
"Hahahahahaha...."
("Gadis kuda ini... Bahkan dia mengetahui apa yang tidak ku tahu.")
"Baiiiiiklah.... gadis kuda. Kuakui kau, kalau kau adalah jin pelayan si Raja manusia itu.", ucap Istan penuh lantang.
Isla belum menggubrisnya. Dirinya tenang seperti biasa memandangi Istan yang tawanya memecah lamunan.
Sementara Raven, dirinya terkaku berdiri, raut wajahnya tak karuan, kesombongannya runtuh, di tampar oleh kenyataan pahit yang terjadi tepat di depan matanya itu.
("Jadi....selama ini kepada siapa aku mengabdikan diri?, kepada Jenderal Aamon yang ku kagumi kah?, atau kepada Leviathan yang bahkan aku tak banyak tahu tentangnya?")
Istan kemudian menyempatkan dirinya menoleh ke arah Raven sebentar.
("Raven, ada banyak yang hendak aku tanyakan pada engkau. Tapi..... ")
Dilihatnya wajah Raven yang penuh kekecewaan, pandangan matanya kosong. Meski begitu, Istan tak lagi tertawa seperti sebelumnya.
("Engkau pun sepertinya juga tertipu. Dibanding diriku yang baru beberapa tahun melakukan perjanjian dengan Jenderal Iblis yang kukira Aamon itu, tidaklah ada apa-apanya daripada engkau yang telah melayaninya selama dua ratus tahun ini.)
Dan Istan pun mengurungkan niatnya, membiarkan Raven bersama keadaan dirinya.
"Hey gadis kuda, ingatlah namaku!. Aku adalah Istan Zora, pemimpin tertinggi Delbora, Raja daripada Malaikat Jatuh. Lalu, siapa engkau?", Istan mengenalkan dirinya, kepada Isla yang kebetulan dirinya masih memandang ke Arah Istan.
(" Zora?!..."), Isla bereaksi kecil, mendengar nama belakang yang Oleh Istan sebut. "Hm, bukan.", dirinya menyangkal kecil.
"Aku Isla, sesosok jin jelmaan kuda terbang, dan seperti yang sudah kubilang tadi, aku bertuan pada salah satu Raja Manusia."
"Isla, bukankah tuanmu itu telah lama mati?, itu artinya kau adalah jin tanpa tuan."
"Tidak, aku tidak pernah melepaskan ikatan bersama tuanku itu. Sampai kapanpun, aku adalah pelayan tuanku di Istana Berlian miliknya."
"Oh ya?. Hmm, sayang sekali, padahal aku hendak menawarkan ikatan antara tuan dan budak dengan engkau. Kalau begini, aku hanya bisa menawarkan perjanjian yang setara."
"Tapi aku tak berminat melakukan perjanjian yang setara denganmu."
"Hah?!", jawaban Isla sedikit mengganggu Istan.
"Maksudnya, engkau lebih hebat dariku?", ucap Istan sedikit bernada ketus.
"Aku tidak tertarik, itu saja."
Istan sebentar memperhatikan, ke arah Zivan yang digendong oleh Isla.
"Jadi, manusia tak berdaya itu lebih menarik bagi engkau?"
"Ya."
"Cih!, Lalu mau kau bawa kemana manusia itu?, Tinggalkan!. Dia belum selesai berurusan denganku."
__ADS_1
"Urusan apa?, yang kulihat hanyalah keempat makhluk pengecut yang memukul seorang manusia pemberani secara bersamaan."
("Jin ini... Kata-katanya pedas juga. Kalau dia berani berkata seperti itu, artinya dia percaya diri dengan kekuatannya atas aku.", pikir Istan.)
"Aku tidak merasa harus menjelaskannya pada engkau!", ketus Istan.
"Kebetulan!, akupun tak tertarik untuk tahu."
Istan menjadi agak kesal, alisnya semakin mengerut, dan tangannya mengepal, walaupun belum menggenggam kuat.
("Aku tak boleh bertindak gegabah, aku tidak mengenal kemampuan miliknya, kemenanganku belum dipastikan.")
"Hey Isla, kupikir harusnya diantara kita harusnya tak ada masalah serius."
"Kau benar, Istan."
"Lalu, kenapa menghalangiku?, apa melindunginya adalah perjanjian antara kau dengannya?"
"Kau pikir aku melindunginya?, jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin dia mati dulu, sebelum urusannya dengan aku selesai."
"Itu sama saja, sialan!"
"Tidak!. Aku tidak peduli ada masalah apa kau dengan Zivan, tapi, bisakah kau tunda sampai urusanku dengannya selesai?, ada perjanjian yang harus kami akhiri. Setelah itu, lakukan sesuka kau terhadapnya."
"Hooh begitu. Oke, kapan itu akan selesai?"
"Harus menunggu Zivan sadar dulu, mungkin seharian, paling lama tiga hari."
Kemudian, tangan Istan yang mengepal barulah sedikit menggetar akibat ia genggam kuat-kuat.
"Gadis kuda sialan!, kau main-main denganku?"
"Hey, bukankah Zivan seperti ini karena ulah kalian?"
"Apakah hanya karena engkau sesosok jin kuno lalu kau bisa bertindak semaumu?. Hm! Kau tidak pantas!"
DUAR!!,
Meghan yang sedaritadi diam seketika melesat secepat kilat dari tempatnya berdiri, kepalan tangan berbalut petir siap menghantam kepala Isla.
"MATILAH!", ucap Meghan.
Sluuuuur!!
Seketika beriak angin yang cukup deras timbul, akibat tinjuan Meghan yang tak mengenai apapun. Sebab Isla, tahu-tahu telah tak ada di hadapannya.
Sementara Isla, dirinya tiba-tiba telah bergerak pendek ke depan pada posisi membelakangi Meghan namun masih di hadapan Istan.
"Keajaiban milik Arcangel Michael, elemen petir penghancur, tapi tidak seseram milik cambuk Raziel.", ucap Isla, sesaat setelah kakinya mendarat.
__ADS_1
"Apa?!", kesal Meghan.
Kemudian di posisi lain, giliran Maia yang melepas magusnya, dan terhentilah ruang waktu sekitar, membuat segalanya terdiam beku.
Maia pun berjalan pelan, mendekati Istan Meghan tuk menyadarkannya dari kebekuan. Kemudian...
"Heh!, tidak peduli sekuat apa kau, Isla. Kau tetap tak berdaya melawan waktu.", ketus Istan begitu dirinya bergerak dari kebekuan.
Meghan pun kembali berbalik, dan mengancang kuat lengan kanannya yang berbalut petir itu, lalu dilepasnya tinjuan petir menuju wajah Isla.
"Kena kau sekarang!"
Setengah detik sebelum Meghan melepas tinjuan, Maia pun menormalkan waktu.
Sluuuuuurrrr!!
"Lagi?!", ucap Meghan tak menyangka, matanya terbelalak, menyadari Isla lagi-lagi menghalau serangannya, setelah digabung dengan magus waktu Maia.
Sementara Isla, tampak dirinya baru saja melayang mendaratkan kaki di belakang mereka.
("Makhluk ini, tak diragukan lagi, dia sangat cepat."), barulah mata Istan terbuka lebar, mengakui kecepatan Isla.
("Fallen angel itu, aku seakan tak menyadari posisinya. Pantas saja dirinya sedikit bereaksi dan tak pernah bicara."), pikir Isla sembari sedikit melirik ke arah Maia.
("Tapi sayang, niat dirinya sangat terasa.")
"Cuma begitu?", ucap sinis Isla.
"Cih!", misuh Meghan.
Dirinya kemudian bertubi-tubi menyerang Isla dengan kecepatan kilatnya, namun sampai berkali-kali kelincahan Isla jauh mengunggulinya.
Hingga ketika kemampuan Maia kembali siap diaktifkan, dirinya pun kembali memberi dukungan Meghan,
Dan Maia, lagi-lagi menghentikan waktu di ruang sekitarnya. Kali ini cepat-cepat dirinya menyadarkan Istan dan berlari ke arah Meghan hingga mereka kembali kekesadaran.
Begitu Meghan tersadar, tak sabar dirinya hendak memegang kerah Isla agar tak ada kesempatan dirinya untuk menghalau.
"Tak akan lagi aku biarkan kau menghindar lebih dari ini.... Eh?"
Meghan pun terheran, melihat tangan kirinya yang menembus diri Isla. Padahal Isla tampak ada di hadapannya.
Sesaat setelahnya, menyusul yang lain terheran melihat pemandangan tak biasa itu.
"Apa maksudnya ini?", istan berucap kecil, mengerut dahinya pertanda heran.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba muncul Isla dari titik lain, yang melayang perlahan dengan sayap hitamnya, turun lalu mendaratkan kakinya di atas tanah.
"Itu hanyalah sisa keberadaanku, wujud yang ditampilkan oleh cahaya yang membeku.", jelas Isla, yang kemudian membuat mereka bertiga menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Dan lagi-lagi, mereka semua dikejutkan lagi oleh gerakan Isla.
***