
“Sepertinya karena kita terlalu fokus dengan masalah Devano kita jadi nggak fokus dengan pertandingan. Tuh lihat udah sepuluh banding tujuh. Sejak kapan bola itu masuk ke dalam ring?”
Nuna mencoba memecah suasana kaku dan sedih yang dihasilkan oleh Abraham. Sebab menurutnya, hal ini benar-benar tidak ada gunanya sama sekali. Ini adalah hal yang sangat sulit diperbaiki, ini adalah hal yang tidak bisa dilanjutkan bahasannya.
Abraham pun terkekeh juga, tentu saja memang wajar jika ada yang tidak percaya. Padahal itu memang kenyataannya, itu adalah hal yang nyata dan sebenarnya terjadi.
“Ya, mau gimana lagi. Emang Devano tampilannya kayak gitu, dia nggak mau dikasihani orang lain dan nggak mau ngerepotin orang lain. Lagi pula, dia kan emang kaya, bisnis keluarganya berdiri meski dia udah nggak punya Papa. Masalahnya paling tentang bisnis keluarganya yang mengalami masalah, semiskin-miskinnya Devano, dan sebangkrut-bangkrutnya Devano pun pasti punya mobil mewah dan fasilitas mewah lainnya.”
“Iya, kami paham banget tentang itu, bahkan saking pahamnya kami ngerti. Lagi pula Devano itu pinter, mau dia nggak nerusin bisnis keluarga pun gue yakin dia dapat kerjaan yang mentererng. Kemarin aja ada beberapa Universitas bergengsi kan yang udah nawarin dia beasiswa, dan Universitas-Universitas itu jebolannya aja nggak ada yang nganggur. Bisa dipastikan jika semuanya akan baik-baik aja bagi Devano tentu aja.”
“Masuk!” teriak Intan.
Semua orang yang ada di sana pun langsung kembali ke lapangan. Devano terlihat diam sambil berlutut, tangannya merengkuh lengannya dengan sempurna.
“Apa yang terjadi?” tanya Nuna serius.
Melihat kejadian itu agaknya cukup membuat Nuna yang memang sedari awal tidak fokus pun pada akhirnya bertanya juga.
“Elo sih, ngebahas hal yang nggak jelas sama sekali. Padahal tujuannya nonton basket tapi malah ngerumpi.”
“Siapa yang masukin tadi emang?”
“Kak Devano, dia lompat dan masukin bola dalam ring. Hanya saja masalahnya adalah, pas dia lompat, Aksa sama-sama lompat dari belakang, kayaknya tangan Aksa nyikut Kak Devano apa gimana deh, jadinya Kak Devano kembali dalam keadaan kayak gitu.”
“Aksa main curang?” tanya Nuna.
“Enggak, kayaknya Aksa juga nggak sengaja.”
Ayla yang sedari tadi diam pun akhirnya bersuara, ia melihat dengan jelas bagaimana jalannya pertandingan. Ia bisa melihat dengan jelas jika benar apa yang Devano dan Aksa lakukan adalah rebutan bola tentu saja.
Kedua tangan Ayla mengepal kuat, dia ingin sekali lari ke lapangan untuk sekadar bertanya kepada Devano apakah Devano baik-baik saja. Hanya saja Ayla tidak mungkin melakukannya, di sini ada orang banyak. Dengan ada dia di lapangan pastinya semua orang akan langsung menghujatnya tanpa ampun.
Ayla kembali menahan napasnya dengan sempurna, sungguh tidak bisa dibayangkan. Kenapa dia harus menjadi risau seperti ini.
“Dev, elo nggak apa-apa?” tanya Gilbert.
Devano yang meringis kesakitan awalnya pun mencoba untuk berdiri, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan sempurna.
“Tangan itu bukannya tangan yang lo cidera waktu SMP?” tanya Antonio lagi.
Devano menahan napasnya dengan sempurna kemudian dia menganggukkan kepalanya juga.
“Salah satu dari dua alasan kenapa gue mundur waktu itu.”
Devano hanya menjawab dengan santai, seolah apa yang ia alami bukanlah hal yang serius sama sekali. Kemudian ia menepuk bahu teman-temannya yang sudah memandangnya dengan tatapan serius juga khawatir tersebut.
“Kami nggak mau kamu terluka lagi, Dev.”
“Nggak apa-apa. Gue bisa nangani ini dengan baik.”
“Serius lo?”
“Duarius.”
Dan mereka kembali bertanding, Arka yang jengkel jika skornya tertinggal jauh pun berkali-kali hanya bisa mengumpat.
“Udahlah, Ar. Kenapa sih elo marah-marah. Saingan kita itu nggak imbang, kita hanyalah tim andalan sekolah, sementara mereka mayoritas adalah tim andalan nasional. Meski kita kalah pun semua itu akan jadi maklum, karena pasti mereka tahu jika sangat sulit bisa mengalahkan pemain profesional seperti mereka.”
“Namun, masalahnya gue harus menang, Aksa.”
__ADS_1
“Kenapa kayak gitu? Gue baru tahu elo seambisius ini, Arka.”
“Karena ini bukan sekadar pertandingan siapa yang menang dan siapa yang kalah aja. Ini adalah pertandingan penentu harga diri dan harga mati. Jadi gimana bisa elo nyuruh gue nyerah? Enggak, gue nggak akan pernah bisa nyerah sampai di titik darah penghabisan.”
“Karena Ayla?” tebak Aksa. Arka pun diam.
“Gue rasa elo udah sangat berlebihan kepada Ayla. Ntah niat lo hanya main-main apa enggak tapi semua ini udah sangat keterlaluan. Mau sampai kapan elo jadi kayak dini, Ar? Semuanya nggak akan baik-baik aja.”
“Lo jangan sok tahu deh, ini tentang janji gue sama Bang Daren, mana mungkin gue ngebiarin adiknya sahabat gue disakitin sama cowok berengsek dan sok sempurna seperti Devano, mana gue akan terima? Ya enggak lah.”
“Alibi lo, bagus juga!”
Semua pun kembali berkumpul, kini Arka dan Devano sama-sama saling berhadap-hadapan. Arka yang memegang bola pun menyeringai dengan sempurna. Dia harus mengancurkan mental Devano agar setidaknya kapten tim musuh dari Arka bisa kalah dengan sempurna.
“Lo tahu gue bener-bener nggak nyangka kalau elo adalah sosok yang cukup picik. Ngebawa pemain nasional ngelawan tim gue yang kacangan asal bisa menang, apakah lo pikir ini adalah trik terbaik yang bisa elo lakuian sama kami? Ck! Memalukan sekali.”
“Justru gue akan sangat malu kalau sampai elo menang dari gue, dan juga apa salahnya jika gue bawa mereka. Lo bilangnya gue boleh bawa teman dan elo nggak bilang kalau nggak boleh bawa teman yang bisa dimanfaatkan kan?”
Arka kesal lagi, ucapan Devano benar-benar pintar sekali. Arka sama sekali tidak menyangka jika di dunia ini ada Devano yang memiliki ucapan selicin belut.
“Musuh sama elo kayak musuh sama belut, lidah lo juga ngalahin belun listrik!” kesal Arka.
Dia menyenggol bahu Devano sehingga spontan Devano mengaduh kesakitan. Arka menoleh dengan sempurna, matanya memicing memandang pada Devano.
“Elo sakit?” tanya Arka.
Devano menggelengkan kepalanya juga, bagi dirinya sangat tidak masuk akal jika dia mengeluh sakit kepada musuh timnya.
“Nggak ada kata sakit buat gue.”
“Sepertinya karena kita terlalu fokus dengan masalah Devano kita jadi nggak fokus dengan pertandingan. Tuh lihat udah sepuluh banding tujuh. Sejak kapan bola itu masuk ke dalam ring?”
Nuna mencoba memecah suasana kaku dan sedih yang dihasilkan oleh Abraham. Sebab menurutnya, hal ini benar-benar tidak ada gunanya sama sekali. Ini adalah hal yang sangat sulit diperbaiki, ini adalah hal yang tidak bisa dilanjutkan bahasannya.
Abraham pun terkekeh juga, tentu saja memang wajar jika ada yang tidak percaya. Padahal itu memang kenyataannya, itu adalah hal yang nyata dan sebenarnya terjadi.
“Ya, mau gimana lagi. Emang Devano tampilannya kayak gitu, dia nggak mau dikasihani orang lain dan nggak mau ngerepotin orang lain. Lagi pula, dia kan emang kaya, bisnis keluarganya berdiri meski dia udah nggak punya Papa. Masalahnya paling tentang bisnis keluarganya yang mengalami masalah, semiskin-miskinnya Devano, dan sebangkrut-bangkrutnya Devano pun pasti punya mobil mewah dan fasilitas mewah lainnya.”
“Iya, kami paham banget tentang itu, bahkan saking pahamnya kami ngerti. Lagi pula Devano itu pinter, mau dia nggak nerusin bisnis keluarga pun gue yakin dia dapat kerjaan yang mentererng. Kemarin aja ada beberapa Universitas bergengsi kan yang udah nawarin dia beasiswa, dan Universitas-Universitas itu jebolannya aja nggak ada yang nganggur. Bisa dipastikan jika semuanya akan baik-baik aja bagi Devano tentu aja.”
“Masuk!” teriak Intan.
Semua orang yang ada di sana pun langsung kembali ke lapangan. Devano terlihat diam sambil berlutut, tangannya merengkuh lengannya dengan sempurna.
“Apa yang terjadi?” tanya Nuna serius.
Melihat kejadian itu agaknya cukup membuat Nuna yang memang sedari awal tidak fokus pun pada akhirnya bertanya juga.
“Elo sih, ngebahas hal yang nggak jelas sama sekali. Padahal tujuannya nonton basket tapi malah ngerumpi.”
“Siapa yang masukin tadi emang?”
“Kak Devano, dia lompat dan masukin bola dalam ring. Hanya saja masalahnya adalah, pas dia lompat, Aksa sama-sama lompat dari belakang, kayaknya tangan Aksa nyikut Kak Devano apa gimana deh, jadinya Kak Devano kembali dalam keadaan kayak gitu.”
“Aksa main curang?” tanya Nuna.
“Enggak, kayaknya Aksa juga nggak sengaja.”
Ayla yang sedari tadi diam pun akhirnya bersuara, ia melihat dengan jelas bagaimana jalannya pertandingan. Ia bisa melihat dengan jelas jika benar apa yang Devano dan Aksa lakukan adalah rebutan bola tentu saja.
__ADS_1
Kedua tangan Ayla mengepal kuat, dia ingin sekali lari ke lapangan untuk sekadar bertanya kepada Devano apakah Devano baik-baik saja. Hanya saja Ayla tidak mungkin melakukannya, di sini ada orang banyak. Dengan ada dia di lapangan pastinya semua orang akan langsung menghujatnya tanpa ampun.
Ayla kembali menahan napasnya dengan sempurna, sungguh tidak bisa dibayangkan. Kenapa dia harus menjadi risau seperti ini.
“Dev, elo nggak apa-apa?” tanya Gilbert.
Devano yang meringis kesakitan awalnya pun mencoba untuk berdiri, kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan sempurna.
“Tangan itu bukannya tangan yang lo cidera waktu SMP?” tanya Antonio lagi.
Devano menahan napasnya dengan sempurna kemudian dia menganggukkan kepalanya juga.
“Salah satu dari dua alasan kenapa gue mundur waktu itu.”
Devano hanya menjawab dengan santai, seolah apa yang ia alami bukanlah hal yang serius sama sekali. Kemudian ia menepuk bahu teman-temannya yang sudah memandangnya dengan tatapan serius juga khawatir tersebut.
“Kami nggak mau kamu terluka lagi, Dev.”
“Nggak apa-apa. Gue bisa nangani ini dengan baik.”
“Serius lo?”
“Duarius.”
Dan mereka kembali bertanding, Arka yang jengkel jika skornya tertinggal jauh pun berkali-kali hanya bisa mengumpat.
“Udahlah, Ar. Kenapa sih elo marah-marah. Saingan kita itu nggak imbang, kita hanyalah tim andalan sekolah, sementara mereka mayoritas adalah tim andalan nasional. Meski kita kalah pun semua itu akan jadi maklum, karena pasti mereka tahu jika sangat sulit bisa mengalahkan pemain profesional seperti mereka.”
“Namun, masalahnya gue harus menang, Aksa.”
“Kenapa kayak gitu? Gue baru tahu elo seambisius ini, Arka.”
“Karena ini bukan sekadar pertandingan siapa yang menang dan siapa yang kalah aja. Ini adalah pertandingan penentu harga diri dan harga mati. Jadi gimana bisa elo nyuruh gue nyerah? Enggak, gue nggak akan pernah bisa nyerah sampai di titik darah penghabisan.”
“Karena Ayla?” tebak Aksa. Arka pun diam.
“Gue rasa elo udah sangat berlebihan kepada Ayla. Ntah niat lo hanya main-main apa enggak tapi semua ini udah sangat keterlaluan. Mau sampai kapan elo jadi kayak dini, Ar? Semuanya nggak akan baik-baik aja.”
“Lo jangan sok tahu deh, ini tentang janji gue sama Bang Daren, mana mungkin gue ngebiarin adiknya sahabat gue disakitin sama cowok berengsek dan sok sempurna seperti Devano, mana gue akan terima? Ya enggak lah.”
“Alibi lo, bagus juga!”
Semua pun kembali berkumpul, kini Arka dan Devano sama-sama saling berhadap-hadapan. Arka yang memegang bola pun menyeringai dengan sempurna. Dia harus mengancurkan mental Devano agar setidaknya kapten tim musuh dari Arka bisa kalah dengan sempurna.
“Lo tahu gue bener-bener nggak nyangka kalau elo adalah sosok yang cukup picik. Ngebawa pemain nasional ngelawan tim gue yang kacangan asal bisa menang, apakah lo pikir ini adalah trik terbaik yang bisa elo lakuian sama kami? Ck! Memalukan sekali.”
“Justru gue akan sangat malu kalau sampai elo menang dari gue, dan juga apa salahnya jika gue bawa mereka. Lo bilangnya gue boleh bawa teman dan elo nggak bilang kalau nggak boleh bawa teman yang bisa dimanfaatkan kan?”
Arka kesal lagi, ucapan Devano benar-benar pintar sekali. Arka sama sekali tidak menyangka jika di dunia ini ada Devano yang memiliki ucapan selicin belut.
“Musuh sama elo kayak musuh sama belut, lidah lo juga ngalahin belun listrik!” kesal Arka.
Dia menyenggol bahu Devano sehingga spontan Devano mengaduh kesakitan. Arka menoleh dengan sempurna, matanya memicing memandang pada Devano.
“Elo sakit?” tanya Arka.
Devano menggelengkan kepalanya juga, bagi dirinya sangat tidak masuk akal jika dia mengeluh sakit kepada musuh timnya.
“Nggak ada kata sakit buat gue.”
__ADS_1