaaa, aktingmu sangat bagus, nenek sihir."), bathin Devan, setelah ia menoleh ke samping melihat bagaimana Eris berbicara.
"Terserah kau saja.", tanggap dingin Devan sembari memalingkan lagi kepalanya menghadap Depan.
Eris yang melihat tingkah Devan pun cemberut seraya membathin...
("Aku ini gadis cantik loo, kalau kau tak mau memberi perlakuan spesial padaku, paling tidak perlakukan aku lebih baik dong. Cih!, padahal kupikir kau sudah terpesona padaku.")
"Devan...eh?...", panggil Eris, namum ia tampak meragu, karenanya Devan pun menoleh ke Eris.
"Aku boleh memanggilmu begitu?...
atau.... Tuan Devan??", tanya Eris sembari melempar tatapan manis.
"Jleb!", Devan sedikit tersentak, jantungnya kembali berdetak cepat, segera ia palingkan wajahnya ke depan.
"Devan saja.", jawabnya.
("Ingat Devan....Dia adalah nenek sihir, dia adalah nenek sihir, dia adalah nenek sihir.")
Sementara Eris, ia menyadari dan memahami reaksi Devan. Ia pun tampak sedikit tersenyum jahat.
("Ooh begitu yaa. Kukira kau lelaki yang sulit. Dasar sok jual mahal!.")
"Baiklah!", ucap Eris dengan nada ceria.
"Devan, kalau boleh tau, mengapa kamu ada di sini?, dan juga, apa kamu sering berada di sini?."
"Mengapa aku ada di sini kau tak perlu tau.", ucap Devan.
("Cih!", bathin Eris.")
"Tapi, aku juga sama sepertimu, aku juga pertama kali naik ke langit.", lanjutnya.
("Mau disembunyikan juga sudah terlambat, kau sudah menyadarinya.",bathin Devan.)
("Hiyahaha, dugaanku benar, hokinyaa diriku bisa dapat bahan manusia di sini. Dan aku juga sebenarnya sudah tau tujuan engkau, manusia naik ke langit pertama, apalagi kalau bukan menuju tanah para peri.")
"Ha!, kamu juga pertama kali naik kemari??", Eris pura-pura terkejut. "Devan, apa kamu yakin dengan arah terbangmu?"
"Kenapa?. Kalau kau tak percaya, kau boleh pergi."
"Eh?. Tidak...maksudku bukan begitu.
("Aku salah bicara, bukannya membuat was was akan tujuannya, malah dia memberiku keluasan untuk pergi.")
"Jadi apa?"
"Aku hanya takut kita tambah tersesat."
"Sama saja kau tak percaya padaku. Pergilah!."
("Akhirnya kena juga kau nenek sihir.", bathin Devan.)
__ADS_1
("Tch!, aku malah jadi di usir, bagaimana ini?......
Haaa!")
"Kamu....me...mengusirku??", lirih Eris menahan tangis, sembari perlahan mengurangi kecepatan terbangnya.
Devan pun terpandang ke arah Eris ketika ia mulai berkata seraya menurunkan kecepatannya. Tampak mimik Eris agak cemberut menyedih.
Timbul perasaan bersalah dan kasihan pada Eris. Ia jadi tak tega berkata seperti itu. Devan pun ikut menurunkan kecepatan Isla. Kemudian mereka berhenti bersama.
("Hadeuh..")
"Baik-baik. Lupakan kata-kataku barusan. Ayo kita pergi."
"Kamu....tidak jadi mengusirku?"
"Sudahlah ayo."
Wajah Eris pun perlahan kembali ceria, kemudian ia mengangguk kepala menanggapi Devan.
Devan pun kembali menghadap depan dan terbang seraya membathin.
("Cih!, penyihir ini benar-benar mempermainkan hatiku. Aneh, tidak seperti aku yang biasanya. Mengapa aku tak bisa tegas padanya?, apa aku terkena pengaruh sihir?")
Sementara Eris...
("Hiyahaha, kau benar-benar tidak berpengalaman anak manusia. Wajah wanita itu bak sihir, selama perhatian engkau mudah untukku curi, aku akan selalu bisa untuk mempengaruhi engkau. Apalagi, wajahku ini sangat cantik dan manis.")
Mereka berdua pun kembali terbang bersama, hingga setelah beberapa lama terbang bersama, akhirnya mereka sampai pada awan cumulus yang berjejer-jejer menanjak beberapa cabang.
Awan itu bisa di pijak, mereka berdua pun mendaratkan kaki di awan itu, Devan turun dari kuda terbangnya sedangkan Eris turun dari sapu terbangnya.
"Tempat ini?.... Haaa Devan, jangan-jangan tujuan kita searah."
"Memangnya kau sedang menuju ke mana?"
"Tujuanku adalah ke tanah para peri. Aku sedang mencari partner periku. Hmmm... aku khawatir padanya, sebab dia sudah lama tak kembali ke sisiku. Karena itu pula, saat ini aku tak bisa menggunakan sihir, hanya tersisa sapu terbang ini, hadiah dari periku, yang telah diberi sihir peri."
"Jadi, kau bisa melihat peri?"
"Tidak, aku tidak bisa. Bahkan aku tak pernah melihat partner periku sendiri."
"Bagaimana kau mencarinya kalau kau tak pernah melihatnya, dan kalaupun kita sampai, mungkin saja kau juga tak bisa melihat tempat tinggal para peri."
"Tapi...!", tiba-tiba intonasi Eris naik. "Tapi aku bisa mendengar suaranya, aku ingat suaranya. Aku juga sudah mengira kalau aku tak akan bisa melihat tempat tinggal para peri. Aku....aku akan berjalan-jalan di tempat kemungkinan para peri berada. Aku berfikir, mungkin aku akan mendengar suaranya lagi...di suatu tempat itu."
Devan mulai terkesima mendengar penjelasan Eris.
"Mungkin kamu berfikir aku mencarinya karena ketidakberadaannya membuatku tak bisa menggunakan sihir. Terserah kamu mau berfikir bagaimana, akupun terkadang merasa memang aku seperti itu. Tapi... aku juga merasa khawatir dengannya. Dia... dia adalah teman bicaraku yang berharga.", tambah Eris, seraya tangan kanannya menyentuh dadanya, tampak ketulusan bercampur kesedihan pada mimik wajahnya."
("Rasanya aku benar-benar ingin percaya padanya. Aku jadi ragu, bagaimana kalau aku sudah salah paham? Kalau nenek sihir tadi dan wanita ini sebenarnya adalah dua entitas berbeda.")
"Karena itu Devan, kalau kamuu...", Eris mulai melangkah sesekali ke Devan. "Kalau kamu memang punya tujuan yang sama denganku, AKU MOHON, BIARKAN AKU IKUT DENGANMU.....AH!", langkah kaki eris tiba-tiba tersandung, kemudian jatuh menabrak Devan, ia pun jatuh bersama-sama.
Devan berada di bawah Eris, tak sengaja mendekapnya dan melihat wajahnya dari dekat yang sedang memohon padanya, yang tak lama kemudian, wwajahnya perlahan memerah tersipu malu, menyadari situasinya. Ia pun segera berdiri.
"Ma..maaf.", ucap Eris bersuara agak kecil namun masih di dengar Devan. Eris agak berdiri menyamping dari Devan.
("Ternyata benar, AKU BENAR-BENAR SALAH PAHAM PADANYA.")
"Sebenarnya aku juga akan pergi ke tanah para peri. Jadi, kita bisa pergi ke sana bersama, lalu aku akan membantumu, menemukan partner perimu itu."
"Sungguh?", tampak mata eris berbinar-binar.
"Sungguh. Sebaiknya sekarang kita lanjut berjalan."
"Hm.", Eris mengangguk dengan gumam.
Devan pun mulai berjalan memimpin jalan, di atas awan cumulus yang berjejer menanjak itu.
__ADS_1
("Tujuan terkonfirmasi, dugaanku benar, dia akan pergi ke tanah para peri. Hiyahaha, bahkan aku juga sudah mendapatkan empatinya, Huh!, diriku memanglah hebat.")
Tengah malam itu, Devan berjalan di atas awan cumulus diterangi bulan yang tampak lebih dekat. Bila telah sampai pada ujung awan Cumulus, mereka melompat untuk melangkah pada jejeran awan yang selanjutnya.
Pada awan cumulus itu, di salah satu sisinya, terdapat anak perempuan kecil tengah berdiri menghadap bulan, tangan mengangkat ke atas, mengepal memekar mengepal memekar bergantian , seakan ia ingin menggapai seseuatu.
Dari belakang, rambut anak itu sepanjang bahu, berwarna kemerahan, sayapnya juga berwarna merah, tapi sepasang sayapnya kecil sebelah.
Ketika Devan berjalan agak dekat anak perempuan kecil itu, ia pun berbalik karena menyadari langkah Devan, Eris, dan Isla.
Terdapat tanduk kecil pada salah satu sisi keningnya, matanya agak sayu seperti mengantuk, namun pupil hitam matanya sangat besar, hampir menutupi bagian putih matanya, ia tampak imut sekaligus menyeramkan.
Devan segera menyudahi lirikannya agar tak mendapat masalah. Sebab ia masih ingat pesan dari Devan.
Tapi tiba-tiba.....
Anak perempuan kecil itu tiba-tiba berlari pelan melangkah kecik ke arahnya.
Devan mulai khawatir, namun ia tetap berusaha agar terlihat biasa, seolah tak melihat dan mendengar apapun.
Namun...
Anak perempuan kecil itu ternyata berlari melewatinya, hingga ke belakang.
Tiba-tiba...
"BUK!!!", terdengar suara benturan, seketika tampak anak perempuan kecil itu tengah terhempas tepat di depannya.
Devan benar-benar terkejut, matanya agak menyalak, namun ia berusaha terlihat biasa dan berjalan seperti biasa.
Anak perempuan kecil itu berdiri kembali, sembari tangan kecilnya memegang dadanya, ia bahkan tampak berdiri sempoyongan sesaat.
Kemudian anak perempuan kecil itu perlahan berlari kecil lagi seraya kedua tangannya merentang ke depan seakan mau memeluk.
Kali ini Devan nekat meliriknya lama, hingga ketika anak perempuan kecil telah melewatinya, ia berbalik tak mampu menahan rasa penasarannya.
"Eris, kau... kenapa?"
"Eeh..eee tidak apa-apa, pahaku rasanya agak gatal."
Tampak anak perempuan kecil itu tengah memeluk kaki Eris. Namun Eris, menarik-narik rambut anak perempuan kecil itu sangat kuat dan kejam.
("Lepaskan pelukanmu, anak iblis!,")
Timbul rasa panas pada hati Devan, walau begitu, Devan berusaha seakan tak melihat apapun.
"Devan, bisakah kamu menghadap ke depan. Ini agak memalukan."
Kali ini Devan merasakan betapa jeleknya akting Eris, bahkan senyumnya sangat kaku. Jantung Devan, tak lagi berdetak kencang mendengar kata-katanya.
"Oh baiklah."
Saat Devan berbalik perlahan.....
"TAS!!!", terdengar suara gamparan di telinga Devan.
Seketika Devan berhenti berbalik. Ia melirik anak perempuan itu terhempas kuat hingga di ujung sisi awan. Bahkan Devan sempat berfikir bila anak itu sampai terjatuh ia tetap akan melompat menyelamatkannya.
Anak itu pun masih berusaha bangkit. Namun ia tampak lemah. Ia hanya mampu terduduk, sembari masih menatap Eris dengan mata yang lesu.
"Devan?...", panggil Eris yang melihat Devan berhenti berbalik.
"Dari sini... awan tampak dekat ya...", ucap Devan seraya menengadahkan kepalanya ke atas.
"Hm. Yaa."
Devan pun kembali menghadap ke depan. kali ini ia tak mampu menyembunyikan ekspresinya. Matanya menyalak, hingga wajahnya merah padam.
("BODOHNYA AKU, KARENA SEMPAT MEMPERCAYAIMU!!!")
__ADS_1
Saat itu..... tanpa disadari, Eris telah kehilangan hormat, pesona, empati, serta semua perasaan yang ia perjuangkan, dari Devan.
***