
Sesosok malaikat kemudian muncul dari ketinggian. Dia adalah sesosok laki-laki yang diselimuti aura biru gelap.
Pakaiannya panjang berwarna putih serta warna biru gelap di setiap garis pakaiannya. Rambutnya agak panjang belah tengah, dengan campuran warna putih biru, begitupun warna sayapnya di belakang punggungnya yang lebar terbentang.
Pupil matanya pun juga berwarna biru gelap namun bercahaya, alisnya, bulu matanya juga memiliki warna yang sama dengan rambutnya.
Tangan kanannya memegang cambuk petir yang sangat panjang. Karena itulah kedatangannya di iringi badai petir dari atas dan dari bawah sekitar, membuat awan-awan cumulus yang semula putih menjadi mendung abu-abu yang menimbulkan kilat dan petir.
Dan karena itu pula, kedatangannya membuat seluruh iblis di sekitarnya berlari kocar-kacir menjauhinya.
Disaat yang sama, Sharon yang sedang menahan kepala Isla kemudian mengendor, sekejap kemudian Isla lebar-lebar membuka matanya dan memperoleh kembali kesadarannya.
Seketika pula Isla bangkit, lalu cepat-cepat ia rebut tangan Sharon yang digunakan untuk menahan Isla sebelumnya.
"HAA!!", Sharon yang tengah lengah sebab kedatangan sesosok malaikat, harus kembali dikejutkan dengan bangkitnya Isla yang tiba-tiba di hadapannya.
"AGHHH!!!", Sharon mengeram kuat tatkala Isla menggenggam kuat-kuat pergelangan tangan kiri Sharon oleh genggaman tangan kiri Isla. Sesaat setelahnya, telapak tangan kanan Isla dengan deras menghempas dada Sharon.
"PHUM!!!---KRASH!!!", seketika Sharon menghilang dari hadapan Isla dan tahu-tahu sudah berada agak jauh di depan Isla. Sharon berpindah, tapi tidak dengan pergelangan tangan kirinya.
"AAKHHHHHHHH!!!!", Sharon mengerang dengan sangat keras.
Sharon lalu melihat ke arah Isla, dengan raut wajah meregang menahan rasa sakit, nafasnya tak stabil.
Tampak dipenglihatannya raut wajah Isla yang menyeramkan, matanya lebar melotot tajam ke arahnya.
Saat itu ia melihat, Isla dengan kedua tangannya, meremukkan pergelangan tangan Sharon yang telah terpisah, hingga pergelengan tangan Sharon itu menjadi debu lalu tak bersisa.
"DUAR!!-DUAR!!---", tiba-tiba badai petir muncul berkali-kali membuat perhatian Isla dan Sharon teralihkan.
Sharon yang saat itu tengah meregang kesakitan terpaksa harus melarikan diri, dan Isla yang saat itu belum sempat memahami situasinya, pun juga hendak lari, namun ia kembali terlutut, ia masih tidak benar-benar pulih dari keadaan sebelumnya.
Kini, tinggallah mereka berempat, Isla yang duduk terlutut, Devan yang jatuh tak sadarkan diri, Eris yang melayang di atas sapu terbangnya, dan sesosok malaikat yang terbang melayang di atas.
"Kupikir engkau telah melanggar aturan tuhan, Raziel.", ucap Eris.
"Ooh--, ternyata, engkau tahu namaku."
"Jangan meremehkanku. Aku hafal seluruh nama malaikat yang jutaan itu. Tidak ada satupun malaikat yang aku tak tahu."
Malaikat yang dipanggil Raziel itu, menatap Eris dengan mata yang menyipit,lalu keningnya mengkerut. Sesaat kemudian, ia memejamkan matanya sebentar lalu berkata,
"Ooh, jadi begitu rupanya."
Raziel pun turun mendekati Devan yang tergeletak jatuh di atas awan, sembari berkata,
"Permohonanmu, telah Tuhan jawab, hai kawan lama."
("Permohonan?, Kawan lama?", Eris membathin.)
Eris pun secepatnya turut mendekati Devan, dan ia dengan berani menghadang Raziel yang juga hendak mendekati Devan.
"Tunggu dulu, dia bukanlah makhluk yang pantas untuk dapat pertolongan engkau."
"Hal itu bukan urusan engkau, menilai pantas tidaknya makhluk mendapat pertolongan. Menjauhlah!."
"Engkau pun tak punya kualifikasi, untuk memerintah aku, malaikat bawah!."
Raziel tak menghiraukannya, ia terus lurus turun ke bawah, hingga tahu-tahu ia telah melewati Eris tanpa berbelok arah. Ia sama sekali tak terpengaruh dengan provokasi Eris.
Eris pun memutar dirinya menghadap ke samping, lalu melirik Raziel yang telah melewatinya. Ia menatap cambuk petir yang di pegang Raziel seraya membathin,
("Tidak peduli sekuat apapun senjata yang engkau bawa, engkau tidak akan bisa selalu menggunakannya semau engkau.")
"Sebaiknya engkau jangan coba-coba, bukanlah senjata atau kekuatan yang menyebabkan engkau kalah dariku.", ucap Raziel seakan ia mampu membaca pikiran Eris.
("Tch!, seandainya tadi aku membawa pergi Devan dahulu.....")
Eris mengambil nafas panjang sesaat, lalu membuangnya. Kemudian, Bibir Eris tiba-tiba mengembang senyum, lalu ia berkata,
"Engkau mungkin bisa mengalahkanku,tapi engkau tak akan pernah bisa membunuhku. Lalu mengapa aku tidak mencoba melakukan sesuatu? Selama aku masih hidup, aku bisa mencobanya berulang kali."
Tiba-tiba, Eris melesat terbang mundur ke bawah, melewati Raziel yang sebelumnya membelakanginya.
Hingga ketika Eris telah melewati sisi Raziel, mereka pun berhadapan. Eris sempat melihat tatapan Raziel sesaat, sebelum alhirnya ia berbalik ke arah lesatan sapu terbangnya.
Sedangkan Raziel, pandangannya fokus pada Devan. Tak sedikitpun ia melirik pada Eris.
Eris melesat terbang, cepat-cepat ia mengambil Devan, lalu melesat terbang melarikan diri dari Raziel. Eris pun menjauh terbang, sembari memegang penutup kepala jaket Devan.
Sementara Raziel, ia pun berhenti, terdiam di tempatnya. Ia sama sekali tak bergerak untuk mengejar Eris. Justru ia tampak menarik nafas panjang seraya mengangkat tangan kanannya, memposisikan cambuk petirnya ke atas.
("Takkan kubiarkan tumbalku lepas, sekalipun arcangel yang menghadang, jarang sekali aku memperoleh separuh manusia seperti dirinya.")
Sesaat kemudian, Eris melirik ke belakang sebentar, dan melihat Raziel yang sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Karena itulah, perlahan senyumnya kembali mengembang.
Namun, kesenangan Eris hanya berlangsung sekejap.
"Dhuk!!!", seketika Eris menabrak Isla yang tiba-tiba berada di hadapannya. Isla muncul dengan posisi menunjam, membuat kepala mereka berbenturan keras.
Sesaat mereka sama-sama terjatuh di udara, baik raut wajah Eris maupun Isla, mata mereka tampak memejam sesaat, seraya jidat mereka mengerut, gigi mereka mengeram, menahan rasa sakit akibat benturan itu. Devan pun terlepas dari genggaman Eris.
Saat yang sama, tangan kanan Isla telah menggapai bahu Eris, dan Isla pun berkata,
"Jangan lari!. Hadapilah hukuman dari pengawas langit!"
Eris seketika berada di hadapan Raziel,
"H...!",
__ADS_1
"DUAR!!!", sekejap malam itu terang benderang.
"AAAAAAAAAAA--!!!!!"
Eris tak sempat terkejut, cambuk Raziel keburu menghempas dirinya ke bumi, dan membuat dirinya melengking kuat hingga lengkingan itu semakin kecil dan tak terdengar dimakan jarak.
Saat itu, Raziel dengan yakin menghempas cambuknya, seakan-akan ia mengetahui, bahwa Eris akan datang sendiri di hadapannya.
Tak lama kemudian, cambuk petir yang berada di tangan Raziel pun perlahan padam, kemudian menghilang dari tangannya. Badai petir pun turut perlahan menghilang, begitupun awan cumulus yang abu-abu, perlahan kembali putih seperti sedia kala.
Sementara Isla, terjatuh bersama Devan yang kini berada di dekatnya. Ia memegang kepalanya yang terbentur, berusaha menahan sakit dan pusing yang ia rasakan.
Isla perlahan bangkit, dan berdiri meski tak tegak.
"Devan..", panggil Isla, seraya berjalan perlahan mendekati Devan.
Sesaat kemudian, Isla merasakan Raziel yang bergerak mendekati mereka. Isla berhenti melangkah, dan pelan-pelan mengambil langkah kecil mundur ke belakang.
Raziel kemudian sampai. Ia lalu menjongkokkan diri untuk menyentuh punggung Devan yang tergeletak. Devan pun perlahan melayang, ketika Raziel kembali berdiri, Devan pun turut melayang berdiri.
Raziel kemudian melihat ke arah Isla sebentar, namun Isla tidak memandangnya, ia hanya sedikit merunduk memandang ke arah bawah.
Setelah itu, Raziel terbang ke atas, sembari tangan kanannya menyentuh punggung Devan, sehingga membuat Devan terbang di sisinya agak lebih rendah.
Sementara Isla, mengikutinya dari bawah, ia menjaga jarak agar tak terlalu dekat, pandangannya agak merunduk ke bawah.
Raziel sengaja terbang tak terlalu cepat, agar sosok jin yang belum penuh pulih itu dapat mengikutinya.
Hingga beberapa lama kemudian, mereka pun sampai pada awan cumulus terakhir, yang di seberangnya tampak awan cumulonimbus yang dataran putihnya begitu luas.
Raziel membawa Devan sampai ke seberang, ke area awan cumulonimbus itu, kemudian perlahan membaringkan Devan di tepi awan itu.
Sementara Isla, ia tidak menyebrang, hanya mendarat pada awan cumulus terakhir, dan memandang mereka dari ujung pijakan.
Raziel kemudian berbalik hendak pergi. Namun sesaat ia sempatkan melihat Isla yang ada di seberang, Isla pun kembali mengalihkan pandangannya merunduk ke bawah.
"Di depan sana ada Arcana, kota tempat bangsa peri tinggal. Berjalan lurus saja, dan tidak perlu mempersulit diri."
Raziel lalu terbang meninggi, pergi meninggalkan mereka, hingga ia tak terlihat lagi.
Setelah itulah, Isla segera memandang Devan.
"Devan.....
Devan.....
Devan....."
Isla memanggilnya hingga tiga kali, namun Devan masih tak sadarkan diri. Ia pun berhenti memanggil dan berdiri di tempat untuk menunggu Devan bangun.
***
Beberapa saat lalu, di titik sebelumnya langit pertama,
Perasaannya di selimuti rasa khawatir, melihat awan cumulus yang tiba-tiba berubah mendung, serta badai petir yang tiba-tiba datang. Apalagi sebelumnya ia sempat merasakan Aura Sihir Luna.
Beberapa lama kemudian, badai petir seketika menghilang, awan kembali putih seperti sedia kala. Tapi Ibu Peri itu tidak berhenti, ia terus terbang menanjak ke atas.
Hingga saat ia sampai pada satu awan cumulus, di sana ia temukan sebuah kantong kecil yang tergeletak di atas pijakan awan itu.
Ibu Peri itu pun memungutnya, lalu keluarlah aura warna warni yang menyebar di udara.
"Ternyata perasaan hatiku tadi benar, ini adalah sihir Luna.", ucap Ibu Peri itu seraya melempar pandangannya sekeliling melihat aura yang menyebar perlahan meluas ke segala arah.
"Tapi..., mengapa bisa ada di sini?"
Sesaat kemudian, ia teringat dengan anak manusia yang ia temui sebelumnya,
(.....Devan kemudian sedikit tersenyum padanya dan sedikit membungkukkan badannya sesaat.
"Maaf mengganggumu, ibu peri. Saya hanya ingin melewati awan abu-abu ini. Izin berjalan lewat di hadapan ibu peri."
Melihat tingkah laku Devan, Sang Ibu peri pun memandanginya dengan teduh......
"Hm..mm..", gumam ibu peri dengan nada menyangkal sambil menggeleng kepala.
"Tempat ini adalah milik tuhan, akupun juga menumpang. Maafkan aku anak manusia, telah menghalangi jalanmu."
Devan hanya tersenyum pada ibu peri itu, kemudian ia lanjut berjalan lebih jauh bersama kuda terbangnya, dan Eris di sampingnya.....)
"Mungkinkah....."
Ibu peri itu tak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya memandang jauh, pada jalur awan cumulus yang menanjak ke atas.
***
Beberapa lama kemudian,
Devan pun tersadar, ia berusaha bangkit duduk, dan melempar pandangan ke sekitarnya.
"Dimana aku?"
"Engkau telah berada di tanah para peri.", ucap Isla yang berada di seberang.
"Isla..?"
"Akhirnya engkau bangun juga."
Devan kemudian berdiri dari tempatnya.
__ADS_1
"Isla, mengapa engkau masih disitu?"
"Aku tidak bisa berada di situ. Tanah para peri adalah terlarang untukku."
Devan diam sejenak, memikirkan maksud perkataan Isla.
" Ba..baiklah."
("Meskipun aku tidak terlalu mengerti maksudnya.")
"Apa yang terjadi?, mengapa aku bisa sampai kemari?"
Isla pun menceritakan semuanya yang ia ketahui dari semenjak Devan dicengkeram oleh Eris, hingga ia sampai berada di sini.
Devan memegang sekaligus meraba lehernya.
Isla juga memberi tahu pada Devan pesan dari Malaikat Raziel sebelum ia pergi dari sini.
"Jadi begitu."
"Aku hanya bisa mengantar engkau sampai di sini, lagipula sebentar lagi waktu fajar akan datang."
"Haa?, memangnya berapa lama aku tak sadarkan diri?, kenapa sudah mau pagi saja."
"Entahlah, intinya engkau cukup lama tak sadarkan diri."
"Maaf. Sepertinya engkau lama menunggu aku bangun."
Isla, ia hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi datar, seakan ia berkata 'tidak perlu minta maaf' dengan bahasa tubuhnya.
Dari ufuk timur, garis putih bercahaya perlahan tampak, di saat yang sama pula, Isla semakin samar dan perlahan menghilang dari penglihatan Devan.
Isla pun juga menatap Devan, dari kejauhan. Sudah daritadi ia sadar, ada yang sedikit berubah dari penampilan Devan.
Itu adalah rambutnya, ada beberapa helai rambutnya, berubah menjadi putih terang, pada satu bagian poninya di sebelah kanan. Hanya saja, Isla tak tahu, sejak kapan rambut Devan yang hitam pekat itu, berubah menjadi putih terang di bagian itu.
"Terima kasih sudah mengantarku sampai di sini, Isla."
Isla tak menanggapi perkataan Devan. Sesaat kemudian, ia benar-benar menghilang dari pandangan Devan.
("Dengan ini, berakhirlah kontrak diantara kita, Zivan.")
***
Beberapa waktu telah berlalu, kini telah masuk waktu pagi tempat di mana Devan berjalan sendiri di tengah awan yang amat luas itu. Karena masih begitu pagi, masih sedikit terasa embun di sekitarnya hingga membuat udara saat itu terasa dingin.
Tiba-tiba.....
("Aku...Kenapa tidak bisa bergerak???")
"PHUM!!!"
"SAKIT TAHUU!!, Raziel sialan!!".
Eris tiba-tiba datang, melesat terbang dari belakang dan menabrak Devan.
Tampak bekas cambukkan yang memanjang miring di tengah tubuhnya, dari bahu kirinya hingga perut bagian kanannya.
Pakaian yang terkena cambukan itu terbakar hingga menampakkan kulitnya yang terluka bakar serta mengeluarkan darah hitam.
Punggungnya serta kepala bagian belakangnya juga tampak terluka sangat parah akibat terhempas laju ke bumi.
"Akhirnya aku menemukan engkau Devan!", ucap Eris sembari tangan kanannya memegang luka tubuhnya. Tampak bekas muntahan darah hitam di sekitar bibirnya.
Saat itu, Eris juga duduk di atas Devan yang terbaring tak bergerak. Tangan kirinya memegang wajah Devan yang menegang.
"Kuberitahu Devan.
AAAAAGGHHHH!!!", tiba-tiba seluruh tubuh Eris terbakar oleh api.
"Karena engkau sampai membuat aku seperti ini, aku akan mencatat ini sebagai hutang yang akan engkau bayar."
Eris kemudian mendekatkan wajahnya pada Devan, lalu berkata,
"Menjadikan kamu sebagai tumbal?, rasanya masih terlalu ringan untukmu. Karena itulah,,,Karena itulah,, aku akan menjadikan kamu bonekaku, agar kamu tersiksa olehku selama-lamanya, hiyahaha!"
Sesaat kemudian, api yang membakar Eris perlahan-lahan membuka wujudnya yang sebenarnya.
Kulitnya berubah menjadi merah muda, begitupun rambutnya menjadi panjang terurai. Alisnya, bula matanya, semuanya berwarna merah muda, Bahkan pupil matanya berbentuk hati merah muda.
Di atas kepalanya, terdapat empat tanduk yang juga berwarna merah muda, dua bengkok melindungi keningnya hingga tampak seperti mahkota, sedangkan dua berdiri tegak di samping atas kepalanya.
Tubuhnya ramping, wajahnya bulat, telinganya panjang lancip, bahkan mata itu saat ini menatap Devan dengan tatapan yang menggoda, membuat jantung Devan saat ini berdetak sangat kencang. Karena itulah, Devan tiba-tiba teringat, akan perkataan Isla padanya tadi tengah malam,
(..."Hey manusia, kuberitahu dengan tegas, tak ada siapapun diantara kita yang setara dengannya, yang artinya, tidak diriku ataupun engkau yang mampu untuk mengalahkannya, sekalipun engkau menggunakan kekuatan penuhmu seperti saat kau berduel dengan Zivan.", ucap Isla tanpa melepas pandangan datarnya pada Eris.
"Kau..... tidak salah dengan penilaianmu?"
"Haaa.", gumam Isla mengiyakan.
"Soalnya yang di hadapan kita sekarang bukanlah iblis biasa, dia adalah ASMODEUS, salah satu dari tujuh jenderal besar iblis yang MERAJAI DOSA NAFSU, mengubah makna kesucian cinta, menjadi nafsu birahi yang kebinatangan. Eris, hanyalah kamuflase saja....".....)
"Lihatlah diriku, Devan. Diriku sampai terbakar oleh api Cinta, gara-gara memasuki tanah terlarang ini. Semua ini kulakukan agar bisa bertemu kamu.
Meskipun hari ini aku mati terbakar di sini. Tidak berarti ini akhir pertemuan kita.
Masa depan diantara dua, bila bukan diriku yang menemuimu, maka kamulah yang akan menemuiku. Pasti...pasti...kita akan bertemu lagi, Devan. Hiyahaha---."
Saat itu, Asmodeus terbakar di hadapan Devan karena memasuki tanah para peri. Perlahan tubuhnya menghangus, lalu mengikisnya sedikit demi sedikit menjadi abu-abu terbakar yang berterbangan di udara.
__ADS_1
Asmodeus pun mati, terbakar habis, tak meninggalkan satupun jejak abu di atas tanah peri. Dan saat itu, Devan kembali, mendapat kendali dirinya dan hatinya kembali.
***