
“Lo sakit, masuk rumah sakit lagi?” tanya itu berhasil membuat Devano terdiam.
Devano pun hanya mengangguk segan, mau mengatakan apa pun juga dia tidak bisa. Sepertinya sudah begitu lama, dia tidak dikunjungi oleh pengunjung satu ini. Saling berbincang beberapa hal yang menyenangkan dan berpikir kalau keduanya adalah pasangan yang sangat cocok.
Devano menelan ludahnya dengan susah, dia sama sekali tidak bisa memikirkan hal-hal yang lainnya.
“Cidera lo kambuh lagi?”
“Lumayan.”
“Bukankah sedari awal udah dikasih tahu ama dokter kalau lo nggak boleh olahraga lagi dan cidera lagi di bahu lo itu? Kenapa lo keras kepala sekali, nggak pernah bisa mikirin omongan dokter.”
“Gue hanya berusaha mempertahankan apa yang menjadi milik gue.”
Itulah yang menjadi jawaban Devano, sosok itu tersenyum menyeringai tentu saja. Dia kemudian menghela napas panjangnya dengan sempurna.
Devano membuang muka, dia mencoba memejamkan matanya dengan sempurna. Banyak sekali hal yang membuat otaknya menjadi begitu panas sekarang ini.
“Milik elo siapa? Ayla?” tanya dari sosok tersebut.
Kini Devano kembali diam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Banyak hal yang tidak masuk akal, sebab menurut Devano adalah dia tidak cukup pantas untuk membahas ini dibandingkan dengan sosok tersebut.
“Gue sayang sama Ayla, gue yakin kalau elo tahu tentang itu, cinta gue ke Ayla tulus, dan elo udah ngasih restu.”
Sosok itu kemudian menghela napas panjangnya lagi, dia menyenderkan punggungnya dengan sempurna tentu saja.
“Kesalahan elo udah sangat fatal, Devano. Apa yang elo lakuin ke Ayla udah bener-bener nggak bisa dimaafin sama sekali, jadi bukankah lebih baik Ayla kadung sakit kayak gini. Seenggaknya dia akan lebih mudah melupakan elo, elo pun juga pasti akan jauh lebih bahagia kan? Elo juga jauh lebih mudah bisa nyari gantinya Ayla.”
“Gue nggak bisa sama sekali. Menurut gue Ayla adalah jantung gue, jadi bagaimana bisa gue malah harus pisah sama jantung gue? Apakah ini adalah hal yang sangat menyedihkan untuk kami?”
“Tapi elo udah sangat menyakiti dan membahayakan Ayla, apa elo masih nggak ingat insiden semuanya itu dulu?”
__ADS_1
Devano kembali diam dia menundukkan wajahnya dengan sempurna, kemudian dia tersenyum getir tentu saja.
“Apakah elo sama sekali nggak bisa maafin gue?”
“Apakah Ayla kalau ingat semuanya bakal maafin elo?”
Devano kembali diam, dia menelan ludahnya dengan susah. Dengan segala hal yang ada, dia merasa tidak enak hati sama sekali tentu saja.
“Sialnya Ayla ini kenapa harus sekolah di SMA sama kayak elo. Bukankah ini adalah hal yang harus elo pikirin? Tahu Ayla kesana pasti elo tahu kan kalau semuanya karena elo?”
“Gue tahu.”
“Sampai elo ngebuat dia jadi cewek elo lagi dengan cara yang amat mengerikan. Elo mau mempermainkan dia?”
“Gue hanya nggak mau kalau sampai Ayla dideketin cowok lain.”
“Dengan jadi yang jahat buat Ayla, kemudian ngebuat Ayla kesel sama elo dengan cara elo menjadi sok berengsek dan ngikat dia? Elo salah, Dev. Semua yang elo ucapkan ini bener-bener menyebalkan. Apa yang elo lakuin itu adalah hal yang mustahil yang nggak akan ngebuat Ayla bisa move on. Seharusnya elo yang waras elo juga yang harus mikir, gimana caranya untuk ngejauihin Ayla dan berhenti berada di sisi Ayla dengan cara apa pun.”
“Tapi elo harus. Elo siapanya? Apakah Tuhan udah nentuin elo sebagai jodohnya Ayla? Enggak kan? masalah sekarang elo bilang nggak bisa, gue yakin kok kalau itu hanya kali ini, selebihnya elo bakal baik-baik aja, lupa tentang Ayla, nemuin cewek baru dan bisa hidup dengan damai dengan cewek baru elo. Percaya sama gue.”
“Apakah elo bisa ngelakuin itu?”
“Elo kenapa kayak Tuhan yang ngatur hidup gue dan Ayla.”
“Karena gue ada hak penuh.”
Devano kembali diam, kemudian dia mengacak rambutnya frustasi.
“Bukankah elo sendiri bilang bakal ngehargai apa pun keputusan dari Ayla?”
“Itu dulu sebelum eli ngelakuin hal fatal.”
__ADS_1
“Lo egois.”
“Elo lebih.”
Devano kembali diam, sosok itu kini tersenyum kecut juga. Bagaimana tidak, memandang sosok Devano menjadi orang yang sepengecut ini tentu saja adalah hal yang sangat lucu. Lucu dalam berbagai hal dan bidang.
“Dulu gue bener-bener ngehormatin elo sebagai Devano si jenius yang bisa ngejaga Ayla dengan baik, tapi ngelihat elo sekarang kayak gini, semua pikiran gue tentang elo entah kenapa tiba-tiba menjadi berubah. Elo ini adalah sosok cowok yang egois, ingin Ayla benci sama elo tapi elo nggak mau lepasin dia. Bukankah itu tanda jika elo adalah cowok yang paling labil di dunia yang sama sekali nggak pantes jadi pasangan seorang Ayla.”
“Gue yakin berkali-kali pun kami dipisahkan dan berkali-kali pun Ayla dibuat benci sama gue, dia bakal tetap cinta sama gue.”
“Seyakin itu?”
“Bahkan jika Ayla tahu kebenarannya pun Ayla akan maafin gue meski emang butuh waktu lama dan mungkin Ayla akan marah dulu sama gue, ngumpat dan lain sebagainya. Gue tahu siapa Ayla, dia adalah sosok pemaaf dan dia cinta banget sama gue.”
“Bukan karena dia cinta sama elo lantas elo mau seenaknya aja atas dia, Ayla adalah hak milik dirinya sendiri dan keluarganya.”
Sosok itu kemudian berdiri, menepuk bahu dari Devano yang masih berbaring di atas ranjang.
Jujur dia sama sekali tidak bisa memikirkan hal ini tentu saja, Dia melihat Devano menjadi sosok yang lain dari sebelumnya, ada rasa menyesal dan bersalah di sana. Namun apa yang bisa dilakukan olehnya sekarang?
“Semoga elo bisa menjadi lebih baik lagi, elo sehat cideranya sebab ini cidera adalah karena Ayla, gue berusaha buat semuanya akan baik-baik aja. Masalah Ayla sendiri gue di sini nggak punya pilihan lain tentu saja.”
Devano tersenyum kecut, kemudian dia menganggukkan kepalanya dengan sempurna tentu saja.
“Gue hanya butuh elo, gue hanya butuh dukungan dari elo, gue juga hanya berpikir mencoba untuk bisa elo beri restu, hanya itu aja yang bisa ngebuat gue bisa ngehadapi semuanya, gue nggak mau apa pun lagi.”
“Sorry, ini bener-bener udah berat, gue udah nggak tahu harus gimana lagi sekarang, rasanya udah berat semuanya. Jadi elo mau gue kayak gimana, Dev?”
Devano memandang sosok itu dengan tatapan memohon tentu saja, ini adalah hal terberat untuknya.
Kemudian dia memegang tangan dari sosok itu tentu saja, mimik wajahnya menjadi sedih tentu saja.
__ADS_1
“Bang, elo adalah sosok yang paling deket sama Ayla. Restu elo dan maaf elo kepada gue adalah bener-bener penting, gue mohon berhenti jadi dingin sama gue kayak gini, Bang.”