
“Apakah kamu sedang mempermainkanku?” tanya itu akhirnya keluar dari mulut Ayla.
Devano yang awalnya hendak pergi pun menghentikan langkahnya, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Kemudian matanya memandang tajam kepada Ayla. Dia diam tak mengatakan apa pun, itulah Devano yang dingin dan seolah tidak tersentuh oleh siapa pun juga.
“Kamu sedang mempermainkan aku kan? ini semua adalah skenariomu saja. Kamu ini mempermainkanku dengan cara mengatakan kepada semua orang kalau kita adalah sepasang kekasih. Nggak ada hal lain yang kamu inginkan. Karena kamu menganggapku sebagai tamengmu saja. Iya kan? Agar kamu nggak dikejar semua perempuan yang suka sama kamu kan? aku udah tahu itu, aku paham betul bagaimana trik licikmu itu. dan aku paham sekarang kenapa kamu jika di depan semua orang bersikap begitu manis kepadaku seolah kamu benar-benar mencintaiku, tapi jika di belakang orang dan hanya kita berdua barulah keluar sifat jahatmu, benar seperti itu kan?”
Devano diam, dia tak lantas menjawab ucapan dari Ayla sama sekali, rahangnya mengeras dengan sempurna mendengar semua analisis yang dilakukan oleh Ayla kepadanya.
Sambil berdiri dengan tegap, dan tatapan yang sedingin es. Devano kembali memandang Ayla lagi, kini tatapannya bahkan jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan yang tadi.
“Ya.”
Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Devano, sebuah jawaban yang paling menyeramkan dari pada yang lain, dan jawaban ini tentunya tidak sebanding dengan hal yang lainnya.
Ayla terdiam, dia merutuki dirinya sendiri. pada akhirnya Ayla sudah merasa sadar dan tahu jika hal ini tentunya bukanlah hal yang baik-baik saja. Ayla bingung harus berbuat apa, nyatanya dia hanya dijadikan tameng oleh Devano, dan hal itu adalah hal yang paling mengerikan di seluruh dunia.
Ayla sakit, itulah yang dirasakan sekarang. dadanya terasa sakit mengetahui kenyataan jika, lelaki yang dia cinta ternyata hanya memanfaatkannya saja.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi."
Ayla terdiam dengan wajah merah padam, matanya kini terlihat linglung. Banyak sekali hal yang memilukan, banyak hal yang membuat Ayla kesal dan kecewa. Ayla merasa dirinya adalah sosok yang paling tidak dikenal di seluruh dunia. Bagaimana mungkin Ayla tidak merasakan hal itu jika sebenarnya Devano telah begitu menyakitinya? Ada begitu banyak hal yang sangat menyakitkan, ini adalah hal terburuk yang pernah dilihat dunia.
“Kalau kamu sudah tahu alasannya, bukankah lebih baik lagi? Kamu bisa memiliki banyak hal yang bisa kamu pikirkan semuanya, dan sekarang jika aku baik padamu tentu kamu mengerti apa yang aku maksud, semua yang aku lakukan tidak lain hanyalah ingin mengambil keuntungan darimu."
"Kenapa aku? Aku tidak mau dan tidak mau sama sekali. Kalau mau maka lakukanlah dengan orang lain karena aku tidak mau sama sekali."
"Kamu adalah targetku, dan kamu tidak bisa menolak atau mundur. Karena hanya aku yang berhak memutuskan semua ini, dan kapan harus menghentikan semua ini. apakah kamu mengerti sekarang?"
Ayla menarik napas dalam-dalam lagi, air matanya sudah jatuh sempurna, lalu Ayla memutuskan untuk pergi. Percuma Ayla tinggal disini karena banyak hal yang menyakiti hatinya.
“Kenapa?”
Ya, hanya itulah satu-satunya pertanyaan yang bisa Ayla ucapkan. Kenapa dan kenapa selalu saja keluar dari mulut Ayla.
Kenapa dirinya?
__ADS_1
Kenapa Devano?
Dan kenapa semua ini harus terjadi?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa dengan ingatannya?
Sungguh, bahkan sampai detik ini Ayla masih merasa ragu akan semua hal yang terjadi. Semuanya terasa begitu cepat dan nyaris mustahil, semuanya membuat Ayla bingung bukan main.
“Karena tidak ada cewek dungu di sini selain kamu.”
Sebuah kalimat yang begitu sangat menyakitkan, sebuah kalimat yang membuat Ayla merasa jika dirinya tidak lain hanya dianggap sampah yang tidak berguna untuk Devano.
Kenapa bisa?
“Begitukah aku di matamu, Devano?”
Devano diam, dia tidak menjawab. Pandangannya masih sama, begitu dingin, dan datar.
“Karena aku ganteng kan? Karena aku populer, itu sebabnya kamu mengidolakanku? Bukankah kamu sama seperti dengan yang lainnya? Kamu itu sama dengan cewek yang lainnya.”
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Devano dengan sempurna. Mata Ayla nanar, dia sama sekali tidak menyangka jika Devano akan dengan tega mengatakan hal semacam itu kepada dirinya.
Ayla pun meneteskan air matanya dengan sempurna, ia menganggukkan kepala juga pada akhirnya.
“Aku mencintaimu bukan karena kamu ganteng, bukan karena kamu diidolakan, bukan karena aku sama seperti cewek-cewek yang lainnya, Devano!”
Ayla langsung menutup mulutnya, kemudian ia berlari sekuat tenaga meninggalkan Devano.
Ia sama sekali tidak menyangka, jika serendah itu Devano menilai dirinya. Devano benar-benar tidak ada perasaan apa pun kepada dirinya.
“Heh, Nyet!” teriak Arka.
__ADS_1
Dia hendak menggoda Ayla, tapi langkahnya terhenti saat matanya memandang Ayla yang sedang … menangis?
Ya, Ayla menangis.
Arka mematung, ketika Ayla melewatinya begitu saja. Berlari sekuat tenaga untuk masuk ke ruang kelasnya.
Arka sama sekali tidak tahu, siapa gerangan yang telah membuat Ayla menangis. Hanya saja bagi Arka, siapa pun itu pasti harus menerima hukuman darinya.
Hingga kemudian, ujung mata Arka menangkap sosok yang masih tampak berdiri di ujung lorong. Sosok yang tampak begitu angkuh, memasukkan kedua tangan di saku celanya, sosok yang seolah tidak peduli dengan apa yang ada di dalam hatinya Ayla.
“Oy, kulkas empat pintu! Sini lo!” teriak Arka.
Langkahnya lebar-lebar mendekati Devano, tapi Devano sama sekali tidak bergeming.
“Apa yang udah lo lakuin kepada Ay, hah!” marah Arka.
Devano diam, dia tidak menjawab. Sebab bagi Devano, Arka sama sekali tidak penting.
“Sekali lagi gue lihat lo bikin Ay nangis, gue sendiri yang bakal bikin perhitungan sama elo!”
“Apa lo nggak tahu kalau nuduh orang tanpa bukti itu adalah fitnah? Dan fitnah bisa kena pasal jika dilaporkan?”
Arka semakin kesal bukan main, bahkan sudah jelas Devano lah yang telah membuat Ayla menangis. Namun, kenapa Devano masih saja pandai bersilat lidah?
“Apa lo lihat gue dan Ayla bertemu? Berdebat? Bertengkar? Apa lo lihat Ayla nangisnya dari sini?” tanya Devano.
Arka hanya bisa diam, dia bahkan tidak bisa membantah ucapan Devano. Sebab, ia memang tak melihat.
“Elo nggak lihat apa-apa, kan? jadi saran gue jangan asal nuduh. Gue tahu kalau elo perhatian sama Ayla, tapi sayangnya Ayla nggak peduli sama selo. Saran gue, dari pada elo patah hati. Bukankah mending elo mundur aja?”
“Tumben banget lo secerewet ini, sejak kapan?”
Devano memalingkan wajahnya, kemudian dia pergi meninggalkan Arka.
“Inget, Dev, elo nggak pantes buat Ayla! Gue bakal pastiin agar Ayla berhenti ngarepin cowok berengsek kayak elo!”
__ADS_1