
"Kek.... Kakek......", panggil Luna, seraya berjalan menuju ke ruangan kakeknya.
Luna pun langsung membuka pintu ruangan kakeknya itu dan masuk ke dalam bersama Trevy.
"Lho. Kakek kemana?.", sembari Luna melempar pandangannya dalam ruangan itu.
"Kakekmu pasti sedang keluar, Luna.", ucap Trevy.
"Hm. Gitu."
Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu. Seorang wanita terdengar bergegas turun dari anak tangga.
"Lunaa.", panggil wanita itu, sembari menuju ke Luna dan Trevy. "Aku lupa memberitahumu, kakek sedang berada di aula kota, mungkin sedang membicarakan sesuatu dengan petinggi lainnya.", lanjut wanita itu.
"Kak Yunaa?. Bukannya tadi bilang sedang mengerjakan sesuatu di atas?.", tanya Luna.
"Hmm. Ya, kakak sudah selesai dengan urusan kakak.", ucap wanita bernama Yuna itu, sembari mengembang senyum.
Yuna, adalah kakak dari Luna. Seorang wanita dewasa berambut pony tail lebar dengan bagian ujungnya bergelombang. Warnanya juga kuning keemasan.
"Mm. Apa kakek lama, kak?", tanya Luna.
"Tidak terlalu lama. Mungkin sebentar lagi ia datang. Oh iya, tadi Luna bilang Luna bawa teman yang sedang menunggu di luar. Kenapa tidak di suruh masuk saja?."
"Bolehkah?. Tadinya kupikir dilarang membawanya masuk.", ucap Luna. matanya membuka lebar, merekah senyum di bibirnya.
"Kenapa tidak boleh?. Tentu boleh, kalau itu temanmu, Luna.", ucap Yuna kemudian berjalan menuju arah pintu keluar.
"Anuu...Kak Yuna...", Trevy membuka suara namun ragu.
"Hm?.", tanggap Yuna mendengar suara Trevy yang kecil, namun Yuna telah berada di depan pintu.
"Iya Trevy?.", lanjut tanya Yuna dengan intonasi lembut sembari menoleh ke arah Trevy.
"Sebenarnya... teman yang Luna bawa itu manusia."
Yuna agak kaget mendengar perkataan Trevy, Yuna pun terlanjur membuka pintu. Ia kembali meluruskan kepalanya dan langsung melihat ke arah Devan.
Yuna terpaku agak lama melihat Devan. Begitu pula Devan yang melihat ke arah Yuna begitu pintu itu dibuka.
"Kak Yunaaa.", sahut Zeya. Ia yang sebelumnya duduk memeluk lutut di rerumputan kini berdiri.
Perhatian Yuna teralihkan ke sahutan Zeya.
"Zeyaaaa?. Kok duduk disitu?, kenapa tidak ikut masuk saja?", ucap Yuna lembut kepada Zeya.
"Yaa aku malas saja bertemu si orang tua itu.", ketus Zeya, sembari berjalan mendekat ke Yuna.
"Zeyaa!. berkata seperti itu tidak baik.", marah Yuna dengan lembut, raut wajahnya sedikit cemberut.
"Habisnya kakek di akademi selalu menghukumku. Padahal dengan Luna dan Trevy, ia begitu baik.", ucap Zeya. Ia menghentikan langkahnya. Tangannya melipat di depan dadanya sembari membuang muka.
"Hmm, itu karena Zeya suka bikin onar di akademi. Coba saja Zeya lebih penurut, kakek pasti tidak akan membuatmu berdiri satu kaki.", tutur Yuna, semberi tersenyum lembut pada Zeya.
"Huh!, dia bahkan menyuruhku merentangkan tangan lalu meletakkan buku-buku di sepanjang lenganku.", tambah Zeya.
"Xixi, apa-apaan itu. Jemuran kah?, Orang-orangan sawah kah?. Hah!.", Devan tertawa kecil, seketika ia tersadar, isi pikirannya bocor lewat perkataannya.
"Hummmmmm!!!.", Zeya mengeram sembari menatap tajam Devan.
Melihat hal itu Devan seketika berpaling dari Zeya, dan berusaha bersikap biasa.
Zeya kemudian melangkah kuat mendekati Devan. Yuna yang melihat tingkah zoya mulai khawatir. Setelah sampai di sampingnya, ia menendang tulang kering kaki Devan sekuat tenaga.
__ADS_1
"Aaaw.!", jerit Devan namun tidak sampai berteriak. Ia tersungkur sembari memegang salah satu tulang kering di kakinya.
Yuna kaget, ia sampai menutup mulut dengan kedua tangannya. Zeya kembali melangkah kuat ke tempatnya semula sembari berpose sama seperti sebelumnya.
Luna dan Trevy kemudian muncul dari dalam pintu.
"Devan, kau sedang apa?", tanya Luna yang melihat Devan tengah melengkung terbaring.
Mendengar suara Luna, Devan pun membalikkan badannya menghadap Luna.
"Aaa,,,, aku sedang tiduran. Ternyata rerumputan di sini begitu nyaman.", ucap Devan sembari duduk. Ia berusaha memalsukan mimik wajahnya agar terlihat baik-baik saja.
"Mmm. Oh iya devan, kakekku sedang berada keluar, padahal aku berniat mempertemukan kau dengannya. Ayo kita masuk, Zeya, Kita tungguin di dalam saja.", ajak Luna.
Zeya melangkah ke Luna. Sedangkan Devan, ia melihat ke arah Yuna. Yuna terlihat canggung tak nyaman setelah mendengar perkataan Luna, namun tetap menahan senyumnya. Yuna tak ingin melarang Luna, namun juga ragu membiarkan Devan masuk. Devan pun memahami situasi Yuna.
"Aku pikir lebih nyaman bila kita tunggu di luar, Luna. Aku sudah terlanjur nyaman duduk di sini, rasanya malas mau berdiri lagi.", ucap Devan senyum kepada Luna. Ia juga sembari mencuri-curi kesempatan untuk mengelus tulang keringnya yang sakit karena di tendang Zeya.
Yuna yang tadi pandangannya ke bawah tak tentu arah, kini pandangannya ke arah Devan.
"Devaaaan, kau rupanya seorang pemalas.", ucap Luna kemudian ia berjalan ke arah Devan. "Hmm, gara-gara kau kita jadi ikut nungguin di luar deh.", lanjut Luna, ia menjatuhkan lututnya perlahan duduk di rerumputan berhadapan dengan Devan.
Devan tersenyum kecil sembari menghela keci pula.
Zeya dan Trevy kemudian duduk di dekat Luna, mereka memulai perbincangan mereka. Devan pun merebahkan diri sembari membalikkan tubuhnya ke arah lain. Sedangkan Yuna, duduk di sisi Luna dan kawan-kawannya agak jauh. Ia mengawasi Devan dan melihat Devan yang masih menahan sakit berkat tendangan kuat Zeya pada tulang kering kakinya.
***
Beberapa saat telah berlalu. Matahari meninggi hampir sejajar di atas kepala. Namun karena rindangnya dendaunan dari rumah pohon besar, menghalangi panas dan sinarnya sehingga tidak menerpa mereka.
Ketika itu, datang tiga orang lelaki menghampiri mereka.
Lelaki pertama adalah seorang lelaki tanggung. Rambutnya pendek dengan rambut bagian depannya jatuh menutupi beberapa bagian jidatnya. Ia juga memiliki sorot mata yang tajam. Dari perawakannya ia sebaya dengan Luna dan teman-temannya.
Diantara mereka berdiri di tengah seorang lelaki tua berjenggot panjang. Rambutnya panjang ke belakang. Lelaki tua itu memiliki tubuh yang sangat tinggi lebih daripada kedua lelaki yang ada di sisinya. Dan juga ia terlihat sangat berkharisma, membuat siapa yang melihatnya akan berlaku sopan.
Ketiga lelaki itu memiliki ciri yang sama dengan bangsa peri lainnya. Rambut mereka kuning keemasan dan memakai pakaian dominan putih bercelana panjang. Ada yang memakai pakaian kancing berlengan panjang, ada yang memakai pakaian tak berlengan, dan yang lain memakai pakaian panjang ke bawah.
"Kakek...!", Luna berdiri dari duduknya, berlari kemudian memeluk kakeknya.
"Dirimu baik-baik saja, Luna?.", tanya kakek.
"Hm. Aku baik-baik...", Luna berbicara sembari memeluk dan mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah kakeknya. Namun kata-katanya terhenti, ketika melihat wajah kakeknya bermata sayu dengan sedikit senyum yang tak berhasil menyembunyikan raut kelesuannya di pandangan Luna.
"Kakek, dirimu kenapa?.", tanya Luna.
Kakek tidak mengatakan apapun. Ia hanya menghela nafas.
Kakek Luna kemudian melempar pandangannya ke arah halaman rumahnya yang sedang ramai. Ketika itu, Ia juga melihat Devan yang baru saja berdiri dari rebahannya.
Kakek Luna yang bermata sayu sebelumnya seketika berubah matanya terbuka lebar. Penampilan Devan terlihat sangat mencolok di lingkungan sana, dengan pakaian serba hitam dan rambut berwarna hitam pekat diantara peri berpakaian putih dengan rambut kuning keemasan.
Luna yang menyadari hal itu pun mulai menjelaskan pada kakeknya.
"Oh iya kek. Dia adalah Devan. Seorang manusia baik kok.", ucap Luna sembari tersenyum pada kakeknya. Kakek Luna hanya memandang datar Luna.
Kakek itu kemudian memegang kedua lengan Luna yang tengah memeluknya, dan perlahan melepaskan pelukannya darinya.
"Hm?.", Luna bersuara keheranan. Kakek Luna hanya berjalan melewati Luna di ikuti dua lelaki di sisinya. Kini Luna pun berbalik badan dan melihat kakeknya berjalan di depannya.
Kakek Luna pun berhenti setelah berjalan beberapa langkah.
"Yuna, Trevy, Zeya, menjauhlah dari situ!.", perintah Kakek Luna. Merekapun segera menyingkir.
__ADS_1
Luna yang melihat hal itu merasa bingung dan heran.
Devan yang melihat situasi itu merasa segalanya akan menjadi tidak baik-baik saja. Ia pun secara tak sadar bersikap siaga.
Situasi tiba-tiba hening sejenak.
"Reyn!.", ucap Kakek Luna. Seketika lelaki dewasa di sisinya bergerak maju menuju Devan, menimbulkan debu dan deru angin sesaat.
Dalam kecepatan, lelaki dewasa itu mengepalkan tangan kanannya, lalu menghantamnya ke arah dada Devan.
"TASSS!!!", terdengar suara keras. Tiba-tiba Lelaki dewasa itu berada di tempat Devan berdiri sebelumya, sedangkan Devan tahu-tahu tengah terpelanting kebekangan di rerumputan hingga beberapa bagian rerumputan itu rusak.
Tubuh devan pun perlahan berhenti terpelanting lalu terhenti dengan tubuh dan wajah tersungkur ke tanah. Ia terlempar jauh hingga keluar dari rindangan rumah pohon bahkan hampir dekat dengan tepi awan.
Setelah semua itu terjadi, semuanya baru bereaksi terkejut.
"Devaan!!!.", Luna berteriak. Ia berlari melewati kakeknya menuju kepada Devan.
"Luna.!", panggil Yuna. Ia berlari cepat ke Luna kemudian menahan lengannya agar tidak mendekati Devan.
"Kak Yunaa, Lepaskan!!.", ucap Luna sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman Yuna.
"Kak Yunaaaa!!!.", sahut Luna dengan nada menahan tangis.
Luna pun tersungkur lutut ke tanah tak mampu melepaskan diri dari Kak Yuna. Tangisnya pun pecah.
"Kakeeek, Devan tidak salah apa-apa, kek. Luna yang memintanya kemari.", ucap Luna sembari tersedu-sedu dalam tangisnya.
Yuna tak tega melihat Luna menangis hingga tersedu-sedu. Ia pun turut menurunkan lututnya dan memeluk Luna dari sampingnya.
Reyn, nama lelaki dewasa itu, belum mengalihkan perhatiannya, begitu pula Kakek Luna masih memperhatikan.
Tak lama kemudian, Devan perlahan bangkit dari tersungkurnya tanpa sedikit ada luka. Namun telapak tangan kirinya terdapat bekas kepalan tinju kemerahan dan mengeluarkan asap. Ia pun mengibas-ngibaskannya.
Luna yang melihat Devan bangkit pun seketika menghentikan tangisnya, namun ia masih tersedu-sedu.
Reyn kembali bergerak cepat menuju Devan seketika, mengirimkan tinju dari bawah menuju rahang Devan. Namun Devan memundurkan kepalanya dan terhindar.
Reyn langsung menyambut cepat tinju dari atas dengan tangan satunya. Devan tak bisa menghindar, ia refleks menepis pukulan dengan lengannya mengarahkan pukulan lawan ke samping wajahnya.
Baru saja Devan berhasil menepis, kerah bajunya sudah di cengkram dengan tangan lawan yang lain. Ditariknya ke bawah, Reyn mengangkat lututnya, Devan pun menahan dengan telapak tangannya.
Tangan yang tadi menepis, dengan cepat memegang jempol lawan yang mencengkram, kemudian di sentaknya keluar. Devan kemudian mendorong tubuhnya ke belakang dengan tangan yang menahan lutut lawan.
Reyn terus menyerang dengan cepat, dengan berbagai gerakan, begitupula Devan hanya terus menghindar dan menangkis dengan lincah serangan lawan.
("Sampai kapan engkau terus menghindar?, hah!.")
Tiba-tiba terdengar suara dalam pikiran Devan. Ditengah kesibukan Devan yang terus menghindar, tiba-tiba sebagian anggota badannya seakan bergerak sendiri.
Devan yang terus termundur dalam pertarungan itu, seketika salah satu kakinya maju, menyenggol kuat langkah cepat kaki lawan dari dalam.
Reyn tak sempat bereaksi, ia dengan cepat tersungkur ke depan. Namun lebih cepat sambutan tinju Devan dari bawah mengarah ke mukanya.
Devan menyentak tinjunya sekuat tenaga.
"Krek!", terdengar bunyi retakan. Kepalan Devan menempel hidung Reyn. Ia terlempar jauh menembus rindangan dedaunan lebat rumah pohon.
Setelah melepas tinjuan itu, Devan bernafas tersengal-sengal. Ia menjatuhkan tangannya. Tangan serta jemari itu bergetar, dan ujung kepalannya jemarinya sangat memerah.
Semua orang tercengang melihat pertarungan mereka. Sementara Devan, juga lebih tercengang yang tak menyangka akan kemampuannya.
***
__ADS_1