
Devan belum menjawab pertanyaan pria itu. Ia termundur selangkah, nafasnya tertarik dalam.
"Kau.... bagaimana...", belum selesai kalimat itu diucap Devan, tiba-tiba sebuah kaki menghujamt keras tepat di pipi kirinya. Menukik ke bawah, membuat Devan terhempas miring ke aspal jalan.
Devan tiarap terhentak ke tanah. Tangannya memegang pipi kirinya yang memerah hingga ke telinga. Lalu Devan meludah, dua gigi geraham yang terlepas. Ia merasa pusing, telinganya berdenging.
Devan berusaha bangun. Ia mendorong badannya bangkit dengan kedua lengannya. Belum selesai ia bangkit, tiba-tiba Devan dihempas kuat ke dinding hingga dinding dibelakangnya timbul retakan menjalar.
Kerah baju Devan dicengkeram kuat. Ia mengerang. Ketika tubuh Devan tengah terpental dihempas ke dinding, tangan kanannya refleks mengayun mengarah sisi leher pria itu. Namun, saat pukulannya hampir mengenai pria itu, tahu-tahu tangan Devan telah terhempas kuat ke samping, ditepis menggunakan kepalan tangan pria itu hingga mengenai tepat di pergelangan tangan Devan. Tangan kanan Devan pun jatuh terkulai.
"Jawab!. Jangan bicara lain!. Siapa kau?. Ada urusan apa engkau kemari?.", ucap pria itu dengan nada tinggi, raut wajahnya sangar.
"A...aku Devan. Aku mencari seseorang disini.", ucap Devan melemah sebab ditekan kuat ke dinding.
"Mencari seseorang??. Dengan menebar kematian di seluruh kota??.", ucap pria itu bernada tinggi.
"Tunggu... biar aku...", tiba-tiba Devan dilempar oleh pria itu hingga terpelanting beberapa kali di jalanan.
Devan berusaha bangkit, ia kembali berdiri namun tidak tegap, sembari menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya.
"Beberapa warga terbangun dalam keadaan terluka karena engkau. Pergilah!. Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga, tapi aku tidak ingin berurusan dengan para penghuni Delbora."
"Delbora?.", Devan mengerut dahi, sembari menahan rasa sakitnya. "Aku harus menemui seseorang dulu.", ucap Devan terengah-engah.
"Tidak ada seorangpun yang akan engkau temui. Bhoomm!!!.", tiba-tiba pria itu sudah di hadapan Devan dengan kepalan tangannya menghantam dada Devan. Tubuh Devan melengkung, lalu terlempar laju ke belakang.
"Uaaakh!!!.", punggung Devan tersentak hebat mengenai siku pria itu yang tiba-tiba lagi berada di belakang Devan.
Setelah menerima serangan itu, Devan masih berusaha menahan keseimbangannya. Wajahnya yang terlihat menahan sakit itu menoleh ke belakang. Namun pria itu sudah berpindah di depannya. Devan hanya sempat melirik, dan pria itu langsung menghajar Devan berkali-kali dengan kedua tangannya.
Devan pun jatuh terjinjit, lutut kanan serta kedua tangannya menyentuh tanah berusaha menahan keseimbangan. Kepalanya menunduk, dengan nafas sengal ia menahan sakit.
Devan pun mulai tumbang miring ke sisi kirinya, namun pria itu langsung menerjang kuat Devan dengan kaki kanannya membuat Devan terpelanting laju hingga beberapa meter.
Devan terkapar miring tak bergerak di atas tanah dengan nafas berat. Ia sempat terbatuk sesekali. Ketika itu, kantung kecil dari luna yang ada di saku jaket Devan perlahan jatuh. Ikatannya melonggar menjadi sedikit terbuka, membuat butiran pasir warna-warni itu sedikit tumpah. Dari sedikit tumpahan itu, muncul pancaran aura warna putih kemerahan yang menyebar sekilas sekejap.
"Haa?.", pria itu bereaksi kecil. Namun karena aura itu samar dan sebentar ia pun tak menyadarinya.
Devan membuka matanya, pandangannya agak gelap. Ia berusaha menahan kesadarannya. Kemudian berusaha bangkit. Ketika duduk, ia melihat kantong kecil itu dan menyadari itu berasal dari saku jaketnya.
"Ini...", ucap Devan, ia teringat kejadian ketika di Rayyana.
(.....Luna berjalan mendekati Devan sembari mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Kemudian sesuatu itu ia pindahkan ke dalam saku jaket hitam Devan.
Tepat di hadapan Devan, Luna menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku merasa habis ini kau akan pergi, Devan. Aku tidak suka berpisah seperti ini." Ucap Luna.....)
Devan mengambil kantong kecil itu, kemudian sedikit tumpahan pasir warna itu ia genggam sedapatnya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.
Setelah itu Devan berusaha berdiri. Sesekali ia sempoyongan. Tak lama kemudian ia mampu menjaga keseimbangannya. Ia pun sepenuhnya berdiri sambil memegang uluh hatinya yang masih sakit terkena tinjuan pria itu.
Devan berbalik, dan kembali berhadapan dengan pria itu. Mereka saling menatap serius.
"Tangguh juga kau.", puji pria itu. Devan diam tak menanggapi. "Tapi...engkau tidak tahu kapan harus menyerah."
Setelah itu, Devan melihat gelombang seperti asap hitam dari pria itu menyebar luas, seperti sebuah ledakan ke segala arah. Gelombang itu bahkan menembus Devan.
Pria itu kemudian berjalan santai, matanya bahkan tak memperhatikan Devan. Devan heran, ia hanya diam mematung.
Pria itu pun sampai di hadapan Devan. Lalu tangan kanan pria itu mengepal, diayunkan tangan kanannya ke belakang kemudian dihempaskan ke arah muka Devan.
Ketika itu, gelombang ledakan hitam yang sebelumnya menyebar luas ke segala arah, seketika dari kejauhan semuanya kembali ke dalam pria itu. Di saat yang sama, Devan menggeser kepalanya, menghindari tinjuan pria itu, kemudian melompat mundur ke belakang.
Pria itu terkejut, matanya terbelalak. Ia tak menyangka Devan bisa menghindari tinjuannya.
Pria itu pun kembali bergerak. Melayangkan tinju, menghempaskan tendangan beberapa kali kepada Devan. Namun Devan dengan mudah menghindarinya, sebab gerakan pria itu terlalu sederhana.
Devan bisa melihat, tiap Gerakan pria itu selalu diawali dengan ledakan gelombang hitam yang menyebar ke seluruh arah, dan ketika serangan itu hampir mencapainya seluruh gelombang itu kembali ke titik posisi pria itu.
Pria itu kembali mengarahkan tinjuan ke muka Devan, tapi kali ini Devan tidak mengelak. Ia menangkap tinjuan pria itu, lalu di tariknya ke samping bawah. Pria itu pun terjatuh. Namun sebelum pria itu jatuh ke tanah, Devan telah mengancangkan kaki kanannya, lalu di ayunkannya ke depan hingga menghasilkan tendangan keras yang mengenai pipi kanan pria itu.
Pria itu terpelanting jauh beberapa kali mengenai aspal jalan. Namun pria itu segera memperbaiki keseimbangannya, sehingga mampu mengurangi dampak tendangan dengan kedua kakinya dan berhasil terhenti hempas.
Setelah itu, si pria memuntahkan tiga gigi yang terlepas dari mulutnya. Ia pun jatuh tertekuk lutut. Kepalanya pusing telinganya berdenging.
Devan masih tak bergerak dari tempatnya. Sedangkan pria paruh baya itu, harus menunggu beberapa saat baru bisa berdiri kembali.
("Apa yang sebenarnya terjadi?.", pikir pria itu.)
Pria itu melihat pecahan batu aspal kecil yang terlepas dari jalanan akibat dirinya yang terpelanting. Dia pun mencoba menendang pecahan batu itu, seketika ledakan gelombang hitam dari dirinya menyebar luas ke segala arah. Namun, segalanya seperti biasa. Batu yang di tendang itu pun melayang cepat menabrak dinding gedung di kota itu.
"Engkau...", pria itu kembali menghadap Devan. "Apa yang kau lakukan?."
"Apa maksudmu?.", tanya Devan tak mengerti.
Pria itu terkejut melihat Devan. Tak terlihat lagi bekas lebam di wajah Devan. Devan yang sebelumnya berdiri sempoyongan, sekarang berdiri seperti sama sekali tak terluka. Justru pria itu sekarang yang kesulitan, hanya dengan menerima satu kali tendangan. Kini situasinya menjadi berbalik.
"Apa tujuan engkau datang kemari?"
"Sudah kubilang, aku sedang mencari seseorang."
__ADS_1
"Melihat cara kau mencari dengan menebar kematian di kota ini, apa yang akan kau lakukan dengan seseorang itu?."
"Kau salah paham. Pertama, memang karena aku penduduk kota ini semuanya seperti ini. Namun, aku sendiri tidak tahu kenapa itu terjadi."
"Maksudmu?.", pria itu mengerutkan dahi.
"Kedua, aku disarankan untuk menuju ke kota ini, meminta jawaban atas masalah tersebut."
"Siapa yang menyarankan kau?."
"Seorang kakek peri, dari Rayyana, negeri di atas awan. Kau...percaya?.", tanya Devan ragu.
"Kau...", ucap pria itu dengan raut wajah tak menyangka. "Jadi begitu. Baiklah aku mengerti. Ikutlah denganku.", lanjut pria itu. Kemudian pria itu berjalan.
"Jadi, kau tahu siapa yang aku cari?.", ucap Devan sambil mengikutinya dari belakang.
"Orang yang kau cari adalah aku."
"Ha?.", Devan berhenti melangkah.
"Kakek peri itu pasti menyuruhmu bertemu seseorang dengan magus pengendali waktu, bukan?.", ucap pria itu melihat ke Devan sebentar kemudian kembali berjalan.
Devan pun mengingat perkataan kakek peri.
(....."Seseorang yang karena kedatangannya semua terhenti, namun kembali berjalan selepas kepergiannya.".....)
("Magus pengendali waktu?.”, tanya Devan dalam hati.)
“Ya.", ucap Devan sembari ia berjalan.
"Seseorang itu adalah aku. Aku bisa menghentikan dan menjalankan kembali waktu semauku. Harusnya kau paham setelah kita bertarung barusan."
Devan mengingat pertarungan barusan. Pria itu dengan cepat berkali-kali ada di hadapannya, atau tiba-tiba sudah menyerangnya.
("Itu menjelaskan semuanya.", pikir Devan.)
"Tapi......", ucap Devan sembari mengingat kembali percakapannya dengan Kakek Luna.
(....."Itu cerita seorang perempuan yang kau katakan tadi. Jadi.. Orang itu masih hidup?. Kupikir tadi cerita itu telah lama terjadi."
"Itu memang kisah lama. Bahkan sebelum Luna lahir."
"Dimana aku bisa bertemu dengan perempuan itu?.".....)
"Tapi apa?.", tanya pria itu.
__ADS_1
"Kakek peri itu bercerita, bahwa seseorang yang akan aku temui, dia adalah seorang perempuan."
***