SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.

SEPOTONG CINTA UNTUK DEVANO.
Kesadaran Devano.


__ADS_3

“Devano udah sadar!”


Baik Gilbert dan Ayla sama-sama menoleh, pada sosok jangkung lain bernomor punggung tujuh.


Keduanya kini saling pandang, bahkan percakapan singkat yang sempat terjadi pun langsung hilang entah ke mana.


Ini adalah sebuah hal yang cukup menggembirakan, ketika sebuah kabar tentang kesadaran Devano datang.


Gilbert pun langsung berdiri, tapi berbeda dengan Ayla yang memilih masih diam di tempat tanpa mengatakan apa-apa. Ya, bagi Ayla memang sadarnya Devano adalah sebuah anugerah, menandakan jika mungkin Devano baik-baik saja. Meski dalam keadaan cideranya sendiri belum tentu benar-benar pulih atau tidak.


Ini tentunya menjadi sebuah wacana, baik yang membuat Ayla harus menahan semuanya.


Di sana masih ada mamanya Devano, jadi bagaimana bisa Ayla akan menjadi baik-baik saja sekarang? Tentu saja Ayla tidak akan pernah menjadi apa pun jika dipaksa pun mungkin Ayla tidak ada hak sama sekali untuk itu.


“Ay, elo nggak ikutan masuk?”


“Enggak ah, gue mau pulang aja. Nitip salam sama Devano, moga cideranya lekas sembuh.”


Ayla menjawabi sambil tersenyum manis, dia menunjukkan jika dirinya baik-baik saja sekarang.


“Namun, pasti yang dicari Devano saat ini pasti elo. Gue yakin kalau siapa pun yang dicari bakal elo.”


“Ada mamanya kan? Pasti yang dicari bakal mamanya deh. Udahlah, gue ini apa sih. Kalian kan sahabatnya, gue yakin kok kalau kalian bakal dicari Devano. Denger kalau Devano sadar aja gue udah cukup seneng, itu tandanya kalau emang Devano baik-baik aja meski cideranya masih belum tentu baik. Do ague sih, semoga aja Devano lekas sembuh dan pulih. Titipin salam gue buat dia ya.”


Gilbert diam sejenak, agaknya dia sendiri tidak bisa memaksa sesuatu yang bisa dipaksa. Hal ini tentu saja bukanlah suatu hal yang bisa dipaksa oleh siapa pun juga. Gilbert kembali tersenyum, kemudian dia mengangguk juga. Seperti ada salah paham yang harus diluruskan dan itu semua membutuhkan waktu.


Lagi pula yang dikatakan Ayla benar, di sini ada mamanya Devano. Mamanya Devano saja tidak menanggapi baik tentang Ayla, jadi percuma jika Ayla ikut masuk menemui Devano.

__ADS_1


“Baiklah, nanti salamnya gue bakal sampein ke Devano. Gue harap kalau elo bakal baik-baik aja dan pulang dengan selamat, ya.”


“Makasih.”


Ayla memutuskan untuk keluar, meski dalam hati dia berkecamuk hebat. Begitu banyak hal yang mengganggu pikirannya, tapi Ayla masih berusaha untuk baik-baik saja. Dia pusing, dia juga tidak mengerti ada apa dan kenapa. Yang jelas ia merasakan sakit yang sangat pada dadanya. Apakah ini karena Devano?


“Ay!”


Ayla menoleh, ia melihat ada Nuna dan Intan di parkiran. Dia sama sekali tidak menyangka jika dua sahabatnya ada di sana.


“Kalian …” kata Ayla terhenti.


Dia mulai merasa terharu, ketika mendapati kenyataan jika dua sahabatnya sampai rela datang kesini untuk menjemputnya.


Nuna dan Intan—keduanya sama-sama merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, tentu saja hal ini membuat Ayla langsung memeluk tubuh dua sahabatnya itu sekaligus.


“Gimana kabar Devano, baik-baik aja kan?” tanya Nuna.


Ayla pun menganggukkan kepalanya dengan sempurna, kemudian dia tersenyum lagi.


“Barusan siuman, kayaknya masalahnya itu pada lengannya dia. Kata teman-temannya dulu dia pernah ada cidera kayak gitu deh, kemudian tadi dapet lagi kena kan. Jadi mungkin nggak kuat dan katanya dulu salah satu alasan Devano mengundurkan diri dari tim basketnya pas SMP ya karena cideranya ini salah satunya.”


“Jadi kayak gitu ceritanya. Terus tadi Arka mepetin Kak Devano terus itu sengaja nggak sih? Kok gue lihatnya kayak sengaja gitu ya mepetin terus, entah dia tahu apa enggak kita sendiri juga nggak punya wewenang buat ngurusin semuanya juga kali ya. Entahlah, bingung sendiri gue mikirin ini semua. Gimana coba kalau ada beberapa hal yang harus, kudu, wajib ngurusin yang lainnya juga.”


“Entahlah, gue sendiri nggak begitu paham. Mana yang baik dan mana juga yang benar. Bingung sendiri gue ngurusin semuanya.”


Ayla pun akhirnya pasrah juga, dalam hal ini dia tidak memiliki banyak kuasa, yang bisa ia lakukan hanyalah mendoakan Devano agar baik-baik saja tentunya. Sebab tidak ada hal lain lagi yang bisa diupayakan dan Ayla berharap jika semua ini tentunya akan berubah, sudah tidak ada lagi yang namanya kita atau siapa pun, semuanya kembali seperti semula. Ayla yang sendiri dan jomblo dengan sahabatnya dan Devano yang hanya akan tetap menjadi sosok idola yang begitu digandrungi Ayla.

__ADS_1


Mungkin masa-masa cinta yang Ayla rasakan selama ini juga bukanlah rasa cinta yang sempurna. Ayla belum merasakan pacaran yang sesungguhnya serta lain sebagainya, jadi Ayla merasa tidak apa-apa. Toh seumpama dia patah tidak akan terlalu sakit. Hatinya masih belum dalam untuk berharap banyak, sebab sedari dulu dia memang hanyalah seorang pengagum tanpa bisa dikagumi, mencinta tanpa bisa dicintai dan akan terus seperti itu sampai kapan pun.


“Jadi gue udah mutusin kalau gue pulang aja, nggak nyangka kalian ada di sini.”


“Karena gue tahu elo adalah manusia yang nggak pernah tahu arah jalan pulang dan bagaimana pulang itu, jadi kami berinisiatif buat jemput elo. Lagi pula tadi pas kami nyamperin elo wajah elo paniknya ya ampun banget. Gue nggak mau kalau sampai elo kenapa-napa.”


“Apa yang dikatakan Nuna bener. Bahkan gue takut kalau elo kenapa-napa, itu sebabnya kami langsung cus kesini. Untungnya kami tahu alamat email elo yang terpasang di ponsel lo.”


“Jadi kalian ngelacak gue?”


“Ya iyalah!”


Ayla pun terkekeh juga. Dia lantas langsung pulang bersama dengan Nuna dan Intan. Tentu dengan menggunakan mobil Intan tentu saja.


Sementara itu, Devano agaknya cukup kesal. Bagaimana tidak, saat ia sadar dia mencari di mana keberadaan Ayla yang ia yakin jika tadi sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya. Namun saat ia bertanya kepadapara sahabat-sahabatnya. Tidak ada satu pun dari teman-temannya yang menjawab di mana gerangan Ayla berada.


Ayla tidak mungkin pergi begitu saja kan? Itulah yang diyakini oleh Devano. Sebab Devano yakin siapa Ayla.


“Kenapa kamu tampak kesal sekali, Devan? Ada Mama di sini, dan hasil rontgennya belum keluar. Kalau emang benar-benar parah kemungkinan kamu akan dioperasi lagi. Bukankah kamu sudah tahu sedari awal setelah diceramu yang pertama kalau kamu nggak boleh main basket dan cidera lagi? Bukan … bukan hanya basket tapi seluruh olahraga lainnya. Kenapa kamu keras kepala sekali?”


“Kenapa Mama di sini?” tanya Devano kesal.


“Mama adalah mamamu, bagaimana bisa kamu bertanya kenapa Mama ada di sini, Devano?”


Mamanya Devano menghela napas panjang, kemudian dia bersedekap dengan sempurna.


“Memangnya kamu berharap siapa yang datang menjengukmu? Ada di sampingmu?”

__ADS_1


__ADS_2