
Pagi hari, Goa di lembah Sei Roja….
“Mereka sudah mengetahui kalau dirimu ada di sini.”
“Bagaimana caranya?, menurut yang kau jelaskan tadi malam seharusnya aku tidak mengaktifkan magusku selama perjalanan kemari.”
“Kemungkinan mereka tahu dari Aslan, mengingat jejakmu berakhir di tempatnya.”
“Aslan?”, wajah Devan bingung tak percaya.
“Jangan salah paham. Kita juga tidak tahu bagaimana situasi yang dihadapi dia. Mungkin dia juga mengalami kesulitan.”
“Begitu ya. Sepertinya aku benar-benar membuat repot Aslan.”
“Asal mereka tak mengetahui tujuanmu itu tak masalah. Lagipula mereka mustahil bisa memasuki lembah ini. Tapi…”
Zivan diam sesaat tak melanjutkan kalimatnya, begitupun Devan diam menunggu lanjutan kalimat Zivan.
“Kalau mereka telah sampai kemari, aku khawatir telah terjadi sesuatu di Rayyana.”, lanjut Zivan.
Mendengar hal itu Devan sedikit bereaksi..
“Kalau begitu kau harus segera membantuku menguasai magusku agar aku bisa segera ke sana. Aku harus memastikan Luna baik-baik saja.”
Keadaan hening sesaat…
Tiba-tiba, raut wajah Zivan menjadi tidak ramah, ia memandang Devan dengan tatapan dingin.
“Sebelum itu aku meminta maaf padamu, Devan. Sebenarnya sampai hari ini aku masih sulit mempercayaimu.”
Devan merasa bingung, dahinya mengerut memandang Zivan penuh heran.
“Apa maksudmu?”
“Devan… Mengapa dirimu begitu peduli pada Luna?, padahal kalian baru mengenal sebentar.”
“Mengapa kau bilang!”, intonasi Devan tiba-tiba sedikit naik “Itu jelas karenaa…”
(“Eee…Mengapa aku begitu peduli Pada Luna?”, tiba-tiba Devan bertanya dalam hati.)
“Sudah kuduga.”
Devan tiba-tiba merasa bingung dan sulit dengan pertanyaan itu, juga dengan dirinya.
“Tadi malam kau tampak senang menceritakan dirinya. Memangnya apa yang dilakukannya padamu sebegitu berjasanya sampai membuat dirimu begitu?”, tanya Zivan bernada sinis. Gaya bicaranya perlahan menjadi kasar.
Devan terdiam, namun bathinnya berbicara.
(“Memang aneh bila dipikir ulang. Yang Luna lakukan padaku hanya membuatku bertemu dengan kakeknya. Sesederhana itu, tapi…..”)
“Mungkinkah!…Kau jatuh cinta padanya?”
“Haah!... Kau serius bertanya seperti itu?”, sontak Devan berbicara keras.
“Tidak?. Kalau begitu, kau membencinya?”
“Hei!, hentikan!”
“Kau tampak bingung, Devan. Kau belum menjawab satupun pertanyaanku.”
“Memangnya kenapa kalau aku bingung?”
“Hahaha…Kenapa tak kau biarkan saja sisi gelapmu yang menjawabnya?”, tersimpul senyum sinis pada wajah Zivan.
“Sisi gelapku?”
Zivan memutar tubuhnya perlahan, memandangi segala arah yang ada di gua.
“Kau tahu?, mengapa aku mengajakmu kemari?, di tempat penuh makan seperti ini.”
Devan diam tak menjawab, Ia hanya melihat tingkah laku Zivan, tanpa sadar Devan bersiaga melihat gaya Zivan yang mendadak berubah.
__ADS_1
“Bagi manusia, makam adalah tempat yang sakral, mereka harus menjaga etika ketika berada di wilayahnya, mengucap salam, memberi do’a, serta tak boleh melakukan hal yang terlarang atau tabu, apalagi sampai mengganggu penghuni makam. Ya, walaupun mereka hanya seonggok jasad sih.”
Devan bereaksi kecil, tampak raut ketidaksukaan di wajahnya pada kalimat terakhir yang ia dengar.
“Tapi makam ini berbeda. Semua penghuninya telah putus dari kasih tuhan. Mereka datang ke lembah ini karena menyerah pada hidup mereka. Ada juga yang tak mensyukuri hidup mereka, dan mereka pikir dengan datang kemari mereka akan menjadi seorang yang spesial. Ck…ck…ck.”, ujar Zivan, ia berdecak sembari menggeleng-geleng diakhir kalimatnya.
“Mereka hanya tertipu dari cerita halu yang beredar, pada akhirnya mereka semua dalam keadaan merugi. Dan coba tebak Devan, mengapa itu semua bisa terjadi?”, tanya Zivan seraya mengangkat kedua telapak tangannya setinggi bahunya.
“Katakan saja apa yang ingin kau katakan.”, tanggap Devan dingin.
“Haa?...jangan-jangan, kau tak bisa menebaknya?”
Devan hanya diam melihat tingkah Zivan.
“Hahaha. Baiklah-baiklah aku akan menjawabnya sendiri. He.”, ujar Zivan berwajah sombong.
“Karena kepergian Amethya lah yang menyebabkan semua ini terjadi. Tidak adanya aura ketakutan yang mengelilingi lembah ini, membuat manusia-manusia bodoh di makam ini berani memasuki lembah sehingga merugikan dirinya sendiri. Hahaha.”, ujar Zivan kemudian tertawa.
“Hmmm… terkadang aku berfikir rasa takut tidaklah sepenuhnya negatif. Ia ada agar kita para makhluk tidak menyakiti diri kita sendiri.
Ck…ck….ck, Amethyaa… Amethya… aku mengerti, aku yakin kau pergi karena kau membangkang pada Tuhan, karena kau membenci kekuatanmu sendiri kan?
Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin bertanya mengapa kau pergi dari lembah ini?, mengapa kau tak patuh pada Tuhan?, kau membenci kekuatanmu kah?, kau tahu, kekuatanmu adalah rahmat tuhan, karena miraclemu, entah berapa manusia dimasa lalu yang terselamatkan.
Jadi… kau sudah dengar Devan, aku pun juga melihat ke belakang, aku melihat masa lalu, karena itulah aku mengetahui mengapa hal ini terjadi. Jadi, perkataanmu tadi malam tidaklah benar. Dan tentang rumahku, itu kebetulan saja bagian belakangnya tertutup bebatuan tebing. Itu bagian dari bentuk alam tempat ini, bukan bagian dari rumahku.”
Mendengar hal itu, Devan pun terngiang perkataannya tadi malam…
(…..“Kalau seperti itu, ruanganmu sebenarnya tidak benar-benar terbuka, Zivan.”, tanggap Devan. Julian dan Morgan pun menoleh ke arah Devan.
“Maksudmu?.”, tanya Zivan yang berbalik ke arah Devan setelah sebelumnya ia menghadap ke depan.
“Maksudku, bagian depan dan samping memang terbuka, tapi tidak di bagian belakang. Ia tertutup oleh dinding, dan dinding itu bukan dinding biasa, tapi langsung oleh bebatuan bagian dari tebing ini yang menjulang ke atas.”, jelas Devan.
…..
“Zivan memfilosofikan ruangan ini sebagai pikiran. Ruang kiri, depan, kanan yang terbuka, bisa diartikan sebagai berfikir jauh ke depan dengan sudut pandang yang luas.
(“Sepertinya aku sudah menyinggung Zivan tak sengaja. Tapi, Memangnya aku berlebihan mengatakannya?...Tunggu…bukan itu hal yang penting saat ini.”, pikir Devan.)
“Aneh sekali. Aku tak mengerti kenapa kau tampak senang?, bukankah seharusnya kau bersedih, menyesalkan kepergian Amethya yang membuat manusia banyak yang mati di lembah ini?”, tanya Devan tak mengerti. Ia mengernyitkan dahi.
“Hm?, jadi itu yang kau tangkap?. Tentu saja aku senang di saat seperti ini, soalnya, aku mempunyai mayat sebanyak ini.”, ujar Zivan seraya membentangkan kedua tangannya dengan senyum jahat di bibirnya.
“Zivan…”, ucap Devan yang masih tak mengerti.
“Akhirnya kita bertemu lagi, Devan.”, Zivan tersenyum jahat sembari menatap tajam ke arah Devan.
“Bertemu lagi???”, ucap Devan bersuara kecil.
Tiba-tiba tanah di dalam gua mendadak bergetar. Lalu jasad manusia yang terkubur mulai bangkit beberapa hingga semuanya sekaligus keluar dari makamnya.
Tampak aura hitam keluar dari tempat Zivan berdiri, seperti semburan air yang mengitari Zivan kemudian menyebar ke segala arah, membangkitkan para Jasad manusia menjadi mayat hidup dengan daging dan anggota tubuh yang lengkap serta beregenerasi.
Mayat itu benar-benar utuh dan tampak sehat, mereka berdiri tegak, sekilas tampak benar-benar hidup, kulit serta wajah mereka kembali seperti semula, kecuali tatapan mata mereka yang kosong serta pakaian yang sudah rusak.
Devan begitu tak menyangka melihat kejadian itu, ia melihat sekeliling sudah banyak mayat hidup mengepungnya. Lalu ia pun memandang Zivan serta aura hitam yang keluar darinya.
Saat itu Devan baru memahami tujuan pembicaraan Zivan.
(“Bagi manusia, makam adalah tempat yang sakral….”
…..
“Tapi makam ini berbeda. Semua penghuninya telah putus dari kasih tuhan. Mereka datang ke lembah ini karena menyerah pada hidup mereka…..”)
“Zivan sialan!, kau benar-benar melakukan hal yang terlarang. Hanya karena mereka bukan manusia yang benar lalu kau menghalalkan yang kau lakukan. ”, ucap Devan menatapnya tak senang.
“Hahaha.”
Terbayang di benak Devan, Zivan yang kemarin dengan yang hari ini di hadapannya.
__ADS_1
“Jadi ini sisi gelap dirimu kah… Membayangkan dirimu yang kemarin aku sampai lupa, bahwa kau tetaplah malaikat jatuh, makhluk yang membangkang.”, Devan berbisik kecil berbicara sendiri.
Devan yang berdiri diam, tiba-tiba dari samping tampak satu mayat hidup berlari laju ke arahnya. Hingga ketika Devan menyadarinya ia lihat mayat itu sudah mengarahkan tinjuannya tepat ke wajah Devan.
“TASS!!”, Devan mendorong tinjuan mayat itu ke samping kiri dengan tangan kanannya seraya ia menggeser sedikit posisinya ke kanan. Mayat itu pun tersungkur jatuh.
“Hei Zivan, apa maksudnya ini?”, segera Devan mengambil langkah lari ketika ia lihat mayat-mayat lain mulai mengejarnya.
“Tadi aku sudah minta maaf kan, bahwa aku sulit mempercayaimu.”
“Kita masih bisa bicara baik-baik kalau kau hanya tak percaya padaku. Aku tak punya alasan bertarung denganmu. Kupikir kau juga tak punya alas…”, tiba-tiba Devan tak melanjutkan kalimatnya. Ia teringat perkataan Zivan.
(“Akhirnya kita bertemu lagi, Devan.”)
“Hah!”, Devan bereaksi kecil.
(“Jangan-jangan terjadi sesuatu antara aku dan Zivan dimasa lalu.”, bathin Zivan.)
“Sudah kubilang juga kan?, kalau kau bingung, biarkan saja sisi gelapmu yang bicara. Dia pasti tahu segalanya.”
Sembari bicara…
Devan terus berlari dengan kecepatan sedang, tampak mayat dihadapannya tangan kanannya mengancang ke belakang, ketika keduanya telah sampai jarak, Devan mengerem mendadak…
“Wusshh!!”, terdengar suara angin di dekat telinga Devan, tepat disampingnya lewatlah tinjuan deras mayat itu. Devan pun mengambil langkah hingga selaras bahu keduanya, ia seketika berbalik dan mendorong mayat itu sesuai dengan arah tinjuannya lalu ia berbalik kembali.
(“Sialan mayat hidup ini, walaupun gerakan mereka sangat sederhana, tapi pukulan mereka kuat sekali.”)
Devan pun segera berbelok mengubah arah larinya ketika tampak di depannya sejumlah mayat menghadangnya.
Namun, tak di sangka, baru beberapa langkah Devan langsung di sambut dengan rentangan lengan samping terayun kuat menuju ke kepala samping Devan.
Devan pun seketika menghentikan larinya dan mengangkat lengan kirinya untuk melindungi kepala bagian kirinya.
“Pumb!!..”
Mata Devan terbelalak sesaat, walaupun ia berhasil menangkis, ia sedikit meringis dan sedikit terpental menerima pukulan itu. Devan pun hanya menghempaskan tangkisannya dan segera kembali berlari melewatinya.
Devan terus berlari menuju titik di mana ia bisa leluasa menghindar, dan tak boleh berhenti berlari, atau dia akan berada pada kondisi dimana ia terkepung di segala arah.
Sementara Zivan diam tak bergerak di tempatnya, ia hanya berdiri melihat Devan yang sibuk menghindar sembari melepaskan magusnya di dalam Goa itu.
Sepanjang menghindar, Devan membathin…
(“Tch!, akan buruk jadinya kalau sampai harus berkonfrontasi dengan Zivan saat ini. Padahal aku masih membutuhkan petunjuknya untuk membantuku mengendalikan magusku…”)
Devan mengingat perkataan Aslan sebelum ia meninggalkan kota Avalon.
(“…..kita harus cepat, tak hanya demi engkau, namun juga demi Luna dan para peri itu.", ucap Aslan meninggikan nada bicaranya…...)
(“Kalau aku gagal di sini, bagaimana aku menolong Luna dan para peri.”)
“Hei Zivan, aku kemari bukan untuk diriku sendiri?, Aslan memintaku kemari, agar dengan kekuatanku aku bisa menolong Luna dan para peri?”, ujar Devan dengan suara keras, sembari sibuk menghindar dan menangkis serangan para mayat hidup.
“Oooh… Jadi tak hanya Luna, kau juga khawatir dengan para peri?”
“Tentu saja. Bukan hanya dirimu, aku juga mengkhawatirkan Rayyana.”
“Kalau soal itu. Aku punya rencana lain. Kau tak perlu repot untuk pergi ke sana, lagipula kau tak akan mampu. Jadi, kau mati saja di goa ini…
BIAR AKU SENDIRI YANG PERGI MENOLONG LUNA!!!”, tersimpul senyum jahat di bibir Zivan.
“HA???”, Seketika mayat yang tengah berhadapan dengan Devan saat itu, dipukul olehnya hingga jatuh dan patah tulang leher mayat itu.
Aura hitam Devan pun keluar samar sesaat membuat para mayat berhenti bergerak.
“Jadi begitu. Dari awal kau memang tak berniat membantuku. Tapi ingin mengambil peran yang diemban olehku…
Maaf saja, menolong Luna adalah tugasku. Karena kau sudah menghalangiku, maka detik ini juga aku akan melawanmu.”
***
__ADS_1