
Tiba-tiba…
Datang dari atas Malaikat Sachiel yang sedang mendarat perlahan tepat di belakang Zivan yang tersandar duduk tak bergerak.
Devan sempat memandang malaikat itu, namun…
“PUM!!!”
“Jadi begitu.”, ucap Devan yang kepalan tangannya mengenai tanah tepat di depan wajah Zivan.
Saat itu Zivan refleks, lengan kanannya melindungi kepalanya sembari terbaring, wajahnya berpaling ke samping.
“Hm?”, reaksi Devan ketika ia menyadari seseorang berdiri di depannya..
Devan pun menengadahkan kepalanya, dan dilihatnya Sachiel yang berdiri tegak tengah memandangi dirinya.
Tiba-tiba Sachiel tampak membuka mulutnya sedikit sesaat, seakan ia melihat sesuatu yang tak ia sangka.
Devan terkejut dan ia segera bangkit dari setengah berdirinya, namun ia termundur dan jatuh terduduk.
(“Kenapa malaikat perempuan ini sampai berada disini?”, bathin Devan.)
Zivan kemudian membuka matanya, di depan matanya ada bekas tinjuan Devan di atas tanah. Zivan pun sedikit mengangkat kepalanya dan ia lihat Devan tengah jatuh terduduk.
“Devan?”, panggil Zivan setelah ia menyadari ada yang berubah dari Devan, di tengah pupil matanya tak lagi tampak lingkaran putih, dan ekspresi wajahnya tampak kembali seperti Devan yang biasanya.
Devan pun menurunkan kepalanya dan memandang Zivan yang memanggilnya. Devan hendak memberitahu Zivan tentang apa yang dilihatnya seraya perlahan mengangkat jemari telunjuknya.
Namun, ia lihat Sachiel perlahan mengangkat salah satu tangannya, lalu jemari telunjuknya diletakkan di depan bibirnya yang tersimpul senyum tipis.
Devan menenang, ia pun mengurungkan niatnya untuk memberitahu Zivan, lalu kembali berdiri sembari bersikap seperti tak melihat apa-apa.
“Devan, kenapa dirimu bisa kembali?”
Mendengar hal itu, Devan menyadari gaya bicara Zivan kembali seperti biasanya.
“Tentu saja aku bisa kembali, kalau tidak, aku pasti akan menghabisimu barusan.”
Tiba-tiba Devan merasa bingung sendiri setelah mengatakan itu lalu ia sibuk membathin…
(“Eh, mengapa aku bilang begitu?”)
Devan mengingat kejadian sebelumnya…
(….Devan segera berlari ke arah Zivan..…
…
“Selamat tinggal, Zivan”, Devan segara melompat ke arah Zivan seraya mengancangkan lengan kanannya hingga sejajar dengan bahunya…)
(“Tunggu…Mengapa aku ingin melakukan itu?”, agak lama Devan memikirkannya. ”ha!, jangan-jangan aku juga lupa…..”)
Devan pun mengubah pandangannya ke salah satu makam. Lama kemudian, ia memandangi satu per satu makam yang ada dalam gua itu.
Zivan yang memperhatikannya merasa heran dengan tingkah laku Devan. Ia mencoba bangkit sembari memegang uluh hatinya. Namun ia tak mampu, hanya sampai membuat dirinya duduk dengan ditumpu lengan kirinya.
Setelah itu, Devan giliran menatap Zivan.
Menyadari dirinya ditatap, Zivan pun bersuara.
“Hey!, Devan!”
Pikiran Devan kemudian pecah.
“Ada apa denganmu?”
“Aku melupakannya lagi.”
“Ha?”
“Padahal tadi aku merasa mudah melakukannya, hanya dengan memandangnya aku bisa menggerakkan jasad-jasad itu.”, ucap Devan sembari menoleh ke arah makam-makam.
Devan tiba-tiba teringat…
(…Devan segera berlari ke arah Zivan, tak lama kemudian perlahan-lahan magus Devan kembali menyelimuti tangan kanannya…)
Devan langsung mencoba mengulangi kejadian itu, dan akhirnya ia berhasil mengeluarkan magusnya. Tampak aura hitam keluar dari telapak tangan kanan hingga pergelangan tangannya. Ia juga mencoba pada telapak tangan kirinya dan berhasil mengeluarkannya.
(“Hanya segini?...”)
Tiba-tiba Zivan terbatuk-batuk, sembari memegang dadanya. Tak lama setelah itu, ia pingsan tak sadarkan diri.
Devan menoleh ke arah Zivan ketika ia terbatuk-batuk, namun hanya melihatnya datar. Ia pun mencoba tak peduli dan segera keluar dari goa meninggalkan Zivan sendirian.
Namun…
Setelah beberapa langkah berjalan keluar, Devan berhenti sesaat, lalu berbalik berjalan kembali ke arah Zivan.
Devan berjongkok, ia meraih tangan Zivan, mengangkatnya dan menyandarkannya di belakang punggungnya, lalu Devan berdiri dan berjalan keluar.
Baru saja beberapa langkah…
“Eghh...”, Zivan tersadar, raut wajahnya tampak lemas, sesaat kemudian ia baru menyadari bahwa ia tengah digendong Devan berjalan keluar.
“Aku…berjalan saja.”, ucap Zivan tertatih.
“Hm?”, reaksi Devan saat mendengar suara Zivan.. Ia menoleh ke samping sedikit sembari matanya melirik ke belakang.
__ADS_1
Devan pun perlahan melepas kedua kaki Zivan, namun, baru saja Zivan menapaki kakinya ke atas tanah, tiba-tiba kaki kanannya jatuh terlutut.
Devan segera berbalik dan meraih lengannya.
“Hoi, jangan paksakan diri, kau pikir keadaanmu sekarang mampu membuatmu berdiri?.”, ucap Devan seraya membantunya berdiri, merangkul lengannya dengan kedua bahunya.
“Kenapa… kau membantuku?”, ucap Zivan lesu.
“Seharusnya kau bilang terima kasih, karena aku masih mau membantu.”, tanggap Devan dingin.
Sesaat setelah itu, Devan mengingat perkataannya beberapa waktu lalu…
(“…Kau….menggunakan cara ini agar aku segera mampu mengendalikan magusku, kan?”…..)
“Mungkin… Karena kau telah membantuku mengendalikan magus.”, tambah Devan.
“Bagaimana kalau… itu sebenarnya kepura-puraanku?, seperti katamu.”
“Entahlah. Aku punya pertimbanganku sendiri.”
Devan pun teringat….
(…..“Kalau saat itu aku berbohong, tidak mungkin aku tertawa. Heeuh. Aku sebelumnya yang ingin menolong Luna, sebenarnya itu adalah tendensi keinginanku yang sekarang…
KALAU AKU AKAN MELENYAPKAN PUTRI ARTEMIS.”, ucap Devan dengan pandangan dingin.
“KAU!!!”, nada Zivan meninggi.
...
Zivan menarik nafas mencoba menenangkan dirinya, namun tak sepenuhnya berhasil, ia tampak memandang Devan penuh amarah…..)
(“Marahnya kau saat itu…yang pasti bukan kepura-puraan. Kau benar-benar peduli, pada Luna, dan pada para peri.”, Devan membathin.)
Sementara itu…
Sachiel dari tempatnya berdiri memandang Devan berjalan, sembari merangkul Zivan yang terluka. Namun fokus pandangannya tidak pada diri mereka, tetapi pada gelang karet hijau yang dipakai Devan dipergelangan tangan kirinya.
Malaikat perempuan itu cukup lama menatap gelang tersebut. Hingga kemudian, ia berkata lirih…
“Ternyata,, itu adalah kebaikanmu ya…
Kebaikan yang melindungi anak manusia itu…
Dan sebentar lagi,,, anak manusia itu juga akan melindungi putrimu yang dirimu kasih…
Wahai peri yang memahami angin.”
Disisi lain…
Sembari berjalan, Zivan diam termenung dalam rangkulan Devan…
Mungkinkah…Sachiel ada disini…”)
Zivan pun menoleh, melempar pandang ke kiri dan kanan, namun tak siapapun yang ia lihat. Setelah itu, langkahnya berhenti. Devan pun turut berhenti.
Zivan berbalik perlahan ke belakang, melempar pandangan, sembari tangannya memegang bahu Devan. Namun, juga tak ada siapapun yang ia pandangi, Sachiel telah pergi, dari tempat ia sebelumnya berdiri.
***
Pagi hari ini…
Di kota Avalon, kantor walikota…
Aslan tampak gelisah duduk di kursinya. Kakinya menepuk-nepuk lantai, jemarinya mengetik-ngetuk meja.
(“Menurut perhitunganku, Seharusnya mereka bertiga telah sampai tadi malam. Kemudian Morgan dan Julian akan kembali dan sampai kemari paling cepat hari ini, paling lambat tiga hari.”, Aslan membathin.
“Itupun…bila dalam perjalanan tak ada penghalang.”)
“DUAR!!!”, tiba-tiba Aslan memukul kuat meja dengan kedua telapak tangannya.
“Istan sialan!!!”, maki Aslan.
Aslan pun memejam mata, ia sandarkan dirinya ke sandaran kursi yang ia duduki seraya mengambil nafas panjang, ia menenangkan dirinya.
Tapi ia tak bisa, ia selalu teringat kejadian dua malam yang lalu, atau satu malam sebelum kedatangan Reydan, Ireena, dan beserta fallen angel lainnya, di Lembah Sei Roja…..
…..
Malam itu…
Sepasang lelaki dan perempuan berpakaian serba hitam rapi dan mewah memasuki pintu kantor walikota. Saat itu baru saja para pegawai mengakhiri waktu kerja dan segera pulang.
Beberapa kali dua orang asing itu lewat di sekitar pegawai, namun tak satupun orang yang menyadarinya, sebab sepasang makhluk itu tak bisa dilihat oleh mata manusia.
Dua entitas itu terus berjalan, hingga akhirnya ia memasuki sebuah pintu yang merupakan ruang dari bapak walikota.
“Yo!. Lama tak bertemu, Aslan.”
Aslan yang tengah merapikan dokumen diatas meja seketika menghentikan aktivitasnya. Yang mendatanginya tak lain adalah Istan Zora, penguasa Delbora sekarang, dan Aslan mengetahui itu.
Sementara yang menyusulnya dari balik pintu adalah seorang perempuan berambut sebahu, tampak bando hitam menempel di rambut depannya. Dan Aslan juga langsung mengetahui identitasnya dari gayanya.
Istan langsung duduk pada kursi tamu di tengah ruang itu tepat lurus menghadap Aslan, dan perempuan yang datang bersamanya berdiri tegak di samping Istan.
“Apa yang kau inginkan kemari?”, tanya Aslan langsung dengan pandangan tak suka.
__ADS_1
“Bagus sekali, Aslan. Akupun juga tak menyukai basa-basi.”, tanggap Istan.
Istan kemudian mengangkat kaki kanannya ke bahu kirinya, lengannya bersandar ke sandaran samping kiri kursi seraya pipi kirinya bersandar ke telapak tangan kirinya.
“Kalau begitu aku langsung saja. Kemana Devan Zora pergi?”
Aslan hendak menyangkalnya, namun baru ia hendak berbicara Istan segera memotongnya.
“Tunggu!...Aku tidak menerima jawaban tidak tahu, atau bentuk penyangkalan lainnya.”
Aslan terdiam, wajahnya agak jengkel mendengar Istan bicara begitu.
(“Dia pikir…disini Delbora?”, kesal bathin Aslan)
“Sebaiknya kau menyadari, dimana kau berada sekarang?”
“Aku tahu kok. Aku sekarang berada di wilayah supremasimu. Memangnya kenapa? Ups. Maksudku, memangnya kau bisa apa?. hee”, ucap Istan, tampak raut wajahnya sombong, membuat Aslan begitu muak melihatnya.
Aslan pun segera meletakkan dokumen ditangannya ke atas meja, kemudian segera berjalan menuju mereka berdua.
Lalu keluar gelombang aura hitam dari diri Aslan meluas ke seluruh ruang, menghentikan waktu yang ada di ruangan itu. Istan pun tak bergerak.
Aslan pun mendekatinya berniat untuk memberinya pelajaran. Namun ketika Aslan memandang ke arah perempuan yang berdiri di samping kursi Istan, tiba-tiba ia tersenyum melihat Aslan.
Seketika langkah Aslan terhenti, matanya terbelalak, mulutnya sedikit menganga, melihat perempuan itu tak di dalam pengaruh magusnya.
Tiba-tiba datang gelombang aura hitam dari perempuan itu, kemudian menormalkan waktu dalam ruangan, magus Aslan pun dibatalkan.
Sementara di sudut pandang Istan…
Ia heran melihat raut wajah Aslan yang tengah sedikit ternganga dan terbelalak.
“Hm?, kau kenapa, Aslan?”
Perempuan yang berdiri di sisi Istan kemudian merunduk seraya membisikkan sesuatu.
“Ahaha..hahahaha…hahaha!”, tiba-tiba Istan pun tertawa.
“Pantas saja kau tampak kaget seperti itu.”, tambah Istan sembari sedikit tertawa.
“Kalau begitu aku minta maaf karena lupa mengenalkannya padamu, perkenalkan Aslan, Namanya adalah Maia. Kalau menurut sistem pemerintahan manusia apa ya namanya…hmm…, aaa!, dia adalah sekretarisku.”, ucap Istan berdiri seraya merangkul bahu perempuan itu.
“Maia Era, dia juga sama sepertimu, berelemen waktu, dan bisa menghentikan waktu.”, Istan pun tersenyum sinis.
“Hmm…aku kecewa, padahal aku kemari untuk berbicara baik-baik, tapi kau malah menyerangku duluan. Apa sebaiknya kita melakukannya dengan cara keras, Maia?”, ucap Istan pada Aslan, namun di kalimat terakhir ia menoleh ke Maia.
Maia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Istan.
“Kuingatkan kau. Disini adalah tempatnya manusia, kau tidak tahu berapa banyak malaikat Arcangel Michael mengawasi kota ini. Takutnya kau….”
“Ush,,,ush…ush…ush…ush…”, potong Istan mengisyaratkan diam pada Aslan sembari maju mendekatinya.
“Kau tak perlu mengajari aku soal itu, aku telah memperhitungkan semuanya. Karena itu aku membawa Maia bersamaku.”, lanjutnya
“Oh iya Aslan, aku ada informasi menarik untukmu. Tadi siang, aku sendirian menyerang Rayyana.”, ucap Istan mengalihkan pembicaraan.
Aslan sedikit bereaksi, ia berusaha menyembunyikannya, namun Istan yang memperhatikan menyadarinya.
Istan kemudian maju mendekatinya seraya berbisik ke telinganya.
“Kau tahu?. Aku menemukan, BAHWA PUTRIMU LUNA, MASIH HIDUP.”
Raut wajah Aslan tampak terkejut luar biasa, ia tak pernah berharap bahwa penguasa Delbora akan mengetahuinya.
(“Kena kau. Aslan.”, Istan membathin.)
“Maia.”, panggil Istan setelah ia berbalik menghadap Maia.
Maia kemudian mengerti, ia pun keluar ruangan meninggalkan Aslan dan Istan berdua.
“Tenang saja, aku tak tertarik pada Putri Artemis, aku sudah mendapat yang aku mau, sekarang aku hanya tertarik untuk mengalahkan lagi musuh lamaku.”
“Dan juga, kujamin soal itu tak ada yang tahu di Delbora kecuali diriku. Jadi, kalau kau memberitahuku kemana Devan Zora pergi, aku berjanji akan merahasiakannya seperti aku merahasiakan hubunganmu dengan Ratu Artemis, Aslan….maksudku…Alsiel.”, Istan pun tersenyum percaya diri, ia yakin betul dirinya telah menang.
Aslan termenung, namun sebenarnya ia tak bisa berfikir, dirinya telah dikuasai oleh perasaannya sendiri. Hingga setelah beberapa lama ia terdiam, ia terpaksa bersuara.
“Barat…Lembah Sei Roja…”
Istan pun mendekati Devan seraya memegang salah satu bahunya.
“Itu saja sudah cukup. Aslan. Janjiku, pasti akan aku tepati. Terima kasih kau telah mau bekerja sama.” Ucap Istan sembari menepuk-nepuk pelan bahu Aslan.
Istan kemudian keluar dari ruangan dan kembali bersama Maia.
“Sudah?”, tanya Maia sembari menatap manis Istan.
“Tentu saja, akan mudah bila kita mengetahui kelemahan lawan.”
Mereka berdua pun kemudian pergi.
Sementara Aslan di dalam ruangan, ia menuju kursi dan tertunduk lesu ke arah meja.
“Sial!!!. Kalau begini hanya menunggu waktu saja..”
Semenjak itu, Aslan selalu dirundung kegelisahan.
…..
__ADS_1
Bahkan hingga pagi ini, Aslan masih dirundung kegelisahan, menunggu kabar dari datangnya Morgan dan Julian.
***