Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 12: Malaikat Jatuh, Diri Devan Yang Sebenarnya?


__ADS_3

Kini Devan dan pria itu berada di sebuah gedung kantor. Tampak beberapa orang duduk tersandar di sofa-sofa.


"Sebelumnya mereka berada di lantai. Kemudian aku memindahkannya.", ucap pria itu pada Devan.


Devan memperhatikan, walau tak beri tanggapan.


Setelah beberapa saat, Devan dan pria itu pun memasuki pintu. Di baliknya terdapat ruangan yang cukup besar, terdapat meja besar memanjang dengan beberapa kursi di sisi-sisinya.


"Disini adalah ruang rapat.", ucap pria itu seraya berjalan ke arah gorden besar di sisi samping ruang itu. Ia pun menarik tali dari tepi gorden, seketika terbuka tirai gorden itu dan tampak di baliknya sebuah dinding kaca yang besar.


"Seharusnya ini adalah malam yang terang.", ucap pria itu yang tengah menatap kota dari ketinggian.


"Berarti Avalon City adalah kota dengan malam yang terang.", sahut Devan.


"Tidak semenjak kau datang."


"Ya. Aku tahu."


Pria itu berdiri bersandar di sudut ruangan tepat di sisi jendela besar itu. Sementara Devan bersandar di tepi meja menghadap ke arah jendela besar itu.


"Kau bernama Devan, kan?"


"Ya."


"Nama belakang?."


Devan berfikir sejenak, menoleh ke gelang yang ia kenakan.


"Aria. Devan Aria.", jawab Devan.


"Hmm. Ternyata bukan.", ucap pria itu berbicara sendiri dengan suara kecil.


"Apa?, maaf aku tidak dengar."


"Oh. Bukan apa-apa. Aku hanya bicara sendiri. Aku Aslan Era, panggil saja aku Aslan."


"Aslan, hm.", Devan mengangguk.


"Bagaimana kau tahu, bahwa kau adalah Devan Aria?. Sementara kau tak ingat apapun."


"Darimana kau tahu aku kehilangan ingatan, padahal aku belum bercerita?.", ucap Devan seraya melihat Aslan heran.


"Itu karena aku pernah mengalaminya."


"Oh begitu. Benar juga. Sebenarnya aku telah mengingat sedikit dari masa laluku. karena itu aku tahu namaku adalah Devan Aria."


"Oh jadi karena itu. Ingatan seperti apa yang kembali itu?."


"Sekilas seperti aku dimasa kecil, yang tengah bermain di suatu desa."


"Sebagai manusia??.", tanya Aslan. Tampak ekspresi tak senang di wajahnya.


"Sebagai manusia?, tentu saja.", jawab Devan, ia bingung dengan reaksi Aslan.


Pria paruh baya itu bangun dari bersandarnya, sambil memandang keluar jendela. Ia berjalan tiga langkah ke arah Devan, dan menggulung lengan panjangnya hingga ke siku pada jas hitam yang ia kenakan, kemudian melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Beritahu aku, bagaimana ceritanya ingatan manusia itu muncul?.", ucap Aslan seraya menatap Devan serius.


("ingatan manusia?.", Devan membatin, merasa ganjil dari perkataan itu.)


Devan memandang ke langit-langit, memejamkan mata. Ia mencoba mengingat-ingat.


"Saat itu aku sedang berbicara dengan seorang gadis. Dan di tengah pembicaraan, kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit. Saat itu aku mengingat sedikit dari masa laluku."


"Kau bicara dengan seorang gadis?. Siapa?.", Aslan penasaran.


"Dia gadis peri yang tak sengaja aku temui. Padahal kami baru mengenal, tapi gadis peri itu banyak membantu. Ia membuat aku bertemu dengan kakek perinya, lalu kakek peri itu menyuruhku kesini untuk bertemu dengan kau.", jawab Devan, tanpa sadar merekah sedikit senyum di bibirnya.


Aslan tampak tak menyangka dan tertegun mendengar jawaban Devan. Ia pun meraih kursi dan duduk merenung.


"Mungkinkah.....", Aslan bersuara kecil. "Gadis peri itu, siapa namanya?.", tanya Aslan.


"Namanya Luna."


Aslan duduk menunduk ke bawah. Ia menyembunyikan ekspresi wajahnya dari Devan. Matanya berubah tajam dengan kerut diantara kedua matanya, seperti marah atau benci yang tertahan.


("Syukurlah Luna. Dirimu masih selamat rupanya.", Aslan membathin.)


Tak lama kemudian, Aslan teringat pertarungan sebelumnya saat melawan Devan.

__ADS_1


(.....Devan menggeser kepalanya, menghindari tinjuan pria itu, kemudian melompat mundur ke belakang.


Pria itu terkejut, matanya terbelalak. Ia tak menyangka Devan bisa menghindari tinjuannya.


Pria itu pun kembali bergerak. Melayangkan tinju, menghempaskan tendangan beberapa kali kepada Devan. Namun Devan dengan mudah menghindarinya.....)


"Gadis peri itu, apa dia memberi kau sesuatu?"


"Sesuatu...oh iya. Dia memberikan sebuah kantong kecil.", ucap Devan sembari mengeluarkan benda itu dan memegangnya. "Kantong ini berisi pasir berwarna, bukan sekedar pasir, ia dapat mengeluarkan sihir.", lanjut Devan.


"Boleh aku lihat?."


Devan menyerahkan kantong kecil itu. Aslan menerimanya, ia memandang kantong kecil itu dengan seksama.


"Dan ini adalah pasir berwarna yang berasal dari kantong kecil itu, tadi sempat berceceran ketika kita bertarung, aku memungutnya kembali.", ucap Devan sembari menggenggam sedikit pasir warna yang ia rogoh dari saku jaketnya.


Mereka berdua terkesima ketika Devan membuka jemari-jemarinya. Terlihat aura sihir yang menyebar seperti angin yang terlihat ketika pertarungan tadi.


("Pantas saja, sekarang jadi masuk akal.", Aslan membathin.)


"Terakhir kali kulihat, Luna menggunakannya untuk memunculkan aliran sungai layang yang mengantar kami menuju negeri Awan."


"Maksudmu?.", tanya Aslan heran.


"Saat itu, Luna melempar pasirnya ke udara, lalu terbentuk jalur sungai yang airnya bisa mengalir ke atas.", tambah Devan, kepalanya menengadah mengingat kejadian itu.


"Kau yakin apa yang kau lihat?.", tanya Aslan ragu.


"Tentu saja. Ia melakukannya di depanku."


Aslan diam sejenak. Ia mencerna setiap perkataan Devan, memperhatikannya dengan seksama.


("Mustahil satu orang peri punya dua jenis sihir. Lelaki ini yang berbohong kah?, atau dia dibohongi?, atau mungkin, aku salah menduga?.", Aslan penuh bimbang dalam hati.)


Devan melihat Aslan yang diam dan menyadari kebimbangannya.


"Boleh kuambil lagi kantong itu?.", ucap Devan. Aslan kemudian mengembalikan kantong kecil itu ke tangan Devan. "Luna memberiku ini sebab dia meminta aku untuk kembali ke negerinya nanti, jadi ini adalah alat untuk aku kembali melalui sungai layang. Tidak masalah kalau kau tidak percaya, aku mengerti. Awalnya aku juga tak percaya atas apa yang aku alami. Peri, sihir, negeri awan, itu seperti cerita-cerita dongeng."


Mendengar hal itu, Aslan pun angkat bicara setelah beberapa saat diam.


"Aku percaya pada hal itu. Bahkan bagiku, itu adalah hal yang biasa. Peri, sihir, maupun negeri di atas awan, untuk kau yang sekarang justru memang seperti cerita karangan. Tapi bagi diri engkau yang lain, itu adalah hal yang wajar, bahkan tidak sebatas hanya pada ketiga hal itu."


Aslan pun berdiri dari duduknya. Ia berjalan lalu berhenti tepat di hadapan dinding kaca membelakangi Devan. Ia memandang ke langit malam, dan tangannya masuk ke saku celana.


"Di atas sana, ada satu tempat di luar Bumi, bernama Delbora. Tempat di mana para malaikat jatuh berkoloni."


"Malaikat jatuh?."


"Mereka adalah makhluk berdosa yang menolak ketetapan tuhan, sehingga derajatnya diturunkan."


"Lalu?."


Aslan berbalik dan memandang Devan.


"Namun, entah karena apa, ada segelintir jiwa malaikat jatuh yang mati itu menyasar ke bumi dan merasuk ke tubuh manusia. Akibatnya.....", Aslan menghentikan kalimatnya.


Devan menunggu lanjutan kalimat itu, namun Aslan masih diam.


"Akibatnya apa?.", tanya Devan penasaran.


"Akibatnya ingatan yang dimiliki manusia maupun malaikat jatuh itu terganggu, dan seakan menjadi pribadi yang baru."


Degup jantung Devan berdetak kencang setelah mendengar hal itu.


"Apa kau ingin bilang bahwa itu ada kaitannya dengan permasalahanku?.", tanya Devan, ia berusaha tenang.


"Masalahnya adalah engkau tak ingat siapa diri kau dimasa lalu."


Devan diam tak bisa membalas perkataan itu. Ia hanya menunggu Aslan lanjut berbicara.


"Tidak salah lagi. Alasan kakek peri itu menyarankan engkau menemuiku, agar aku memberikan jawaban atas persoalan yang engkau hadapi. Sebab aku juga pernah mengalami persoalan itu. Ketidaktahuan terhadap diri kita yang sebenarnya.", Aslan berbicara dengan raut wajah tak senang.


"Diri kita yang sebenarnya....", Devan memikirkan kata-kata itu.


"Hal itu jelas nampak pada fisik kita. Kita memiliki rambut yang hitam pekat, memiliki kemampuan bertarung yang hebat, regenerasi tubuh yang sangat cepat. Itu bukan ciri yang dimiliki oleh seorang manusia."


Devan agak tak asing dengan kalimat itu, ia pun teringat pada perkataan Kakek Luna beberapa hari yang lalu.


(....."Dirimu benar . Kau adalah seorang manusia. Tapi, kau punya warna rambut yang hitam pekat. Rambut manusia tak pernah ada yang sepekat hitam itu. Manusia juga tak mungkin baik-baik saja setelah menerima satu pukulan Reyn sampai terpelanting jauh. Manusia juga tak memiliki kekuatan fisik yang sampai membuat Reyn terbang jauh karena tinjuannya. Manusia tak mungkin bisa menyembuhkan dirinya secepat itu, dan manusia tak mungkin bisa melihat kami, bangsa peri.".....)

__ADS_1


"Jadi, aku yang sebenarnya adalah seorang malaikat jatuh?."


"Seharusnya begitu."


Devan mengernyitkan dahi.


"Mengapa 'Seharusnya begitu'?, mengapa bukan 'Ya' atau 'Benar'?."


"Itu karena engkau yang sekarang lebih condong sebagai manusia."


"Sampai sekarang pun aku tetap menganggap kalau aku adalah manusia."


"Itu karena engkau dekat kepada peri-peri itu. Sebaiknya engkau jauhi para peri, mereka akan menjauhkan kita pada diri kita yang sebenarnya."


"Apa maksud kau?. Aku yang sekarang adalah karena pilihan yang aku jalani. Tidak ada hubungannya dengan para peri."


"Aku yakin. Bahkan para peri pun juga menjaga jarak dengan kau. Itu karena aura kita dengan mereka berlawanan."


Devan terhentak ingatannya mendengar pernyataan Aslan. Terbesit ucapan Yuna diwaktu lalu.


(".....Hanya saja, ada beberapa yang berbeda dari dirimu. Dirimu ingat?, kata kakek kami tadi. Dari awal aku melihatmu, aku seperti merasa harus mewaspadaimu bahkan menjauhimu, hingga saat ini.".....)


Devan juga mengingat sikap beberapa peri kepadanya ketika dirinya datang ke negeri itu. Dalam pikiran Devan, ia membenarkan perkataan Aslan.


"Tidak semua peri. Luna adalah peri yang justru ramah padaku, bahkan ia menolongku, karenanya, aku bisa bertemu dengan kau sekarang di sini.", Devan berusaha menyangkal


Kini giliran Aslan yang terganggu dengan perkataan Devan. Ia sampai menunjukkan raut wajah tak senang. Aslan pun kembali berbalik badan, memandangi pemandangan gelap Kota Avalon.


"Ini perasaanku saja, atau kupikir engkau benar-benar tak suka dengan para peri. Lebih tepatnya engkau tak menyukai peri yang bernama Luna ini. Apa engkau pernah bertemu Luna sebelumnya?.", ucap Devan curiga.


Aslan berusaha tenang, tidak membiarkan dirinya mengeluarkan reaksi spontan.


"Aku bukannya tidak menyukai Luna. Aku tidak menyukai semua peri. Luna adalah seorang peri. Dan dialah sebab terbesar engkau menjadi condong sebagai manusia."


"Baiklah. Aku pikir juga tak mungkin engkau pernah bertemu Luna. Dia bilang bahwa dia pertama kali turun ke bumi saat itu.", ucap Devan, ia teringat perkataan Luna waktu lalu.


(".....Kau tau, ini kali pertama aku turun ke bumi. Aku ditugaskan kakekku untuk melakukan sesuatu.".....)


"Pertama kali kau bilang?.", ucap Aslan. nadanya agak meninggi.


Devan agak bereaksi dengan ucapan Aslan. Aslan pun tersadar melihat reaksi kecil Devan.


"Maksudku, jadi pertama kali Luna turun ke bumi saat itu?.", ucap Aslan segera memperbaiki kalimatnya.


"Ya, saat itu dia mendapat tugas tertentu dari kakeknya.", ucap Devan, ia merasa ada keganjilan pada Aslan.


Aslan kembali termenung dalam batinnya, namun tak lama, ia mencegah Devan agar tak semakin berpikiran lain terhadapnya.


"Intinya, kusarankan sebaiknya kau tak bertemu lagi dengan peri bernama Luna itu. Dengan begitu engkau selangkah menuju diri yang sebenarnya.", Aslan menegaskan, sembari berbalik menghadap Devan.


"Mohon maaf Aslan, engkau memang memberi jawaban yang aku perlukan, tapi untuk yang satu itu, aku tidak bisa."


"Jawabanku jadi percuma, bila tak engkau lakukan yang satu itu. Percayalah, yang terakhir itu, adalah kunci jawaban yang sebenarnya atas persoalan engkau."


"Aku berhutang budi padanya. Bahkan dia terkena masalah gara-gara menolongku."


"Justru karena engkau lah Luna dalam masalah."


"Aku tahu itu."


"Tidak Devan. Engkau tidak mengerti."


"Aku baru saja mengerti, Aslan. Karena itulah aku tidak akan menjauhi para peri, terutama Luna. Aku akan kembali menemuinya seperti yang ia minta, walaupun itu yang terakhir. Aku menolak menjadi malaikat jatuh yang hanya membuat aku membenci suatu bangsa."


"Kau...", ucap Aslan bersuara kecil Ketika Devan masih berbicara. Tiba-tiba bibirnya sedikit senyum menyeringai.


"Aku tidak berniat untuk mengingat masa lalu sebagai malaikat jatuh, aku harap aku terus melupakannya, bahkan memilih tidak percaya, kalau aku pernah hidup sebagai malaikat jatuh, bahkan bila itu benar, aku akan berusaha menyangkalnya.", ucap Devan emosional.


Tiba-tiba.....


"Aaaakhhh!!!", Devan merasakan kepalanya sakit yang luar biasa. Ia pun terlutut sembari memegang kepalanya menahan sakit.


Aslan Era tersenyum menyeringai lebar melihat Devan.


Devan terduduk lutut, tangan kirinya menahan badannya di depan agar tak tumbang, tangan kanannya memegang kepala.


Devan menghadap ke bawah, ia membuka matanya yang agak memerah, dari samping kepalanya tampak keluar urat-urat, bahkan ia sampai berliur dan menetes ke lantai.


"Hahahaha", seketika sayap hitam lebar muncul mengembang dari punggung Aslan, mendongakkan dadanya serta kepalanya, seakan merayakan Devan yang merintih kesakitan di bawahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2