Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 41: Pengetahuan dari Arcana


__ADS_3

Kini semua peri yang berada sekitar mereka kembali seperti kesehariannya, mereka tak ingin membuat Devan terus menerus menanggapi sambutan mereka sehingga Devan jadi terganggu karenanya.


Mereka semua pergi berjalan seperti biasa, meninggalkan senyum gembira pada Devan yang membalas tanggapan mereka.


"Baiklah, Devan. Aku telah mengantarmu sampai kemari. Apa ada yang perlu aku bantu lagi?"


"Eee.... shia, sebenarnya aku kemari untuk mencari kendaraan menuju Rayyana?"


"Rayyana...., Hummm sebenarnya dengan anginku aku bisa saja mengantarmu, tapi sayangnya hari ini aku sedang bekerja."


"Apa di sini ada transportasi atau sejenisnya yang bisa membawaku kesana?"


"Tak ada.", Alishia menggeleng.


"Soalnya bila kami hendak berpergian, kami tinggal terbang saja."


"Benar juga."


"Shia, kapan engkau selesai bekerja?"


"Aku bisa bekerja sampai malam."


Mata Devan melirik ke bawah setelah mendengar hal itu, ia diam seperti sedang berfikir, tapi Alishia begitu peka, ia menyadari ada kecewa pada rasa Devan.


"Sedang terburukah?.... Ke Rayyana?", tiba-tiba Alishia mengambil perhatian Devan yang tengah melirik ke bawah. Alishia sedikit menundukkan diri dan kepalanya, dan berbicara di depan pandangan mata Devan.


"Ya, aku sedang buru-buru. Aku tak boleh terlambat, apa kau...kenal seorang yang berkenan membawaku kesana?", Devan pun menanggapinya datar.


"Sudah biar aku sajaaa. Aku sudah bilang kan, dengan anginku aku bisa mengantarmu ke sana.", ucap Alishia tersenyum.


"Kau bekerja sampai malam, kupikir aku tak bisa menunggu lagi."


"Aku tak bilang aku bekerja sampai malam. Aku bilang, aku bisa bekerja sampai malam."


Devan diam, ia baru memahami maksud Alishia barusan.


"Artinya, aku bisa juga selesai bekerja sekarang.", lanjut Alishia yang masih tersenyum pada Devan.


"Sungguh?.. Kalau begitu ayo!"


"Mm mm", Alishia menggeleng.


"Mumpung kau di sini, bukankah kau seharusnya memperbaiki itu dulu?", Alishia melirik pada gelang yang menghitam di tangan kiri Devan.


"Tak perlu. Ini tak mengganggu penampilanku."


"Penampilan?... humm.. dari ucapanmu sepertinya kau tidak tahu."


Devan kemudian mengernyitkan dahinya,


"Tidak tahu apa?", tanya Devan heran.


"Bagaimana kalau kau ikut aku dulu?, tak terlalu lama. Nanti kau akan tahu.", ucap ramah Alishia.


"Baik, asal tak lama."


"Hm", gumam Alisha mengangguk senyum. "Ayo.!"


Devan dan Alishia pun berjalan bersama. Dalam perjalanan, Alishia berbicara banyak, sementara Devan tetap setia mendengarnya sembari memberi tanggapan singkat.


Sesekali mereka berdua menyapa atau sekedar melambai tangan, bila ada peri yang lewat menyapa.


Saat itu, Alishia seperti pemandu wisata. Ia seringkali tergerak untuk menjelaskan hal yang tampak dimatanya, hal-hal unik, yang ada di kota Arcana.


Hingga suatu ketika, Devan melihat sesuatu yang familiar, sebuah bangunan seperti kincir angin raksasa berdiri di sisi jalan yang ia lalui. Devan pun menengadahkan kepalanya, dan tampak di matanya kincir yang berputar, meniup warna-warni sihir peri ke arah tertentu.


"Haa, kincir angin ini adalah ide bunda Artemis.", ucap Alishia yang melihat Devan memandang kincir angin tersebut.


Devan pun menurunkan kembali pandangannya dan beralih memandang ke Alishia.


"Bunda?", tanya Devan heran.


"Oh maaf, Kau tidak kenal ya. Bunda Artemis adalah ratu peri kami sebelumnya. 'Bunda', merupakan panggilan sayang kami padanya."


"Jadi begitu...."


"Mm. Dahulu, Bunda Artemis pernah berpergian ke suatu negeri manusia. Negeri tersebut kaya akan angin, hingga para penduduknya memanfaatkan angin tersebut untuk dijadikan energi agar membantu pekerjaan mereka.


Karena hal itu, Bunda Artemis terpikirkan untuk membangun kincir angin di negeri ini, hanya saja fungsinya berbeda, kincir angin di sini lebih kepada agar sisa-sisa sihir kami yang melayang ke udara, dapat terbang keluar dengan jalur yang teratur.", lanjut Alishia.


Setelah mendengar penjelasan itu, Devan kembali menengadahkan kepalanya, melihat kembali kincir tersebut.


("Daripada kincir angin, sebenarnya lebih tepat bila disebut kipas angin raksasa.", bathin Devan.)


Tiba-tiba, muncul beriak-beriak angin di sekeliling tubuh Devan, yang perlahan-lahan semakin kencang. Devan sempat agak terkejut sebentar.


"Tenang-tenang, itu adalah anginku, kau akan lebih mengerti setelah melihatnya dari atas.", ucap Alishia dengan senyum mengembang.


Devan menoleh memandang Alishia, dan melihat sekumpulan beriak angin juga bertiup mengelilingi dirinya.


Dan mereka berdua pun melayang terbang, semakin tinggi hingga jauh melebihi tingginya kincir angin raksasa, bahkan lebih tinggi daripada dataran tepi Arcana.


"Lihat!"


Devan ternganga, ia terkesima melihat bagaimana warna-warni sihir peri menghiasi seluruh negeri Arcana. Satu kincir angin yang Devan temui barusan, ternyata hanya salah satu dari banyaknya kincir angin yang berdiri memutari seluruh negeri.

__ADS_1


Kincir angin itu meniupkan aura warna sihir peri ke arah kincir angin lainnya, bersambung-sambung, dari yang terendah, menuju ke atas, barulah yang paling tepi atas, aura sihir peri itu di tiup lepas ke angkasa, membiarkannya terbang bebas, mau dia terbang menggumpal ke bawah, atau hilang menyatu dengan udara angkasa.


"Dulu sebelum ada kincir-kincir itu, sisa-sisa sihir kami memenuhi seluruh kota. Seringkali hal itu mengganggu penglihatan kami, walau begitu, tak satupun dari kami mengeluh.


Tapi Bunda Artemis sangat pengertian, sekalipun kami tak mengeluh, beliau mengerti apa yang mengganggu kami, beliau lalu menyampaikan niat dan idenya pada kami, meminta izin pada kami, dan setelah itu, Bunda Amaryllis membantunya untuk menentukan tata letak Kincir-kincir itu hingga seperti sekarang ini."


Devan diam mendengar.... terkesima tak hanya pada keindahan kota, namun juga oleh keindahan hati Ratu Peri Artemis yang dicerita.


"Ratu Peri Artemis sangat baik hati ya.", ucap Devan, tampak senyum tipis di sudut bibirnya.


"Mm. Padahal Bunda Artemis baik, tapi tetap saja musuhnya banyak.


......"


Devan menoleh ke arah Alishia yang sedang memandang ke bawah. Devan juga menyadari, Alishia tak sedang memandang kota Arcana, pandangannya kosong, ia tak memandang apapun.


"Ayo kita turun.", sesaat kemudian, Alishia kembali yang biasanya.


"Mm.",Devan mengiyakan.


.....


Beberapa lama kemudian...


"...Daaan, kita sampai.", ucap Alishia


Devan dan Alishia kini berada di depan sebuah rumah peri yang agak besar.


"Ayo masuk.", ajak Alishia penuh senyum.


Alishia pun memasuki rumah itu melalui pintu setengah oval yang terbuka.


"Tuan Pashaa, Lishia dataaang untuk melaporrr!", ucap Alishia seraya tangan kanannya mengangkat menempel sejajar dengan alisnya memberi tanda hormat.


"Baik-baik. Sudah kubilang kan, kalau warna yang kau bawakan itu, tak sesuai dengan permintaan pembeli kita."


Mendengar hal itu, Alishia pun sok melangkah hentak, dengan wajah agak cemberut sembari berkata,


"Hey hey Pashaaa, padahal aku belum bilang tapi kau sudah mengira buruk padaku...", ucap Alishia dengan nada agak cemberut, kemudian ia berhenti tepat di hadapan peri lelaki yang dipanggil Pasha itu yang berdiri di balik etalase putih.


Disaat yang sama, Devan baru saja masuk, lalu melempar pandangannya ke seluruh sudut ruang itu.


"Hoooh..., jadi maksudnya barang yang kau bawa itu benar?", ucap Pasha.


"Hehehe.", Alishia hanya tercengir sembari menggaruk kepala.


"Tuh?, hmmm yah, aku juga sudah mengira sih."


Selagi Alishia dan Pasha berbicara, Devan sibuk melihat-lihat pendant-pendant kecil beragam bentuk yang tersusun rapi pada sebuah etalase putih.


Selain itu, terpajang pula pendant-pendant yang ukuran sedang pada dinding-dinding ruangan putih penuh itu.


Walau begitu, warna mereka hampir-hampir sejenis, kebanyakan biru, biru muda, biru tua, ada pula yang putih, merah, nila, namun kalah banyak dengan warna kebiruan.


"Ini... toko aksesoris?", tanya Devan sendiri, namun terdengar oleh Alishia dan Pasha.


"Selamat Datang tuan, di toko pend.... ehh anak manusiaaa!", Pasha yang hendak menyambutnya pun langsung terkejut, tak menyangka ada manusia yang berkunjung di tokonya.


"Hehe, aku yang membawanya kemari.", ucap Alishia pada Pasha.


"Devan, kemarilah. Kau bisa tanya-tanya langsung pada pemilik tokonya."


Devan kemudian berjalan, melewati beberapa etalase di samping kiri-kanannya. Hingga ia sampai di depan sebuah etalase, yang di sisi seberangnya berdiri seorang peri lelaki berambut pendek kuning keemasan bernama Pasha itu.


"Ini adalah toko pendant, anak manusia.", jawab senyum Pasha.


"Devan, dia adalah Pasha, aku terkadang menjadi kurir yang mengantar-jemput pesanan dari pelanggannya.", ucap Alishia.


"Ya. Tapi seringkali dia juga menjadi orang ketiga, membeli barang di tokoku, lalu menjualnya kembali pada pelanggan lain dengan harga yang lebih tinggi.", tanggap Pasha.


"Ehehe, ya aku kan juga mau untung.... Oh iya Pasha, dia adalah Devan, seorang manusia yang aku temui di luar kota."


"Salam kenal, Devan."


"Salam kenal juga, Pasha."


"Aku membawanya kemari, untuk memperbaiki pendant milikinya, sekaligus agar ia mengetahui juga soal pendant."


"Ooh, begitu. Pengetahuanku sebenarnya tak terlalu dalam, tapi kalau sebatas dasar, mungkin aku bisa jelaskan."


"Hm. Pendant-pendant di sini kebanyakan warna biru. Aku jadi mengerti, mengapa Shia sampai salah membawa pesanan."


"Haa?, Ahahaha.", tiba-tiba Pasha tertawa mendengar ucapan Devan.


"Aku tak menyangka, kau juga mengetahui hal itu."


"Hey hey, kenapa jadi aku yang dibicarakan disini?, dan juga Pasha, wajar saja dia tahu, aku bertemu dengannya tepat di rumah si tuan pelanggan.", ucap Alishia dengan wajah agak cemberut.


"Heuuuh", gumam Pasha selepas tawa. "Begitu ya, wajar saja. Tapi sebenarnya Shia salah bawa bukan karena banyaknya warna mirip, memang dasar dianya saja yang ceroboh. hehe.", ejek Pasha sembari melirik ngejek pada Alishia.


"Hey!.. Heuuuu.. baik-baik, aku ceroboh!."


"Bercanda loo, Lishia.", ucap Pasha, lantas ia langsung mengganti topiknya dan melihat Devan.


"Pendant-pendant ini terbuat dari sihir kami yang di padatkan, adapun warna biru itu berasal dari elemen kami, angin."

__ADS_1


Kemudian, Pasha mulai menunjuk pendant-pendant yang berada di etalase yang terletak di antara mereka bertiga.


"Coba lihat, yang biru ini, dalamnya mengandung elemen angin, semakin gelap warnanya, itu artinya anginnya semakin kuat. Adapula yang berwarna nila seperti ini, yang ini, elemen anginya lembut, akan menyejukkan hati yang terkena anginnya, nah yang nila ini sama seperti angin milik Alishia.


Selain itu adapula warna lain, seperti yang merah ini, akan melindungi pemakainya dari tekanan mental, atau yang putih ini, mampu memperkuat pendengaran peri yang memiliki sensitivitas pada gelombang suara, yang ini cocok untuk pemilik kekuatan sensivitas suara sepertiku."


"Tunggu, apa ada elemen lain?"


"Tidak ada. Para peri hanya menguasai sihir elemen angin."


"Mengapa?"


"Hmm, pertanyaanmu seperti bertanya mengapa ikan pandai berenang. Bagaimana ya menjelaskannya?", Pasha kemudian memasang raut berfikir.


"Para peri itu makhluk yang tercipta dari angin, Devan. Karena itulah, mana mungkin kami bisa memiliki sihir elemen lain.", ucap Alishia mencoba menjawab.


"Nah begitu.", Pasha menimpali.


"Jadi begitu, sepertinya aku agak mengerti."


("Tapi bila pendapat itu digunakan ke manusia, aku jadinya tak mengerti, walaupun manusia tercipta dari tanah, tapi tak membuatnya bisa mengendalikan tanah.... Ah sudahlah.")


"Syukurlah walaupun hanya agak mengerti, Oh iya, bukankah kalian berdua kemari hendak memperbaiki pendant?"


"Oh iya, itu adalah gelang pendant milik Devan. Devan, coba kau tunjukkan pada Pasha."


Devan kemudian mengangkat tangan kirinya.


"Ini?... Pendant?", Devan pun merasa bingung.


"Boleh kulihat?", pinta Pasha.


Devan pun mengulurkan tangan kirinya mendekati Pasha.


"Sudah menghitam begini.... Ini seperti habis terkena serangan sihir hitam milik iblis yang beragam secara bersamaan."


Mata Devan terbuka lebar sesaat, ia baru ingat dirinya pernah dikepung puluhan iblis ketika di perjalanan langit pertama.


("Dari saat itu kah?. Saat itu aku dalam cengkeraman Eris, aku jadi tak terlalu ingat banyak.")


"Boleh aku menyentuhnya?"


"Hm.", Devan mengiyakan.


"Sangat Elastis. Ini memang pendant, tapi bukan dibuat disini. Mungkin... ini dibuat di Rayyana."


"Rayyana???"


"Devan, kau tampak terkejut.", ucap Pasha.


"Kebetulan ya, dia sebenarnya hendak ke sana.", ucap Alishia pada Pasha.


"Pantas. wajar saja kau tak menyangka."


Devan hanya diam, sembari memandangi gelang yang ia kenakan.


("Karena ingatanku belum kembali, aku jadi tak tahu asal-usul gelang ini", bathin Devan.)


"Sejujurnya aku masih penasaran. Boleh aku lepas sebentar?"


Devan pun mengangguk seraya berkata,


"Hm. Tak masalah."


Pasha pun melepas gelang tersebut dari tangan Devan,


"Pendant ini sungguh elastis."


Pasha fokus pada gelang yang kini berpindah di jemari-jemarinya, begitupun Alishia yang turut penasaran menghadapkan tubuhnya dan pandangannya sepenuhnya pada gelang yang Pasha pegang.


Pasha memutar-mutar gelang hitam tersebut, lalu ia bolak-balik untuk melihat bagian dalamnya.


"Ini memang berbeda dari biasanya.", tanggap Alishia yang juga fokus melihat gelang tersebut.


"Hm?", tiba-tiba Pasha bergumam kecil, pandangannya ke gelang yang berada di bawah matanya, tapi ia merasa ada aura gelap besar di hadapannya.


Pasha... kemudian mengangkat pandangannya ke depan. Sekejap raut wajahnya berubah, ia tampak sangat terkejut, matanya terbelalak.


"Pasha....?", Alishia terheran. Ia pun menoleh ke arah pandang Pasha, yaitu Devan.


"Haaah!", nafas Alishia tertarik, mulutnya menganga, matanya terbelalak, saat itu seketika Alishia mundur menjaga jarak dari Devan.


Devan lebih tak mengerti, tiba-tiba ia melihat reaksi berlebihan Pasha dan Alishia ketika melihat dirinya.


"Kau......", Pasha berusaha bicara, ia masih berdiri di tempatnya.


"Kau bukan manusia, Kau... Fallen Angel???", ucap Alishia bernada tinggi. Walau ragu, Alishia tetap siaga, ia menatap Devan dengan pandangan sinis tak senang.


("Ha???"


"Dia... bagaimana bisa tahu?")


Devan masih tak menyadari, hatinya bertanya-tanya sembari memandangi Pasha dan Alishia bergiliran.


Tapi Pasha dan Alishia, melihatnya dengan amat jelas. Aura hitam pekat keluar dari sekujur tubuhnya, hingga diatas kepalanya, terbentuk mahkota dari aura hitam itu, begitupun dari balik punggungnya, sepasang sayap lebar nan tajam, bermekar terbentuk oleh aura hitam tersebut.

__ADS_1


Aura kekuatan Devan keluar, Pasha dan Alishia melihatnya jelas, tapi Devan justru tak menyadarinya.


***


__ADS_2