
"Selamat datang, Ketua.", ucap para penjaga serentak.
Sang pemimpin berjalan menuju singgasana, disambut oleh para pengawal berbaris di sisi karpet hitam. Mereka semua membungkuk lutut dengan sayap hitam pekat terbentang lebar di punggung mereka.
Pemimpin itu berjalan pada anak tangga, lalu ia duduk di atas kursi hitam dengan kaki sebelah dipangku di paha. Ia menyandar memiringkan badan, kepalan tangan menopang pipinya.
Pemimpin itu duduk, menatap bosan di ruangan yang agak gelap itu, namun terkadang terang sekejap, bila cahaya kilat malam menembus dari balik jendela-jendela berukuran raksasa.
Tiba-tiba datang dari pintu, seorang malaikat dengan sayap hitam tinggal sebelah, diseret oleh dua fallen angel lainnya. Kemudian dicampakkan malaikat sayap sebelah itu ke hadapan pemimpin.
Tanpa mengubah posisi duduknya, sang pemimpin melihat tajam malaikat yang tengah tersungkur di lantai. Tiba-tiba, malaikat itu tersesak nafas. Ia memegang lehernya seakan ada yang mencekik.
Sang pemimpin tersenyum lebar, ekspresinya menyeramkan. Sedangkan malaikat bersayap sebelah itu, melepar, meregang kesakitan.
Mereka berdua memiliki wajah yang sama. Yakni, berwajah Devan.
"Kreeekk!!!."
"Haa...!!!", Devan sontak tertarik nafas lewat mulutnya.
Devan tiba-tiba terbangun, nafasnya tersengal. Ia sedang duduk di lantai, di ruangan rapat. Tampak Aslan tengah berdiri menghadap keluar dari balik dinding kaca.
Devan termenung, ada ingatan yang kembali padanya. Sebuah tempat yang tanahnya merah, yang langitnya tak pernah terang, kecuali cahaya kilat dari benturan-benturan awan yang bergerak ekstrem di angkasa.
Devan mengingat, sebuah kastil megah, tergambar samar dalam pikiran. Ia merasa pernah berjalan di dalamnya, dan melihat dirinya diberi hormat.
"Kau sudah bangun?.", sapa Aslan membuyarkan lamunan Devan.
"Apa yang terjadi?.", tanya Devan kemudian berdiri.
"Engkau tak sadarkan diri, kurang lebih sejam."
Devan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Memalukan."
"Tidak juga. Sebelumnya engkau tiba-tiba kesakitan."
Devan pun mengingatnya. Ia kemudian berjalan mendekati dinding kaca dan melihat keluar.
Devan agak terkejut mengamati malam Kota Avalon yang terang benderang. Kota itu hidup, dengan segala aktivitasnya.
"Selamat, Devan."
"Ha?."
"Engkau sudah menutup aura magus yang engkau miliki. Kini persoalan yang engkau miliki sebelumnya telah usai."
Devan hanya mendengar tanpa menanggapi. Ia melihat setiap aktivitias di kota, memandang dengan ekspresi datar dan acuh. Aslan menoleh sebentar ke Devan, kemudian kembali memandangi kota.
"Celaka, Devan."
Devan menoleh ke arah Aslan.
"Engkau sudah menutup aura magus yang engkau miliki. Kini, persoalan yang lebih buruk mulai mendatangi engkau."
"Persoalan apa?. Justru aku merasa keadaan diriku lebih baik."
"Persoalan sebelumnya memang dari dalam diri kau sendiri. Namun yang sekarang, persoalan itu datang dari luar."
Devan hening sejenak mencerna perkataan Aslan. Ia kemudian berfikir menundukkan kepalanya.
"Apa ada yang terjadi ketika aku tak sadar?."
"Tak ada yang terjadi ketika kau tak sadar. Namun, sesuatu itu terjadi ketika engkau tiba-tiba kesakitan."
"Lalu?.", tanya Devan penasaran.
"Engkau tak akan mengerti meski aku jelaskan."
"Jelaskan saja!.", paksa Devan.
"Itu buang-buang waktu, kita harus cepat, tak hanya demi engkau, namun juga demi Luna dan para peri itu.", ucap Aslan meninggikan nada bicaranya.
Devan diam sejenak memperhatikan Aslan.
"Oke. Jadi, apa yang harus aku lakukan?."
Aslan pun menghadap ke Devan, memasang wajah serius.
"Engkau harus segera pergi dari sini, berangkatlah menuju Lembah Sei Roja, dan carilah pria bernama Zivan."
"Siapa dia?."
"Dia sebangsa dengan kita, seorang malaikat jatuh. Dialah yang dulu membantuku untuk menguasai kembali magusku."
"Jadi Begitu. Di mana lokasi lembah tersebut?."
"Masih di benua yang sama, namun jaraknya sangat jauh. Bila dari kota ini berarti ke arah matahari terbenam. Engkau bisa bertanya pada manusia nanti diperjalanan."
"Oke. Tapi, apa aku akan berangkat malam ini juga?. Aku baru saja sampai, aku berencana untuk bermalam di kota ini."
"Engkau tidak akan bisa bermalam di sini. Engkau harus melarikan diri."
Tiba-tiba…
Masuk dua orang dari balik pintu.
"Mereka adalah bawahanku, Fallen Angel, Morgan dan Julian. Engkau pasti akan melalui medan berat, dan mereka yang akan membantu."
Morgan, berambut pendek agak ikal. Julian, berambut lurus dengan poni depan. Keduanya berparas tampan, warna rambut mereka hitam pekat, dengan pakaian serba hitam. Perawakan mereka sama seperti Devan.
"Yo Devan.", ucap ramah Morgan.
"Mohon bantuannya, Devan.", ucap ramah Julian juga.
Devan hanya menganggukkan kepala.
"Aslan, aku melarikan diri dari apa?."
"Soal itu... aku juga tak menyangka engkau juga punya masalah besar sebagai manusia."
Devan mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Engkau akan mengerti ketika sudah keluar. Ingatlah, hanya di dalam gedung ini engkau dapat perlindunganku. Namun, ketika sudah di luar, aku lepas tangan. Aku tak tertarik dengan masalah kau sebagai manusia, jadi aku tak akan bantu."
Devan tambah bingung dengan penjelasan Aslan. Ia pun tak ambil pusing dan langsung berbalik mulai berjalan keluar.
"Tunggu."
Devan kemudian berhenti, di dekat Morgan dan Julian.
"Engkau bertiga, tapi normalnya engkau sendiri. Dan terakhir, engkau pasti akan menghadapi pilihan antara kekuatan atau cinta, bila saat itu telah sampai, aku sarankan engkau pilihlah kekuatan."
"Rumit, aku tak paham."
"Cukup engkau ingat saja."
Devan, Morgan, dan Julian pun pergi dari balik pintu.
Aslan kemudian menuju kursi dan duduk bersandar sambil memandang langit-langit.
("Aku harap ini langkah yang benar.", Aslan membathin dalam keraguan.)
Devan menutup kembali pintu, kemudian lanjut berjalan bersama Morgan. Namun tiba-tiba Devan berhenti.
"Di mana Julian?.", ucap Devan memperhatikan sekitar. Julian tiba-tiba menghilang.
"Dia duluan, mengurus bagiannya.", ucap Morgan.
"Begitu.", Devan kembali melangkah.
Mereka berdua berjalan melewati lobby dan menuruni tangga, beberapa orang yang ada di dalam hanya melihat Devan seraya melangkah mundur.
Mereka kini berada di lantai dasar, dan ketika Devan berbelok menuju pintu keluar, Morgan berhenti.
"Tunggu Devan. Kau yakin ingin lewat pintu depan?."
"Memangnya kenapa?.", Devan terus berjalan.
"Tidak jadi. Pintu manapun sepertinya sama saja bagimu."
Devan melihat dari balik pintu kaca itu, tidak ada siapapun yang berlalu lalang di depannya. Ia mendorong pintu itu dan keluar dari gedung tersebut.
"JANGAN BERGERAK!!!.", serentak suara itu diteriakan. Devan pun Sontak terkejut.
Devan kaku tak berkutik, beberapa titik laser memenuhi setiap bagian tubuh dan kepalanya. Ia melihat beberapa orang berseragam lengkap dengan armor mengepungnya di segala arah, beberapa mobil besar dengan lapis baja juga turut memblokade jalur untuk mencegah pelarian.
("Apa-apaan ini???.", Devan misuh dalam hati.)
Devan terkejut, namun tak ada rasa takut sama sekali. Ia justru sangat bingung.
"Populer juga kau, Devan.", ucap Morgan di sampingnya sembari tersenyum sinis menghadap ke Depan.
Devan menoleh ke arah Morgan.
"Kau...kenapa mereka tidak menarget engkau?!.", ucap Devan bingung, matanya terbuka lebar melihat tak ada satupun titik laser pada tubuh Morgan.
"Haa?. Tentulah. Manusia tidak bisa melihatku. Bahkan laser dan peluru juga hanya akan menembus tanpa melukaiku."
Devan terdiam mendengar jawaban Morgan.
(....."Engkau tidak akan bisa bermalam di sini. Engkau harus melarikan diri.".....)
(".....Tak aku sangka engkau juga punya masalah besar sebagai manusia.".....)
(....."Engkau akan mengerti ketika sudah keluar. Ingatlah, hanya di dalam gedung ini engkau dapat perlindunganku.....")
(....."Engkau bertiga, tapi normalnya engkau sendiri.....")
Devan mengingat perkataan Aslan.
"Oh, Jadi ini, maksudnya. Aslan."
*****
Satu jam yang lalu.....
"Hahahaha!"
Devan terduduk lutut sambil memegang kepalanya. Ia merintih keras kesakitan.
"Setelah ini engkau akan condong sebagai fallen angel, Devan.", ucap Aslan tersenyum lebar.
"Aaaakkh!!.", Devan kembali merintih, tiba-tiba terasa aura pekat dari dalam diri Devan.
Aslan berhenti tertawa, tak lagi tersenyum. Ia hanya memperhatikan Devan.
"Reaksi Devan, sangat berlebihan.", Aslan mulai khawatir.
Setelah itu, terlihat aura hitam muncul dari dalam diri Devan, semakin bertumpuk. Saat itu, perasaan Aslan didatangi rasa kengerian yang luar biasa.
Aslan mundur beberapa langkah, ia tak mampu mengendalikan dirinya, tampak jelas kekalutan di wajahnya.
Aura Devan seketika meledak sangat kuat, Aslan pun jatuh terduduk, memegang lehernya dan mengerang kesakitan sampai berliur, namun ia tak bisa pingsan.
Aura itu tersebar luas tidak hanya seluruh kota atau bumi, namun, sampai menembus langit.
....
Suatu tempat di Lembah Sei Roja.....
Seorang pria berpakaian hanfu hitam dengan rambut dikuncir tengah duduk bertapa di atas batu.
"Hm?.", pria itu membuka mata, merasa sedikit terdorong sehingga keseimbangannya terganggu.
"Aura ini.....rasanya familiar.", pria itu kemudian turun dari atas batu. Ia pun menoleh ke arah di mana aura itu datang.
Pria itu hening sejenak. Ia menutup matanya.
Sesaat kemudian, pria itu perlahan membuka mata, "Dia.....", bibirnya senyum.
"Bila dia musuh, ia mungkin membawa duri, namun, bila dia kawan ia akan membawa arti."
....
__ADS_1
Suatu daerah yang banyak bertebaran tulang-belulang.....
Di pinggir kastil yang terlantar.
Berdiri diam seorang wanita di atas peristirahatan, tengah meratapi nisan. Ia Mengenakan gaun dan topi cartwheel putih, namun lusuh bercampur debu dan tanah.
Tiba-tiba wanita itu bereaksi, mulutnya terbuka. Ia diam agak lama. Kemudian ia tersenyum lebar.
"ehihi, ehihihi... akhirnya..... aku menemukan sekutu impiankuu.... ehihi, ehihihi, ehihihihi....."
....
Kastil merah di tengah samudera.....
Di ruang singgasana yang diterangi temaram lilin-lilin api berwarna merah, Raja iblis duduk satu meja panjang bersama ketujuh jenderalnya.
Tiba-tiba seluruh lilin api di ruangan itu mati seketika. Ruangan menjadi gelap, hanya sedikit cahaya bulan yang masuk dari satu sisi jendela.
Disaat yang sama, ketujuh jenderal semuanya bereaksi kecil. Ada yang menoleh kecil ke arah aura itu datang. Ada yang tengah menunduk kemudian menegakkan kepalanya. Ada yang duduk bersandar memejam mata, kemudian ia membuka matanya. Ada yang terkejut dengan satu nafas pendek. Ada yang tengah mengetuk-ngetuk jemari di meja, kemudian menghentikan jemarinya.
"Hm?.", reaksi kecil salah satu jenderal.
Tiba-tiba salah satu jenderal berdiri dari kursinya, dan terdiam lama.
"Bukankah engkau katakan telah membereskannya?.", ucap Raja Iblis pada jenderal yang berdiri.
"Tidak salah lagi. Aku memang telah....."
"ENGKAU TIDAK BERSIH MENGERJAKANNYA!!!."
Jenderal tersebut sontak bungkam. Ia pun meninggalkan kursinya dan berjalan keluar.
"Selanjutnya, aku akan benar-benar membersihkannya!."
....
Ujung timur negeri kepulauan.....
Di Perpustakaan Akademi Kebijaksanaan.
Lelaki tua dengan jubah putih panjang, berambut putih panjang, dan berjanggut putih sedang menulis di atas meja. Tasbih panjang melilit telapak tangan kirinya hingga pergelangan, serta selendang putih yang melingkar rapi di kedua bahunya.
Di luar, seorang gadis berambut hitam panjang mengembang, yang bagian bawah rambutnya dikepang dua, tengah berlari menuju pintu ruangan.
"Gawat, gawat, gawat!!.", ucap panik gadis bermata sipit itu.
Gadis itu langsung membuka pintu ruangan.
"Profesor, Gawat!!!."
Beberapa saat kemudian, sang profesor bersama si murid telah sampai di aula perpustakaan.
Semua murid-murid tergeletak di lantai, kecuali beberapa anggota perpustakaan saja termasuk profesor yang tidak terpengaruh.
"Apa yang sebenarnya terjadi, profesor???.", tanya murid gadis yang mengenakan seragam jubah biru tua serta baret biru tua di kepalanya itu.
"Tenang saja. mereka akan terbangun nanti.", ucap profesor menenangkan. "Untunglah kalian telah diberi kebaikan oleh peri Artemis.", profesor sambil memandangi beberapa murid yang masih berdiri.
("Kejadian besar mungkin akan datang, kami harus bersiap.", bathin profesor.)
....
Singgasana Kastil di Delbora.....
"Lapor ketua, celaka, sebagian fallen angel di seluruh Delbora tiba-tiba merasa kesakitan, bahkan ada terjatuh mati!.", ucap panik pengawal kastil yang sebelumnya datang dari luar.
"Tidak...mereka tidak mati.", ucap pemimpin, kemudian ia berdiri dari singgasana. "Beruntung sekali engkau Devan. Tuhan memberikan pertolongannya pada kau."
Masih di Delbora, di tempat yang berbeda.....
Seorang wanita malaikat jatuh berdiri di sisi jasad lelaki malaikat jatuh.
"Hah!".
"Devan, dirimukah itu???.", ucapnya cemas.
....
Nirvana.....
"Gabriel, dirimu pasti menyadarinya."
"Tuhan lebih tahu, apa yang terjadi."
"Kupikir itu akan mengacaukan hukum alam, seperti dulu."
"Tuhan lebih tahu, apa yang terbaik."
"Baiklah, giliran diriku yang bergerak. Aku akan turun."
"Sebagai makhluk, sudah seharusnya kita berusaha. Namun juga hati-hati agar tidak berlebihan. Memaksakan takdir hanya akan datangkan murka Tuhan, Azriel."
....
Gedung kantor Aslan, Avalon City.....
Setelah itu gelombang aura hitam itu seketika kembali masuk dalam Devan, tubuh Devan tersentak hingga membuatnya tak sadarkan diri.
Rasa sakit Aslan pun seketika menghilang, setelah itu ia menjatuhkan dirinya di lantai. Bernafas sengal, dan perlahan berdiri kembali.
"Kekuatan itu.....ternyata itu kau, Devan Zora.", ucap Aslan, ia masih bernafas berat.
"Apa yang sebenarnya terjadi sampai jiwamu jatuh ke manusia ini?.", lanjut Aslan.
Ia memandang kota Avalon dari balik dinding kaca. Satu per satu lampu-lampu kota, gedung, dan yang lainnya mulai menyala. Kota Avalon kembali hidup.
"Satu masalah telah selesai, Devan. Tapi engkau malah mendatangkan masalah yang lain. Andai dari awal aku tahu siapa engkau, aku mungkin tak menggunakan langkah ini.", Aslan bicara sendiri.
("Beberapa kekuatan mungkin akan mendatangi dan kembali berusaha menjatuhkannya.", pikir Aslan sembari melihat Devan yang tak sadarkan diri.)
***
__ADS_1