SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Satu Kisah Terselip.


__ADS_3

“Aku, Bang? Aku jatoh?” tanya Ayla dengan bodoh.


Daren tampak menghela napas panjangnya dengan sempurna kemudian dia mengangguk juga, bagaimana tidak, adiknya ini memang benar-benar seperti dua orang yang berbeda, di mana satu sisi memiliki masa lalu dan satu sisi tidak ingat apa pun dalam masa depannya sendiri. Ini adalah hal yang aneh, tapi menurut dokter yang memeriksa adiknya, Daren yakin kalau dokter mengatakan adiknya tidak apa-apa. Ya, meski Daren sendiri yang tahu kalau adiknya saat itu gagal melakukan CT scan kepala. Awalnya hal itu hendak dilakukan sebagai tindakan lanjut untuk mengetahui barangkali ada sesuatu yang mungkin terjadi misalnya tengkorak retak atau lain sebagainya. Namun, baru saja Ayla berada di depan ruangan itu, tiba-tiba Ayla terbangun dan langsung melompat. Merengek kepada abangnya untuk diajak pulang, melihat kondisi Ayla yang menurut Daren segar-bugar dan tidak ada kekurangan apa pun juga mengenalnya dan semua hal yang ada, Daren pun merasa tenang, dan saat itu Daren langsung membawa Ayla pulang. Hanya saja kadang-kadang memang Ayla seperti cewek yang aneh, meski awal-awal Daren merasa kesal, setidaknya sekarang Daren sudah merasa terbiasa dengan semuanya yang ada.


“Udah ah jangan bahas, aku juga nggak paham kenapa kamu bisa jatuh. Entah abis dikejar apa kamu sampai jatuh,” gumam Daren. Ayla hanya bisa diam, dia bertanya-tanya tapi dia sendiri tidak paham apa pun untuk bisa membongkar masalah ini. Ini adalah hal yang tidak pernah terbayangkan bahkan sampai kapan pun juga.


“Abang bener-bener, deh!” gerutu Ayla. Dia pun cemberut, dan hal itu berhasil membuat Daren sambil menghela napasnya dengan sempurna.


“Udah sana, mandi kamu, ganti baju terus turun. Abang udah nyiapin makan malam untuk kita.”


“Nggak mau, ah, kalau nasi goreng, Bang!” rajuk Ayla. Daren kembali menghela napas panjangnya lagi, Daren bingung, apa yang membuat Ayla merajuk seperti ini? Bahkan Ayla sendiri ini tahu kalau Daren hanya bisa membuat nasi goreng. Bahkan, nasi goreng pun juga sudah siap di atas meja.


“Terus kamu mau Abang masak apa? Kan kamu tahu sendiri kalau Abang bisanya buat nasi goreng dan mie instan. Sementara mie instan juga kan nggak boleh sama Papa,” jelas Daren.


Ayla diam sejenak, dia sendiri tidak tahu kalau ucapannya mungkin telah melukai hati dari abangnya. Mata Ayla memandang Ayla dengan mimik wajah merah padam dengan sempurna.


“Beli aja gimana, Bang?” kata Ayla pada akhirnya, memberikan sebuah kabar dan hal itu membuat Daren menarik sebelah alisnya dengan sempurna.


“Baiklah, ntar deh Abang pesenin, udah sana mandi,”

__ADS_1


“Siap, Bos!”


Dengan cepat, Ayla langsung berdiri, berjalan keluar dari kamar Daren kemudian menuju kamarnya. Merebahkan tubuhnya kemudian Ayla terdiam sejenak.


Apa yang diucapkan oleh Devano kenapa hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh abangnya? Tapi yang aneh adalah, memangnya sejak SMP Ayla bertemu dengan Devano? Bukankah sudah jelas jika mereka selisih satu tahun? Tidak pernah terpikirkan jika apa yang diucapkan oleh Devano itu adalah hal yang sangat nyata. Ini adalah masalahnya, ini adalah sebuah pertanda yang mungkin tidak terbayangkan sampai kapan pun juga. Ayla masih terdiam, tapi dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa pun.


Di sisi lain, Devano tampak merebahkan tubuhnya di atas kap mobilnya. Matanya tertuju pada bintang malam yang bersinar. Di dalam bayangan matanya terlintas bayangan masa lalu yang samar-samar terlihat jelas semuanya ada di sana.


Sosok cewek berdiri dengan sembunyi-sembunyi di balik sebuah tembok sebuah kafe, yang saat ini Devano sedang berdiri kebingungan karena ban motornya bocor.


Devano berkacak pinggang, sejujurnya dia sendiri tidak tahu tentang mesin motor, bahkan bisa dikatakan jika dia bingung dengan masalah yang lainnya juga. Devano kembali mendengus, dia pun melepas jaketnya kemudian memukul-mukulkan pada jok motornya. Hingga suara tawa itu lepas terdengar dan membuat Devano menoleh dengan sempurna.


“Kenapa lo tertawa? Nertawain gue, lo?” kesal Devano.


“Lagian elo sih, masak motor dipukulin. Emangnya kalau dipukulin motornya bakal bisa nyala sendiri?” celetuk cewek tersebut.


Devano terkekeh juga, apa yang dikatakan oleh cewek itu ada benarnya, sebuah hal yang paling masuk akal yang membuat Devano merasa malu sendiri tentu saja.


“Nih, milkshake! Gue yakin kalau elo kehausan, kan?” tebak cewek tersebut. Cewek yang tingginya sedada Devano itu pun mengulurkan satu milkshake miliknya, sementara tangan satunya sibuk memasukkan milkshake lainnya ke dalam mulut mungilnya. Bibir merahnya mengerucut sempurna, tampilan lucu itu tampak begitu nyata.

__ADS_1


“Nggak mungkin emang sengaja buat gue, kan, milkshake ini?” tebak Devano. Tapi diambil juga, sebab dia memang benar-benar haus sekarang ini.


Wajah cewek itu bersemu merah, kemudian dia menganggukkan kepalanya juga. Cewek itu tampak malu-malu memandang Devano sekarang.


“Kok tahu? Jangan-jangan elo dukun, ya?” tanya cewek itu polos. Devano hanya menyeringai juga, kesal dia lama-lama dengan cewek yang polos tersebut. “Ini milkshake punya Abang sih, tapi ntar Abang biar beli sendiri. Salah siapa lama banget belanjanya! Masak gue ditinggal-tinggal terus!” gerutu cewek itu setengah protes.


Mendengar penuturan itu, Devano terkekeh juga, tanpa sadar menyeruput milkshake tersebut sampai habis. Bahkan suara sedotan Devano yang hanya bertemu dengan gelas itu pun terdengar nyata, hingga Devano dan cewek tersebut sama-sama terkekeh semua.


“Thanks, ya. Kapan-kapan kalau kita ketemu, gue traktir elo, deh!” kata Devano kemudian. Cewek itu pun mengangguk malu-malu, wajahnya bersemu merah dengan sempurna.


“Gimana kalau traktirnya yang lain aja?” tanya cewek tersebut lagi, wajahnya menunduk, dan Devano tampak menarik sebelah alisnya dengan sempurna. Cewek itu adalah cewek kelas delapan SMP, dan hal itu cukup membuat Devano sungkan juga.


“Emang minta traktir apa?” tanya Devano kemudian.


“Foto sama elo, gimana?” pinta cewek itu, Devano mendelik.


“Kok?”


“Karena elo cakep. Gue mau pamerin elo sama temen-temen gue, kalau gue ketemu sama cowok cakep!” semangat cewek tersebut.

__ADS_1


Devano yang mengingat itu hanya bisa tersenyum kecut, sebuah masa-masa yang manis bagi Devano, andai saja bisa, Devano begitu ingin mengulang semua masa-masa manis itu lagi, dan lagi, sehingga tidak ada masa buruk yang terjadi, dari semua masa yang ada di dunia ini.


Devano menghela napas panjangnya dengan sempurna. Matanya terpejam rapat, bulu mata lentiknya tampak begitu nyata, napas yang sedari tadi memburu kini tampak teratur dengan sempurna, sebuah hal yang tidak terbayangkan kalau sampai Devano tertidur di alam bebas, di mana tempat ini selalu menjadi tempat termanis bagi Devano, bahkan sampai kapan pun itu.


__ADS_2