
“Jadi jelaskan sama gue kenapa elo tiba-tiba berubah sikap dan mint ague buat nemenin elo terus?”
Arka yang sekarang sudah bersama dengan Ayla pun bertanya. Sebenarnya, apa pun jawaban Ayla tidaklah penting. Yang terpenting adalah Arka bisa bersama-sama dengan Ayla. Titik.
“Karena masalah lo sama Devano kemarin?” tebak Daren.
Yang bahkan sampai detik ini pun Ayla masih diam. Tidak menjawab sama sekali. Ayla menghela napas panjangnya dengan sempurna.
“Udahlah, Ay. Kan udah gue bilang sama elo, cowok kayak gitu nggak usah elo pikirin. Masih ada cowok lain, Ay. Lagi pula kenapa sih elo seneng banget sama Devano? Apa coba kelebihan cowok itu? Cowok nggak bisa ngomong juga, yang namanya pacaran itu tuh harus saling cinta. Kalau salah satu aja yang cinta namanya bukan pacaran. Tapi menjalin hubungan karena terpaksa.”
Ayla kembali menghela napas panjang, kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan sempurna.
“Apa yang elo bilang bener, Ar. Elo emang bener, tapi untuk sekarang ini gue nggak ingin ngebahas masalah Devano atau siapa pun itu. Gue makasih banget karena elo udah mau nemenin gue. Gue hanya butuh temen, gitu aja.”
Arka pun menganggukkan kepalanya dengan sempurna, tidak ada apa-apa yang membuat Arka jauh lebih paham dibandingkan ini.
“Elo mau ngapain nanti? Main yok. Gue kasih tahu tempat yang enak buat cewek galau.”
“Emang di mana?”
“Rahasialah, asalkan elo seneng aja. Mau nggak? Gue izinin Abang Daren kalau elo mau.”
“Mau!”
Dan percakapan itu berhasil tertangkap oleh Devano, meski Devano tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Ayla dan Arka. Namun, melihat bahasa tubuh keduanya agaknya cukup membuat Devano terdiam juga.
Kedua tangan Devano mengepal kuat, tanpa mengatakan apa pun Devano pun memutuskan untuk pergi.
*****
“Jadi sekarang gimana?” tanya seorang cewek kepada Cindy.
__ADS_1
Cindy yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya pun hanya tersenyum. Seharian ini begitu banyak tanya yang sama untuknya.
“Ya nggak apa-apa. Gue beneran malu dengan berita ini, siapa yang menyebarkan berita ini? Apa berita ini nggak bisa dihapus saja ya?” tanya dari Cindy.
“Ini emang sengaja dibuat buat elo, Cindy. Karena kami tahu, dibandingkan dengan cewek kelas sepuluh itu, elo jauh lebih pantes sama Devano. Lagian cewek kelas sepuluh itu aja nggak terdeteksi sama sekali kalau beneran pacarnya Devano. Kenyataannya saja mereka nggak pernah jalan bareng, padahal mereka satu sekolah.”
Cindy pun masih diam, kemudian dia menganggukkan kepalanya juga, memandang teman-temannya yang mendukung penuh pendekatannya dengan Devano.
“Tapi kalau seperti ini gue nggak dianggap sebagai cewek centil dan gatel kan? Gue nggak mau dianggap cewek centil yang ngerebut cowoknya orang lain. Kan jadi nggak enak sama sekali gue sama Ayla.”
“Ya enggak lah, bahkan kebanyakan yang bilang kalau Ayla seharusnya mundur dan sadar diri, karena elo bahkan jauh lebih pantes sama Devano dibandingkan dia. Bahkan Ayla sendiri udah bener-bener nggak ada yang respek sama sekali sama dia.”
Cindy kembali menganggukkan kepalanya dengan sempurna, kemudian dia memasukkan ponselnya di saku rok seragamnya.
“Baiklah, kalau gitu gue ikut kalian aja enaknya kayak apa.”
*****
Perasaan Devano menjadi campur aduk, dia bingung harus berbuat apa sekarang. Ada banyak keresahan dan tanda tanya. Terlebih, pikiran terlintas akan hal yang terjadi tadi siang.
Ya, tentang Ayla dan Arka.
Keduanya mau ke mana?
Ini adalah hal yang cukup membingungkan, ini adalah hal yang tidak bisa dibayangkan. Bahkan bagi Devano sendiri, agaknya dia merasa begitu gusar.
“Jadi bagaimana sekolahmu, Devan? Semuanya berjalan dengan lancar kan?”
Devano hanya melirik pada seorang wanita yang rambutnya dicempol ke atas, wanita itu mengenakan rok selutut, duduk di samping Devano yang tertunduk.
“Mama harap semuanya berjalan dengan lancar ya, Devan. Ingat pesan almarhum Papa, kamu harus giat belajar, agar kelak kamu bisa meneruskan bisnis Papa.”
__ADS_1
“Ma.”
Devano pun akhirnya memandang mamanya, kemudian dia menahan napasnya dengan sempurna.
“Kenapa Mama selalu ngebahas ini terus kepada Devan? Bisa nggak Devan nggak perlu mikirin hal seperti ini?”
“Sebab itu adalah tujuan hidupmu, Devan. Kamu adalah satu-satunya penerus bisnis almarhum papamu. Kamu tahu, beberapa direksi sekarang sudah mulai berulah. Perusahaan sudah mulai nggak baik-baik saja. Menunggumu lulus SMA akan membuat perusahaan nggak baik-baik saja. Namun seenggaknya, kamu bisa menanganinya, Devan.”
“Ini terlalu berat buat Devan, Ma. Devan nggak sanggup. Gimana ceritanya Devan yang baru lulus SMA nanti harus ngadepin para direktur yang selain pendidikannya aja tinggi-tinggi, mereka juga berpengalaman dalam bidang ini.”
“Namun kamu memiliki otak cemerlang, Devan. Dan mereka pun nggak meragukan sama sekali semua itu. Mama yakin kalau mereka akan takut kepadamu. Cara berpikirmu sangat kritis dan selalu lurus. Apakah kamu nggak mau merjuangin apa yang udah diperjuangin oleh papamu selama ini?”
Rahang Devano pun mengeras, ia tak mengatakan apa-apa lagi. Mamanya pun akhirnya pergi, membuat Devani memukul kasur yang ia duduki. Devano berdiri, mengambil beberapa buku cetak yang di sana bertuliskan ‘langkah awal masuk dunia kedokteran’
Dengan senyum miris Devano mengambil buku-buku itu, kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Devano kembali menahan napasnya dengan sempurna, ia pun memejamkan matanya dengan nyata. Begitu banyak kesakitan yang ia rasa, begitu banyak perih yang tertoteh di dalam hatinya. Hingga Devano sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
“Kenapa kamu juga jadi kayak gini? Apakah aku nggak penting buat kamu?” gumam Devano.
Ia membuka sebuah buku bersampul cokelat, di sana ada sebuah potret cewek berambut sebahu yang Devano rangkul. Keduanya duduk di atas mobil jeep. Di dalam foto itu keduanya begitu tampak sangat bahagia. Tidak ada beban sama sekali di hati mereka, yang mereka tahu hanyalah rasa cinta.
Devano tersenyum getir, mengelus foto itu kemudian dia menghela napas panjangnya lagi.
“Yang aku butuhin sekarang kamu. Tapi kamu seolah menghempaskan semuanya. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mengingatku lagi?”
Setelah mengatakan itu, Devano pun langsung memutuskan untuk menutup buku tersebut. Lalu dia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memejamkan matanya sambil menaruh lengan di atas dahi. Sambil terpejam, air mata itu keluar dari sudut mata Devano.
“Devan, inget kataku ini. Kamu nggak boleh sedih, apalagi nangis. Aku akan selalu ada di sini buat kamu. Aku akan nyiptain banyak kebahagiaan buat kamu. Agar kamu akan lupa tentang semua sedihmu, agar kamu lupa akan beban yang kamu pikul selama ini. Aku akan selalu jadi bintang buat kamu, Devan. Selamanya!”
Devano tersenyum kecut, mengingat satu penggal kalimat dari cewek berambut sebahu tersebut.
__ADS_1
“Nyatanya kamu bohong kepadaku. Kamu juga pergi ninggalin aku, kan?”