SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Keresahan Ayla.


__ADS_3

“Kenapa sih lo aneh begini, kenapa buku itu lo sembunyiin? Kayak nyembunyiin simpenan aja lo!” gerutu Nuna.


Ayla hanya tertawa lebar, dia pun agaknya bingung harus membalas seperti apa. Sebab banyak juga hal yang harus dipikirkan sekarang. Ayla tidak boleh ceroboh, ia tidak boleh mengatakan semuanya seperti dulu. Ayla malu, dia tidak mau disebut sebagai cewek plin-plan atas semua hal yang sudah dilakukan oleh Devano. Yang awalnya Ayla mengatakan cinta, kemudian dia mengatakan benci dan mau melupakan Devano, akan menjadi hal yang aneh jika sampai Ayla merengek lagi untuk mengurusi masalah Devano.


Ayla yakin jika hal ini akan membuat muak dua sahabatnya, kemudian membuat sahabatnya menjadi merasa jengkel kepadanya. Jadi bagaimana bisa Ayla akan mengatakan dengan mimik wajah bodohnya itu? Ayla sendiri tidak mungkin akan menjadi jujur jika kenyataannya dirinya adalah manusia yang paling plin-plan sedunia. Kemudian Intan pasti akan mengatakan secetek itu dia membenci Devano dan pada akhirnya hanya karena sebuah buku catatan Ayla mulai goyah lagi untuk membenci dan melupakan Devano.


Ayla menghela napas panjang, hal ini tentunya bukanlah hal yang patut dikabarkan karena Ayla yakin tentu saja ini adalah hal yang tidak ada penyelesaiannya. Masalah perasaannya dengan Devano, mungkin mulai sekarang Ayla akan berusaha menutupi semuanya. Ayla akan berusaha menjadi manusia yang jauh lebih beradab dibandingkan sebelumnya, jikalau pun dia bercerita mungkin Ayla hanya berani bercerita kepada Nuna saja. Sebab Ayla pikir Nuna jauh lebih paham tentang dirinya dibandingkan dengan Intan sekalipun tentu saja.


“Yaudah kita balik kelas yuk, nanti keburu ada gurunya kita malah nggak boleh masuk lagi, percuma kita udah belajar semaleman tapi hasilnya nihil.”


“Oh ya, kata wati besok ada ulangan kimia sih.”


“Hah beneran!” kaget Intan.


Memang kalau masalah kimia tentu saja hal ini menjadi satu landasan lainnya. Tidak akan pernah terbayangkan kalau sampai Intan harus mengerjakan soal ulangan kimia tentu saja.

__ADS_1


“Yaudah sih nggak usah heboh, ntar kita pergi ke rumah Ayla buat belajar kelompok.”


“Buat hari ini kayaknya nggak bisa deh.”


Ayla kembali berucap, bukannya dia ingin menolak kedatangan teman-temannya, dia hanya ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Devano benar adanya, itu saja dan tidak ada yang lebih sama sekali.


“Emang ada apa coba?” tanya Nuna.


“Ini adalah hal yang cukup pribadi, sebab Papap mau pulang. Gue nggak mau kan hari di saat Papap pulang malah gue heboh sendiri dan sibuk belajar kan?” tanya Ayla.


“Emang sih waktu sama orang tua jarang kumpul gini bermakna, yaudah kalau gitu besok malem aja kamu ke rumah lo ya?”


“Siap, Bos!”


“Om emang bajal netap lagi di sini apa akan pergi lagi nanti?” tanya Nuna.

__ADS_1


Ayla menjadi sedih kembali, sebab dia tahu kalau dua sahabatnya itu mengetahui bagaimana gila kerjanya ayahnya. Bukan apa-apa, entah memang karena beban membiayai sekolah dua anak yang sudah berada pada jenjang pendidikan tinggi itu sangat berat sampai ayahnya Ayla bekerja bahkan nyaris tak pernah pulang, atau karena ayahnya Ayla seolah menghindari sesuatu. Itulah yang dirasakan oleh Ayla. Dan entah kenapa rasa itu benar-benar cukup menyakitkan sekali untuk Ayla.


Melihat ayahnya yang selalu kemana-mana dan tidak betah di rumah untuk seminggu saja, Ayla benar-benar merindukan sosok orang tua. Benar jika memang sosok Ibu dia sudah tidak punya, tapi bagaimana bisa ayahnya juga seolah tidak peduli sama sekali dengan dirinya? Sungguh sebuah hal yang benar-benar membuat Ayla bingung bukan main.


“Pernah nggak sih kalian berpikir kalau Papap itu sengaja ngehindari anak-anaknya? Soalnya gue ngerasa kalau kenapa gitu Papapsetiap hari kerja dan kerja terus, nggak pernah sekalipun Papap betah di rumah buat nemenin anak-anaknya. Kadang-kadang kalau pas gue pengen gitu ada Papap tapi ada aja alasan Papap buat ngehindarin semuanya.”


“Elo jangan gitu ah, Ay. Mungkin aja Om emang bener-bener sibuk kan? Apalagi masalahnya pekerjaan Om emang dituntut untuk neglakuin semuanya serba cepat dan buat kemana-mana. Kalau Om nggak profesional lama-lama Om akan diberhentikan, tentu saja ini bukanlah hal yang baik buat keluarga kalian. Terus kalau Om nggak kerja gimana kalian makan dan bayar sekolah. Gimana kalian Menuhin kehidupan kalian kan?”


Ayla pun terdiam, Nuna kini merengkuh tubuh sahabatnya tersebut.


“Udah jangan mikir yang jauh-jauh, nggak ada hal aneh-aneh. Om sangat sayang sama elo itu adalah kenyataannya, jangan sampai elo berpikiran yang macem-macem, Ayla.”


“Nah ini gue setuju sama Nuna, nih! Ayla kayaknya banyak beban dan pikiran deh, makanya jauh kemana-mana itu pikiran. Elo jangan mikir yang macem-macem, Ayla. Ayah elo, Abang elo itu semuanya sayang sama elo. Hanya saja kondisinya emang sekarang mereka lagi sibuk semuanya, sibuk bukan berarti jika mereka nggak peduli lagi sama elo kan? Sibuk berarti mereka sedang memperjuangkan masa depan yang jauh lebih baik buat elo. Itu adalah kesannya dan itu adalah kenyataannya, jangan sampai semua itu malah ngebuat elo down dan membuat elo berpikir kalau elo nggak ada yang nyayangin. Sebab mereka dan kami itu sayang banget sama elo.”


Ayla kembali tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya lagi dengan sempurna. Memang akaan selalau seperti ini, pikiran Ayla selalu kemana-mana dan selalu tidak bisa dikendalikan, semua ini tentunya adalah salahnya Ayla sendiri, jadi bagaimana bisa Ayla tidak melakukan apa pun. Ayla telah berusaha sekuat tenaga. Ayla telah mencoba berpikir dan berjuang dengan keras, tapi sepertinya semua pikiran Ayla hanya terpacu dalam satu hal, tidak lain hal itu hanyalah satu hal yang sangat buruk, kebencian dan pikiran buruk dari dirinya sendiri yang seolah semuanya itu tidak ada obatnya sama sekali, dan dari semua hal dan obat yang ada, mana yang akan menjadi baik? Tidak ada sama sekali, Ayla tetaplah Ayla. Dan dia harus bisa untuk merubah prinsip pikirannya agar dirinya tidak selalu menyalahkan orang lain atas tidak bergunanya dirinya selama ini.

__ADS_1


“Kalian semua bener deh, kayaknya pikiran gue ini yang macem-macem. Gue sama sekali nggak berpikir sampai sejauh ini, bahkan sepertinya terlalu lama masalah ini menimbun menjadi hal yang nggak berguna. Sekali lagi maafin gue ya, Guys! Gue selalu berpikir yang buruk tanpa berpikir dampaknya, gue selalu ngerasa seolah hanya gue yang paling merana di dunia ini, nggak ada satu pun yang seolah memiliki hak atas itu. sekarang gue mau belajar lagi bagaimana mengendalikan diri, mengendalikan pikiran dan emosi, agar kelak jika ada masalah gue bisa ngatasinya tanpa ngerengek lagi.”


__ADS_2