Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 16: Menuju Lembah Sei Roja


__ADS_3

Di Kota Avalon....


Beberapa saat telah berlalu semenjak kepergian Devan, Morgan, dan Julian dari kota. Sedangkan Aslan, masih berdiri dari samping dekat sisa-sisa puing jet yang apinya masih berkobar, sorot matanya serius memandang ke dalam kobaran api, seakan tengah keras memikirkan sesuatu.


Aslan kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya untuk kembali menuju kota. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, datang dari arah depannya sebuah mobil SUV berwarna hitam menuju ke arahnya, membuat Aslan menghentikan langkahnya.


Mobil itu kemudian berhenti tepat di depan Aslan, lampu depannya menyilaukan, namun Aslan sama sekali tak terganggu dan tetap berdiri tegak seperti biasa.


Kemudian keluar seorang pria dari dalam mobil tersebut. Pria itu seperawakan dengan Aslan, namun agak lebih muda. Rambutnya pendek berwarna coklat, terdapat garis wajah di bawah matanya sehingga membuatnya terlihat berkharisma. Ia mengenakan jaket tebal abu-abu panjang ke bawah hingga paha, serta celana panjang hitam.


"Apa yang membuat seorang penasihat raja sampai turun dari istana?, datang kemari tanpa ada satupun pengawal.", tanya Aslan setelah melihat pria itu keluar.


Pria itu kemudian melangkah, berdiri, lalu bersandar tepat di depan mobilnya.


"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu kepada anda. Apa yang anda lakukan di sini sendirian?, tepat di dekat puing jet perang yang jatuh itu.", tanya balik pria itu.


Pria itu pun melipat kedua tangannya di depan dada. Lampu mobil yang menyala terang menyilaukan Aslein, serta nada pertanyaan yang dilontar pria itu membuat Aslan merasa seperti sedang diinterogasi.


"Kedua jet itu jatuh di kawasan jalur yang sangat penting bagi Avalon City. Sebagai walikota, saya harus memeriksa dan memastikannya sendiri, apa yang sebenarnya terjadi di tempat kejadian perkara. Anda tahu betul, Tuan Catra, bahwa perihal ini saya sangat tegas."


Keadaan hening sesaat.


"Ya, saya tahu.", ucap pria bernama Catra itu. "Jadi, apa anda menemukan sesuatu?. Misalnya, bagaimana kedua jet itu bisa meledak?.", tambahnya sambil menatap Aslan curiga.


"Itu juga yang ingin saya tahu. Namun, saya juga tidak menemukan petunjuk mengenai soal itu.", jawab Aslan.


"Oh ya?. Sebelum sampai kemari, saya juga melihat semua jalan menuju arah barat terhalang oleh mobil-mobil prajurit yang sudah mengalami kerusakan dan tak bisa bergerak.", ucap Catra masih dengan tatapan curiganya.


"Lalu?."


"Sedangkan target prajurit pemerintahan sedang berlari menuju arah barat."


"Kenapa anda menceritakan itu kepada saya?, Tuan Catra."


"Bukankah itu kejadian yang anomali sekaligus mencurigakan, Tuan Aslan?. Siapa yang mampu menutup jalan menuju barat dalam waktu yang bersamaan?, bagaimana caranya?. apa itu sebuah kebetulan?."


"Benarkah?. Saya tidak tahu ada kejadian semacam itu. Barangkali Tuan Catra saja yang terlalu banyak berfikir. Saya yakin itu sebenarnya kejadian biasa yang terlalu dicurigai.", ujar Aslan dengan tenang.


"Dan juga, target itu diketahui awalnya berada di kantor anda. Sedangkan prajurit tidak diperkenankan masuk untuk melakukan penyergapan hanya karena tidak diberi izin oleh anda selaku pihak yang berwenang, Tuan Aslan."


"Saya hanya menjalankan peraturan, setiap kantor pemerintahan memiliki kebijakan yang harus ditaati, dan saya pun sebelumnya tidak menyangka kalau benar-benar ada penyusup menyelinap dalam kantor saya."


"Peraturan konyol!. Setiap divisi pemerintahan menjadi tidak sinergis semenjak ada peraturan itu."


Mereka berdua berdiri diam sejenak. Catra kemudian melihat kedua arah jalur trans, namun tak satupun ia lihat kendaraan logistik keluar-masuk. Catra pun maju beberapa langkah, mendekat ke hadapan Aslan.


"Tuan Aslan, anda tidak sedang membodohi saya, bukan?.", Catra semakin curiga.


Aslan pun menyadari, pergerakannya mulai terbaca di mata Catra. Ia pun membalas menyerang Catra.


"Tuan Catra, saya rasa sikap skeptis anda sudah berlebihan. Bukankah anda sudah bukan lagi seorang kepala keamanan kerajaan?. Sebaiknya anda bekerja sesuai bagian anda, seorang penasihat raja, yang kedudukannya bahkan lebih tinggi dari jabatan anda sebelumnya."


Catra merasa terganggu dengan kalimat Aslan. Tak lama kemudian, mulai berdatangan beberapa mobil pemadam kebakaran, dan berhenti diantara mereka.


"Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium, Tuan Aslan.", ujar Catra. Ia pun mundur beberapa langkah dan berbalik berjalan menuju mobilnya


("Mantan kepala keamanan kerajaan memang tajam seperti biasa.", ujar Aslan dalam hati.)


Tiba-tiba Catra berhenti tepat di depan pintu masuk mobilnya, dan menoleh menghadap Aslan.


"Oh iya Tuan Aslan, apakah anda tidak bertanya-tanya, bagaimana para prajurit mengetahui, kalau seorang kriminal yang dicari, berada di kantor walikota?."


***


Beberapa jam kemudian.....


Devan terbangun dari tidurnya. Ia membenarkan posisi duduk, dan melihat langit yang masih gelap.


"Berapa jam aku tertidur?.", celetuk Devan sendiri.

__ADS_1


"Devan, kau bangun?. Kau tidur kurang dari empat jam. Ini masih tengah malam.", tanggap Julian.


"Bisa-bisanya kau tidur, Devan. Padahal kau bilang sedang lapar.", timpal Morgan yang tengah mengemudi.


Devan pun menoleh ke arah makanan dan minuman di sisinya, dan mengambil beberapa makanan dan minuman untuk ia makan. Ia menikmati makanan tersebut, sambil bersandar dan memandangi pemandangan langit gelap malam di gurun.


Sudah tak ada lagi rumah-rumah di tepi jalan, dan juga jejeran lampu tiang yang menerangi jalan raya. Hanya lampu dari mobil mereka yang menerangi jalan malam itu.


Hingga di suatu sudut pandangan Devan, agak jauh ia melihat sebuah keramaian yang riuh kebisingannya sampai ke telinga.


"Apa itu?, Pasar malam?, kenapa ada festival di tengah malam?.", tanya Devan seketika menegakkan duduknya.


Devan melihat serangkaian cahaya terang yang tampak menerangi sebuah area, terlihat tenda-tenda jualan berjejer rapi bahkan terlihat bagian atas tenda circus yang tinggi dan besar dari kejauhan.


Namun, Mobil yang di kendarai Morgan tidak berhenti, serangkaian cahaya terang itu kemudian perlahan semakin jauh ke belakang, Devan yang sebelumnya hanya menoleh ke samping, kini harus berbalik badan ke belakang agar tetap dapat melihat hal itu.


"Kau bisa melihatnya?, hanya makhluk setengah gila yang berpesta di tengah malam, apalagi di tengah gurun seperti ini.", ujar Morgan.


"Kau jangan sekalipun mendekat apalagi sampai masuk ke sana.", timpal Juliann kepada Devan.


"Kenapa?."


"Sebab di sana kau akan sendirian. Apalagi kau yang sekarang adalah seorang manusia, kemungkinan kau bisa celaka."


Devan merasa bingung mendengar jawaban Julian.


"Sebenarnya aku tidak pernah ke sana. Aku pun juga diberi tahu. Tapi, bila suatu saat kau terjebak atau terpaksa berada di sana, ingatlah untuk tidak mengangkat pandanganmu."


"Tidak mengangkat pandangan?."


"Maksudnya kau harus bersikap seperti tidak melihat apa-apa.", Morgan menjelaskan.


"Begitu.", tanggap Devan.


("Aku justru jadi penasaran. Rasanya terlalu banyak yang aku tidak tahu tentang dunia ini.", ujar Devan dalam hati.)


Devan kemudian selesai dengan makan-minumnya. Makanan dan minuman di sampingnya masih tinggal beberapa. Bekas bungkus roti dan snack yang telah habis, ia taruh ke bawah dekat kakinya.


Malam itu suhu udara sangat dingin, suhu yang ekstrim bagi manusia. Namun bagi Devan, ia tak merasa kesulitan dengan suhu saat itu, justru ia tampak menikmatinya.


Devan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. kemudian tak sengaja meraba sebuah kantong kecil dari Luna yang berada di saku kiri. Ia pun mengeluarkannya. Kemudian terdapat sebuah kertas kecil yang ikut tergenggam keluar bersama kantong kecil itu.


Devan memindahkan kertas kecil itu di tangan kanannya. Ia membuka lipatan kertas dan terdapat catatan di baliknya. Catatan itu agak sulit dilihat sebab gelap, namun Devan masih bisa melihat goresan pena hitamnya.


~ 'Jangan sampai terbuka tali ikatannya, isinya tak boleh tumpah walau sedikit, agar Morgan dan Julian dapat membantu dengan kekuatannya. Dan rahasiakan barang ini dari yang lainnya.' ~


("Sepertinya Aslan yang menulis ini.", pikir Devan.)


Devan pun memasukkan kembali catatan beserta kantong kecil itu ke saku jaketnya seperti semula, dan kembali bersandar seperti biasa.


***


Tiga malam telah berlalu semenjak Devan, Morgan, dan Julian meninggalkan Avalon CIty. Sebelumnya mereka selalu mengemudi secara bergiliran hampir tanpa berhenti kecuali hanya sebentar.


"Sepertinya kita sudah dekat dengan tujuan.", ucap Julian yang saat itu gilirannya mengemudi.


Sore itu mereka baru saja sampai di daerah dataran perbukitan. Sesekali mobil mereka berjalan menanjak. Di sisi kiri jalan terdapat tebing yang lumayan tinggi, sedangkan di sisi kanan adalah jurang yang dibatasi dengan pembatas jalan.


"Melihat kondisi geografinya seharusnya ngarai yang kita tuju berada di kawasan dataran ini.", tambah Julian.


"Sebaiknya kita bertanya lagi bila kita berpapasan dengan orang di sekitar sini.", ucap Devan yang duduk di belakang.


"Nah itu di depan ada beberapa orang yang tengah bersepeda. Coba kau tanya mereka, Devan.", ucap Morgan.


Julian yang mengemudi kemudian mendekati dan berjalan sejajar dengan para pesepeda yang bersepeda di tepi jalan.


"Permisi kalian, bolehkah berhenti sebentar?, ada yang ingin aku tanyakan.", ujar Devan.


Ternyata para pesepeda itu adalah tiga remaja lelaki. Mereka kemudian berhenti, sesaat ketiga remaja itu memandang mobil dengan pandangan kagum.

__ADS_1


"Waah!, mobilnya bisa mengemudi sendiri. Kakak, apa kau berasal dari kota Avalon yang modern itu?.", tanya seorang remaja lelaki kepada Devan.


"Oh.. Iya. Aku berasal dari kota itu. Dan ini adalah mobil model terbaru yang bisa menyetir secara otomatis.", ujar Devan mengarang.


"Kereeeen!.", decak salah satu lelaki remaja yang lain.


"Sudah kuduga kakak ini berasal dari sana.", ujar lelaki remaja lainnya.


"Apa kalian tahu di mana Lembah Sei Roja?.", tanya Devan.


"Lembah Sei Roja?.", Ucap salah satu remaja lelaki, mereka saling pandang.


"Dua persimpangan lagi di depan, nanti kakak pilih jalan yang menurun, itu arah menuju Lembah Sei Roja."


"Masih jauhkah bila dari sini?."


"Lembah itu masih cukup jauh kalau dari sini. Tapi karena kakak naik mobil mungkin jaraknya tak terlalu jauh."


"Kemungkinan malam baru akan sampai, mungkin juga ketika sore menjelang malam baru akan sampai."


"Oh begitu.", tanggap Devan.


"Kau ada urusan apa kak, pergi sendirian ke Lembah itu?.", tanya salah satu remaja lelaki.


"Ya. Apa jangan-jangan, kau bisa memasuki lembah itu, kak?.", tambah remaja yang lain.


"Hm?. Memangnya sulit memasuki lembah itu?.", Devan heran.


"Bukan sulit, tapi tidak sembarang orang bisa memasuki lembah tersebut."


"Para penduduk desa bilang, konon di sana merupakan tempat para dewa bertapa dan mengasingkan diri dari dunia. Hanya manusia berhati luas dan tak terikat dunia saja yang dapat memasuki lembah itu."


"Ya. Dan kalau ada orang yang tak memenuhi persyaratan memaksa masuk, ia akan tersambar petir dan mati di tempat. Sudah beberapa orang yang mencoba masuk, ada yang ditemukan mati, lalu ada yang tak diketahui kabarnya."


"Hooh. Ternyata ada juga cerita karangan seperti itu.", celetuk Julian.


"Devan, coba kau tanyakan, apa sudah ada manusia yang bisa memasuki dan keluar selamat dari lembah itu?.", ujar Morgan.


"Jadi, apa ada orang yang berhasil masuk dan keluar dari lembah itu?.", tanya Devan.


Mereka bertiga kembali saling memandang sejenak.


"Aku tidak tahu.", jawab salah satu lelaki remaja.


"Ayahku dulu pernah bercerita, dulu sebelum aku lahir pernah ada seseorang yang keluar dari lembah itu, tapi kemudian ia kembali lagi pergi menuju lembah."


"Iya kah?.", tanya lelaki remaja sebelumnya yang tidak tahu.


"Hey, aku merasa pernah mendengar hal itu, kalau tidak salah dia juga berasal dari desa kita.", ujar remaja lelaki lainnya.


Devan hanya melihat mereka yang malah sibuk berbicara sendiri.


"Baiklah, kalian. Kalau begitu aku akan berangkat.", ucap Devan.


"Eh, kau yakin kak, akan menuju ke sana?."


"Ya, aku akan kesana. Dan juga, terima kasih untuk yang tadi."


"Oke, kak. Sama-sama, hati-hati di jalan."


Mobil kembali berjalan mengikuti arahan jalan yang diberikan oleh para lelaki remaja tadi.


"Morgan, Julian. Kalian yakin perjalanan di depan aman untuk kita?", tanya Devan.


"Haha, Hoey Devan, kau serius menanggapi cerita bocah manusia tadi?.", Morgan berujar sambil tertawa kecil.


"Cerita urban yang beredar tidak sepenuhnya salah, bisa jadi ada yang benar dari cerita itu.", ujar Devan.


"Ya, Kalaulah memang cerita itu benar, aku dan Morgan adalah fallen angel, dan kau juga setengah fallen angel, jadi tak mungkin kita mati semudah itu.", ucap Julian.

__ADS_1


Devan hanya mendengarkan dan tak lanjut menanggapi.


***


__ADS_2