
Isla memejam mata, mencoba mengubah persepsinya terhadap kenyataan dengan menggali perasaannya.
("Apakah yang Zivan rasakan pada situasi yang seperti ini?")
Isla mencoba bersimpati, tapi agak sulit bagi dirinya karena kenyataan ruang yang dirasakan antara dirinya dan Zivan tak sama.
Kemudian, dirinya mencoba menebak perasaan Zivan.
("...Sedih.... Kecewa.... Putus Asa.... "), Isla memanipulasi perasaannya, berharap dirinya dapat menyamakan persepsinya dengan Zivan...
Namun, Isla masih belum menemukan hal yang lain dari persepsinya semula.
("...Keluh.... Kesal... "), mulai ada rasa hangat di sekitar Isla.
("... Marah!"), seketika rasa hangat berubah menjadi panas, Isla pun tersentak membuka mata....
"HAH!, ARRGH!!", tiba-tiba Isla mengerang.
Langit yang memerah padam, tumbuhan sihir Artemis yang kehilangan warnanya, serta api hitam yang menyala-nyala besar membakar setiap tumbuhan yang ada.
("Inikah yang dilihat Zivan,,,, dan yang lainnya juga?...")
Perubahan besar itu mengubah persepsi Isla secara tiba-tiba, jiwanya terkejut hebat karenanya, dirinya juga harus mengerang menahan panas api hitam pada Zivan yang secara tiba-tiba membakar lengannya.
("Tidak... Ini tidak nyata... Ini.. palsu... bukan kejadian yang sebenarnya... ")
Walau begitu, Isla masih tak melepaskan Zivan dari pengamanannya.
"Ini...tidak benar, Isla.", ucap Isla bersuara kecil mencoba menyadarkan dirinya sendiri, agar mengembalikan pada persepsi dirinya yang semula.
Tapi tipu daya Jenderal Iblis Aamon begitu kuat luar biasa. Begitu kebohongannya termakan oleh persepsi siapapun, sekalipun itu Isla sang jin didikan Raja Bijaksana, takkan mungkin terlepas dari pengaruhnya.
Di sisi lain, Istan terheran membathin,
("Apa yang sebenarnya terjadi?... ")
Begitupun yang lain, mereka memandang reaksi Isla dengan keheranan, padahal baru beberapa saat lalu, Isla tampak tak mempan oleh api tersebut.
"Menarik. Bagus sekali, gadis kuda. Teruslah bawa Zivan dengan kedua lengan kecilmu itu. Biarkan aku melihat bagaimana lengan itu terbakar abis oleh api hitam itu!!", ucap Istan kasar pada Isla.
Isla tak menjawab. Dirinya terus membawa Zivan yang tengah terbakar dan tak sadarkan itu dalam gendongannya.
Sempat Isla menoleh ke arah kolam air yang ada di dekatnya. Namun ia urungkan. Barangkali Isla paham, tak ada air disini yang dapat memadamkan api hitam ini.
"CUKUP!!!"
Aamon pun mengangkat tangan kanannya ke hadapan Zivan dan Isla, dan seketika tersedotlah menuju telapak tangannya api hitam yang membakar Zivan itu.
Semuanya jadi terheran, melihat keputusan Sang penguasa dosa amarah itu.
Sementara Isla, sembari menahan luka bakar di lengannya, perlahan ia geser pandangannya pada sosok makhluk gelap yang baru saja memadamkan api hitam pada Zivan.
("Siapa?", Isla bertanya dalam hatinya.)
Sesaat kemudian, barulah mata Isla terbelalak, ketika fokus penglihatannya jelas.
("Dia.......
.... Bukan....")
"Yo, bangsa jin. Bukankah kau adalah dari kalanganku?, mengapa berpihak pada manusia?.
KEMBALILAH!, DAN TERIMALAH HUKUMAN KARENA MENGKHIANATI RAJA IBLIS!!!"
Seketika pandangan mata Isla kosong. Mimik wajah yang tadinya menahan rasa sakit pun sekejap berubah menjadi datar.
.....
...----------------...
- Sebuah Informasi Tentang Dunia -
Di dunia ini, bangsa jin adalah makhluk yang bertuan, dan hampir seluruh bangsa jin bertuan pada Raja Iblis, dan begitu bangsa dari kalangan jin terlahir, mereka langsung terikat padanya.
Karena itulah, raja iblis memiliki kemampuan untuk memperbudak para jin yang terikat padanya, yakni sebuah titah mutlak yang tak bisa ditolak oleh bangsa jin manapun.
Dan raja iblis, juga memberikan kemampuan itu pada separuh dari jenderalnya, serta beberapa dari iblis pilihan yang dekat dengan dirinya.
...----------------...
.....
Dengan tatapan kosong itu, Isla yang masih menggendong Zivan di tangannya pelan-pelan melangkahkan kakinya menuju Aamon.
Satu langkah....
Langkah kedua.....
Langkahnya yang ketiga....
Entah mengapa, langkah lsla malah terhenti, kemudian dengan lantang dirinya berkata,
"Tiiidak maaau!"
Dan tidak ada yang menyangka, gadis jelmaan kuda terbang itu malah menyangkal perintah Aamon.
("Apa?!", kaget Meghan.)
("Apa maksudnya ini?", Istan terheran.)
("Bagaimana mungkin???"), Raven menggeram, diantara yang lainnya, dialah yang paling tak menyangkanya.
"KENAPA KAU BERHENTI?!, HEY ANAK JIN!, KUBILANG... KEMBALILAH!!"
"Kubilang... tiiidak maau."
"KENAPA??, KENAPA KAU BISA MENENTANG PERINTAHKU??, PADAHAL PERINTAHKU ADALAH TITAH DARI RAJA IBLIS UNTUKMU."
__ADS_1
Sekali lagi, Aamon dan lainnya dikejutkan oleh gadis jelmaan kuda terbang tersebut.
"Karena aku tidak bertuan pada raja iblismu itu."
"TIDAK MUNGKIN!. KALAU BUKAN KEPADA RAJA IBLIS, KEPADA SIAPA LAGI KAU AKAN BERTUAN?, DASAR SOMBONG!!"
"Aku bertuan kepada Raja di kalangan manusia, Raja Kebijaksanaan, yang memahami seluruh bahasa."
"HAH?!"
"Hm?!", Istan bereaksi.
("Hey-hey, itu pasti bohong, kan?", Meghan menyangkal dalam hati.)
("Apa-apaan pengakuannya itu!, kau pikir Tuan Aamon akan tertipu?", Sangkal Raven.)
Maia yang sedaritadi tak terlalu ekspresif, kini mulai menunjukkan raut keraguannya saat mendengar pernyataan itu.
Dan Istan kemudian membathin agak lama.
("Kalau saja dirinya tak bisa menentang perintah sang penguasa dosa amarah, seribu persen aku tak akan mempercayainya. Tapi...
Dengan perawakan remaja seperti itu, penjelasan seperti apa yang menerangkan bahwa usianya sudah ribuan tahun?")
"KAU.... MAIN-MAIN DENGANKU, HAH?!"
"Yaa. Aku mengaku, aku memang sedikit main-main diawal, seperti berpura-pura mematuhi perintah titah atau apalah itu.*
"APA?!"
"Lagipula, kenapa aku harus mematuhi makhluk aneh sepertimu?"
BHUUURR!!!!
Seketika Aamon menyemburkan api hitam dari telapak tangannya.
"KETERLALUAN!!!"
Api hitam itu terus saja menghembus kuat ke arah Isla dan Zivan. Tapi entah mengapa, sama sekali tak ada niatan Isla untuk menghindari serangan itu. Malah seakan Isla membiarkan api hitam itu mengenainya
"MAKHLUK ANEH KAU BILANG?!!, AKU KUBERI PAHAM KAU, BETAPA MENGERIKANNYA DIRIKU INI, AAMON SANG JENDERAL PENGUASA DOSA AMARAH!!!"
"Bukan!. Kau bukanlah Aamon!", tanggap Isla lantang, padahal dirinya di dalam semburan api hitam.
Seketika Aamon menghentikan serangan api hitam pada Isla.
"Apaaa?!", suara Aamon berat, namun tak keras seperti sebelumnya, bahkan seperti suara dengan nafas yang tertarik kuat.
Aamon menjadi sangat cemas, betapa terkejutnya dirinya harus mendengar hal yang tanpa dirinya sadari, itu adalah sesuatu yang paling tidak ingin dirinya dengar.
Kali ini tak hanya Raven, tapi Istan, Maia, dan Meghan melihat dengan jelas dan jarak yang dekat, bagaimana cemasnya raut wajah Aamon yang dirinya baru saja di sangkal Isla itu. Sebuah pemandangan yang amat langka, bahkan Istan tampak membuka matanya lebar-lebar, melihat Aamon tanpa mimik amarahnya yang seperti biasa.
"Kubilang, kau bukanlah Aamon. Jangan remehkan kemampuan persepsiku makhluk aneh, kau bisa saja menipu mereka semua, tapi kau tak bisa menipu pandanganku."
"A...AA...AAA...AAAPA MAKSUDMU?. AKU ADALAH AAMON SANG....",
"TIDAK!!, API INI ADALAH KEKUATANKU. CIRI WAJAH INI, TANDUK INI, SEMUANYA MEMBUKTIKAN BAHWA AKU ADALAH AAMON SANG PENGUASA DOSA AMARAH."
"Kalau begitu, mari kita bertaruh. Bakar kami dengan api hitammu itu, dan jangan padamkan!"
"HAH?!"
Keadaan sesaat hening, Aamon yang bergeming tak melakukan pergerakan itu, membuat Istan dan yang lainnya menambah benih curiga.
Tiba-tiba dari sisi lain Raven bersuara. Dirinyalah sedari awal menaruh curiga, tatkala beberapa waktu lalu Aamon memadamkan api hitam yang membakar Sachiel.
Tapi Raven hendak menyangkal, tak ingin mempercayai kecurigaan itu. Dirinya berkata,
"Bakar dia!, Tuan Aamon."
"DIAM KAU!, BOCAH GAGAK!", seketika makhluk yang di panggil Aamon itu menoleh dan membentak ke arah Raven.
Seketika pula Raven terhenyuk, pandangan matanya tampak kaget bercampur kecewa, menatap sosok yang sedari dulu dirinya menaruhkan hormat, baru saja membenarkan kecurigaannya.
"Kenapa kau diam saja, makhluk aneh?. Apa kau takut, akan kebenaran kalau bila terbukti aku tak mati oleh api hitammu itu, itu artinya kau sendiri akan tahu, bahwa kau...."
"DIAMMM!!!"
"Hmm, asal kau tahu saja, Aamon yang asli, pasti akan memilih percaya, ketika aku berkata kalau tuanku adalah Sang Raja Manusia Bijaksana.
Tapi kau, malah sama sekali tak percaya, sekalipun kepribadianmu itu sama.... Tidak, mungkin hanya separuh dari kepribadian Aamon yang kutahu. Bahkan warna cirimu yang hitam putih itu, seperti kopian Aamon yang belum sempurna.... Haa?!"
("Kopian... Salinan...?")
Diakhir kalimatnya, Isla baru saja memahami sesuatu yang baru dari pengetahuannya, membuat dirinya sesaat terheran.
"GADIS KUDA SIALAN!!, KUBUNUH KAU?!!!"
Makhluk yang mengaku Aamon tersebut pun membabi buta, mengayunkan kedua tangannya bergiliran, memunculkan semburan api hitam yang kuat dari bawah tanah yang mengejar Isla.
Sementara Isla kali ini tak biarkan dirinya terkena api hitam itu. Setiap api hitam yang akan menyembur tepat di bawah kakinya, seketika itu pula dirinya berpindah ke posisi samping tepat di sebelah posisi dirinya semula.
Pergerakan Aamon jadi berantakan, bahkan dirinya sampai bergerak mendekati Isla. Tapi Isla, seketika berpindah tepat dimana posisi Aamon semula.
Hal itu terjadi berkali-kali, dan semakin menambah amarah dari makhluk yang mengaku Aamon itu.
"Kau sendirilah yang paling tahu, kan. Bahwa tak mungkin membunuhku hanya dengan mendatangkan yang salinan."
"APA?!, BANYAK OMONG KAU, JIN SIALAN!!!"
Pergerakan Makhluk itu semakin membabi buta, bahkan api hitam yang menyembur dari bawah tanah semakin gila tak terarah.
("Hm?, mendatangkan yang salinan?"), Istan yang sedari tadi berdiri memperhatikan, bathinnya mulai membuat kemungkinan baru.
"Kau bahkan sampai begitu iri, dengan kekuatan yang dimiliki Aamon. Benarlah kata Tuanku, engkau adalah jenderal iblis yang paling menyedihkan, LEVIATHAN SI RATU YANG MENDENGKI, yang mengubah berkah kemakmuran, menjadi benih permusuhan. Sedih akan Kebahagiaan, namun Senang akan Kesedihan.", ucap Isla sendiri, sembari mengenang masa lalunya yang jauh.
"DIAMLAH KAU!!! JIN SIALAN!!!"
__ADS_1
Makhluk yang mengaku Aamon diluar kendali, Api hitam begitu cepat menyembur di hampir seluruh titik. Bahkan turut menyerang Istan dan yang lain, termasuk Raven sendiri.
"Hati-hatilah!", ucap Istan pada yang lain.
Meghan dan Maia, berusaha menghindar mengandalkan kekuatan magus mereka. Raven sendiri berdiri lemah penuh kecewa, membiarkan dirinya terkena semburan api hitam.
Sementara Istan sendiri, dia tenang berdiri dilindungi barier gravitasi, yang membelokkan semburan api mengarah ke sekelilingnya.
Dan Akhirnya, Berkatalah Isla dengan lantang,
"Dengan ini jelaslah, engkau adalah Aamon palsu, sebuah kebohongan yang dibuat oleh Leviathan, sebagai usaha pembuktiannya, bahwa dirinya terbukti, TAK AKAN LEBIH HEBAT DARIPADA AAMON YANG SEBENARNYA."
Ditengah api hitam yang menengahinya, serta sliweran angin yang menerpa rambutnya, Isla berucap amat lantang, jemari telunjuknya, menunjuk tepat ke arah si Aamon palsu itu.
"AAAAAARRGGGG!!!!!"
Si Makhluk salinan itu pun berteriak keras nan panjang. Disela suara teriakannya itu, bercampur-ubah suara lengkingan perempuan.
Dirinya memegang kepala, kata-kata Isla terlalu benar, sehingga si makhluk salinan tak sanggup menerima kenyataan yang sebenarnya, bahwa dirinya hanyalah makhluk salinan, hingga akhirnya.....
DUAAAAARRRRRR!!!
Makhluk salinan itu pun meledakkan dirinya, titik api hitam dengan cepat menyebar dari titik dirinya ke segala penjuru, meledakkan seluruh taman, dan mengenai semuanya.
Tapi beberapa saat kemudian, radius ledakan api hitam itu seketika menyusut ke titik awal. Saat itulah, Makhluk salinan itu telah sirna, dan tak hanya itu.....
Luka bakar yang dialami Zivan dan Isla juga seketika sirna, bahkan tanah, dan tumbuhan bekas api hitam seketika hilang, seakan tak pernah ada api hitam yang merusaknya. Seketika segala persepsi kembali semula. Kecuali satu hal...
Isla menyebarkan pandangan matanya ke sekeliling taman dengan langit yang kembali cerah, dilihatnya sihir tumbuhan Artemis yang masih kehilangan warnanya. Padahal semuanya telah kembali semula.
Kemudian, Isla membathin begitu lama,
("Persepsiku masih bisa tertipu rupanya....
Tuanku pernah bilang, bahwa tipu daya iblis itu licik, dan bercampur antara kebohongan dan kebenarannya.
Mereka akan mengatakan kebenarannya, kemudian menyelipkan satu kebohongan diantara kebenaran itu.
Atau...
Mereka akan mengatakan kebohongannya, kemudian menyelipkan satu kebenaran diantara kebohongan itu.
Aku tak menyangka, aku tak melihat, diantara dunia ilusi yang di sampaikan Leviathan, ternyata ada satu yang bukan ilusi, yakni tumbuhan Artemis yang kehilangan warnanya, sesuatu yang justru paling penting daripada yang lain......")
"Hahahahaha...... "
"Hm?", lamunan Isla buyar, terganggu oleh tawa Istan yang keras, dia kemudian mengalih pandangannya menatap Istan.
"Hahahahaha..... "
("Gadis kuda itu.... Bahkan dia lebih tahu banyak daripada aku.")
"Baiklah gadis kuda!, aku percaya sekarang, kalau kau memang pelayan dari Raja Manusia itu, Raja yang memahami seluruh bahasa."
.....
***
Beberapa saat setelah makhluk salinan Aamon meledakkan diri, di tempat Sachiel berada, makhluk salinan Aamon yang ada di hadapannya tiba-tiba merasakan sakit, seakan dirinya terpengaruh oleh ledakan makhluk salinan Aamon yang lain.
"AAAAARGGGHHH!!!", makhluk itu meregang sembari memegang kedua kepalanya.
Mata Sachiel tak lagi menatap jauh, semenjak itulah Sachiel memperhatikan Aamon palsu itu lagi.
"KENAPA SACHIEL?!, KENAPA MENGABAIKANKU?!"
Meski begitu, sachiel tetap tak menjawabnya.
"AARRGHHH!!!"
Makhluk salinan itu kembali mengerang.
"AKU...AKU ADALAH AAMON YANG ASLI!!!, JADI, JANGAN MENGABAIKANKU!!!"
"ARRRGGHHH!!!, TIDAK.... AKU.... "
Sachiel hanya terus memperhatikan, tak memberikan tanggapan apapun. Hingga tiba-tiba, dirinya sedikit terperangah, tatkala makhluk salinan menyeramkan di hadapannya itu, memberikan tatapan sedih dan mengeluarkan suara perempuan yang lembut,
"Sachiel, aku lebih hebat kan?"
DUAAARRR!!!!
Makhluk salinan itupun meledak sebagaimana makhluk salinan yang lain dengan radius yang luas hingga mengenai Sachiel.
Kemudian, radius ledakan itupun dengan cepat menyusut, dan mengembalikan segala persepsi kenyataan seperti seharusnya. Tak ada lagi luka, tak pula bekas tanah bakar serta aromanya terasa. Awan gelap di langit, kembali menjalankan perannya, menyebar cambuk-cambuk petir yang mengisolasi lembah.
...
"Selamat tinggal, kebohongan.", ucap Sachiel, pada makhluk salinan yang sirna, yang tipu dayanya, sanggup membohongi alam sekitar. Menggelisahkan angin, menggemingkan badai.
Padahal dalam hatinya, Sachiel hendak mengubah akhir yang berbeda, karena itulah malaikat serba putih itu tetap diam, walaupun si makhluk salinan itu tetap memaksa dirinya bicara, hanya demi diakui keberadaannya.
Andai Sachiel bicara kenyataan, mungkin dari awal dirinya dapat menghentikan Istan dan lainnya. Tapi Sachiel tahu, akan ada yang menangis di tempat yang lain. Itulah yang hendak Sachiel ubah.
Bukan karena Sachiel kasihan, tak mungkin dirinya kasihan pada sesosok Iblis. Dirinya pun tak merasakan harus melakukan itu. Sachiel melakukan itu karena memang begitulah adanya dia.
Pada akhirnya, sesuatu yang daritadi Sachiel tahan untuk tidak mengatakannya, telah di katakan oleh sosok gadis jelmaan jin yang dirinya kenal dengan baik, walaupun jelmaan jin itu lagi-lagi melupakannya.
Karena itulah, Sachiel gagal mengubahnya....
Dan di suatu Istana pada ruang yang gelap, Si Ratu yang Mendengki pasti sedang menangis sembari membayangi kata-kata si gadis kuda, yang kebenarannya begitu menyakitinya,
("Dengan ini jelaslah, engkau adalah Aamon palsu, sebuah kebohongan yang dibuat oleh Leviathan, sebagai usaha pembuktiannya, bahwa dirinya terbukti, TAK AKAN LEBIH HEBAT DARIPADA AAMON YANG SEBENARNYA.")
...
Takdir tak berubah, sebab Leviathan tak ingin berubah.
__ADS_1
***