
Devan dan Zivan pun sampai di kediaman Zivan. Di sana telah ada Morgan dan Julian yang tengah duduk bersandar tiang di atas pagar pembatas menunggu kedatangan mereka.
Kediaman Zivan cukup aneh. Tak ada sekat ruang di bawah atapnya. Tak ada dinding, hanya ada tiang, lantai, dan pagar pembatas setinggi paha orang dewasa. Kecuali rumah kecil di bawah atap itu yang menempel pada dinding bebatuan tebing . Sehingga terasnya lebih luas daripada rumah itu sendiri.
Meski begitu, bangunan ini berlantai dua. Namun tidak begitu besar dan luas juga tidak kecil. Bentuknya persegi panjang dengan ukuran yang sedang.
Yang indah adalah halamannya. Penuh dengan warna kebiruan dengan bercak hijau. Pohonnya, rumputnya, juga dedaunannya. Terdapat kolam kecil dengan jembatan kecil melengkung di atasnya. Beberapa kunang-kunang juga berterbangan yang menambah keindahan rumah kediaman Zivan malam itu.
“Meski rumahmu cukup aneh, tapi halamannya sangat indah.”, ujar Devan yang saat itu tengah berjalan pelan di halaman rumah Zivan.
“Terima kasih. Aku akan menganggap itu pujian.”, ucap Zivan tersenyum.
“Pemandangan biru ini… di ingatanku rasanya seperti sesuatu yang tak pernah aku lihat. Dan aku hanya sekali melihatnya selama aku melakukan perjalanan, itupun tempatnya tersembunyi sekali.”
“Oh ya?. Dimana?.”
“Dekat dengan sebuah desa, di tengah-tengah hutan, terdapat sebuah kolam besar yang dikelilingi oleh dinding-dinding dataran yang tinggi.”
“Hum. Bagaimana ceritanya dirimu bisa menemukan tempat itu?.”
“Luna yang menunjukkannya, itu tempat di mana Luna mengaktifkan sihir yang memunculkan sungai layang, yang kemudian menjadi jalur kami untuk menuju ke Rayyana.”
“Oh, Pantas saja. Tempat seperti ini memang seharusnya tersembunyi. Tak mungkin bisa ditemukan, kecuali para peri sendiri yang menunjukkan.”
Kemudian terngiang di ingatan Devan, saat Luna menunjukkan tempat tersebut padanya…
(….."Whoaaaa.", Devan berdecak kagum. "Disini penuh dengan kebiruan. Apa itu artinya mereka baik-baik saja?", lanjut Devan.
"Hihi. Rupanya di sini tidak terpengaruh oleh kedatangan kau, Devan. Yap, aku sudah menduganya, sih.", ucap Luna sembari melempar senyum ke arah Devan.
"Tempat apa ini, Luna?", tanya Devan.
"Ini itu tempat rahasia yang tak boooleh manusia tahu.", Luna melompat membelakangi di hadapan Devan. "Tapi khusus kau, aku buat pengecualian.", ia lalu memutar tubuhnya ke arah Devan sembari mengedipkan sebelah matanya. "Yaa, karena kau telah mengantarku, dengan ini aku ingin berterima kasih.", Lanjut Luna sembari melangkah-langkah..…)
“Disana… tumbuhannya tak terpengaruh oleh kedatanganku. Mereka tetap hidup, ketika tumbuhan yang lain kering dan mati sebab kedatanganku.”, ucap Devan setelah ia selesai dengan renungnya.
Zivan pun tersenyum mendengar ucapan Devan. Ia menarik nafasnya sejenak, lalu berbicara.
“Itu karena tumbuhan itu adalah wujud dari saripati sihir Artemis. Tumbuhan di sini juga. Selama kita berada di area ini, kita tak akan bisa menggunakan magus yang kita miliki. Itulah sebabnya aku mengajakmu turun dari dataran ini tadi.”
“Wujud dari saripati sihir Artemis ya…”
“Saripati sihir, bentuknya seperti serbuk, dahulu aku sering melihat Artemis menabur dan menghamburnya di sini.”, ucap Zivan, menarik nafas sembari merenungi masa lalunya sejenak.
Mendengar hal itu, Devan pun meraba saku jaketnya. Ia mengingat sebuah kantong kecil berisi pasir sihir dari Luna.
(…Devan memindahkan kertas kecil itu di tangan kanannya. Ia membuka lipatan kertas dan terdapat catatan di baliknya. Catatan itu agak sulit dilihat sebab gelap, namun Devan masih bisa melihat goresan pena hitamnya.
~ 'Jangan sampai terbuka tali ikatannya, isinya tak boleh tumpah walau sedikit, agar Morgan dan Julian dapat membantu dengan kekuatannya. Dan rahasiakan barang ini dari yang lainnya.' ~
("Sepertinya Aslan yang menulis ini.", pikir Devan.)…)
Mengingat pesan dari Aslan, Devan pun memilih diam dan tak berbicara mengenai kantong kecil yang ia bawa pada Zivan. Ia pun kembali menurunkan tangannya dari saku jaketnya.
“Yo. Akhirnya, kalian datang juga.”, sahut Morgan yang tengah duduk menyamping menyandar tiang di atas pagar teras.
“Lama juga kalian. Kalian sedang melakukan apa?.”, Tanya Julian yang juga sedang bersandar berhadapan dengan Morgan.
Devan kemudian memandang ke arah Zivan sebentar, kemudian menjawab Julian.
“Zivan membantuku memicu magusku, dan aku berusaha mengendalikannya.”, ucap Devan.
“Oh, Latihan ya.”, ucap Morgan.
Devan mengangguk kecil. “Ya.”.
…..
__ADS_1
Beberapa saat yang lalu, sebelum Devan dan Zivan memutuskan kembali ke atas, ketika mereka masih berbicara soal para peri, dan Luna…
“Dengar Devan, pembicaraan kita soal peri malam ini, jangan sampai kedua temanmu mengetahuinya.”
“Maksudmu, Morgan dan Julian?.”
“Ya. Bagaimanapun juga Fallen Angel dan para peri bukanlah makhluk se-frekuensi. Aura gelap fallen angel adalah sesuatu yang tidak disukai bangsa peri, begitupun aura peri juga hal yang tak disukai para fallen angel.”
“Jadi itu sebabnya kau bertanya ‘apa aku merasa membenci Luna’. Sebelumnya aku merasa aneh tiba-tiba dilontar dengan pertanyaan seperti itu.”
“Kedepannya dirimu akan lebih mengerti.”
…..
Waktu sekarang…
“Ketua, maksudku Zivan, apa dirimu betah tinggal di tempat seperti ini?.”, tanya Julian sambil memandang halaman kediaman Zivan.
“Ya. Aku betah.”
“Entah kenapa aku justru merasa tidak nyaman berada di sini. Seperti ada sesuatu yang salah. Ee mohon maaf, aku tidak bermaksud berkata buruk tentang kediamanmu.”, ucap Julian sembari bangun dari sandarannya, ia merasa tak nyaman dengan ucapannya.
Zivan masih dengan wajah ramahnya yang biasa.
“Tidak apa-apa. Aku mengerti itu?. Morgan, apa dirimu juga merasa begitu.?.”
“Ee sejujurnya iya. Kupikir karena di sini aku merasa asing, pertama kalinya aku melihat pemandangan seperti ini.”, ujar Morgan yang tengah bersandar, sambil melihat pemandangan biru halaman kediaman Zivan.
“Ya. Itu karena kalian tidak memenuhi persyaratan.”, jawab Zivan.
Morgan dan Julian bereaksi heran. Mereka hanya memandang diam Zivan, menunggu penjelasan.
“Hm, apa kalian pernah dengar bahwa tidak semua orang bisa memasuki lembah ini?. Hanya orang yang memenuhi syarat tertentu yang bisa memasuki lembah.”, lanjut Zivan.
“Oh…”, reaksi Morgan. Ia teringat beberapa waktu lalu yang berkaitan dengan maksud Zivan.
(….. "Hm?. Memangnya sulit memasuki lembah itu?.", Devan heran.
"Para penduduk desa bilang, konon di sana merupakan tempat para dewa bertapa dan mengasingkan diri dari dunia. Hanya manusia berhati luas dan tak terikat dunia saja yang dapat memasuki lembah itu."…..)
“Jadi yang seperti itu memang benar adanya kah…”, ujar Julian, yang masih tak menyangka dengan hal tersebut
Julian dan Morgan kemudian memandang Devan. Devan pun menangkap maksud mereka berdua.
“Aku merasa baik-baik saja dengan tempat ini.”, ucap Zivan.
“Apa??.”, sontak Julian dan Morgan.
“Hoi, kenapa kalian begitu kaget?.”, ucap Devan.
“Wah, berarti Devan sudah hampir memenuhi persyaratannya.”, timpal Zivan.
“Kau…Berhati luas…?, tak terikat dengan….”, ucap Morgan yang tak percaya.
“Bohoong…”, reaksi Julian tak menyangka.
“Hahaha”, Zivan tertawa melihat reaksi Morgan dan Julian.
“Tentu saja tidak ada yang seperti itu.”, Zivan meluruskan.
“Heuh…Begitu ya. Ternyata itu memang bohongan.”, ucap Morgan lega.
“Heuh… Sudah kuduga.”, ucap Julian lega.
Mereka berdua pun bernafas lega sambil melihat ke arah Devan.
“Hoi… Kalian juga tidak perlu bernafas lega seperti itu. Kelihatan sekali kalian tidak terima bila aku memenuhi persyaratan itu.”
__ADS_1
“Jadi, bagaimana rumor lain tentang lembah ini?, apa itu juga bohong.”, tanya Julian penasaran pada Zivan.
“Itu benar, tapi bohong.”
Julian, Morgan, dan Devan merasa bingung dengan jawaban singkat Zivan. Mereka pun diam memandang Zivan, menunggu lanjutan penjelasan dari Zivan.
“Aku akan jelaskan, setelah kita masuk ke dalam.”
Zivan pun memimpin jalan, melangkah masuk ke kediamannya. Menapaki tangga kecil menuju teras yang luas itu.
Kemudian mereka melangkah menuju pojok teras. Menuju tepat ke samping rumah kecil itu. Di sana terdapat tangga siku-siku untuk menuju ke lantai atas.
Setelah mereka sampai di lantai atas, rumah Zivan semakin terlihat tak biasa. Ruangannya terbuka, tak terdapat dinding yang menutupi. Hanya terdapat pagar pengaman di tepinya.
Yang menambah Devan, Morgan, dan Julian heran adalah terdapat banyak barang di tempat terbuka ini. Lemari pakaian, rak buku. Bahkan di bagian depan, terdapat beberapa kursi, satu meja, dan satu kasur tepat menempel pagar pembatas di bagian depan lantai atas.
Namun dibandingkan lantai bawah, lantai atas rumah Zivan lebih terasa estetik. Di tepi-tepi lantai atas ini, tergantung tiap beberapa jarak beberapa pot tumbuhan biru. Pagar pengamannya juga di tumbuhi tumbuhan rambat yang jarang-jarang yang juga berwarna biru dengan bercak kehijauan.
Ruangan lantai atas menjadi lebih terang dengan cahaya kebiruan yang keluar dari tumbuhan tersebut.
“Zivan, jangan-jangan dirimu tidur di ruangan terbuka ini.”, ujar Morgan yang tengah melihat kasur di bagian depan menempel pada pagar pengaman.
“Aku menyukai ruang terbuka, bila aku melepas pandanganku pada alam yang luas ini, aku merasa pikiranku terbuka, dan aku mampu berfikir luas.”, ucap Zivan sembari melempar pandangannya sisi depan kiri ke kanan, matanya melihat jauh ke depan.
“Begitu. Ternyata ada filosofi dibalik desain dan tata letak ruangan ini.”, tanggap Julian.
“Kalau seperti itu, ruanganmu sebenarnya tidak benar-benar terbuka, Zivan.”, tanggap Devan. Julian dan Morgan pun menoleh ke arah Devan.
“Maksudmu?.”, tanya Zivan yang berbalik ke arah Devan setelah sebelumnya ia menghadap ke depan.
“Maksudku, bagian depan dan samping memang terbuka, tapi tidak di bagian belakang. Ia tertutup oleh dinding, dan dinding itu bukan dinding biasa, tapi langsung oleh bebatuan bagian dari tebing ini yang menjulang ke atas.”, jelas Devan.
Tangan kanan Julian memegang dagu, sementara lengan kirinya diletakkan di atas perutnya. Ia berfikir setelah mendengar hal itu.
“Tapi, hanya bagian belakang yang tertutup tidak mengubah kesan ruang ini sebagai ruang terbuka. Tetap saja ruangan ini disebut sebagai ruangan terbuka.”, sanggah Julian.
“Tentu saja pendapatmu benar, kalau ini diartikan sebagai ruangan biasa. Kalau hanya satu sisinya tertutup sementara tiga sisi lainnya terbuka tidak mungkin itu disebut sebagai ruangan tertutup.”
“Lalu?.”
“Zivan memfilosofikan ruangan ini sebagai pikiran. Ruang kiri, depan, kanan yang terbuka, bisa diartikan sebagai berfikir jauh ke depan dengan sudut pandang yang luas.”, jelas Devan.
Mereka bertiga mendengar jawaban Devan dengan seksama. Raut wajah zivan tampak penasaran menunggu lanjutan penjelasan Devan.
“Tapi ruangan belakang tertutup, itu bisa diartikan tidak melihat masa lalu. Padahal masa lalu adalah sumber pelajarannya. Kejadian di dunia ini terjadi karena sebab-akibat yang beruntun, apa yang terjadi di masa depan, itu karena sesuatu dari masa lalu yang bisa jadi prosesnya panjang melibatkan banyak sebab. Tidak peduli seluas apapun kita memandang jauh ke depan, kita mungkin mengetahui banyak hal apa yang terjadi di depan, tapi kita tidak akan mengetahui sebab ‘mengapa hal itu terjadi’, jawaban ‘mengapa itu terjadi’, hanya dimasa lalu kita dapat temukan.”, jelas Devan.
Julian dan Morgan terkesima mendengar jawaban Devan. Sementara Zivan diam membeku mendengar jawaban Devan.
“Itulah mengapa aku mengatakan ruangan ini tidak benar-benar terbuka. Menutup mata yang ada di belakang, itu sama saja seperti menutup mata di kiri kanan dan depan. Kita bisa melihat, tapi kita tidak tahu mengapa itu terjadi. Tapi…”, tambah Devan.
“Tapi… apa?”, tanya Morgan penasaran.
Devan pun berbalik ke belakang melihat dinding besar bagian belakang rumah Zivan.
“Bisa saja pengertianku salah.”, ucap Devan, kemudian ia berfikir sambil memegang dagunya.“Karena di bagian belakang bukan tertutup oleh dinding biasa. Kupikir mengartikannya dengan tidak melihat masa lalu maknanya masih kurang. Coba aku sebutkan…hmm… menolak masa lalu…membenci masa lalu…tidak terima dengan masa lalu…”
Sembari berfikir Devan pun kembali berbalik menghadap Zivan. Belum selesai Devan berfikir, ia pun tak sengaja melihat raut wajah Zivan yang diam mematung seakan terkejut.
Devan pun menghentikan perkataannya, ia merasa tak nyaman hati dan merasa kalau ia telah menyinggung Zivan.
“Ee.. maaf ..Aku hanya asal menebak, jadi lupakan saja.”, ucap Devan canggung.
Zivan masih agak lama membeku, sesaat kemudian ia seakan tersadar, lalu kembali ramah seperti biasa.
“Oh…tidak-tidak. Tidak perlu minta maaf. Aku hanya begitu tertarik dengan jawabanmu.”
“Oh jadi begitu. Syukurlah.”
__ADS_1
Malam itu, di tengah terang cahaya biru, mereka berempat pun lanjut berbasa-basi seperti biasa, hingga mereka pun terlelap di ruang terbuka itu juga.
***