
Sehari yang lalu...
Pagi hari di negeri Rayyana...
Ratu Peri Aliya sedang berjalan diatas keramik putih krim yang mengkilat, dalam naungan atap putih yang luas, dengan lingkaran besar kubah putih di tengahnya.
Di beberapa titik atap serta kubahnya, ada yang terbuat dari kaca persegi panjang guna cahaya matahari dapat masuk ke dalam.
Tepat pada jatuhnya cahaya itu, terdapat taman-taman kecil yang mengiringi setiap pendopo-pendopo yang tersebar, dimana para anak-anak peri dapat belajar atau berdiskusi kelompok dengan teman maupun dengan guru mereka.
Area tengah gedung Akademiya Rayyana sangat besar dan luas, ajaibnya tak satupun ada tiang penyangga di dalamnya, yang menopang luasnya bumbungan atap tinggi ke atas.
Kecuali beberapa dinding-dinding yang tingginya setengah tubuh dewasa, yang menyekat dan membagi tiap2 area pendopo, dengan gapura sebagai jalur masuknya.
Juga dinding-dinding raksasa, yang terdapat jendela-jendela raksasa pada setiap jarak ruasnya, mengelilingi seluruh bangunan, menyambung langsung dengan naungan atap di atasnya.
Dan hanya terdapat dua jalur masuk akademiya, yakni pintu timur, dan pintu barat. Meski 'dibilang' pintu, sebenarnya dua jalur itu tak memiliki pintu sama sekali, yang selalu terbuka sepanjang waktu.
Semua hal itu bukanlah tak memiliki makna bagi penduduk Peri Rayyana. Bagi pembelajar di negeri itu, dinding raksasa adalah 'pembatas pengetahuan', dan jendelanya adalah hak agar pelajar dapat melihat pengetahuan tersebut.
Pengetahuan tersebut bisa masuk ke akademiya melalui salah satu dari dua pintunya; pintu timurnya melambangkan 'kebijaksanaan', dan pintu baratnya melambangkan 'kebebasan'.
Karena itu tak sembarang pengetahuan bisa masuk, dan 'kebebasan' tak berarti 'bebas buta', melainkan 'kebebasan yang saling bergantung pada kebebasan yang lainnya."
Maka apabila makna tersebut dilanggar, bagi penduduk Rayyana adalah kerobohan dinding dan runtuhnya atap pendidikan yang menimpa mereka.
Lantainya yang putih krim bermakna kejernihan dalam berfikir, serta kesadaran bahwa pikiran mereka adalah usaha dari makhluk yang tak sempurna.
Dinding rendah yang membagi tiap-tiap area, dimaksud agar pembelajar dapat 'mengintip' diskusi dan pemikiran yang berbeda, hingga mereka terbiasa dengan keragaman yang ada.
Ruang dalamnya yang sangat tinggi nan luas, mengingatkan agar senantiasa meningkatkan wawasan, meluaskan pikiran, sekalipun atap dan dinding seakan berkata 'kalian adalah makhluk dengan keterbatasan'.
Walau begitu, atap kaca di atas yang menampakkan angkasa adalah semangat, agar senantiasa mengejar kesempurnaan, sekalipun tak cukup umur mencapainya, namun tetap akan berlanjut oleh mereka yang kelak datang.
Atap Akademiya yang tak bertiang pun seakan mengatakan 'Ilmu pengetahuanlah yang mewujudkannya'.
Dan cahaya yang menerpa tiap-tiap pendopo; dimana pertukaran pemikiran dilakukan, merupakan pengingat bagi pembelajar Rayyana, bahwa pengetahuan mereka berasal dari-Nya yang diluar nalar, yang menumbuhkan taman-taman 'keindahan' lagi menyejukkan sekitar.
Ratu Peri Aliya yang masuk melalui pintu timur 'Kebijaksanaan', kedatangannya langsung menarik perhatian, seluruh mata langsung tertuju pada sang ratu peri.
"Ratu Peri Aliya..."
"Selamat pagi, Ratu Aliya..."
"Pagi Ratu..."
"Haa...Ratuuuu...!"
Sepanjang jalan, peri-peri remaja itu satu per satu mulai menyapa dengan beragam reaksi senang, cerah, dan ramah padanya.
"Pagi... Kuharap kedatangan diriku tak mengganggu kegiatan kalian.", sapa ratu peri tersenyum ramah, sembari melambai rendah pada mereka.
Peri-peri remaja itu pun tersenyum cerah setelah sapaannya dibalas, dan mereka pergi melanjutkan kegiatannya, dengan hati yang diliputi rasa senang sepanjang hari.
Tapi tidak dengan Aliya, walau wajahnya menunjukkkan senyum keramahan, tapi hatinya merasakan kecewa pada dirinya sendiri, kala melihat peri-peri murid itu mulai pergi meninggalkannya.
Dalam benaknya, Aliya justru mengingat masa lalunya, mengingat bagaimana kala itu Sang Ratu Bunda Artemis berjalan di akademiya, yang dikelilingi oleh anak-anak peri remaja sembari berbicara penuh keakraban lepas tawa bersama mereka.
Hati Aliya pesimis, membandingkan dirinya dengan ratu terdahulu.
Sampai beberapa saat, ia menyentak kesadarannya, melawan kepesimisannya dengan mengingat tujuannya kemari, meski tak sepenuhnya rasa pesimis itu hilang.
Dan kini, Aliya membathin sepanjang jalan,
("Tadi malam, Yuna mengatakan segalanya yang ia tahu padaku...
Tentang anak manusia yang tak biasa, yang datang dari daratan bersama Luna, Devan...
Entah mengapa nama ini terasa familiar, tapi bukan itu yang penting,
Luna masihlah anak peri remaja yang polos, bisa saja dia dimanfaatkan oleh pria bernama Devan ini,
Apalagi kemampuan dan auranya persis fallen angel, belum bisa memastikan kemanusiaannya...
Terutama fenomena ganjil yang Yuna lihat di desa Gardum, justru membuatku tambah ragu padanya,
Musuhkah, Kawankah, aku belum tahu...
Karena itulah, aku akan coba bicarakan langsung pada Luna...")
Setelah agak lama berjalan, akhirnya Ratu Peri Aliya sampai di depan sebuah gapura yang di atasnya tertulis 'Esensi-Mana' dengan lambang orb warna hijau cerah di atasnya.
Disinilah kelompok topik diskusi tempat di mana peri-peri lemah Negeri Rayyana.
Ia pun memasuki gapura tersebut, menuju sebuah taman pendopo tempat kelompok diskusi 'Esensi-Mana' dilakukan.
Pendopo di sana cukup lebar, dan terdapat enam tiang yang menopang atapnya yang tinggi ke atas. Pada tiap tiangnya, terdapat satu rak buku di tiang bawah, dan satu rak buku lagi menempel di bagian tengah tiang hingga atas.
Tentu saja bagi para peri, cukup terbang mengenakan sayapnya untuk menggapai rak buku yang lebih tinggi.
Untuk menemukan Luna, sangat mudah bagi Ratu Peri Aliya, pun saat itu di pendopo sedang luang dan tak ramai, hanya ada beberapa peri yang sedang bergelantung di tiang atas, dan beberapa peri yang sekedar berdiri atau duduk di bagian bawah dengan segala kegiatannya.
Ratu Peri Aliya pun melempar pandangannya pada peri-peri yang berada di pendopo.
__ADS_1
Lalu tampaklah diantara mereka, seorang gadis peri remaja tanpa sayap, tengah bicara antusias dengan gadis peri di depan sebuah rak buku.
Ratu Peri Aliya tersenyum sebab telah menemukan Luna, hingga setelah ia sampai di depan anak tangga kecil tepi pendopo, langkahnya terhenti.
"Ratu Aliyaa....!", ucap ekspresif salah satu peri murid yang duluan menyadari kehadiran sang ratu.
Lalu yang lain pun turut menoleh melihat ke arah pandang peri murid itu, beberapa dari mereka pun turut memanggilnya secara ekspresif,
"Ratu Aliyaa...!"
"Kak...maksudku Ratu Aliyaa..!"
Peri-peri murid tersebut langsung turun, berjalan, berlari mengerubungi sang ratu peri, kecuali Luna, ia masih di tempat agak terkejut sembari berwajah cangggung.
"Ratu...dirimu kemari...mau berdiskusi sama kami kah??", tanya salah satu murid peri sembari matanya berharap-harap.
"Maaf yaa, adik peri. Sebenarnya, diriku kemari karena sedang mencari seorang peri.", ucap Ratu Peri Aliya sembari mengusap lembut kepala peri yang bertanya itu.
" Oh ya ratu?. Siapa?", tanggap salah satu peri lain yang dekat situ.
Kemudian Ratu Aliya memandang Luna yang masih ada di tempatnya, namun saat itu tengah berjalan pelan ke belakang hendak menyelinap pergi.
"Mungkinkah.....", tanggap salah satu gadis peri berwajah bulat dengan rambut kuning keemasan kuncir dua pendek di belakang kepalanya, setelah ia turut menoleh melihat arah Ratu peri memandang.
"Haa... Lunaaaa..!", tambah gadis peri berwajah bulat itu, yang sebelumnya bicara pada Luna.
Tiba-tiba luna yang hendak menghindar seketika menghentikan langkahnya. Sikapnya masih tampak canggung.
"Lunaaa....", peri yang lain pun turut menoleh, diantaranya sembari menyebut nama Luna.
Kemudian si peri berwajah bulat itu pun segera menghampiri Luna..
"Moooh, Lunaaa... Kehebohan apalagi yang dirimu buat haa??", ucap peri berwajah bulat itu bernada cemas.
"Ehihihi, mana ada loo, Puni. Eeh, jadi Ratu Aliya sedang mencariku yaa. Hee.", ucap Luna canggung, dengan tawa dipaksa.
"Benarkah itu Lunaa?, humm, sikapmu mencurigakan!", tanggap peri berwajah bulat yang dipanggil Puni itu.
"Eee... Benar..benar kok, pun. Heee."
Tiba-tiba salah satu peri disana menyeletuk bicara,
"Jangan-jangan, berita heboh kemarin tentang peri yang membawa makhluk aneh dari daratan itu.... kamu Lunaaa?"
"Dia bukan makhluk aneh!. Huf!", refleks Luna menyangkal, namun secepatnya ia menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Haaa betul beneran. Lunaa.. Kenapa dirimu tak cerita ke aku??, huuft.", tanggap Puni dengan ekspresi marah, namun tak sungguh marah.
"Eee....", Luna tersenyum canggung, matanya melirik kiri-kanan cepat beberapa kali. "Haa Ratu Aliya, ada apa yaa mencariku?", ucap Luna pada ratu peri, yang sebenarnya ia hendak menghindari Puni.
"Waaa Ratu Aliya sudah serius, matilah kau Luna.", tanggap salah satu peri disitu setelah melihat raut wajah Ratu Peri Aliya.
"Bercanda..", kemudian Ratu Aliya memberi senyum ramah pada semuanya. "Adik-adik, bolehkah diriku meminjam Luna?. Sebentar saja."
"Haa tidak apa-apa Ratu Aliya. Kamipun sedang luang. Benarkan teman-teman?"
Dan peri lain pun turut mengangguk mengiyakan ucapan salah satu peri murid disitu.
"Terima kasih. Luna, ayo.", ucap Ratu Peri Aliya kemudian mengajak Luna.
Luna pun jalan keluar dari pendopo menuju Ratu Peri Aliya dengan perasaan dan wajah canggung.
Setelah itu Ratu Peri Aliya berpamitan pada seluruh murid peri di pendopo itu, dan berjalan keluar melewati gapura.
"Hei Lunaaa.... Nanti ceritakan ya padaku. Awas saja kau kalau tidak cerita.", ucap Puni agak teriak dari dalam pendopo.
...
Setelah beberapa saat meninggalkan Pendopo kelompok 'Esensi-Mana', sembari berjalan, Ratu Peri Aliya pun mulai bicara,
"Kalau Luna merasa canggung, bukankah ada yang harus Luna katakan padaku?..hemm.", ucap ramah Aliya pada Luna, sembari tersenyum usil.
"Maafkan aku, Ratu Aliya, sudah seenaknya menjemput benih hati sahabat ratu."
"Hem, Dimaafkan. Dan juga Lunaa, kalau berdua seperti ini, tak perlu panggil Ratu, panggil kakak juga tidak apa.", ucap pelan Aliya, sembari menurunkan kepalanya sedikit ke arah telinga Luna.
"Tapi.... Ratu bukan kakakku.", ucap Luna sembari menatap mata Aliya dengan pandangan polos namun sedikit cemberut.
"Glek!", ucapan Luna sedikit mengganggu hati Aliya.
("Hmm, padahal dulu kau memanggilku kakak.")
"Ee..ehm. Jadi, dimana sekarang, benih hati Elysia itu, Luna?"
"Ada disakuku, aku selalu membawanya. Apa...Ratu menginginkannya?", tanya Luna dengan sedikit raut sedih.
("Sepertinya kau begitu menginginkannya, Luna.", bathin Aliya.)
"Hmm.mm...", Aliya menggeleng. "Karena Luna yang menariknya keluar, maka Luna lah yang harus menyelesaikannya."
"Maksud Ratu?"
"Maksud ku...", tiba-tiba kalimat Aliya terhenti, tatkala matanya menoleh pada punggung Luna yang telah kehilangan sayapnya itu. Raut sedih sedikit terlukis pada garis wajah Aliya.
__ADS_1
"Ratu... ", Luna pun menyadarinya.
Buru-buru Aliya mengalihkan topik bicaranya...
"Ngomong-ngomong Luna, tadi di pendopo kau tampak tak terima ketika temanmu mengatakan Devan adalah makhluk aneh."
"Ratu.... Mengapa kau tahu?", heran Luna, langkahnya terhenti sembari menoleh ke Aliya.
"Tentu saja... Luna pikir diriku ini siapa?"
Luna diam sejenak, berfikir....
"Oooh...", reaksi Luna, tangan kanannya mengepal menepuk telapak tangan kirinya.
("Iya juga iya, Ratu Aliya adalah Ratu.")
Aliya pun tersenyum mendengar suara pikiran Luna.
"Dia memang bukan orang aneh. Dia orang baik."
("Kalau Luna bilang begitu, seharusnya benar.", Aliya membathin.)
"Benarkah?, terus mengapa membawanya kemari?"
"Dia...tak bisa menemukan kehidupan, Ratu."
"Maksudnya?"
"Apa saja yang ada di dekatnya, semuanya mati. Namun, ketika Devan menjauhinya, semua makhluk hidup kembali hidup.", jelaa Luna sembari kedua tangannya memperagakan.
"Karena itulah aku mengajaknya kemari untuk bertemu dengan kakekku. Ratu tahu... Kupikir kakek akan membantunya, tapi dia malah......."
Dan Luna pun terus menjelaskan kekecawaan hatinya dengan kakeknya kepada Aliya. Namun saat itu, Aliya tak lagi mendengar curhatan Luna dengan baik.
Meski tetap berjalan melihat ke depan, namun tatapan Aliya kosong, karena pada akhirnya, ada satu hal, satu hal yang baru saja ia mengerti dalam bathinnya.
Dan Aliya tidaklah memiliki kekuatan memperlambat waktu. Namun saat itu, waktu rasanya berjalan lambat bagi Aliya, semuanya bergerak sangat lambat, termasuk langkahnya,
("Begitu ya... Jadi begitu rupanya...
Devan itu... Dia sama... Sama seperti Aslan.
Sosok yang telah mengkhianati Bunda Artemis,
Bahkan Luna pun turut menanggung akibatnya....
kehilangan sayapnya...
Devan.... Berani-beraninya dia memanfaatkan kepolosan Luna.")
"Hmm. Ratu...", tiba-tiba Luna merasa heran dengan Aliya, dia pun menghentikan langkahnya.
Tapi saat itu, Aliya terus berjalan seperti biasa. Pandangannya gelap, hingga tak sadar, bahwa Luna telah berhenti berjalan di belakangnya.
Karena kebenciannya pada Aslan, tanpa sadar sang ratu melumpuhkan kemampuannya menilai Devan secara adil.
Kini Ratu Peri Aliya merasa cemas sekaligus bingung, dan mulai membandingkan dirinya dengan Ratu Artemis,
("Haaa..aaa... Seandainya Ratu Artemis masih hidup, apa yang akan ia lakukan?")
Dan tanpa disengaja, Ratu Aliya justru sampai pada pintu barat 'kebebasan' Akademiya Rayyana. Ia pun menghentikan langkahnya tepat di hadapan pintu itu.
("Istan menyerang negeri ini, tepat pada jam diskusi akademi,
Karena itulah, tak satupun murid-murid mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi, termasuk getaran besar yang menghancurkan pusat kota ini, bahkan hingga hari ini.
Sebab mereka tak diperbolehkan keluar dari sini atas perintahku, hingga secepatnya Kota Rayyana pulih.")
Kemudian, pupil mata sang ratu peri yang berwarna kuning keemasan mulai bercahaya, ia memfokuskan pandangannya ke arah pintu 'kebebasan'.
Seketika timbul beriak angin berwarna keemasan begitu deras disitu, peri-peri di sekitar merasakan hembusannya, hingga rambut dan pakaian mereka berkibar-kibar.
Hingga Setelah beberapa saat, terciptalah sebuah pintu transparan keemasan yang menutup pintu Akademiya Rayyana bagian barat itu.
Saat itu, para murid kebanyakan masih belum mengerti. Tapi seluruh peri dewasa, memahami maksud tindakan sang ratu peri, bahwa ia, akan mengisolasi negeri ini.
Pintu barat 'kebebasan' pun telah ditutup untuk pertama kali, sebagai harapan agar 'kebijaksanaan' lebih banyak datang ke negeri ini.
...
Tapi kelak, sang ratu muda akan menyesali keputusannya hari ini, dan akan menjadi kesalahan yang paling ia benci, juga yang akan merubah cara pandang sang ratu muda, sepenuhnya.
...
Setelah itu, barulah Aliya teringat Luna, ia pun berbalik ke samping dan menoleh,
"Eeh Luna... Maaf, pembicaraan kita tadi, sampai dimana ya?"
Luna hanya diam, tanpa ia sadari, matanya menatap cemas sang ratu dari tempat ia berdiri.
Meski tampak polos, Luna punya kepekaan hati yang tinggi, yang diwariskan oleh bundanya, Artemis.
Hatinya merasa ada yang salah, setelah melihat tindakan sang Ratu, tapi Luna, masihlah terlalu muda untuk mengartikan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Dan pada akhirnya, Luna pun hanya tersenyum mengampiri sang ratu, tanpa memahami apa yang hendak hatinya sampaikan, pada dirinya sendiri.
***