
"Pegangkan sebentar.", Luna menyerahkan Dandelionnya pada Devan.
Luna mengambil sebuah kantong kecil dari sakunya. Ia memasukkan tangan kanannya, ia tampak menggenggam sesuatu. Ia pun mencampakkan sesuatu itu dari tangannya ke atas dari tepi danau, dan berterbangan bubuk-bubuk penuh warna memenuhi udara danau.
Tepat di depan Luna, air di danau itu perlahan berubah warnanya seperti warna yogurt, membentuk jalur lurus ke depan sehingga memotong perairan danau itu menjadi dua sisi. Jalur air itu mengalir ke arah Luna, lalu aliran itu masuk ke bawah kemudian menyatu larut bersama air dalam danau.
"Mmm!. Nah, sekarang kita tinggal menunggu jemputan deh.", ucap Luna ceria, sembari mengulurkan kedua tangannya ke hadapan Devan
Devan pun mengembalikan Dandelion milik Luna. Ia masih terkesima pada apa yang Luna perbuat.
"Luna, apa yang....?"
"Hihi. Ini adalah sihir peri, Devan, sihir perii.", ucap Luna sembari memekarkan kedua tangannya ke arah warna-warna itu.
"Kau.. Belum pernah lihat yang seperti ini bukaaaaan?", lanjut Luna. Ia senyum sumringah kepada Devan.
Sementara Devan masih dalam keterkesimaannya, muncul dari balik pohon besar di tengah danau itu sebuah sampan putih dengan bagian atasnya kuning keemasan. Di bagian belakang sampan itu, duduk seorang kakek tua yang berpakaian serba putih. Rambut, janggut, serta kumisnya juga berwarna putih memanjang, Namun kusut berantakan. Terdapat pula lingkaran kuning bercahaya di atas kepalanya.
Kakek itu tampak mendayung pelan, namun sampan itu lebih laju, melebihi dayungan yang ia lakukan. Ia semakin mendekat lalu berhenti di ujung jalur aliran air tersebut tepat di hadapan Luna.
"Selamat pagi, kakek pendayung. Ini masih waktu pagi, kan?", sapa Luna ramah, sembari tangan kanannya melambai kiri ke kanan.
Kakek pendayung itu membalas senyum Luna, namun tidak dengan perkataannya. Luna pun lompat menaiki sampan itu dan mendekatinya.
"Aku bawa oleh-oleh dari daratan. Apa kakek mau?. Nih aku kasih.", Luna mengambil setangkai dandelion kemudian meletakkannya pada satu telinga bagian belakang kakek itu.
"Mm. Kupikir itu cocok, dan ia takkan mudah jatuh. hehe", lanjut Luna dengan tertawa kecil.
Kakek pendayung itu tidak bicara. Ia hanya membalas senyum tiap kali Luna berbicara padanya.
Luna lalu berbalik ke arah Devan. "Devan, ayo naik."
Mendengar luna berkata seperti itu. Kakek pendayung itu menatap tajam tak senang kepada Devan. Devan pun melihat balik, dan menangkap maksud kakek itu yang tak ingin Devan naik di Sampannya.
__ADS_1
"Devan, kok diam.", kata Luna yang melihat Devan masih berdiri di tempatnya. "Oh iya kek, dia adalah temanku. Apa boleh dia juga menumpang di sampanmu?, dia orang baik kok.", lanjut Luna sembari menoleh ke kakek itu. Seketika ekspresi kakek itu berubah sebelum Luna melihatnya, menjadi senyum lebar hingga tampak giginya yang ompong.
"Ou terima kasih, kek", Luna tersenyum hingga matanya terpejam. "Ayo Devan, kita akan berangkat.", ucap Luna memandang Devan.
"Ya. Aku akan naik.", ucap Devan, berjalan dan menaiki sampan itu.
Kakek pendayung itu pun kembali menatap tajam Devan. Namun, Devan memilih untuk pura-pura tidak melihatnya.
***
Kini mereka bertiga telah berada di tengah jalur air yang Luna buat sebelumnya. Jalur yang sebelumnya memotong perairan danau, kini perlahan jalur itu menanjak, melayang, dan melebar, memutari pohon besar, hingga akhirnya lurus menanjak menembus awan.
Aliran yang sebelumnya mengalir ke bawah, kini berubah arusnya menuju ke atas semenjak mereka berdua menaiki sampan. Dan ketika sampan itu berjalan, ia menimbulkan beriak berwarna cerah, seperti kuas warna yang di celupkan dalam air jernih. Beriak berwarna itu perlahan menghilang menyatu bersama arus air berwarna putih kemerah muda-an itu.
Sepanjang perairan, kakek pendayung itu terus memandang Devan dengan pandangan tak senang. Hal itu sampai membuat Devan tak nyaman. Namun, setiap Luna menoleh ke arah kakek itu, ekspresinya berubah ramah.
Devan duduk menyandar, sembari melihat pemandangan langit dan awan yang tampak dekat, namun dengan perasaan tak nyaman sebab tengah di pandang. Sementara Luna, sibuk melindungi bunga Dandelion dengan kedua tangannya dan punggungnya untuk menghalangi angin di atas yang agak kencang. Walau begitu, masih ada beberapa bunga yang terbang terbawa angin.
Sampan itu kini berada di sungai yang tenang, melayang diantara Awan-awan Cumulus. Beberapa diantara awan itu, berdiri sebuah bangunan yang semuanya serba putih. Seperti rumah, toko-toko, kincir angin, dan lain sebagainya. Terdapat pula pohon atau tetumbuhan hijau yang tumbuh bersama tanah diatasnya.
Devan memerhatikan dari atas sampan. Peri-peri itu melakukan berbagai hal di atas awan. Ada yang sekedar duduk santai, ada yang sedang menggendong seorang anak yang sedang berusaha menggapai buah, ada yang sedang menjemur pakaian, dan ada pula yang sedang melambai-lambaikan tangan ke arah Luna.
Semua peri-peri itu bersayap, dengan lebar sayap yang tak lebih dari lebar punggung mereka. Ada yang terbang di angkasa. Terkadang Luna melambai-lambai kepada mereka, dan mereka kemudian membalasnya. Namun, ketika mereka melihat Devan, mereka tak peduli lalu terbang pergi.
("Peri-peri itu semua punya sayap. Kenapa aku tidak lihat sayap padamu, Luna?")
Devan hendak melempar pertanyaan itu kepada Luna. Baru saja ia mulai membuka suara tiba-tiba...
"Ehm!!", kakek pendayung itu berdehem.
Devan yang duduk menyandar di tengah sampan menoleh ke arah kakek itu. Ia melihat kakek itu memandangnya tajam sembari menggeleng kepala pelan. Devan pun memilih diam dan tak mengeluarkan kata-katanya.
Luna tampak terkesan memandang peri-peri yang tengah terbang. Ia berdiri pada bagian sampan sembari pandangannya mengikuti peri-peri yang terbang.
__ADS_1
"Wuaaaa!. Asiknyaaaaa lihat mereka terbaang. Tak sabar rasanya aku dewasa. Kalau sayapku tumbuh, bakal ku kejar mereka. xi-xi", ucap Luna antusias lalu tertawa kecil.
Raut wajah Devan berubah menjadi serius mendengar Luna berucap seperti itu. Ia mengingat tentang apa yang ia lihat beberapa saat lalu, di atas salah satu awan Cumulus, seorang peri yang menggendong anaknya yang tengah berusaha menggapai buah. Dan anak itu di punggung nya telah memiliki sayap.
Devan melirik ke arah kakek pendayung. Kakek itu masih mengawasi Devan, menatapnya tajam, seraya menggeleng pelan. Devan hanya menghela kecil, seraya menundukkan kepalanya.
***
Beberapa waktu berlalu sejak saat itu. Sampan ini masih berada diantara Awan-awan Cumulus.
"Nah Itu dia, Devan. Tujuan kita sudah terlihat.", ucap Luna. tangannya menunjuk ke arah depan lalu menoleh ke Devan.
Devan melihat arah yang di tunjuk Luna. Ia melihat Awan Cumulonimbus yang membumbung tinggi ke atas.
Sampan pun mulai memasuki area Awan Cumulonimbus. Jalur sungai itu masih terhubung dengan awan tersebut, namun jalur di dalamnya menanjak tajam ke atas. Aliran air pun turut mengalir ke atas, mengantar sampan naik ke atas.
Setelah melewati jalur menanjak, kini sampan mereka telah sampai pada jalur yang datar, pada kedua sisi sungai itu ada daratan putih yang permukaannya rata. Di jalur itu angkasa biru sudah tak nampak, sebab di atas kepala mereka adalah langit-langit awan. Mereka seperti berada dalam terowongan awan yang besar.
Di depan mereka terdapat gerbang tinggi nan lebar. Gerbang itu adalah gerbang sel besar berwarna putih. Diatas gerbang itu terdapat aksara yang melengkung begitu Indah.
"Rayyana...", baca Devan.
"Hm.", Luna mengiyakan. "Di sini adalah tempat dimana kami tinggal, namanya 'Rayyana'.", lanjut Luna.
Gerbang kemudian terbuka dengan sendirinya ketika sampan semakin berjalan ke depan.
Luna pun berbalik ke hadapan Devan. Ia berdiri tersenyum manis memandangnya kemudian berkata, "Selamat datang di Negeriku, Devan."
Devan tersanjung dengan sambutan Luna. Devan balas dengan senyum terbaik. "Ya. Di dalam nanti, mohon bantuannya, Luna."
"Hm!.", Luna mengiyakan sembari mengangguk mantap, wajahnya sumringah.
***
__ADS_1