Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 35: Over Power Eris


__ADS_3

Eris terjatuh dan terseret di atas awan cumulus di situ. Bukannya bangun, ia malah terlentang menghadap angkasa dan menatapi kejauhan langit malam itu.


Topi penyihir yang ia kenakan terlepas. Tatapannya kosong, mulutnya sedikit menganga.


Disaat yang sama, iblis-iblis yang mengelilingi Devan dan Isla di darat dan udara mendadak terdiam. Diantara mereka ada yang berwajah ketakutan, tapi lebih banyak yang tetap berwajah masam.


Isla berbalik sesaat setelah ia menyebut nama Devan dalam bathinnya, lalu melihat pancaran aura warna-warni menyebar di udara yang berasal dari telapak tangan Devan sendiri.


"Engkau....juga memiliki saripati sihir Artemis.", ucap kecil Isla. Ia juga melihat pancaran kecil aura warna-warni dari saku kiri jaket Devan.


Devan tak mendengar ucapan Isla, perhatiannya terfokus pada Eris yang tengah diam terlentang.


"Hee Hiyaha, Hiyahaha, hahaha.", tiba-tiba saja Eris yang tengah terlentang itu tertawa terbahak-bahak.


Devan memandangnya dengan tatapan aneh dah heran, matanya menyipit alisnya turun. Isla pun turut mengalihkan pandangannya pada Eris yang tertawa, namun dengan pandangan datar seperti biasa.


"Ayo pergi.", ajak Isla datar.


Devan berbalik menoleh Isla sesaat, lalu ia menganggukkan kepalanya seraya berbalik kembali dan berlari ke depan meninggalkan Eris yang tertawa, serta para Iblis yang terdiam di titik itu.


"Hiyahahaha----", Eris masih tertawa panjang ketika Devan dan Isla melarikan diri darinya.


"SIAL SIAL SIAL SIAL SIAL, ARTEMIS SIALAN!!!", maki Eris bicara sendiri.


"Padahal engkau sudah mati, tapi KENAPA?, KENAPA?, KENAPA?, kenapa engkau masih saja menghalangi kami?!?-HIYAHAHA"


Eris tertawa, tapi sebenarnya hatinya sangat kesal. Ia pun perlahan bangkit, hingga tertunduk setengah berdiri.


"Haaa..aaa, kebaikan kau itu, kenapa tidak menghilang saja bersama matinya engkau??. Tuhan sangat tidak adil!!.", ucap Eris, kini tampak raut dan nada kekesalan padanya.


Tak lama kemudian, Eris mengangkat kepalanya, dan melihat Devan dan Isla berlari meninggalkannya, lalu ia menatap iblis-iblis satu per satu yang terdiam di sekitarnya dan berkata,


"Hei!, siapa yang meminta kalian berhenti?!", seketika mata Eris melotot, kepalanya agak dimiringkan, dan seketika pula seluruh iblis yang ada di situ merasa ketakutan dan langsung bergerak mengejar Devan dan Isla.


Tak lama kemudian, Isla menoleh dan mendapati iblis-iblis itu terbang dan berlari mengejar mereka dari belakang, namun tak secepat sebelumnya.


"Mereka kembali mengejar kita."


Devan pun menoleh sesaat.


"Kali ini mereka tak mungkin menyusul kita.", ucap Devan yang menoleh ke Isla.


"Belum tentu.", tanggap Isla. Jarinya menunjuk kepada dua iblis yang menyergap di persimpangan awan di depan.


Kedua iblis itu laki-laki dan perempuan yang memiliki dua tanduk merah yang cukup besar di atas jidat mereka, namun kali ini mereka tak berpakaian seperti para peri.


Devan pun mengeluarkan kantong sihir di saku kirinya dan menumpahkannya sedikit ke telapak tangannya, kemudian kantong itu ia kembali simpan.


Kedua iblis itu pun tiba-tiba berlari maju menuju Devan dengan cepat. Hingga ketika mereka sampai pada jangkauan, si iblis laki-laki yang di depan mulai membuka serangan.


Ia menarik tangan kanannya ke belakang bawah, tampak rautnya hendak melepas serangan. Devan yang melihat itu segera bersiap menepis dan hendak menghentikan larinya. Tapi,


Si iblis laki-laki itu mendadak menambah kecepatan larinya seraya berbelok sedikit melewati Devan. Devan pun tampak tak menyangka dan tak sempat menghentikan si iblis lelaki lewat tepat di sampingnya.


Si iblis lelaki itu pun langsung melepas tinjuan dari bawah ke arah dagu entitas yang ada di belakang Devan.


"BHUK!!."


Dan ternyata yang di incar lelaki iblis itu adalah Isla. Ia juga tak menyangkanya dan hanya sempat menghindar sedikit sehingga pipinya yang terkena. Isla pun sedikit termundur dibuatnya.


"Isla!", teriak Devan yang menoleh ke belakang.


"Hey!", ucap si iblis wanita yang menyusul kemudian. Devan pun segera kembali melihat ke depan, dan tiba-tiba tampak si iblis wanita itu tengah melompat ke arahnya.


"Lawanmu adalah aku!", tatkala si iblis wanita itu mendarat, seketika ia berputar deras melepaskan terjangan kaki ke dada Devan.


Untungnya Devan masih sempat menangkis dengan kedua lengannya walaupun tetap membuatnya terlangkah mundur ke belakang.


Si iblis wanita pun tak menyianyiakan-nyiakan kesempatan, seketika ia berlari ke arah Devan yang tengah terlangkah mundur.


Wajah Devan pun menegang, melihat gerakan cekatan iblis wanita itu, alisnya naik, jidatnya mengerut, matanya menajam, mulutnya terbuka seraya giginya mengeram, memikirkan serangan yang akan dilepas oleh si iblis wanita itu.


Namun, ketika ia telah sampai dekat tepat di hadapan Devan, bukannya melepas serangan, justru ia berputar badan dan berbelok melewati Devan.


("Apa??"), Devan pun tertipu lagi. Namun seketika pula bathinnya menyebut,


("Isla!"), Devan pun langsung menjatuhkan dirinya ke belakang, tangan kanannya mencapai kaki si iblis wanita, Devan pun menyengkangnya tak membiarkan si iblis wanita juga mengincar Isla, hingga si iblis itu terjatuh di atas pijakan awan.


Devan segera bangun berguling ke belakang, di saat yang sama si iblis wanita pun bangkit berguling ke depan.


Setelah keduanya berdiri saling menyamping, Devan segera menarik kerah belakang baju si iblis wanita itu dan berniat menariknya menjauhi Isla. Lalu,


"Kreeek!"

__ADS_1


Iblis wanita itu pun tertarik ke depan menjauhi Isla, disaat yang sama Devan tak sengaja memandang robekan pakaian di kerah depan iblis wanita itu.


Seketika jantung Devan berdetak keras, tubuhnya tiba-tiba terasa berat di gerakkan. Namun, Devan tak menyadari kondisinya. Ia hanya diam dan mematung memandangi iblis wanita itu.


Iblis wanita itu pun segera menyeimbangkan dirinya setelah di tarik mundur oleh Devan, sesaat kemudian ia memandangi Devan dengan tatapan nakal, seraya berkata kecil,


"Kena kau!", iblis wanita itu langsung tahu, Devan telah berada dalam pengaruhnya.


Sementara Isla, ia tengah sibuk menghindari serangan dari si iblis lelaki itu.


Si iblis lelaki itu mengerahkan tinju kepalan tangan kanannya ke kepala Isla. Namun, seketika tubuh Isla bergeser ke kiri. Sekejap kemudian si iblis mengerahkan tinju kirinya, dan sekejap pula Isla bergeser ke kanan.


Tatkala si iblis meninjunya dari bawah, Isla sekejap bergeser ke belakang. Hal itu terjadi cepat, dan bertubi-tubi.


Dan serangan si iblis tampak sangat kuat, tapi Isla menang kecepatan. Walaupun terkena serangan di awal, tak mengurangi sedikitpun kegesitannya.


Hingga sesaat diantaranya, Isla tak sengaja menyadari ada yang salah pada Devan...


Si iblis wanita itu kini berjalan perlahan ke arah Devan tanpa melepas tatapan nakalnya. Devan terpaku diam tak bergerak di hadapannya.


Sesaat kemudian si iblis wanita telah sampai di hadapan Devan. Ia menyentuh wajah Devan dengan jemari kanannya. Perlahan-lahan turun hingga ke lehernya.


Kemudian, raut wajahnya seketika berubah menjadi senyum jahat. Kedua tangannya memegang penuh leher Devan, berniat mencekiknya sekuat tenaga.


Tiba-tiba,


"BHUK!!!"


Isla datang di antara mereka, dan menendang perut si iblis wanita itu sekuat tenaga hingga membuatnya terhempas jatuh dekat ke belakang.


Kemudian Isla bergeser maju dan berdiri menyamping di hadapan Devan, tangan kanannya mengayun deras menuju pipi Devan.


"TASS!!!", punggung tapak tangan Isla menampar pipi Devan kuat.


Isla menoleh sedikit, bola matanya melirik ke Devan, kali ini tidak dengan raut datar. Ia benar-benar menatap Devan dengan lirikan tak senang, tampak kening diantara kedua matanya mengerut.


"Sudah kubilang!!, jangan biarkan hati engkau dikuasai perasaan negatif. Apa gunanya engkau tekan sihir hitamnya dengan sihir peri, kalau engkau sendiri malah masuk sendiri ke pengaruhnya."


Di saat yang sama Devan seketika sadar oleh tamparan Isla.


"Aku lengah."


"Kita tukar, biar aku yang hadapi perempuan itu, kau halangi yang satunya, entah mengapa mereka berdua malah mengincarku."


Sementara Eris di belakang,


Ia berjalan biasa menuju Devan dan Isla sembari menatap dari jauh.


"Devan.....apa engkau berfikir telah lolos dariku??", ucap kecil Eris.


("Sihir Artemis, sihir yang meniadakan kekuatan hitam yang ada di dunia ini. Itu sihir yang amat kuat, aku sangat tahu betapa merepotkannya sihir itu. Tapi.... Sihir Artemis yang sekarang....Apa sihirnya melemah karena ketiadaan Artemis, kah?", pikir Eris.)


Tiba-tiba, mengembang senyum di bibir Eris...


"Haaa..aaaa.", guman Eris tersenyum...


.....


Sementara itu, sekelompok iblis yang mengejar Devan dan Isla sudah dekat. Namun mereka berdua masih di sibukkan bertarung dengan dua iblis kuat yang menyergap mereka.


("Tidak bisa seperti ini terus.", pikir Isla yang menyadari keadaan mereka.)


Isla pun mencari momen untuk bicara dekat dengan Devan di tengah pertarungan. Dan tak butuh waktu lama, Isla menemukannya.


Isla pun dengan cepat menggeser posisinya hingga tiba-tiba ia berada di sisi membelakangi Devan.


Devan agak terkejut mengetahui Isla yang tiba-tiba berada di dekatnya.


"Devan, kita harus segera lari dari sini. Kita kalah jumlah. Jujur saja, tanpa kekuatanku melawan satu iblis saja itu agak merepotkan."


Devan tak langsung menanggapi perkataan Isla. Ia justru fokus pada pandangan lain yang ia baru sadar.


"Isla, mengapa kau masih sangat cepat, padahal sihir engkau juga di tak bisa digunakan di sini kan?"


Isla pun sesaat menoleh pada Devan.


"Kecepatan merupakan kelebihan bawaan yang aku miliki, itu bukan bagian dari sihirku, tapii...


Karena engkau bilang begitu, aku jadi merasa masih ada sihirku yang mempengaruhi kecepatanku....."


Tiba-tiba, datang dari samping Eris yang terbang lesat melengkung dan hendak menabrak Devan.


Isla seketika mengambil gerakan, ia menggeser dirinya menyenggol Devan hingga tersungkur...

__ADS_1


"Phum!!",


Eris pun menabrak Isla dan membuatnya agak jauh terlempar.


"Kau benar, hai jin jelmaan kuda. Sihir peri lemah seperti ini, mana mungkin menghentikan entitas kuat seperti kita.", ucap Eris arogan.


Reaksi Devan terlambat, ia baru terkejut di saat Eris telah melancarkan serangannya hingga mengenai Isla.


Isla pun bangkit perlahan kemudian berekspresi datar seperti biasa.


Eris mengangkat tangan kirinya seraya merapatkan jemarinya dan menaruh jempol di tengah telapak tangannya. Isyarat untuk para iblis agar berhenti menyerang.


"Tapi, aku lebih baik daripada engkau. Sekalipun engkau adalah jin yang telah hidup ribuan tahun, tanpa kemampuan engkau di hadapanku, engkau bisa apa?, Haa?!", lanjut Eris yang bicara pada Isla.


Kini semua iblis berkumpul mengelilingi mereka. Yang kuat, yang lemah, semuanya.


"Devan, engkau tak berfikir masih bisa keluar dari situasi ini, bukan?. Optimis itu, ada batas masuk akalnya juga.", ucap Eris menatap sinis Devan sambil tersenyum manis.


Devan mencoba tenang, ia mengubah pandangannya ke arah Isla, lalu melihat Isla yang seakan memberi tahunya akan sesuatu.


Tangan kiri Isla menyentuh perut sisi kirinya. Kemudian tangan kanannya yang mekar mengangkat setinggi dadanya. Sesaat kemudian, tangan kanannya yang mekar seketika ia kepalkan.


Devan pun menunduk, agak lama, seakan ia tengah menerjemahkan maksud dari Isla. Setelah itu, ia memandang Eris.


"Entahlah. Aku pun tak tahu, kecuali sampai aku mencobanya.", tanggap Devan kepada Eris.


"Hiyahaha.", Eris yang sebelumnya berdiri diatas sapu terbangnya kini ia duduk diatasnya sambil bersilang kaki.


"Kalau begitu, cobalah!.", Eris mengancungkan lagi tangan kanannya yang mekar membentuk simbol empat, lalu ia kepalkan.


Seketika, seluruh iblis yang mengepung mereka bersamaaan maju menyerang mereka berdua.


Devan cepat-cepat mengambil kantong sihir yang terbuka, lalu segera dia ikat rapat lagi kantong sihir peri itu hingga tak lagi ada aura sihir peri yang terpancar.


Namun,


Tiba-tiba Devan menjatuhkan kantong itu dari pegangannya. Pandangannya mulai gelap, akibat sihir hitam dari seluruh iblis yang mengepungnya kembali aktif dan menyebar.


"Hiyahaha. Bodohnyaaa dirimuu.", ucap Eris manis.


Devan kebingungan, pikirannya seperti dihalangi, bahkan gelang karet hijau yang ia kenakan perlahan menghitam.


Sementara Isla...


"Bertahanlah, Devan. Akan aku selesaikan dalam sekejap."


Seketika...


"Set! Set! Set! Set!---", Isla melesat sangat cepat berpindah-pindah pada titik setiap iblis yang mengepung mereka, hingga menimbulkan bunyi beriak angin.


Dan sekejap kemudian....


"CLING!!", puluhan iblis yang mengepung mereka, termasuk Eris, tak lagi ada di tempatnya. Seketika semuanya menghilang dari langit sekitar Devan dan Isla.


Akhirnya, Isla pun muncul di dekat Devan. Kali ini ia tak bisa menyembunyikan lelahnya. Nafasnya berat, bahkan ia sampai terlutut duduk.


Dan pandangan Devan, perlahan menerang, ia kembali berdiri seimbang, dan bernafas lega.


"Terima kasih, Isla.", ucap Devan sembari mengambil nafas panjang.


Isla menggeleng.


"Be.... belum, kita masih harus lari,,,,,,,, paling tidak,,,,,, ini,,,ini memberi kita kesempatan,,,,,,untuk sementara waktu.....", ucap Isla sembari bernafas berat.


"Benarkah?", tahu-tahu Eris telah terbang berada di dekat Devan dan Isla.


Devan dan Isla terbelalak seketika.


"PHUM!!!", belum juga Isla mengangkat kepalanya, ia harus menerima tendangan kuat dari Eris dan terlempar jauh bahkan hampir saja jatuh dari pijakan awan.


Isla pun jatuh tersungkur menghadap bawah, ia tampak meregang menahan sakit dadanya yg di tendang Eris. Isla menggigit bibirnya berusaha tak bersuara.


Sementara Devan, Ia tak bisa menggerakkan tubuhnya.


Eris pun mencengkeram leher Devan dan mengangkatnya ke atas.


"Hiyahaha-"


"Akhirnya aku dapatkan engkau, Devan."


Kali ini, Devan sama sekali tak bisa melawan, tinggal menghitung waktu, hingga ia mati di tangan Eris.


***

__ADS_1


__ADS_2