
Dini hari tadi, di Kota Avalon...
Morgan dan Julian telah daritadi pergi dari ruang meninggalkan Aslan sendirian. Ia duduk termenung sambil menyandar pada sebuah kursi.
Pandangan matanya menembus ke balik dinding kaca lebar, yang menampakkan kota Avalon dari ketinggian, tapi sebenarnya ia tidak benar-benar memandangi kota. Ia larut dalam lamunan, banyak hal yang telah terjadi, pun banyak pula yang baru ia ketahui, semenjak saat itu.....
.....
Empat malam yang lalu di Kota Avalon, malam dimana Devan baru saja melarikan diri dari Kota Avalon.
....."Tuan Catra, saya rasa sikap skeptis anda sudah berlebihan. Bukankah anda sudah bukan lagi seorang kepala keamanan kerajaan?. Sebaiknya anda bekerja sesuai bagian anda, seorang penasihat raja, yang kedudukannya bahkan lebih tinggi dari jabatan anda sebelumnya."
Catra merasa terganggu dengan kalimat Aslan. Tak lama kemudian, mulai berdatangan beberapa mobil pemadam kebakaran, dan berhenti diantara mereka.
"Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium, Tuan Aslan.", ujar Catra. Ia pun mundur beberapa langkah dan berbalik berjalan menuju mobilnya
("Mantan kepala keamanan kerajaan memang tajam seperti biasa.", ujar Aslan dalam hati.)
Tiba-tiba Catra berhenti tepat di depan pintu masuk mobilnya, dan menoleh menghadap Aslan.
"Oh iya Tuan Aslan, apakah anda tidak bertanya-tanya, bagaimana para prajurit mengetahui, kalau seorang kriminal yang dicari, berada di kantor walikota?."
"Hm?", Aslan tercengang sesaat lalu membathin,
("Benar juga, bagaimana prajurit mengetahui kedatangan Devan?. Padahal ketika dia datang, dalam sekejap kota ini menjadi kota mati.")
"Karena Tuan Catra bilang begitu, saya jadi kepikiran. Kalau boleh saya tahu, bagaimana?"
"Mungkin anda takkan percaya, saya mendengar suara di telinga saya, suara itu bilang begini; 'Muridmu tengah bertemu dengan Aslan, di gedung yang kacanya paling besar'. Karena itu, aku meminta pada Tuan Putri Olivia, agar mengerahkan prajurit menuju Kantor Walikota."
"Suara itu....siapa??"
"Entahlah, tak penting itu siapa. Pada faktanya perkataannya terbukti, dia memang ada di sana, dan anda menurut penilaianku, sepertinya berusaha melindunginya."
Aslan agak sedikit terpancing, ia menggenggam kepalan tangannya kuat-kuat, dan Catra pun menyadari sedikit reaksi Aslan.
"Tenang saja, seperti kata anda, saya sekarang adalah penasihat raja, tak bisa banyak berbuat, tapi, kejadian malam ini pasti akan sampai pada telinga Tuan putri."
Catra pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai berkendara. Mobilnya maju ke depan, berhenti sesaat tepat di sisi Aslan, kaca pintu mobil terbuka, lalu Catra kembali bicara,
"Oh iya, alasan saya memberitahu Anda, itu juga petunjuk dari suara yang saya dengar, suara itu juga meminta saya untuk memberitahu hal ini, 'Aslan pasti mengerti', katanya."
Aslan pun memutar badannya menghadap Catra, dari kaca mobil yang terbuka, ia berusaha melihat ke dalam mobil, namun tak ada siapapun yang ia lihat kecuali Catra itu sendiri.
Catra pun kembali berkendara, ia tak memutar, melainkan masuk ke jalan jalur logistik itu.
Setelah beberapa saat Catra berkendara di jalur tersebut, ia pun semakin yakin akan kecurigaan sebelumnya seraya berkata,
"Sudah kuduga, tak ada satupun kendaraan logistik yang lewat malam ini, Aslan benar-benar membuat rute kabur untuknya. Sebenarnya seperti apa hubungan antara mereka berdua?"
Sementara itu, Devan masih diam berdiri di tempatnya, diantara orang-orang yang sibuk memadamkan api besar yang menyala di kedua jet itu.
("Apa Catra memiliki penjaga yang tak bisa kulihat?"), lalu Aslan menggeleng-gelengkan kepalanya, tak membiarkan pikirannya berlanjut.
Aslan kemudian pergi menuju kota, hingga setelah tak ada siapapun di sekitarnya, ia mengaktifkan magusnya lalu segera kembali menuju kantor Walikota.
...
Beberapa saat kemudian,
Aslan akhirnya sampai di ruangannya. Ia masuk melalui jendela terbang dengan sayapnya. Namun, Tiba-tiba pintu ruangan Aslan dibuka oleh seorang laki-laki yang menggunakan seragam pegawai istana.
Seragam itu berwarna hitam dengan lima kancing di tengahnya berwarna putih. Terdapat pula garis putih yang mengelilingi lingkaran kedua lengan baju, serta bagian bawah baju itu.
Pada sisi bagian kanan baju itu, terdapat tiga garis panjang vertikal, dan di atas garis itu, tepatnya di bagian dada adalah lambang kecil kerajaan Avalon ber-emblem dua sayap runcing dengan dominasi warna putih namun juga terdapat garis-garis hitam dalam emblem itu.
Diantara kedua emblem sayap itu adalah lingkaran bulat hitam yang garis luarnya warna putih, tampak huruf 'A' berwarna abu-abu di tengahnya. Di atas luar bulatan 'A' itu, terdapat lingkaran pipih putih lagi, seakan bulatan 'A' itu adalah kepala dengan lingkaran cahaya di atasnya.
Terdapat pula emblem bulan sabit di bahu lengan kanan pakaian pegawai istana itu yang menunjukkan kedudukannya di kerajaan Avalon.
Seketika pegawai istana itu terkejut melihat Aslan yang ada di dalam.
"Mohon maaf Tuan Aslan, saya kira di dalam tidak ada orang, soalnya saya sudah mengetuk dan memanggil beberapa kali, namun tak kunjung mendapat jawaban.", ucap pegawai istana itu seraya menundukkan kepala.
Aslan kemudian mengambil sesuatu dari saku depan bawah jas hitam yang ia kenakan, dan sesuatu itu adalah emblem bulan penuh yang kemudian ia pasang emblem itu di bahu lengan kanannya.
"Tak dapat jawaban bukan berarti anda boleh semaunya masuk ke ruangan ini."
"Sekali lagi mohon maaf Tuan Aslan, saya terpaksa melakukannya, sebab saya diperintah oleh Tuan Putri Olivia untuk mengantar surat darinya kepada Walikota Kota Avalon, dan harus sampai dan terbaca malam ini juga."
Aslan terkejut bukan main, namun ia berusaha tak mengekspresikannya.
"Baiklah kalau begitu, mana?"
Pegawai istana itu pun memberikan suratnya pada Aslan, menjulurkan kedua tangannya ke depan seraya berkata,
"Perintah dari tuan putri juga, saya harus memastikan Tuan Aslan membuka suratnya dan membacanya, setelah itu saya diperbolehkan pergi dari hadapan tuan."
"Mm.", Aslan mengiyakan.
Aslan pun membuka serta membaca surat itu di hadapannya. Dan setelah beberapa saat, Aslan kembali menutup kertas itu.
"Baiklah. Katakan pada Tuan Putri Olivia, suratnya telah sampai dan dibaca oleh saya."
"Baiklah, Tuan Walikota. Kalau begitu saya pamit akan kembali menuju istana."
__ADS_1
Aslan pun hanya mengangguk sekali, dan pegawai istana itu, pergi meninggalkan ruang. Tak lama kemudian, Aslan berjalan dan menjatuhkan dirinya terduduk di kursinya. Ia menyandar, memejam mata sesaat sekaligus menghela nafas berat,
"Heuuuuh!...", ia justru tak merasa lega sama sekali.
...
Beberapa jam kemudian, pukul 00.00,
Aslan telah sampai pada titik pertemuan seperti yang tertera pada surat. Kali ini ia tak datang mengenakan pakaian jas rapi seperti biasanya, ia memakai pakaian tebal, celana panjang hitam serta jaket abu-abu yang memanjang hingga lututnya.
Dan yang paling tak biasa, adalah topeng mata berwarna hitam yang ia kenakan, yang menutupi sebagian wajahnya, menyembunyikan identitasnya.
"Selamat datang, Tuan A.", ucap seorang wanita yang memiliki suara lembut.
Aslan hanya melihat dan mengangguk pada wanita yang menyambut itu.
"Jadi dia adalah orang terakhir yang kita tunggu, O?", ucap salah seorang pria.
"Ya, kalian bisa memanggilnya 'A'.", jawab wanita yang di panggil 'O' itu.
"Baiklah. selamat bergabung, 'A'.", tanggap seorang pria barusan.
"Terima kasih ....."
"RR.", tanggap pria barusan yang berinisial RR itu.
"Terima kasih, RR."
"Silahkan duduk, Tuan A, kita akan segera memulai topik kita malam ini."
Pada ruangan tertutup yang diterangi cahaya kuning remang itu, duduk sepuluh orang melingkari sisi meja bundar yang cukup besar. Kesepuluh orang itu semuanya berpakaian tebal dan juga memakai topeng mata, membuat sebagian besar anggota pertemuan itu, tak saling mengetahui identitas satu sama lain.
Saat itu, Aslan melihat samar bayang-bayang hitam yang berdiri pada tiap orang yang ada di ruang tersebut. Yang artinya, tiap orang di sana, membawa penjaga dari bangsa halus, kecuali seorang wanita paruh baya yang duduk tanpa ada entitas apapun di sampingnya.
Tak hanya itu, pada empat sudut ruangan tersebut tampak samar juga dipandangan Aslan bayang-bayang yang tengah berdiri, seakan mereka menghadap kesepuluh orang yang berada di tengah ruang.
("Bangsa jin kah?", duga Aslan dalam hati.
"Kalau begini, selanjutnya tak mungkin aku mengirim bawahanku untuk menjadi mata-mata disini.", lanjutnya.)
"Baiklah, kita mulai." , ucap 'O'.
"Kalian semua pasti sudah mengetahui, Devan Aria yang sebelumnya menghilang beberapa hari, malam tadi, dia ada di kota ini.", tambahnya.
"Yaa mana mungkin disini tak ada yang tahu, sampai mengerahkan prajurit kerajaan seisi kota.", celetuk salah satu pria paruh baya bertopeng.
"Tentu saja begitu, Tuan B. Tapi sebaiknya anda tak celetuk seperti itu dihadapan nona O.", tegur pelan wanita paruh baya bertopeng yang duduk di sampingnya.
"Hm, aku memang seperti ini. Harap nona O memaklumi, agar nyonya RA tak repot lagi menegurku. Jujur saja agaknya itu mengganggu kenyamanan hatiku."
"Hmmm.", RA menggeleng-geleng sambil menghela nafas.
O kemudian segera menyangkal perkataan RA.
"Tidak setelah kejadian itu!. Dia sudah tak pantas untuk menjadi Raja Kerajaan ini."
"Tentu saja, Pembunuh pewaris tahta kerajaan Avalon, jangankan pergi, bahkan hidup pun dia tak pantas lagi!", Ucap tegas RR.
Wanita berisinial O agak sedikit bereaksi mendengar perkataan RR.
("Devan?, membunuh pewaris tahta?, Anak pertama Raja? kakak laki-laki dari Putri Olivia?", Aslan begitu kaget ketika mengetahui hal itu.)
"Hal yang begitu, bukanlah engkau yang boleh memutuskannya!, kerajaan ini punya pengadilan.", ucap seorang wanita bertopeng lainnya.
"V!", RR menyebut nama V dengan nada sedikit menekan. Ia menatap tajam V yang duduk di seberangnya.
"Devan memang tidak sesederhana yang dibicarakan, tapi faktanya dia telah kalah, bahkan tak masuk dalam jajaran sepuluh besar prajurit bulan.", tanggap seorang pria lainnya.
"Kau benar K, karena itulah dia tak punya kualifikasi untuk menikahi Tuan Putri Kerajaan Avalon, yang berhak menikahinya adalah orang yang menyandang nomor satu.", tanggap balik RR.
K sedikit bereaksi, ia agak tak menyukai apa yang dikatakan RR.
"Tidak-tidak. Hanya penyandang nomor satu prajurit bulan pun tak cukup kualifikasi untuk menikahi Tuan Putri. Dirimu bercanda kah?", celetuk pria lainnya.
"Apa maksud engkau?, P", tanya RR dengan nada sinis.
"Karena kematian sang pewaris tahta, maka suami Tuan Putrilah akan menjadi Raja di masa Depan, tentunya tak mungkin menikahi pria yang hanya berlatar belakang militer. Seharusnya Tuan putri menikahi seorang yang setara dengannya. Misalnya.... Pangeran dari kerajaan lain."
"Haaaa?!", RR pun bergumam tinggi tak menyukai pernyataan P.
("Pertemuan apa ini? aku merasa tiap orang disini membawa kepentingan masing-masing.", pikir Aslan setelah mengamati jalannya percakapan.)
"Hey kalian....!, berhentilah berbicara diluar topik!", tiba-tiba seorang lelaki paruh baya bersuara dengan suara yang berat mengambil perhatian semua orang, keadaan pun menjadi hening.
"Haa...uuuuu", O pun mengambil nafas panjang.
"Terima kasih, Tuan G.", tambahnya.
"Hm.", dengan suaranya yang berat, G bergumam mengiyakan.
"Malam tadi Devan diduga berada di gedung walikota, lalu Tuan Putri pun mengerahkan sebagian besar prajurit untuk bergerak kesana."
"Lalu?", tanggap V penasaran.
"Ternyata benar, Devan memang benar-benar ada di sana."
__ADS_1
"Bagaimana bisa?!", tanggap RA tak menyangkanya.
"Tapi..... Tuan Walikota justru menghalangi prajurit melakukan penyergapan ke dalam, dan kami hanya boleh menunggunya diluar.", jelas G menambahkan.
"Hm? kenapa??", tanya RR.
"Kebijakan pemerintahan."
"Jadi begitu." tanggap RA paham.
"Kebijakan apa itu? Sangat tidak efektif!", cetus RR.
"Kupikir kita yang sekarang belum bisa sepenuhnya memahami maksud kebijakan tersebut.", ucap V berniat menyindir RR.
RR hanya memandangnya tak beri tanggapan.
"Yang dikatakan V ada benarnya. Jadi daripada mengeluhkan hal yang percuma, kita utamakan dulu yang bisa kita lakukan sekarang.", jelas G.
"Bagaimana dengan Tuan Aslan, selaku walikota Avalon.", tanya K.
"Dia sendirilah yang turun menghentikan kami di depan gedung.", jawab G.
"Jadi Tuan Aslan telah datang dari kunjungan politiknya.", ucap B.
"Memangnya kenapa kalau Tuan Aslan telah datang, B.....?, tanya RA sinis.
"Tidak apa-apa.", jawab B memandang RA agak sinis.
"Bukankah itu mencurigakan?, kemungkinan Tuan Aslan ada hubungannya dengan Devan, mungkin mrmmbantu Devan bersembunyi, kabur, bahkan rencana pembunuhan.", ujar curiga RR.
"Hmm... Tapi apa motifnya?", tanya K sambil berfikir.
"Itu tidak mungkin.", tiba-tiba Aslan menyela.
"Mengapa?", tanya lanjut K.
"Karena Tuan Aslan pergi kunjungan politik, kemungkinan Tuan Aslan baru mengetahui musibah saat ia tiba."
"Tapi tuan A,,,, bisa saja kunjungan politik itu hanya dalih untuk mengamankan namanya.", ucap sanggah V.
Perasaan Aslan mulai tak tenang, walau begitu, satu ruangan tak mengetahui bahwa yang mereka bicarakan, ada di ruangan itu, kecuali seseorang.
"Itu juga tak mungkin.", tanggap O.
"Mengapa?", kini giliran tanggap RR.
"Perjalanan Tuan Walikota merupakan titah langsung dari Raja, bahkan ada catatan perjalanannya.", tambah O.
"Jadi maksud Nona O, Tuan Aslan bertindak, murni menjalankan kebijakan? tidak untuk membantu pelaku?.", P mencoba mengkonfirmasi.
"Hm.", O gumam mengangguk.
Aslan pun nampak sedikit menegang.
("Mengapa Tuan Putri memintaku untuk bergabung disini?, bukankah ini sama saja ia membiarkanku tahu rencana mereka? Apa mungkin Tuan Putri salah menilaiku?, atau ada sesuatu yang lain?", pikir Aslan.)
"Tunggu dulu.", sela RA.
"Bagaimana Tuan Putri mengetahui keberadaan pemuda itu?", lanjutnya.
"Itu...aku juga tak tahu.", jawab O.
"Hmm... Apa saya harus mengirim mata-mata untuk mengawasi Tuan Aslan?", pinta saran RA.
"Itu tidak perlu. Sebaiknya energi kita fokus saja dulu pada pengejaran Devan.", jawab O.
"Saya setuju dengan pendapat nona O. Bersikap curiga pada Tuan Walikota hanya karena ia patuh pada kebijakan, rasanya tak adil.", jawab P berniat mengambil perhatian O.
"Benar, apalagi Reputasi Tuan Aslan cukup bagus, begitupun pengabdiannya pada rakyat dan raja. Apa mungkin orang sepertinya berkhianat?", ucap V.
Aslan merasa hatinya tak pantas mendapat pembelaan seperti itu. Hingga tanpa sadar ia berucap,
"Tapi, manusia bisa berubah, makhluk pelupa seperti kita mudah sekali hatinya di geser."
"Tuan A?, maksud anda?", tanya O.
"Tidak. Aku sebenarnya tadi hanya berfikir sendiri, mohon lupakan."
"Baiklah."
"Lalu, Z?. Bagaimana menurutmu? Apa ada tanggapan?.", tanya O pada seorang pria bertopeng lainnya yang sedaritadi diam.
Pria berinisial Z itu hanya menggeleng-geleng kepala, seraya tangannya merentang kedepan dengan telapak tangan terbuka menghadap ke atas sebagai isyarat untuk melanjutkan pembicaraan.
("Aku tidak mengerti. Mengapa Putri Olivia tampak seakan-akan membantuku bergerak?. Sebenarnya, apa keinginan Aslinya?", pikir Aslan sembari memandang wanita berinisial O itu.)
Dari awal Aslan menyadari, bahwa dibalik topeng berinisial O itu adalah Tuan Putri Olivia, begitupun orang yang lainnya. Selain itu, mereka tak saling mengetahui identitas satu sama lain.
Pembicaraan pun terus berjalan, dan merencanakan langkah mereka berikutnya. Dari pembicaraan itu, Aslan pun banyak mengerti, banyak mengetahui, terutama yang berkaitan dengan kehidupan manusia Devan baru-baru ini.
....
Kembali pada waktu dini hari tadi....
....Kemudian, apa yang diketahuinya saat itu, ia sampaikan pada Morgan dan Julian yang tadi bertanya.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Aslan pun tertidur, ia lepas dari renungannya, sekaligus ia melepaskan dirinya, dari lelahnya cemas dan berkerja.
***