
Pintu gerbang Rayyana perlahan menutup, sesaat sampan telah melewatinya.
Sampan kemudian keluar dari terowongan, nampaklah kini langit biru di angkasa.
Jalur sungai pun berubah menjadi jalur naik, menanjak seperti anak tangga yang besar. Sampan itu berjalan menanjak, kemudian mendatar, lalu menanjak, kemudian mendatar, berulang-ulang.
Di tepian jalur sungai tersebut, terdapat daratan tanah hijau yang di atasnya berdiri berbagai macam rumah-rumah peri berwarna putih awan yang berjarak-jarak antara satu dan lainnya.
Ada juga beberapa peri yang turut melambaikan tangan pada Luna, beberapa lainnya terpaku menatap Devan heran. Seperti biasa, Luna penuh antusias menyapa mereka, sedangkan Devan, ia mencoba tersenyum melambaikan tangan, namun diabaikan. Kalaupun dibalas, para peri tampak setengah-setengah.
"Devan, kita akan segera berlabuh disitu.", ucap Luna yang tengah berdiri.
Jalur yang dilalui sampan tersebut kini lurus dan mendatar. Devan melihat ujung sungai itu membentuk kolam lingakaran yang lebih besar dari lebar sungai ini.
"Baiklah.", Devan seraya berdiri dan meregangkan kedua tangannya.
Terlihat dua gadis yang tengah berdiri di ujung jalur sungai ini. Ketika sampan terus berjalan hingga pada jarak tertentu, kedua gadis itu pun melompat sembari melambaikan tangan.
"Lunaaaaa!!!.", teriak kedua gadis dari ujung sungai.
"Zeyaaa, Trevyyy.", teriak Luna sembari melambaikan tangannya.
Sampan kemudian berlabuh ketepian. Luna bergegas turun dari sampan dan menghampiri kedua gadis itu.
Salah satu gadis dengan rambut berkuncir dua memeluk Luna, dan Luna juga memeluk dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih memeluk Dandelion yang ia bawa.
Gadis yang lain hanya melihat di dekat mereka berdua dengan senyum.
"Lunaa, aku khawatir tauu, kau pergi ke daratan diam-diam.", ucap gadis berkuncir dua sembari kedua tangannya memegang bahu Luna.
"Ssssttttt.", desis Luna. Jemari telunjuk kanannya menyentuh bibirnya. Luna sesaat melirik Devan. "Eee... Aku dapat tugas dari kakek, jadi aku turun ke daratan.", ucap Luna sembari mengedip cepat kedua matanya ke gadis berkuncir dua tersebut.
"Haa??, tugas ap....", belum selesai gadis berkucir dua itu bicara tiba-tiba mulutnya ditutup dengan tangan kanan Luna.
"Hihi. Sudahlah sudahlah. Yang penting aku baik-baik saja.", ucap Luna sembari tersenyum kecut pada gadis berkuncir dua itu. "Kan Trevy ?", lanjut Luna sembari menoleh ke gadis yang lain.
"Ee?. Hmm.... Mm.", ragu gadis tersebut meng-iyakan.
Devan baru saja turun dari sampan. Luna yang menyadarinya kemudian berbalik badan.
"Kakek pendayung, terima kasih telah mengantar kami.", ucap Luna senyum.
Devan kemudian berbalik badan. "Terima kasih atas tumpangannya, kek", ucap Devan juga tersenyum.
Kakek pendayung itu tersenyum seraya mengangguk kepala kepada Luna. Kemudian aliran sungai yang tadi sempat terhenti kini kembai mengalir ke arah yang sebaliknya. Ia pun bersama sampannya berjalan pergi, tanpa menanggapi ucapan Devan.
Devan berbalik badan, menghadap ke arah Luna yang berdiri di sisi kedua gadis itu.
"Oh iya Devan, kenalin, mereka teman baikku. Zeya, dan Trevy.", ucap Luna, sembari menunjuk mereka dengan telunjuk kanannya.
Zeya, gadis dengan rambut berkuncir dua kuning keemasan, matanya runcing dan terkesan tajam.
Sedangkan Trevy, rambutnya sebahu dengan poni di bagian depan, warna rambutnya juga kuning keemasan, ia memiliki bola mata yang lebar dengan kacamata bulat yang ia kenakan.
__ADS_1
"Zeya, Trevy. Kenalin, ini Devan, eee... dia seorang manusia.", Lanjut Luna kepada Zoya dan Trevy. Ia sempat ragu, namun berusaha tak menampakkannya.
Zeya, dan Trevy menatap datar Luna. Dan Luna melihat keduanya bergiliran sembari menahan senyum pada wajahnya.
Sesaat kemudian, Zeya dan Trevy melihat ke arah Devan. Zeya menatap Devan dengan tatapan tajam. Sedangkan Trevy, ia sebentar menyentuh bagian tengah kacamatanya, kemudian memandang Devan benar-benar, namun ketika Devan memandangnya, Trevy mengalihkan pandangannya ke sisi bawah.
"Ee.. hai. Salam kenal, Zeya, Trevy.", Ucap Devan agak ragu. Ia berusaha tersenyum pada situasi yang canggung.
"He..!. Mm.", Ucap Trevy meng-iyakan. Ia canggung, suaranya kecil.
Zeya masih belum selesai menatap tajam Devan.
Melihat hal itu, Luna pun berjalan ke depan melewati Zeya dan Trevy, setelah itu ia berbalik badan.
"Hey, yuk kita lanjut. Kita bicara sambil berjalan saja.", ucap Luna.
"Mm.", Trevy berbalik ke arah Luna dan mengangguk kepala.
Zeya masih menatap tajam Devan. Setelah agak lama barulah iya menanggapi ajakan Luna.
"Ayo.", ucap Zeya, sembari berbalik badan ke arah Luna.
Luna, Zeya, dan Trevy berjalan beriringan di depan, mereka tengah membicarakan suatu hal. Sedangkan Devan berjalan di belakang mereka, sesekali memperhatikan mereka, melihat Luna terlihat paling semangat bercerita dan membagikan beberapa tangkai bunga kepada mereka berdua.
Devan lebih sering memandangi sekitarnya. Seperti memandang jalan setapak berwarna putih awan yang ia pijaki. Di kedua lebar sisinya tumbuh penuh rerumputan hijau, serta pepohonan hijau yang tumbuh berjarak di pinggir jalan yang ia lalui di sepanjang jalurnya.
Jalur yang mereka lalui tak jauh beda dengan jalur sungai sebelumnya. Jalan itu datar sampai jarak tertentu, kemudian menanjak sampai jarak tertentu pula, datar lagi, kemudian kembali menanjak.
Di sisi kanan mereka terlihat langit biru luas. Bila jalan yang mereka lalui mendatar, di sisi kiri mereka ada dinding rumah peri, namun bila menanjak, hanya ada dinding awan.
Devan kemudian berbelok ke sisi kirinya. Pemandangan kota di Negeri Rayyana perlahan mulai nampak pada jangkauan matanya. Setelah beberapa langkah ia berjalan, nampaklah seluruh pemandangan kota tersebut, langkahnya pun terhenti tepat pada garis antara rerumputan hijau dan jalanan putih.
Ia melihat bangunan-bangunan putih yang tersusun secara menurun. Diantara baris bangunan-bangunan tersebut, terkadang terdapat jalanan menanjak yang menghubungkan daerah yang lebih rendah dengan yang lebih tinggi.
Devan sekilas melihat atap-atap bangunan yang bersusun itu, seakan seperti anak tangga yang besar. dan pada sisi-sisi setiap bangunan dan jalan itu terdapat beberapa jengkal tanah yang dihiasi dengan rerumputan hijau dan pepohonan yang tumbuh tiap beberapa jarak.
Devan kemudian menoleh ke arah lainnya, ia melihat bangunan dan jalan pada permukaan yang datar. Saat itu ia menyadari, ia berada pada permukaan awan Cumulonimbus yang paling tinggi.
Luna terhenti setelah berjalan beberapa langkah. Ia menyadari bahwa Devan tak mengikutinya. Luna pun berbalik, dan melihat devan tengah berdiri menghadap kota Rayyana.
Luna berlari kecil di rerumputan menuju Devan..
"Devan.", Panggil Luna.
Devan tidak menyahut. Luna kemudian berjalan perlahan ke belakang sisi Devan. Kemudian ia memiringkan tubuhnya hingga kaki sebelahnya sedikit terangkat untuk mengintip wajah Devan.
Luna tertawa kecil, melihat wajah Devan tercengang memandangi kota. Namun Devan masih tidak menyadarinya.
Luna pun memegang pergelengan tangan Devan, barulah Devan tersadar, ia pun menoleh ke arah Luna.
"Hem..hem..", ucap Luna seraya mengangguk dua kali. "Rayyana meeemang indah, tapi aku harus membawamu bertemu seseorang. Jadiiii, pertama-tama kita ke sana dulu. hihi", lanjut Luna, ia tertawa kecil, tangannya menarik Devan berjalan.
Devan hanya diam, mengikuti perkataan Luna, tanpa membalas sepatah kata.
__ADS_1
Setelah beberapa langkah, Luna melepas tangan Devan dan berjalan di sisi teman-temannya. Dan Devan kembali berjalan di belakang mereka bertiga.
Mereka berjalan di tepi Kota Rayyana. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di depan rumah pohon yang batang pohonnya besar. Pada batang pohon tersebut terdapat pintu dan jendela.
Mereka kemudian berhenti.
"Devan, kau tunggu di sini dulu. Bisa kan?, sebentar saja.", ucap Luna.
"Mm. Oke, tidak apa-apa, Luna.", jawab Devan.
Mereka bertiga kemudian berjalan masuk. tiba-tiba Zeya menghentikan langkahnya.
"Houum, aku bosan bertemu kakek tua itu lagi. Aku tunggu di luar saja. Kalian berdua saja yang masuk.", ucap Zeya dengan nada malas.
"Houh Zeyaaa. Ya sudah, kalau gitu kau tunggu di sini ya, bersama Devan. Ayo, Trevy.", ucap Luna.
"Okee....", ucap Zeya sembari jemari tangannya membentuk simbol oke.
Zeya pun menunggu di luar bersama Devan, sementara Luna dan Trevy masuk ke rumah pohon itu.
Ketika sudah di dalam, Trevy mencoba bicara pelan pada Luna tentang apa yang ia pikirkan terhadap Devan.
"Luna... Kau... membawa seorang manusia."
"Iya. kenapa Trevy?".
"Aneh.. Dia bisa melihat kita."
"Ya, awalnya aku juga merasa begitu."
"Kau berani membawanya kemari. Gimana.... gimana kalau dia adalah manusia jahat?."
"Ooh. Soal itu tenang saja. Dia adalah manusia yang baik kok. hehe", ucap Luna percaya diri sembari tersenyum lebar ke Trevy.
"Ooh. Ya... Syukurlah kalau memang dia manusia baik.", ucap Trevy agak lega. "Jadi... gimana kau mengetahuinya Luna, kalau Devan adalah manusia baik?."
"Aku bertanya padanya."
"Be..be..bertanya?, aa..apa maksudmu?"
"Ya, aku bertanya padanya, dia orang baik atau jahat. Lalu kemudian dia bilang, kalau dia adalah orang baik.", Luna mengacungkan jemari jempolnya pada Trevy.
"Haaaaaaaaa???!!!"
***
Beberapa saat telah berlalu setelah Luna dan Trevy masuk ke rumah pohon. Zeya dan Devan masih menunggu mereka di Luar.
Zeya kemudian bergegas mendekati Devan. Setelah mereka saling berhadapan, Zeya pun menginjakkan kakinya kuat-kuat ke kaki Devan.
"Aaarggh!.", teriak devan sesaat, kemudian termundur selangkah.
"Heh! Engkau?. Devan kan?, kau tidak memanfaatkan kepolosan Luna kan?."
__ADS_1
***