Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 48: 3 Lawan 1


__ADS_3

Istan bersama lainnya telah melewati badai petir yang menyegel Lembah Sei Roja dari dunia luar. Langit pagi pun kembali tampak, setelah mereka terus berjalan meninggalkan awan-awan hitam di belakang.


Kini mereka melihat dengan jelas bagian Lembah Sei Roja yang sebelumnya tersembunyi di balik gelapnya badai. Dinding-dinding tebing yang menjulang agak jauh di kiri-kanan, yang sebelumnya tak terlalu tampak di mata.


Kemudian Ruas jalannya sangat lebar membentuk satu jalur di hadapan mereka yang ujungnya masih belum kelihatan, di sepanjang jalurnya pun terdapat pilar-pilar yang tersebar di beberapa titik berdiameter tebal dan menjulang tinggi ke atas.


Meski begitu, jalurnya tak benar-benar lurus. Sedikit berbelok-menyerong mengikuti dinding tebing yang membatasi tepiannya.


Istan memimpin jalan dengan langkah penuh keyakinan. Dirinya sudah tahu kemana hendak melangkah. Disini jejak magus Devan begitu terasa, tidak hanya olehnya, namun oleh Maia dan Meghan juga.


("Ini... ")


Istan mulai merasakan kejanggalan, barangkali yang lain juga. Dirinya merasakan tidak hanya satu jejak magus yang kuat.


Mereka terus berjalan menaiki salah satu jalur tebing dengan jalurnya yang memutar. Namun mereka tidak menanjakinya, melainkan langsung terbang memotong jalur pendakian.


Hingga ketika berada pada ketinggian tertentu, serentak mereka merasakan sedikit ketidaknyamanan. Walau begitu tak sedikitpun mereka terganggu, kecuali sekedar menyadari bahwa ada hal yang mengganggu mereka.


Dan sesaat setelahnya, barulah mereka sampai pada dataran datar yang luas, yang pada lingkaran tepiannya berdiri berjarak tiang-tiang lampu yang tidak menyala.


Saat itu, pandangan mereka langsung tertuju pada seorang manusia berpakaian hanfu serba hitam, berdiri memandang mereka yang tiba-tiba muncul dari tepian tebing yang curam.


"Hoooh... Sepertinya ada manusia tak biasa, yang matanya mampu melihat keberadaan kita.", Ucap Istan Seketika.


....


Dan manusia itu tak lain adalah Zivan, yang melihat mereka dengan mata terbuka lebar bersama perasaan kagetnya yang luar biasa. Itu karena Zivan kenal betul, semua yang ada di hadapannya.


("Istan... Meghan... Maia... Raven??")


....


"Engkau... Siapa?", Istan mencoba bertanya, setelah kakinya mendarat pada tanah datar tebing itu.


"Kenapa kalian bisa sampai kemari?", Zivan bertanya balik.


Zivan menatap tajam Istan yang tepat di hadapannya. Namun mimik wajahnya tak dapat menyembunyikan kecemasan yang ada di hatinya.


"Jangan bertanya balik!, Manusia!. Tentu saja kami bisa sampai kemari. Ku ulangi!, Siapa kau?, mengapa bisa melihat kami?"


"Apa yang terjadi pada Sachiel?"


Raven yang berdiri paling belakang pun menjawab pertanyaan Zivan,


"Ooh, jadi kau mau tahu keadaan si malaikat putih, baiklah aku beritahu. Dia... Tidak baik-baik saja lhoo. Hee.",


Raven memahami perasaan manusia yang ada di hadapannya itu, karena itulah ia mencoba memainkan perasaan Zivan dengan jawaban dan senyuman sinis.


Tangan Zivan menggenggam kuat, ia berada dalam dilema.


Sedari tadi ia sudah menyadari kedatangan sekelompok entitas kuat yang mengarah ke arah dirinya itu. Karena itulah dirinya turun, mencegah mereka naik lebih tinggi.


Segala pemandangan yang ada di halaman kediamannya, sebenarnya adalah sesuatu yang tak boleh di biarkan para fallen angel tahu.


Tapi saat ini dirinya begitu mencemasi Sachiel. Dirinya hendak menyusul Sachiel, namun di saat yang sama, tak bisa ia biarkan Istan dan lainnya melewati batas ini.


"Engkau....", Istan menahan kalimatnya, tiba-tiba tatapan matanya yang mengarah ke Zivan menajam. "... Reinkarnator Fallen Angel, kan?!", lanjutnya.


Ketiga kelompok Istan lainnya cukup tercengang mendengar ucapan itu. Zivan sendiri tampak biasa, dirinya sudah menduga cepat atau lambat mereka pasti menyadarinya.


"Dimana Devan?, Engkau pasti tahu sesuatu?"


Zivan masih diam. Pikirannya masih menilai situasi. Dia mengerti betul, entitas di hadapannya itu, hampir mustahil untuk dirinya mengelabui.


("Jejak magus kuat yang lain yang kurasakan selama ini, tak salah lagi, dialah pemilik magus ini. Apalagi, magusnya memiliki warna sama dengan jejak milik Devan.")


Disaat yang sama, pikiran Istan pun juga bekerja, mencoba melakukan deduksi pada setiap pengetahuan yang ia peroleh sepanjang perjalanan tadi


("Pertanyaan besarnya adalah, siapakah dia di masa lalu?")


Istan tiba-tiba tersenyum tipis ke arah Zivan.


"Sepertinya engkau banyak membantu Devan selama ini.", Istan mengeluarkan senyum jahatnya.


Sementara Zivan, setelah menilai tingkah laku Istan, dirinya jadi kehilangan kepercayaan diri untuk mengelabui.


"Ya. Aku telah banyak membantu dirinya selama ini. Hm!, kalian terlambat. Dia sudah tidak ada di sini."


("Sudahlah. Dia tidak mudah dikelabui.")


"Hoi!", dari belakang, tiba-tiba Meghan menyahut dan secepat kilat mendadak maju, meninggalkan retakan kecil pada titik pijakan kaki kanannya yang tadi.

__ADS_1


"PUM!", sebuah tinjuan berselimut petir meluncur deras, mementalkan Zivan agak jauh ke belakang.


"Bosku tidak bertanya 'dia ada disini atau tidak', tapi bosku bertanya 'dia dimana'. Sepertinya perlu sebuah tinjuan untuk membuatmu sedikit pintar, manusia bodoh!"


Zivan mengibas-ngibas lengan kanannya akibat menangkis tinjuan Meghan. Untungnya lengan Zivan hanya sekedar berasap, tidak sampai memerah.


("Bos?.... Begitu ya. Jadi Istan adalah pimpinan Delbora saat ini.")


"Bodoh!... bisa-bisanya engkau berfikir kalau aku akan memberitahu hal itu. Jangan-jangan, kalian menilai diri kalian tinggi?, wahai entitas rendahan.", keluarlah seketika keahlian provokasi Zivan. Kali ini, dirinya percaya diri akan efektivitas perkataannya sendiri.


"Ya. Kami memang menilai diri kami tinggi. Masalah buatmu!?" Dan benar saja. ISTAN TERPROVOKASI!


Dengan cepat Istan menggerakkan tangannya, mencengkeram ke depan lalu ia sentak tarik lengannya ke belakang.


Zivan yang berada di kejauhan seketika tertarik secepat angin melewati Meghan menuju ke arah Istan yang telah siap mengepalkan sebuah tinjuan.


Meghan yang menyadari niat Istan tak melakukan apapun saat Zivan tertarik cepat melewati dirinya, tapi Zivan seketika dengan cepat memutar tubuhnya di udara, memanfaatkan kecepatan tarikan guna menerjangkan sebuah tendangan ke arah wajah Istan.


Naluri Istan bekerja saat mereka sama-sama dalam jangkauan, seketika ia condongkan tubuhnya ke belakang hingga rendah, mengelakkan tendangan, sembari melemahkan kepalannya yang tadinya hendak ia lepas ke wajah Zivan.


Sayangnya serangan Zivan tidaklah berhenti di situ. Giliran kaki lainnya Zivan mengangkat selagi di udara, hingga ujung tumitnya melebihi tinggi kepalanya, kemudian ia dorong kaki itu ke bawah menghentakkan Istan di atas tanah.


"PUMB!", Istan terhempas jatuh di tanah, begitu kuat hingga mementalkan pecahan-pecahan tanah ke udara.


Hentakan kaki Zivan memang dengan telak mengarah ke Istan, namun sedikitpun Istan tak menerima dampak serangannya.


Zivan langsung sigap mendaratkan kaki dan langsung bergerak menyamping mundur menjaga jarak antara Istan dan Meghan di kedua sisinya.


Zivan tak tampak kaget dengan hasil dari serangannya tadi. Dari awal Zivan sudah mengetahui, ada barier gravitasi di sekitar tubuh Istan, yang mencegah setiap serangan untuk menyentuh tubuhnya.


Istan secepatnya kembali berdiri, hingga tak sedetik dirinya jatuh.


("Dia, membaca gerakanku.", Istan membathin.)


Istan langsung cepat-cepat berlari ke arah Zivan membawa perasaannya yang agak kesal. Sementara Meghan di sisi lain, ia masih diam memerhatikan menunggu timing untuk memutuskan bergerak....


Tatkala Istan telah sampai menjangkau Zivan untuk menyerang...


"Siuuw!!", seketika sampailah Meghan dengan lengan yang dijalari elemen petir, bersiap melepas tinjuan dari sisi Zivan yang lain.


Zivan bergeming padahal dirinya terancam serangan dari dua sisi, tapi mimik wajahnya biasa seakan dirinya telah tahu pola serangan yang mereka lancarkan.


Karena itulah... tanpa disangka Istan dan Meghan mulai terperosok ke depan, setelah merasakan kaki mereka disengkang sesuatu.


Kecuali Istan, dalam kejadian lambat dirinya memang tengah terperosok di udara menuju kejatuhan ke atas tanah, namun serangan Istan tidaklah sesederhana seperti yang Zivan kira.


Kepalan tinjuan Istan mengandung gaya tarik, saat itu bukanlah tinjuan Istan yang menuju ke wajah Zivan, melainkan wajah Zivanlah yang mengejar sendiri ke tinjuan Istan.


Sehingga dalam kejadian normal...


"BHUK!!! - PHUM!!!", Zivan menerima tinjuan telak Istan, ketiganya pun sama-sama terhempas jatuh. Semua itu terjadi begitu cepat dan singkat.


Zivan yang terseret segera mengatur posisi dan mencoba mengambil keseimbangannya kembali, tapi kali ini dirinya tak tegak berdiri.


Tangannya memegang pipi dekat sudut bibirnya yang lebam sembari bernafas berat menahan rasa sakit dari pukulan Istan.


Tapi yang terparah tetaplah Meghan yang terhempas paling jauh sampai menghantam dinding tebing di hadapannya.


Meghan begitu terkejut tak menyangka akan situasi yang menimpa dirinya. Ia mengingat bagaimana mimik wajah Zivan ketika barusan sesaat dalam jangkauan serangnya.


("Manusia itu,,, bagaimana dirinya masih bisa setenang itu?, seakan dirinya sudah tahu apa yang akan kami berdua lakukan. ")


Sementara Istan, dirinya masih tak tersentuh akibat gaya tolak di sekujur tubuhnya yang berfungsi sebagai barier yang melindungi dirinya dari serangan luar.


Seperti tadi, dirinya langsung kembali bangkit hingga tak sedetik dirinya tersungkur.


("Tak bisa dipercaya. Yang seperti tadi, sudah tak bisa dibilang membaca gerakan. Dia...."), Istan memilih untuk tak meneruskan pemikirannya.


Dirinnya melihat sebuah lubang tanah yang baru terbentuk, dari titik ia dan Meghan tersandung. Saat itu, sebenarnya Istan sedikit mencurigai sesuatu, tapi karena faktor tertentu, kali ini dirinya tak mempercayai kecurigaannya sendiri.


Istan kemudian melihat Zivan yang wajahnya perlahan-lahan menyembuh dengan sendirinya.


"Sudah kuduga, engkau manusia separuh malaikat jatuh."


"Karena itulah ini tidak akan ada habisnya. Aku tak bisa mengalahkan kalian, dan kalian pun takkan bisa mengalahkanku. Jadi sebaiknya kita henti....."


"Siuw!!", dengan cepat Meghan berpindah ke hadapan Zivan.


"Tidak bisa mengalahkanmu engkau bilang?. Yang benar saja!, Jangan cepat besar kepala engkau manusia!, kami masih menahan diri.", ucap Meghan tenang namun penuh tekanan.


Saat itu, terlukis senyum jahat dari bibir Istan yang memperhatikan Meghan dan Zivan berhadapan. Dengan raut wajah jahatnya itu, dia melirik ke arah Maia yang berdiri di sisi lain sembari menyebut namanya...

__ADS_1


"Heheha, Maia......"


Dan Maia pun langsung memainkan kemampuannya....


....


"Berakhir sudah, manusia!"


Lengan petir Meghan pun menunjam menuju pipi Zivan dengan setengah kekuatan. Hingga ketika beberapa centi lagi tinjuannya mengenai Zivan, seketika waktu dinormalkan.


"PUM!!", permukaan dinding tebing seketika meretak, akibat beriak angin yang terdorong oleh tinjuan Meghan.


Itu karena Zivan dengan sangat gesit mencondongkan kepalanya ke belakang sehingga tinjuan Meghan yang deras itu lewat di depan wajahnya.


"APA!!!"


Istan, Maia, dan Meghan seketika bergeming di tempat. Tampak raut wajah mereka begitu tak percaya bahwa seorang manusia baru saja menghindari tinjuan Meghan yang berjarak beberapa centi dari wajahnya.


Akan tetapi, seharusnya Zivan mustahil untuk menghindari serangan yang tak dapat ditangkap oleh indera kemanusiaannya itu, kalau bukan karena pengalaman dari insting kehidupan masa lalunya, yang menggerakkan dan menyelamatkan dirinya dari kekalahan instan.


Namun gerakan hindaran itu, benar-benar menghabiskan seluruh oksigen yang ada di paru-parunya. Ia bahkan harus melompat salto mundur dua kali untuk menjauhkan diri dan memberikan kesempatan dirinya bernafas panjang.


Walau begitu, tidak sama sekali Zivan mengalihkan perhatiannya pada mereka. Dilihatnya Maia yang tahu-tahu berada di dekat Meghan.


Hanya dengan sekali lihat, Zivan langsung tahu bagaimana skenario serangan mereka, berbekal pemahaman terhadap kemampuan magus elemen waktu yang dirinya punya.


- Salah satu kemampuan pemilik magus elemen waktu, adalah mampu menghentikan waktu dan bergerak ketika segala hal berhenti. Dan syarat untuk membuat entitas lain bergerak ketika magusnya aktif, adalah dengan melakukan kontak fisik. -


'Karena itulah mengapa tiba-tiba Maia berada dekat dengan Meghan. Maia harus menyentuh Meghan, menyalurkan magusnya agar Meghan dapat bergerak pada waktu yang terhenti.'


- Ketika entitas bergerak bebas dalam waktu yang terhenti, tak ada apapun perubahan yang bisa ia perbuat kecuali pada dirinya sendiri. Segalanya membeku, termasuk energi. -


'Karena itulah, Maia harus menormalkan waktu dengan timing yang pas, ketika Meghan melepaskan energi penghancur ke arah Zivan, dengan tujuan memperpendek jarak serang agar mematikan kesempatan menghindar.'


- Dan pengguna magus tidak dapat selalu memainkan kemampuannya, ada interval waktu untuk mereka dapat memainkannya kembali. -


'Karena itulah, dirinya punya kesempatan untuk memulihkan diri, selagi Maia dalam waktu dimana ia belum bisa memainkan kemampuannya sendiri.'


Begitulah pemahaman dalam benak Zivan.


Tiba-tiba....


Diri Zivan terdorong dan tertarik laju ke arah Istan yang berada di belakang Maia dan Meghan.


"Phuk!! -Bhum!!", tinjuan kuat Istan menghujam dari atas ke wajah Zivan, menghempasnya kuat ke bawah.


"Aku melihatnya lhoo. Engkau tampak kelelahan setelah menghindari serangan Meghan barusan. Heee", ucap Istan yang masih membungkuk dengan tangan mengepal ke arah bawah, dirinya tersenyum puas, setelah mendapati dugaannya benar.


Pada akhirnya, pemahaman Zivan tentang elemen waktu tak cukup untuk mengamankan dirinya. Ia masih sangat kelelahan, setelah sekali menghindari elemen yang dianggap sebagai elemen magus terkuat itu.


Tapi sama seperti yang lain, Zivan pun juga menahan diri. Sedari awal, dirinya belum terang-terangan menggunakan kemampuan magusnya di hadapan ketiga fallen angel itu.


"Entitas rendahan engkau bilang? Hah!, simpan saja celaan itu untukmu sendiri. Tanah adalah tanah, sekuat apapun engkau, tetap saja tempatmu di bawah. Lihat!, engkau terlihat cocok tergeletak di atas tanah. Hahahaha!"


Istan pun menegakkan dirinya dan dengan pongahnya menertawakan Zivan yang tergeletak tepat di depan kakinya.


Dada Zivan terasa panas, harga dirinya tak terima, dirinya begitu terhina mendengar ucapan dan sikap Istan yang kelewat batas.


Dan tiba-tiba....


"BHUURRR!!!", keluar batang-batang tumbuhan bercabang tajam yang mengejutkan semuanya di sekitar Zivan.


Hampir saja tumbuhan itu mengenai Istan bila tak cepat ia melompat menjauhi Zivan.


Zivan pun berdiri tegak diantara batang-batang tumbuhan itu, sembari matanya melotot ke arah Istan dengan rasa amarah.


"Baiklah kalau itu yang engkau mau, Istan!. Majulah!, Aku tidak akan menahan diri lagi."


Raven yang belum tahu apa-apa memandangi kejadian itu seperti biasa. Tapi bagi Meghan, Maia, dan Istan, kejadian itu sungguh mengejutkan mereka sehingga sontak membuat mereka terdiam sesaat.


Sesuatu yang sedari awal hendak Zivan sembunyikan, akhirnya keluar juga akibat terpancing oleh kata-kata pedas Istan.


Dalam keheningan yang sesaat itu, tiba-tiba Istan....


"Ahahaha... Hahaha... Hahahaha... Hahahahaha"


("Dia menyebut namaku, bagaimana dia tahu namaku?...... Sekarang semuanya jelas.")


Segala pertanyaan dan pemikiran yang daritadi tak selesai dalam benak Istan, seketika semua terjawab.


"SIALAAAN!, ENGKAU BENAR-BENAR MENGELABUIKU, GURU!"

__ADS_1


***


__ADS_2