
“Devano! Devano! Devano!”
“Arka! Arka! Arka!”
Suara riuh penonton sudah memenuhi lapangan basket outdoor. Penonton yang mayoritas cewek itu pun duduk melingkar di tepi lapangan sambil memberi jarak agar mereka tidak terkena bola.
Ada yang membawa pom-pom dan secara gratis menjadi anggota cheers sebagai mendukung dari kedua belah pihak. Sementara yang lain langsung mendapatkan yel-yel yang unik-unik.
Ayla, Nuna, dan Intan yang baru saja datang karena habis makan siang kemudian datang itu pun hanya bisa terheran-heran. Namun bagaimanapun, mau heran seperti apa pun, faktanya memang sosok Devano mengenakan jersey basket adalah hal yang mereka tunggu. Tidak melulu menggunakan seragam putih abu-abu, batik atau pun pramuka dengan begitu rapi, dan juga tenang. Sementara bagi pendukung lainnya, mereka sungguh sangat antusias. Bagaimana tidak, sosok kapten basket yang nyaris enam bulan tidak mengikuti pertandingan pada akhirnya tampil lagi. Mereka haus dengan penampilan memukau Arka, lebih dari itu adalah mereka pun sudah tahu dan bisa menebak siapa yang akan menjadi juaranya.
Ya, bisa dikatakan jika pertandingan basket ini memang tidak imbang. Namun mereka tetap antusias karena hanya ingin melihat dua cowok ganteng di sekolah bermain basket dengan suka rela.
“Gimana ya penampilan Kak Devano, pasti keren banget!” jerit histeris beberapa cewek yang ada di sana.
Sementara Ayla yang mendengar itu hanya bisa menahan napasnya. Entah kenapa, meski Ayla sudah tahu, sudah sadar, dan sudah paham kalau banyak yang mengidolakan Devano di sekolah ini, tetap saja Ayla merasa tidak enak hati. Ayla merasa tidak terbiasa dan bahkan bisa dikatakan dengan … kesal.
“Kita cari duduk di mana nih? Udah penuh semua ini.” Intan pun menggerutu. Kemudian dia menebarkan pandangannya dengan sempurna, mencari celah yang paling tepat agar mereka bisa duduk dengan nyaman dan melihat dengan jelas pertandingan tersebut.
“Kita nyari tempat duduk di mana?”
“Di depan ruang kepala sekolah gimana? Tuh kursinya mumpung kosong.”
Ayla dan Intan memandang depan ruang kepala sekolah, di sana benar-benar kosong. Tumben, padahal bisa dikatakan jika kursi di depan ruang kepala sekolah adalah tempat yang sangat strategis yang luar biasa. Bisa melihat arah lapangan langsung, dan jaraknya pun tidak terlalu jauh. Bahkan berteriak sedikit saja bisa didengar dengan jelas oleh semua pemain basket tentu saja.
“Ayok lah, sebelum diambil alih orang kan?”
__ADS_1
Ketiganya pun langsung bergegas menuju ke ruangan depan kepala sekolah, duduk dengan manis di sana kemudian menyaksikan pertandingan yang akan dimulai.
Ternyata, pertandingan ini bukan hanya pertandingan satu lawan satu. Melainkan pertandingan tim melawan tim tentu saja.
Ini adalah hal yang tidak dibayangkan sebelumnya, bagaimana tidak, jika memang Arka memiliki tim lengkap, lalu bagaimana dengan Devano? Secara selama ini semua orang pun tahu tidak ada satu orang pun yang dekat dengan Devano selain si kutu buku Abian. Dan Abian mana bisa bermain basket?
Tim dari Arka pun sudah keluar, mereka semuanya begitu terlihat angkuh, dan sombong. Percaya diri agar bisa menang adalah hal yang terlihat begitu jelas, dan hal ini tentu saja membuat mereka yakin kalau mereka pasti akan menang.
“Kira-kira Kak Devano benar-benar berani keluar nggak ya? Dia kan nggak punya teman dan tim, emangnya dia bisa main basket sendirian melawan lima orang yang emang mereka semua adalah tim inti basket sekolah kita?” tanya Intan.
Nuna dan Ayla menggelengkan kepala mereka dengan kompak. Sementara Ayla dia benar-benar berharap jika ada keajaiba, jika Devano bisa menang. Itu adalah harapan kecil Ayla, harapan yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh Ayla sama sekali.
Memang benar ini adalah hal yang bodoh, ini adalah hal yang tidak bisa dibayangkan bahkan oleh Ayla. Hanya seciul kebaikan Devano kepadanya, langsung membuat Ayla kembali mengharapkan Devano. Apakah memang benar jika cinta memang sebuta itu?
“Eh, Kak Devano! Kak Devano!” histeris Intan.
Devano datang dengan jersey basketnya, tangannya menggunakan handband warna putih begitu manis dengan jersey warna hitamnya.
Devano berjalan masuk ke dalam lapangan kemudian ia menebarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat. Hingga akhirnya mata teduh dari Devano memandang Ayla. Devano langsung tersenyum samar sambil menundukkan wajahnya dengan sempurna.
Tak lama, di belakang Devano ada empat cowok lainnya. Cowok-cowok bertubuh tinggi tegap seolah begitu terbiasa berolahraga. Cowok-cowok bukan dari siswa di sekolah mereka, cowok-cowok tampan yang begitu asing.
“Mereka ….”
“Kayaknya nih mereka ini adalah teman SMP Devano,” tebak Nuna. “Kayaknya mereka juga pinter olahraga kan ya? Tubuhnya aduh, gue meleleh.”
__ADS_1
Intan langsung menyikut lengan dari Nuna, kemudian mata Intan melotot dengan sempurna.
“Ya Tuhan, ganteng banget kaaaan! Tapi tetep lah Kak Devano yang paling ganteng!” kata Intan semagat.
Ayla hanya mengulum senyum, ia kembali memandang Devano dan teman-temannya. Devano memang ganteng, ya … Devano seganteng itu. Seperti mentari di pagi hari yang bersinar, sehingga semua orang selalu memandang padanya, itulah sosok Devano.
“Lo ternyata bawa gerombolan juga ya.” Arka yang melihat Devano dengan empat cowok lain yang ia tidak tahu sama sekali siapa, pun akhirnya bersuara juga.
“Mereka ini elo sewa dari mana? Dari tim basket nasional atau gimana?” lanjut Arka lagi.
“Anjir gila, ini si Gilbert kan? Pemain inti nasional itu kan!” pekik Aksa histeris.
“Gue boleh minta tanda tangan elo? Gue ngefans banget sama elo, sumpah!”
Aksa yang hampir mendekati Gilbert pun langsung ditarik paksa oleh Arka. Bagaimana tidak, harga diri Arka yang setinggi puncak gunung Himalaya itu pun langsung hancur juga. Bagaimana bisa Devano malah bersama dengan orang-orang seperti ini.
“Mereka sahabat gue dari SMP, bukankah elo sendiri yang bilang boleh ajak siapa pun asalkan itu teman? Dan gue nggak perlu nyewa mereka, mereka dengan senang hati dateng buat bantuin gue, sesimpel itu.”
Arka tidak bisa berkata apa-apa, kini ia melirik pada tempat di mana Ayla berada. Rasa percaya diri yang awalnya tinggi kini menciut seketika. Ia memang kapten tim sekolah, tapi masalahnya lawannya bukanlah pemain main-main, dan itu adalah nyata. Jadi bagaimana bisa Arka masih bisa sepercaya diri dulu?
“Ya udah, kita mulai pertandingannya tanpa harus nunggu lama-lama.”
Semua tim pun langsung sama-sama bersiap dan saling berhadap-hadapan. Sekarang ini kapten dipegang oleh Arka dan juga Devano.
“Gue pertaruhkan harga diri gue di sini.” Arka memandang Devano dengan sengit.
__ADS_1
“Gue nggak akan sudi kalau Ayla disentuh oleh cowok mana pun di dunia ini.”
Jawaban Devano pun tak kalah sengit.