
Pagi hari....
Beberapa jam telah berlalu semenjak Devan menginjakkan kaki di tanah peri ini, setelah sebelumnya ia lama berjalan lurus di atas hamparan awan putih yang terbentang luas sejauh mata memandang.
Devan hanya berjalan lurus, menjaga langkahnya tanpa sedikitpun menyerong apalagi berbelok. Ia ingat pesan dari Isla, yang Isla juga mendengarnya dari sesosok malaikat pemegang cambuk petir sebelumnya.
(..."Di depan sana ada Arcana, kota tempat bangsa peri tinggal. Berjalan lurus saja, dan tidak perlu mempersulit diri."...)
Hingga kemudian, dari pandangannya tampak ada awan putih cumulonimbus, yang membumbung tinggi dari kejauhan.
"Kemungkinan di sana Arcana...."
("Padahal aku berencana untuk langsung ke Rayyana, tapi siapa sangka aku malah menuju ke negeri peri lainnya. Hmmm, kuharap disana ada kendaraan, jalan, atau sejenisnya yang membawaku langsung ke Rayyana.", harap Devan dalam hati.)
Tiba-tiba, tampak di pelupuk matanya, aura sihir peri warna-warni samar melewatinya. Aura sihir itu terbang tertiup angin dari arah depan selurus dengan langkah Devan.
("Mungkinkah dari awan yang meninggi itu?....Mana mungkin, jelas itu masih cukup jauh.")
Devan terus lurus berjalan, namun sesekali aura sihir peri itu lagi-lagi tampak di hadapannya, bahkan semakin jelas dan semakin sering.
Tak lama kemudian, Devan melihat agak jauh di depannya, berdiri sebuah rumah. Rumah itu terletak di sebelah kiri yang menghadap ke kanan, dari sudut pandang titik Devan berada.
Melihat hal itu, Devan mempercepat langkahnya hampir berlari menuju rumah itu, dan tak lama setelahnya, ia pun sampai.
Rumah peri itu berwarna putih, namun tak sepolos putih seperti yang ia lihat di Rayyana.
Rumah itu tak besar, namun tak bisa juga dikatakan kecil. Panjang dari kiri-kanan, atapnya berwarna gelap berbentuk cembung lebar depan-belakang, kecuali atap bagian depannya yang sejajar dengan pintu masuk yang datar berbentuk 'v' terbalik seperti atap pada umumnya.
Yang paling berbeda adalah bagian temboknya yang tak polos. Terdapat beberapa batu kristal berwarna yang menempel tak beraturan. Dan di pojok atap cembung itu, terdapat cerobong yang darinya mengeluarkan aura sihir peri warna-warni.
("Jadi disana asalnya, aura sihir peri yang kulihat tadi."), misteri kecil yang sedari tadi Devan dibuat penasaran pun terpecahkan.
Tak lama kemudian, dari balik pintu rumah itu keluar sesosok perempuan berambut putih bersamaan dengan peri lelaki berambut kuning keemasan.
"Shia-shia, padahal kemarin aku minta bawakan warna biru, malah kau bawa warna biru yang terlalu tua.", ucap peri lelaki itu seraya melangkah keluar di hadapan perempuan berambut putih itu.
"Hehe, maaf maaf tuan, kupikir ini juga termasuk warna biru.", tanggap perempuan berambut putih itu seraya berjalan mundur di hadapan peri lelaki itu.
"Yaa itu memang termasuk biru sih,,,,,", tiba-tiba peri lelaki itu menghentikan kalimatnya. Pandangannya teralihkan ke arah Devan.
"Hm?", perempuan berambut putih itu pun juga bereaksi terhadap diamnya peri lelaki itu. Lalu perempuan itu pun menoleh ke belakang mengikuti arah pandang si peri lelaki.
"Waah... Ada manusiaaaa.", ucap perempuan berambut putih.
"Sangat jarang sekali ya, ada manusia yang berkunjung kemari.", ucap ramah peri lelaki itu.
"Eeee, selamat pagi...", sapa canggung Devan sembari mengangkat tangan ke mereka berdua.
"Hm.", gumam perempuan berambut putih itu seraya mengangguk tegas. "Selamat pagi juga, manusia.", lanjutnya seraya tersenyum penuh hingga terpejam matanya.
"Ya. Selamat pagi. Dirimu hendak kemana, anak manusia?", balas sahut si peri lelaki sembari bertanya pada Devan dengan penuh ramah.
"Apa awan yang membumbung itu Arcana?", tanya Devan sembari menunjuk arah yang dimaksud.
"Ya. Disana kota Arcana."
"Aku ingin ke sana. Berapa lama kira-kira berjalan untuk sampai ke sana?"
"Berjalan?", Lelaki peri serta perempuan berambut putih itu agak lama saling pandang.
"Baiklah Lishia. Aku akan beli pendant biru tua itu. Tapi sebagai syaratnya dirimu harus mengantar anak manusia itu ke Arcana.", ucap si peri lelaki ramah pada perempuan berambut putih terurai yang di panggil Lishia itu.
Devan kemudian melihat benda seperti sebuah kristal berbentuk prisma yang di pegang oleh Lishia.
"Tidak-tidak tuan, ini adalah barang yang salah, maka akan aku kembalikan dan menukarnya dengan barang yang benar. Dan soal anak manusia ini tanpa tuan minta pun tetap akan aku antar. Hehe.", ucap Lishia sedikit tertawa pada peri lelaki itu.
"Tidak-tidak, dirimu akan mengantarnya sesuai dengan permintaanku. Aku tetap akan beli pendant itu."
"Tidak-tidak tuan, ini adalah barang yang salah. Jadi tak bisa dijual. Hehe."
"Ayolah Lishia, aku tidak masalah dengan...."
"Tidak perlu repot-repot tuan, hehe---"
"Eeeee....", Devan pun menyela pelan.
("Padahal aku belum memutuskannya.")
"Aku tidak perlu diantar, sebaiknya aku jalan kaki saja.", ucap Devan.
"Eeh?. Hmm baiklah kalau kau tak mau diantar.", ucap Lishia.
Tiba-tiba si peri laki-laki menepuk pelan punggung Lishia seraya berucap.
"Baik apanya??. Hmmmm.", gumam si peri lelaki sembari menggeleng-geleng kepala.
"Eeeeee..!"
"Anak manusia, sebaiknya dirimu menumpang dengannya. Dari sini Arcana memang kelihatan, tapi sebenarnya itu sangat jauh. Kalau dirimu berjalan kaki, bahkan sehari belum tentu sampai.", ujar si peri lelaki.
"Benarkah?", Devan memastikan.
__ADS_1
"Hm-hm", Lishia mengangguk dua kali.
"Baiklah kalau begitu, aku terima tawaran tumpangannya."
("Tumpangan? Memangnya kita mau naik apa?", Devan melempar pandangan dari titik ia berdiri, namun tak tampak kendaraan atau sejenisnya untuk dinaiki.)
"Hm, baguslah kalau begitu. Dirimu beruntung anak manusia, kebetulan Lishia yang mengantar pesanan kemari, kalau dengannya, ke Arcana bisa hanya beberapa menit saja.", ujar si peri lelaki.
"Hihi, ya sudah tuan, pendantnya mungkin esok hari lagi aku akan mengantarnya."
"Hm. Tak masalah."
"Baiklah kalau begitu kami berangkat.", Lishia pun pamit pada si peri lelaki.
Si peri lelaki hanya mengangguk sekali dengan senyum ramah.
"Ayo!", ajak Lishia.
Lishia pun berjalan pergi dari rumah peri tersebut. Devan mengikuti dari belakang. Dan setelah beberapa langkah, Lishia pun berhenti.
Ia berdiri tegak, telapak kakinya lurus ke depan...
Lalu, Lishia pun menengadahkan kedua telapak tangannya kedepan, maka terkumpulah beriak angin perlahan di atas kedua telapak tangannya.
Angin itu perlahan-lahan membesar, hingga bila telapak tangan Lishia yang kecil tak cukup untuk menadah angin yang membesar, ia pisahkan kedua telapak tangannya.
Maka kedua telapak tangan Lishia kini membentang, membentuk beriak angin yang besar di hadapannya.
Devan diam terkesima melihat pemandangan itu. Ia melihat aura warna-warni terpancar keluar dari wanita berambut putih itu, membuat Devan mengetahui, bahwa Lishia tengah mengaktifkan sihir peri.
("Perempuan berambut putih ini.... ternyata dia adalah seorang peri.", ucap Devan dalam hati.)
Devan menatap Lishia dari belakang, rambut putihnya berterbangan diterpa angin. Tampak juga lingkaran putih yang cahayanya menerang di atas kepalanya.
Gaun putih lengan panjang Lishia juga terkibas-kibas, begitupula rok panjangnya bergerak-gerak kiri-kanan terkena angin yang ada di hadapannya.
Lalu, angin yang di hadapan Lishia perlahan memiliki warna sewarna putih awan, kemudian berubah menjadi seperti asap, yang kemudian lagi perlahan asap itu memadat namun tak kaku, ia terbentang menggulai seperti tubuh ikan pari yang lebar.
Akhirnya angin pun berhenti, dan jadilah awan tipis berbentuk ikan pari terbang yang melayang-layang di situ.
"Ayo Naik.", ajak Lishia pada Devan sembari tersenyum tipis.
"Hm.", gumam Devan mengangguk sekali.
Lishia dan Devan pun menaiki awan tipis berbentuk ikan pari tersebut. Mereka melompat kecil, kemudian muncul angin kecil yang mengelilingi tubuh Devan dan Lishia.
Sesaat Devan tampak bingung.
Lalu Lishia lagi-lagi membentangkan tangannya sedikit tinggi pada kedua sisinya, dengan telapak tangannya menghadap ke atas.
Setelah itu, angin pun datang perlahan dari belakang mereka. Perlahan.... perlahan.... makin lama makin cepat.... cepat.... dan setelah beberapa saat, mereka pun terbang kencang di atas awan berbentuk ikan pari itu.
"Ahahaha, bagaimana anak manusia, terbang dengan ini sangat cepat kann?", ujar Lishia menoleh ke Devan sembari tertawa gembira. Ia tampak menikmati angin yang menerpanya, membuat rambut putihnya terurai terbang olehnya.
"Hm.", Devan tersenyum mengangguk pada Lishia. "Ini jauh lebih cepat daripada berjalan kaki.", tambahnya.
"Tentu sajaaa.... kalau kau berjalan kaki seharipun belum tentu sampai, hehe. Ngomong-ngomong anak manusia, kita belum kenalan kan ya?"
"Namaku Devan Aria. Panggil saja Devan."
"Devaan.... hmm. Baiklah Devan. Namaku Alishia, panggil Alishia, Lishia, atau Shia, terserah mudahnya kau saja."
"Kalau begitu, Shia saja.", jawan Devan singkat.
"Hm.", Alishia pun mengangguk sembari tersenyum.
Kemudian Alishia senyap.
("Aneh... kenapa tiba-tiba aku merasa ada yang janggal pada Devan ini?", bathin Alishia.)
Devan pun turut senyap, ia melihat di belakang Shia dan baru menyadari ketiadaan sayap di punggungnya.
Karena hal itu, Devan jadi teringat kebenaran Luna yang dikatakan oleh Zivan,
(....."“Luna kecil juga menjadi target saat peperangan itu. Itu karena dia putri Artemis, kekuatan Artemis pasti akan turun pada putrinya. Artemis tewas dan Luna selamat, tapi Luna harus kehilangan sayapnya, menjadi peri tanpa sayap, ia takkan bisa terbang untuk selamanya.”.....)
("Peri di hadapanku tampak berbeda, putih sendiri, juga tak bersayap seperti Luna....
Sebaiknya aku tak menanyakan apapun tentangnya, entah bagaimana masa lalunya, takutnya rasa penasaranku malah menyakitinya.", Devan membathin, sembari memalingkan wajahnya yang daritadi memandangnya.)
"Oi Devan!", tiba-tiba Alishia memanggil memecah keheningan.
"Kau ada keperluan apa datang ke Arcana?"
"Aku---"
"Haa biar kutebak!", tiba-tiba Alishia menyela.
"Kau.... pasti hendak memesan pendant?"
"Haa?"
__ADS_1
Alishia pun menghadap ke Devan, menatap wajahnya yang bingung.
"Membuat pendant?, mencari pendant?, umm... mencuri pendant?......", Alishia mengucap satu persatu sambil memperhatikan mimik wajah Devan yang tampak masih tak mengerti.
"Hoey, yang terakhir itu mana mungkin, dan juga mengapa semuanya tentang pendant?...."
"Tunggu-tunggu. Biarkan aku menebaknya... umm....", Alishia memperhatikan Devan dari atas ke bawah, hingga kemudian Alishia terpandang pada sebuah gelang yang menghitam di pergelangan tangan kiri Devan.
"Haa... memperbaiki pendant ini!.", ucap tegas Alishia sembari meraih tangan kiri Devan lalu mengangkatnya tepat di depan matanya. "Kan??".
"Pendant?...", pandangan Devan juga melihat pada gelang yang ia kenakan. "Haaa.", akhirnya Devan pun hanya gumam mengiyakan.
("Gelang ini, sejak kapan ia menjadi hitam?",tanya Devan dalam hati.)
"Haaa.", Alishia pun meniru nada gumam Devan barusan. "Tak terdengar meyakinkan, sepertinya tebakanku salah."
"Daritadi kau hanya bilang pendant-pendant, sepertinya di Arcana barang itu begitu populer."
"Tentu saja... Soalnya, Arcana adalah negeri peri penghasil pendant."
"Ooh, benarkah?"
"Ha?, jadi kau tak tahu?, hehe. Baguslah. Sebentar lagi kau akan lihat sendiri, bagaimana Negeri Arcana. heee."
Saat itu, Devan jadi penasaran, tentang Negeri Pendant yang Alishia katakan.
***
Beberapa lama kemudian....
Devan dan Alishia akhirnya sampai di dekat awan cumulonimbus yang membumbung tinggi ke langit.
Kini di sekitar Devan, banyak aura-aura warna-warni berkat sihir peri yang datang dari atas sana yang menyebar di udara.
Alishia pun juga melambatkan kecepatan awan ikan pari terbangnya, sebab di sekitar mereka banyak rumah-rumah peri yang berdiri saling agak jauh berjarak-jarak.
Para peri melambai-lambai tangan pada Alishia, pun Alishia juga membalas lambaian tangan mereka.
Devan juga melihat beberapa diantara mereka juga memberi lambaian penuh semangat padanya, Namun Devan justru ragu-ragu membalas lambaiannya.
"Devan kita akan terbang ke atas, jalan masuk Arcana ada di atas."
Awan yang dinaiki Devan dan Alishia pun meninggi ke atas, terus tinggi hingga tampak ujung dinding awan yang membumbung ke angkasa.
Hingga saat ketinggian terbang mereka telah melewati tingginya awan cumulonimbus itu, mak tampaklah negeri Arcana itu.....
Sebuah dataran lingkaran sangat luas, serta berbagai bentuk rumah peri tersembunyi di balik ketinggiannya.
Setelah Alishia memasuki ke negeri itu, semakin tampak keindahannya...
Dataran itu membentuk jalan-jalan menurun yang berkelok-kelok, kemudian berbagai rumah peri berdiri pada bagian awan yang datar di tepi-tepinya.
Dari atas, rumah itu tampak tersusun rapi yang berkelok melingkari dataran itu. Dan semakin ke tengah, dataran negeri itu semakin rendah, walau begitu, di tengahnya dataran yang paling rendah, tampak bangunan putih bak Istana yang paling besar daripada rumah-rumah lainnya.
Alishia dan Devan pun mendarat, kemudian menginjakkan kakinya di atas Negeri Arcana...
"Selamat Datang di Negeri Arcana,,, hai anak manusia...", ucap Alishia dengan intonasi teramahnya.
Namun, Devan tak menanggapinya, ia terlalu hanyut akan keindahan negeri itu. Aura sihir peri warna-warni, menyebar ke seluruh negeri itu, yang datang dari beberapa titik bawah pijakan awan negeri itu. Bahkan pijakan awannya, tersebar berbagai batu berbagai warna yang menempel di atasnya.
Arcana, adalah negeri penuh warna.
Namun, bagi Devan ada lagi yang lebih mencengangkan dari itu.
Itu adalah sambutan yang diterima Devan oleh penduduk Arcana saat itu.
"Whua,,, ada manusia, selamat datang di Negeri Arcana, hai manusia."
"Waaah, jarang sekali ada anak manusia berkunjung kemari."
"Selamat datang anak manusia... semoga betah di Arcana yaa."
"Hey, Shia.... layani baik-baik tamunya yooo."
"Hay manusia, semoga menyenangkan di Negeri kamii. Kak Lishiaaa... semoga lancar menemaninyaaa."
Beberapa peri melambai tangan menyambut Devan dan Alishia dengan senang, Alishia pun sibuk sembari tersenyum cengingisan menanggapi sambutan penduduk.
Sementara Devan, akhirnya ia tak ragu menerima sambutan para peri penduduk negeri Arcana. Pada saat-saat itu, ia jadi teringat saat kali pertama sampai di Rayyana....
(....Terkadang Luna melambai-lambai kepada mereka, dan mereka kemudian membalasnya. Namun, ketika mereka melihat Devan, mereka tak peduli lalu terbang pergi.
...
Ada juga beberapa peri yang turut melambaikan tangan pada Luna, beberapa lainnya terpaku menatap Devan heran. Seperti biasa, Luna penuh antusias menyapa mereka, sedangkan Devan, ia mencoba tersenyum melambaikan tangan, namun diabaikan. Kalaupun dibalas, para peri tampak setengah-setengah....)
("Saat di Rayyana, jangankan menyambut, bahkan teman Luna sendiri menatap tajam padaku....
Apakah... peri di Arcana memang berbeda dengan di Rayyana?")
***
__ADS_1