Separuh Malaikat Jatuh

Separuh Malaikat Jatuh
Episode 15: Bias Moral


__ADS_3

Devan mengemudikan mobil.


Tiba-tiba Julian yang duduk di samping kiri memegang setir Devan dan membantingnya ke kiri. Mobil yang dikendarai Devan menembus pembatas jalan dan berjalan di atas pasir gurun.


"Siuuuuu!!!.... BOOM!!!", suara misil yang dilepas menabrak aspal jalan trans.


Di atas pasir gurun, mobil melaju kencang tak terkendali akibat bantingan setir. Laju mobil mengarah ke pagar bangunan, Devan langsung menginjak rem, mobil pun nyaris menabrak pagar.


Dua jet yang terbang itu kemudian berhenti dan melayang di tengah jalur besar trans. Lalu berputar balik menghadap mobil Devan.


"Aku tidak menyangka, sepasang jet juga akan mengejar kita.", ujar Julian.


"Jadi sekarang bagaimana, Devan?. Kembali menuju jalur kota juga tak mungkin, ada banyak blokade dan prajurit yang akan menghalangi. Sedangkan di sini, ada dua monster jet yang siap meluluh lantahkan kita.", ujar Morgan.


"Piihan manapun semuanya bukan pilihan yang bagus.", keluh Devan.


Dari tengah jalan jalur trans, sepasang jet itu mulai membidik.


"nit...nit....nit...nit..."


"Oi, itu seperti pertanda kalau sesuatu yang buruk akan menimpa kita.", ucap Morgan.


"Sial!. Tidak ada waktu untuk berfikir.", misuh Devan. Ia kemudian bergegas menjalankan mobilnya.


Mobil berjalan dan semakin melaju di atas pasir, namun sepasang jet itu masih mengeluarkan tanda suara yang mecurigakan sembari berputar mengikuti gerak mobil yang dikendarai Devan.


"Dua monster itu masih tidak lepas pandangannya ke arah kita.", ucap Morgan dengan raut cemas.


pandangan Devan fokus ke depan, otaknya berfikir keras, wajahnya semakin menampakkan kecemasan.


Tiba-tiba Devan teringat...


(.....Julian yang duduk di samping kiri memegang setir Devan dan membantingnya ke kiri. Mobil yang dikendarai Devan menembus pembatas jalan dan berjalan di atas pasir gurun.


"Siuuuuu!!!.... BOOM!!!".....)


"Kita akan hindari misilnya, seperti tadi.", ucap Devan sembari melihat Julian.


"Ha?. Kau yakin?. Tadi itu kita hanya beruntung, Devan. Aku tidak yakin kita bisa menghindarinya dua kali, misil yang secepat itu.", ujar Julian.


Morgan yang mendengar dari bangku belakang lantas berdiri kemudian menyentuh pundak Julian.


Devan melihat sejenak ke Morgan lalu pandangannya kembali ke depan. "Morgan?.", tanya Devan heran.


"Ha?.", Morgan bereaksi heran.


Seketika Julian memindahkan kaki kanannya, menginjak rem bersamaan dengan bantingan setir ke kanan.


"Siuuuuuu!!!..."


Mobil pun berjalan menyeret dan sontak berputar hingga berbekas setengah lingkaran hitam di atas pasir.


Misi meluncur sangat cepat, dan nyaris mengenai sudut belakang mobil ketika berputar.


"BOOM!!!"


Mobil masih berputar hingga 360 derajat.


"Jangan lepas gasnya Devan!.", tegas Julian, seketika ia mengangkatkan kakinya melepas rem sekaligus.


Mobil pun sontak menancap laju ke depan, hingga melewati tepat di samping api ledakan misil yang membentur daratan pasir, membuat pasir-pasir tersebut terpental tinggi ke atas hingga kembali jatuh seperti hujan.


"Hiuuh...", Julian menghela nafas.


"Nice save Julian, tapi ini masih belum waktunya lega. Kita memang bisa menghindari serangannya, tapi kita belum lepas darinya.", ujar Devan.


Mobil yang dikendarai Devan hanya bisa berjalan laju di luar jalur trans kota sambil dibayangi oleh kedua jet yang terbang rendah diatas jalur trans.

__ADS_1


"Ku beritahu duluan, Devan. Kalau jet itu kembali menyerang dalam waktu dekat, kita tidak bisa lagi menghindar.", ujar Julian.


"Nit.....nit.....nit...nit...."


"Jet Sialan!.", Julian seketika memaki.


"Jet itu sepertinya tak punya tenggang waktu menembak. Morgan, aktifkan magusmu ketika ia menembak, kita akan meninggalkan mo....."


"Devan, magusku baru saja aku gunakan.", potong Morgan.


Devan terheran mendengar jawaban Morgan.


"Kapan kau ?...", kalimat Devan tiba-tiba tertahan oleh bunyi bidikan yang bertempo semakin cepat.


"Nit...nit...nit...nit..."


("Sial!. Bahkan tak ada waktu untuk bingung.", misuh Devan dalam hati.)


Devan tak menyerah berfikir, namun tak ada apapun yang keluar dari kepalanya.


"Nit..nit..nit..nit.."


Tanda bunyi bidikan yang semakin cepat semakin menekan mental Devan. Jantungnya berdebar cepat. Julian dan Morgan juga terlihat cemas dan hanya memandang kedua jet tersebut.


"Siuuuuuu...", misil meluncur sangat cepat menuju arah mobil mereka.


"BOOM!!! - BOOM!!! - BOOM!!!."


Kedua jet tersebut pun meledak, menciptakan ledakan api yang besar berkali-kali di atas jalur tersebut. Puing-puingnya berhamburan di sekitaran jalur aspal trans kota.


Devan, Morgan, dan Julian hanya melihat fenomena itu dari dalam mobil yang berjalan laju. Dari kejauhan mereka juga melihat seorang Aslan Era berdiri di luar jalur trans, serta melihat bekas kepulan asap jalur misil yang lurus kemudian berbelok tajam menuju arah kedua jet tersebut.


Devan mengeluarkan kepalanya ke jendela mobil dan menengok ke arah Aslan. Aslan menengok ke arah mobil Devan, Devan pun menganggukkan kepalanya perlahan, setelah itu Devan kembali fokus berkendara.


Mobil pun kembali ke jalur Trans, berjalan laju menuju keluar kota.


***


"Kita akan berhenti di kota persinggahan depan.", ujar Devan.


"Kau yakin?.", tanya Morgan yang tengah bersandar di kursi belakang sambil menengadah kepala menatap bintang malam.


"Ya. Aku perlu makan dan istirahat.", tanya Devan.


"Kita tidak tahu seberapa terkenal kau oleh manusia. Mengingat kau diburu banyak sekali prajurit."


"Benar. Kemungkinan prajurit juga bersiaga disana.", tambah Julian.


"Jadi kita masih belum bisa berhenti kah. Aku pikir kita telah lolos saat keluar dari kota.", ucap Devan.


"Kita hanya keluar dari kotanya, tapi kita masih dalam wilayah pemerintahannya.", ujar Julian.


"Maksudmu?.", tanya Devan.


"Avalon itu nama kota sekaligus kerajaan. Kita hanya keluar dari pusat pemerintahannya saja. Dan kota persinggahan di depan, masih dalam wilayah pemerintahan Avalon."


"Jadi untuk benar-benar lolos, berarti aku harus keluar dari wilayah pemerintahannya."


"Anggap saja seperti itu."


Devan diam sejenak, ia kemudian menghela nafas.


"Sepertinya aku harus menahan lapar dan lelah lebih lama.", keluh Devan.


Morgan kemudian menurunkan kepalanya kembali dan memandang Devan dari kursi belakang.


"Kau bisa istirahat di mobil, urusan mengemudi biar aku yang ambil alih, dan kalau urusan perut, di depan sana....", ujar Morgan sambil memandang toko yang masih buka di depan tepi jalan, ia sengaja tak menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


Mobil menepi dan berhenti di depan toko. Morgan keluar dengan melompat dari mobil, Devan dan Julian membuka pintu mobil kemudian keluar.


"Tunggu, aku tidak punya uang. Kalian?.", tanya Devan.


"Tak perlu uang, kita ambil saja, lagipula ada Morgan di sini.", ucap Julian.


Mereka bertiga berjalan menuju pintu masuk toko.


"Jadi kita mencuri. Okelah.", ujar Devan.


"Oh, kupikir kau akan mempermasalahkannya.", ucap Julian.


"Haha, mana mungkin.", ucap Morgan sambil tertawa kecil.


"Devan, yang dengan mudah membunuh banyak prajurit manusia di kota Avalon, aneh sekali bila ia baru membahas moral mencuri."


Langkah Devan tiba-tiba berhenti setelah mendengar ucapan Morgan.


("Aku.....membunuh....", ucap Devan dalam hati, ia baru menyadari perbuatannya.)


"Terutama disaat terakhir, sebelum kami menuju mobil, padahal kita bisa saja mengabaikan prajurit itu, tapi Devan memilih untuk meratakannya.", tambah Morgan kepada Julian.


Morgan dan Julian pun turut berhenti melangkah. Mereka melihat ke arah Devan di dekat belakang mereka.


"Devan?.", panggil Morgan.


Devan terdiam memikirkan perkataan Morgan. Ia tidak merasa bersalah, namun tidak merasa benar pula.


***


Beberapa waktu kemudian.....


Mereka bertiga telah selesai melancarkan aksi pencurian, kini mobil telah berjalan dikendarai oleh Morgan. Sedangkan Devan duduk di belakang mobil bersama hasil makanan dan minuman curian di sebelahnya, sambil bersandar dan memangku wajahnya dengan tangan yang tersandar di pintu mobil.


Devan masih tak berhenti memikirkan perkataan Morgan. Ia benar-benar terganggu. Sambil melihat pemandangan malam padang pasir, ia mengingat-ingat perjalanan sebelumnya yang ia lewati.


Devan mengingat terakhir kali ia mengambil sesuatu pada toko yang ada di kota persinggahan, ia merasa tak nyaman sehingga meninggalkan secarik kertas yang berisi pesan kalau suatu hari ia akan membayarnya.


Devan kemudian melirik makanan-minuman yang ada di sampingnya.


("Repot juga bila harus meninggalkan secarik kertas disetiap aksi pencurian. Lagipula itu justru beresiko.", pikir Devan.)


Devan berhenti melirik dan kembali memandangi keluar, sambil merenung dalam.


("Yang aku lakukan adalah bertahan hidup.


Jadi kupikir.....tak apalah aku mencuri.


Aku.....mungkin terpaksa.


Sama seperti keadaan diriku di kota.


Yang aku lakukan hanyalah membela diri.


Jadi kupikir.....tak apalah aku membunuh.


Aku.....tak ada pilihan.


Kalaupun ada, aku.....takkan sempat memilih.


Seperti saat yang terakhir itu.


Jadi.....aku tidak salah. Ya, Aku memang tidak salah.


Tapi..........


Ah sudahlah.", pikir Devan dalam hati.)

__ADS_1


Devan pun memejam mata, melarut bersama angin malam.


***


__ADS_2